PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 49 ARDIAN DAN RARA MENIKAH?


__ADS_3

Larisa dan Alex duduk dimeja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka berdua hanya fokus pada makanan mereka masing-masing.


1 piring habis.....


2 piring habis....


3 piring habis....


Alex membelalakkan matanya melihat porsi makan istrinya yang sangat banyak sampai habis beberapa piring, padahal dulu seingat Alex Larisa sangat menjaga makannya karena ia takut sekali jika tubuhnya akan menjadi gemuk. Bahkan jika berat badannya hanya naik 1 ons saja, larisa akan diet super ketat untuk menurunkan berat badannya yang hanya nai1 ons itu yang menurutnya seperti 10 kg.


"Ekkkkhhhh..." Larisa bersendawa setelah kekenyangan karena menghabiskan beberapa piring nasi.


Larisa tersenyum kikuk kearah Alex yang melihat dirinya "Maaf sayang, nafsu makanku tiap hari makin meningkat selama aku hamil"


Setelah makan, mereka berdua menuju keruang keluarga untuk menonton acara televisi. Awalnya Alex menyetel siaran berita, namun Larisa memilih untuk menonton drama korea favoritnya. Alex memutuskan mengalah, lagi pula dia juga tak begitu suka menonton televisi.


"Sayang, kau belum mengatakan kepadaku alasan kenapa dulu kau lebih memilih Ardian dari pada aku" Ucap Alex membuat Larisa yang sedang fokus menonton menoleh kearahnya.


"Astaga, apakah sejak tadi kau terus saja memikirkan tentang hal itu?" Ucap Larisa melihat ekspresi serius diwajah suaminya, dan dibalas anggukan kepala oleh Alex.


Larisa menghembuskan nafas pelan. "Aku dulu lebih memilih Ardian dari pada kau karena aku hanya menjalankan wasiat dari papaku" Ucap Larisa kini raut wajahnya berubah menjadi sedih mengingat kembali papanya yang telah Tiada.


"Aku dulu memang sempat mencintainya, ditambah lagi wasiat dari papaku yang menyuruhku agar menikah dengan Ardian karena Papa merasa dia adalah pria yang baik, membuatku semakin terobsesi untuk menikah dengannya" Ucap Larisa berusaha menjelaskan alasan yang sebenarnya mengapa dulu dia lebih memilih Ardian dari pada Alex.


"Sudah cukup, aku mengerti" Ucap Alex sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir seksi Larisa.


"Tapi aku belum selesai" Ucap Larisa memyingkirkan tangan Alex dari bibirnya.


"Aku sudah tau yang selanjutnya, waktu itu kau sudah menceritakannya kepadaku waktu kita dirumah sakit" Ucap Alex kemudian memegang kedua tangan Larisa. "Yang aku tahu sekarang kau hanya mencintaiku, itu kan akhir dari ceritamu" Ucap Alex sambil mencubit pipi gembul Larisa.


"Sayang besok aku akan ke pesantren, kak Tiana tadi mengundangku karena Aisyah dan suaminya akan rujuk, jadi mereka berdua akan menikah kembali"


"Tapi besok aku harus kekantor sayang, tidak papa kan kau diantar sama supir?"


"Iya tidak papa, makasi sayang" Ucap Larisa kemudian memeluk tubuh kekar suaminya.


Larisa lalu melepaskan pelukannya membuat Alex terkejut. "Tapi sayang kau sama sekali tidak pernah menceritakan kepadaku jika dokter Tiara adalah mantanmu" Ucap Larisa membuat Alex semakin kaget karena perkataan istrinya.


"Dari mana kau tau aku pernah pacaran dengan dokter Tiara?" Tanya Alex penasaran ingin mengetahui siapa yang memberi tahu Larisa tentang dirinya dan Tiara.


"Robi" Jawab singkat Larisa.


"Robiiiiii" Ucap Alex jengkel, membuat Robi yang berada di dalam kamar apartemennya mengedip-ngedipkan matanya sebelah.


"Iya Robi, tapi kau sama sekali tidak pernah cerita, aku jadi malu sama dokter Tiara selama ini dia sudah baik setiap kali aku datang memeriksakan kandunganku kepadanya, apa jadinya jika ia tahu kita sudah menikah"

__ADS_1


Alex hanya terdiam mendengar apa yang Larisa katakan.


"Kenapa kau dan dokter Tiara bisa..."


Alex kemudian bangkit dari tempat duduknya sebelum Larisa menyelesaikan apa yang akan dia katakan.


Melihat suaminya pergi meninggalkan dirinya sendiri, Larisa tidak memperdulikannya ia memilih melanjutkan kembali menonton drama korea favoritnya.


***


"Aku ingin kita segera menikah" Ucap Rara yang kini sedang berada dalam ruangan kerja Ardian sambil duduk dipangkuannya, terus saja memandang wajah tampan kekasihnya itu.


"Tentu saja" Ucap Ardian yang sedang fokus menatap layar laptop miliknya.


Tiba-tiba Ibu Ardian masuk dan betapa terkejutnya Bu Mina melihat pemandangan yang ada didepan matanya.


"Apa yang kalian lakukan?"


Sontak saja Ardian dan Rara bangkit karena sangat terkejut melihat Ibu Ardian telah berada dihadapan mereka.


