PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 34 DI SEPERTIGA MALAM


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari, seperti biasa Tiana akan bangun lebih awal untuk mengerjakan sholat malam, mengaji, dan dilanjutkan dengan sholat subuh.


Tiana bangkit lalu duduk dipinggiran tempat tidur miliknya, ia ingin membangunkan Larisa agar ikut menunaikan sholat malam dengannya.


Ia berpikir dengan menunaikan sholat disepertiga malam, Tiana berharap perasaan Larisa menjadi lebih baik, dan menemukan petunjuk setelah ia beristikharah memohon kepada Tuhan kiranya memberikan solusi dan jalan keluar untuk setiap permasalahan wanita itu.


Tiana membangunkan Larisa dengan sangat lembut karena Tiana tak ingin Larisa kaget lalu berteriak yang akan membuat Siti dan Aisyah yang sedang tidur dilantai dengan menggunakan kasur lipat menjadi terbangun.


Perlahan-lahan Larisa mulai membuka kedua matanya karena merasa ada yang membangunkannya, samar-samar ia melihat Tiana yang berada dalam kegelapan karena lampu dikamar Tiana yang dimatikan saat mereka akan tidur.


Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Larisa bangkit lalu duduk diatas tempat tidur sambil melipat kedua kakinya dan mengucek matanya karena merasa masih mengantuk namun dipaksa untuk bangun walaupun sebenarnya ia masih ingin melanjutkan tidurnya.


"Ayo kita ambil wudhu terus kita sholat malam, mungkin saja hatimu akan merasa sedikit lebih tenang setelah mencurahkan keluh kesahmu kepada-Nya"


Ucap Tiana sambil menarik tangan Larisa.


Hati Larisa seakan tersentuh mendengar apa yang Tiana katakan, semenjak memutuskan hijrah beberapa kali Larisa mengikuti materi dikelas tentang pentingnya sholat malam, namun ia sama sekali belum pernah menjalankan sholat malam yang telah ia pelajari walau hanya sekali.


"Baiklah kak"


Ucap Larisa sedikit malas karena merasa masih sangat mengantuk.


Mereka berdua bergegas kekamar mandi untuk mengambil wudhu lalu menjalankan sholat malam secara bersamaan namun niatnya untuk diri sendiri, tidak dilakukan secara berjamaah.


Setelah menunaikan sholat malam, Tiana mengambil kitab suci Alquran miliknya, sedangkan Larisa kemudian mengangkat kedua tanganya seraya bermunajat kepada Tuhan pencipta semesta alam.


"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosaku yang tak terhitung banyaknya, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkan pendirian kami dan tolong lah kami dari orang-orang kafir"


"Tunjukilah hamba jalan yang lurus bukan jalan orang yang kau murkai, berilah jalan keluar dari permasalahanku ini ya Allah, hanya kepadamu hamba memohon, dan hanya kepadamu hamba meminta, karena hanya kepadaMu lah tempat sebaik-baik meminta pertolongan, maka kabulkanlah doa hambamu ini, aamiin"


Larisa mendengarkan lantunan suci Alquran yang Tiana baca sangat merdu, membuat hatinya meresakan kedamaian.


Hatinya yang tadinya merasakan kecemasan dan kekhawatiran berganti dengan perasaan yang begitu tenang.


Ia berpikir, ternyata benar apa yang Tiana katakan setelah menjalankan sholat malam, hatinya menjadi sedikit tenang.


"Terima kasih kak"


Ucap Tiana memegang tangan Tiana, membuat lantunan suci Alquran yang Tiana baca terhenti karena sentuhan dari Larisa.


"Untuk apa kamu berterima kasih?"


Tanya balik Tiana sambil membalas pegangan tangan dari Larisa.


"Sekarang hatiku merasa sedikit tenang kak, terima kasih karena kakak hidupku menjadi lebih mengenal Tuhanku"


"Jangan berterima kasih kepadaku berterima kasihlah kepada-Nya, aku disini hanya menjadi perantara, semoga kau mendapatkan jalan keluar dari masalahmu, jangan terlalu lama larut dalam kesedihanmu, karena setelah kesusahan pasti ada kebahagiaan"


Ucap Tiana memberi nasehat kepada Larisa.