"Kenapa bisa kau bermesraan dengan perempuan lain sedangkan kau akan menikah dengan Larisa"


"Kenapa kau melakukan ini Ardian?"


Ardian hanya diam mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Ibunya, namun sejujurnya ia sendiri sangat bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Ibunya.


"Ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kau bisa bersama dengan Rara, astagfirullah"


"Jangan bilang jika kau mengkhianati Larisa karena perempuan ini" Ucap Bu Mina menunjuk kearah Rara yang sejak tadi hanya diam namun dengan ekspresi yang biasa saja.


"Bu dengarkan Ardian dulu" Ucap Ardian mulai bersuara.


"Cepat jelaskan, sebelum ibu benar-benar gila karena perbuatanmu ini, cepat jelaskan sama Ibu"


"Aku akan menikah tapi tidak dengan Larisa Bu"


"Kalo bukan dengan Larisa lalu dengan siapa, kau ini hanya menambah pusing Ibu saja" Ucap Ibu sambil memegang kepalanya yang kini mulai berkunang-kunang.


"Aku akan menikah dengan Rara"


Mendengar apa yang Ardian katakan membuat Bu Mina jatuh pingsan.


Ardian terkejut melihat Ibunya pingsan kemudian berlari menuju kearah Ibunya yang kini terbaring dilantai.


"Cepat telfon ambulance" Pinta Ardian pada Rara.

__ADS_1


***


"Bagaimana keadaan Ibu saya dok?" Tanya Ardian yang melihat dokter keluar dari ruangan.


"Ibu anda terkena serangan jantung ringan, tapi keadaannya sekarang sudah lebih baik, untung saja anda segera membawanya kerumah sakit" Jawab Dokter itu memberitahu yang sebenarnya pada Ardian.


"Untuk sekarang lebih baik biarkan dulu Ibu anda beristirahat, dan yang terpenting jangan membuat dia berpikir yang terlalu berat"


"Baik, terima kasih dok"


"Sama-sama, kalo begitu saya permisi dulu" Ucap Dokter itu kemudian meninggalkan Ardian sendiri.


"Bagaimana keadaan Ibumu?" Tanya Bapak yang baru saja datang dengan ekspresi cemas diwajahnya.


"Kata dokter Ibu sudah lebih baik sekarang"


"Apa yang sebenarnya terjadi, bukankah tadi Ibumu kekantor untuk bertemu denganmu karena dia ingin membicarakan tentang pernikahanmu dengan Larisa" Ucap Bapak namun terlihat ekspresi bingung diwajahnya.


"Ibu kaget karena mendengar aku akan menikah dengan Rara" Ucap Ardian memberitahu kepada Bapak kejadian yang sebenarnya.


"Apa? Kenapa kau menikah dengan Rara, lalu Larisa bagaimana?" Tanya Pak Haji Somat kini dengan nada suara yang sedikit lebih keras.


Ardian menghela nafas pelan, ntah bagaimana caranya ia memberitahu yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Kepalanya juga kini mulai pusing memikirkan masalah-masalah yang seakan tiada habisnya.


"Kenapa diam saja, jelaskan sebenarnya apa yang terjadi? Bentak Bapak yang berhasil menyadarkan Ardian dari lamunannya.


"Larisa sudah mengkhianati dengan menikahi orang lain pak" Ucap Ardian berbohong, karena tak ingin membuat Bapak menjadi marah.


Plakkkk...


Ardian mendapat tamparan yang begitu keras dari Bapak, karena dia tau jika anaknya itu sedang berbohong.


"Jangan bohong Ardian, tidak mungkin Larisa berbuat seperti itu" Ucap Bapak kini mulai emosi.


"Ardian tidak berbohong pak, kalo bapak tidak percaya tanya saja sama Rara, hari itu aku dan Rara melihat dengan mata kepalaku sendiri jika dia telah menikah dengan pria lain"


"Hentikan" Ucap Bapak yang kini memegang kerah kemeja Ardian. "Kau pikir Bapak tidak tau permainan kotormu dibelakang Larisa selama ini, haaa" Ucap Bapak membuat Ardian terkejut dengan apa yang Bapak katakan.


"Ma... maksud Bapak apa?" Tanya Ardian terbata-bata. Kemudian Bapak melepaskan pegangannya pada kerah kemeja Ardian membuatnya jatuh tersungkur kelantai.


"Selama ini kau sudah berselingkuh dibelakang Larisa, makanya dia memutuskan untuk menikah dengan pria lain" Ucap Bapak sambil mengepalkan tangannya karena akan menghajar anak semata wayangnya yang telah membuat dirinya sangat malu.


"Dari mana Bapak bisa tau?" Tanya Ardian kemudian bangkit memandang wajah Bapak yang kini mulai memerah karena menahan emosi.


"Dari mana aku tau itu bukan urusanmu, tapi 1 yang harus kau tau, Bapak malu, Bapak menyesal punya anak tidak bermoral seperti dirimu" Ucap Bapak kemudian melangkah pergi dengan menabrak pundak Ardian sehingga membuatnya terhuyung dan hampir saja kembali terjatuh, untung saja Ardian mampu menyeimbangkan tubuhnya sehingga tak sampai jatuh kelantai.

__ADS_1


__ADS_2