"Mungkin ini semua karma untukku kak, karma karena pernah menghianati mas Ardian, dan karma karena telah menjadi penghalang sehingga kakak dan Mas Ardian batal menikah"


Ucap Larisa mulai meneteskan air mata.

__ADS_1


"Astagfirullah bertaubatlah dan memohon ampun kepada-Nya, dan berhentilah terus menerus menyalahkan dirimu, semua sudah terjadi sesal tak ada gunanya lagi, lebih baik kau menutup rapat-rapat masalalumu dan berusaha untuk terus menjadi pribadi yang dicintai olehNya, sesengguhnya cinta sejati dan sebaik-baiknya cinta yaitu cinta hamba kepada Tuhannya, jangan mengharapkan cinta semu yang diberikan oleh orang lain, sebab cinta yang sebenar-benarnya cinta dan yang kekal abadi hanya milik-Nya, jangan terus meratapi atau menyesali yang telah terjadi, penyesalan hanya akan membuat kita lupa untuk bertaubat dan memohon ampun kepadaNya, karena sesungguhnya Tuhan menciptakan, kegagalan, keburukan, kesedihan bertujuan untuk membuat hambanya kembali sadar, dan mau kembali kejalan yang benar, perbanyaklah bersabar, dan yakinlah bahwa akan ada sesuatu yang menantimu, sampai kau lupa betapa pedihnya sakitmu.


Air mata Larisa menetes tak ada hentinya mendengarkan nasehat yang diberikan Tiana kepadanya.


Larisa berpikir selama ini, ia telah dibutakan oleh cintanya kepada Ardian, hingga melupakan cinta yang sesungguhnya yaitu cinta kepada Tuhan.


"Terima kasih kak, kau telah menyadarkanku, dan membawaku kejalan yang benar"


Ucap Larisa sambil memegang tangan Tiana membuat lantunan suci Alquran yang Tiana baca terhenti kembali karena sentuhan dari Larisa.


"Sudah cukup kau terus berterima kasih kepadaku, aku ini hanya menjadi perantara untukmu, karena sudah sepatutnya aku membantu orang yang memiliki niat baik untuk lebih dekat dengan-Nya, bukankah niatmu itu sangat mulia, jadi jangan menangis lagi, ingat ada nyawa diperutmu yang akan menjadi tanggung jawabmu, kau harus menjadi lebih kuat untuk anak ini"


Tiana berbicara sambil mengusap lembut perut Larisa.


Larisa memeluk Tiana dengan berderai air mata, lalu Tiana membalas pelukan dari Larisa layaknya kakak dan adik.


***


3 hari kemudian...


Beberapa hari setelah kejadian dimana Larisa melihat Ardian dan Rara bersama, ia memutuskan menutup seluruh akses dengan Ardian.


Ia tak ingin karena masalah ini pikirannya menjadi setres yang akan berdampak buruk pada kehamilannya, dan tak lama lagi ia akan segera melahirkan.


Sehingga ia memutuskan untuk membuang jauh-jauh Ardian dan segala kenangannya baik itu kenangan indah bahkan sampai burukpun ia berusaha untuk tak mengingatnya, karena hanya akan membuat luka dihatinya semakin sakit.


Tok...tok...tok...


Larisa yang sedang berada diruang tamu mendengar ada ketukan dari arah luar pintu, ia pun bergegas bangkit dari duduknya melangkah menuju pintu masuk untuk melihat siapa yang datang.


Ucap Larisa dalam hatinya sambil membuka daun pintu.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam, anda mencari siapa?"


Tanya Larisa, melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi menggunakan pakaian gamis khas untuk laki-laki.


"Saya suaminya Aisyah, saya kesini untuk menjemputnya"


Jawab Sidan suami Aisyah, sambil tersenyum kearah Larisa.


"Baiklah, tunggu sebentar"


Ucap Larisa tanpa mempersilahkan Sidan untuk masuk, karena sejujurnya ia pun sedikit jengkel mengetahui jika ternyata wajah Aisyah luka-luka karena dipukuli olehnya.


Larisa meninggalkan Sidan yang masih menunggu didepan pintu masuk, kemudian menuju kekamar Tiana.


Sesampainya dikamar, Larisa melihat Aisyah yang sedang berbincang-bincang dengan Tiana, karena melihat dirinya yang masuk, pandangan mereka berdua lalu mengarah pada Larisa yang berjalan kearah mereka.


"Suami kak Aisyah datang untuk menjemputnya"


Ucap Larisa tanpa basa basi.

__ADS_1


Wajah Aisyah seketika berubah bahagia mendengar perkataan Larisa.


"Sudah kubilang kan Tiana, dia pasti datang menjemputku"


Aisyah berbicara sambil memegang kedua tangan Tiana.


"Ya sudah kau temui dia sekarang, bicarakan bagaimana kelanjutan dari rumah tangga kalian berdua, dan mintalah agar dia tak mengulangi kesalahannya lagi"


Ucap Tiana sambil memegang pundak Aisyah.


Mereka bertiga bergegas keluar kamar untuk menemui Sidan yang menunggu Aisyah didepan pintu.


Langkah Aisyah begitu bersemangat mengetahui kedatangan suaminya yang sudah beberapa hari ini tak ia lihat.


Walaupun Aisyah telah diperlakukan sangat kasar oleh suaminya, namun sejujurnya, Aisyah masi sangat mencintai suaminya itu.


Setelah tiba didepan pintu, Aisyah bergegas menghampiri Sidan.


"Assalamualaikum"


Ucap Aisyah lalu mencium tangan suaminya itu.


"Walaikumsalam"


Jawab Sidan dengan ekspresi datar diwajahnya.


"Kau datang juga mas?"


Ucap Aisyah dengan mata yang berbinar-binar.


"Iya aku datang untuk menjemputmu, aku ingin mengembalikanmu kepada kedua orang tuamu, aku tak sudi memiliki istri yang suka kabur-kaburan seperti anak kecil, memalukan"


Ucap Sidan dengan sedikit berteriak.


"Tapi kenapa mas, bukankah kau menjemputku agar kita bisa saling memperbaiki hubungan rumah tangga kita, dan kau sudah menyadari kesalahanmu karena telah memukuliku"


Ucap Aisyah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kau pikir dengan mengancamku dan melaporkanku kekantor polisi aku akan takut, begitu? aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu itu"


"Astagfirullah, sadar mas, anda ini seorang hafiz quran tidak sepantasnya anda memperlakukan Aisyah seperti ini, bukankah anda sendiri tau, jika setetes saja air mata istri anda jatuh karena perbuatan zalim anda itu, maka Allah akan menyegerakan azabnya kepadamu dan menarikmu kedalam neraka"


Ucap Tiana sedikit emosi, dia yang tadinya tenang sekarang menjadi kesal karena perkataan dari Sidan.


"Jangan ikut campur, ini urusanku dan Aisyah"


Jawab Sidan sambil memegang tangan Aisyah berusaha untuk membawanya pergi dari rumah Tiana.


"Hentikan"


Ucap Tiana sambil memegang satu tangan Aisyah tak membiarkannya untuk pergi.


"Aku memang bukan siapa-siapa Aisyah, tapi ini juga menjadi urusanku karena Aisyah adalah saudara semuslimku, dan aku tak suka dengan perbuatanmu yang memukulinya, memangnya sahabatku ini tak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, atau dia sakit-sakitan sehingga merepotkanmu, dan apakah Aisyah tak bisa memberikan keturunan sehingga anda berbuat kasar kepadanya dan ingin berpoligami?"

__ADS_1


Larisa yang melihat perdebatan antara ketiganya hanya berusaha untuk diam dan tak ikut campur, sebab ia tak tau duduk permasalahan sebenarnya antara Aisyah dan Suaminya itu.


__ADS_2