
Ardian dan Alex kemudian membawa tubuh Larisa kesofa.
Tiana kemudian mengambil minyak kayu putih yang ada dalam tasnya kemudian membaluri seluruh tubuh Larisa yang terasa dingin seperti es.
Terlihat raut kecemasan dari wajah Alex dan Ardian, mereka khawatir terjadi apa-apa pada Larisa.
"Awas saja kau jika terjadi apa-apa pada anakku, aku tidak akan mengampunimu"
Ucap Alex mengepalkan tangannya, kemudian menatap kearah Ardian dengan penuh kebencian.
Alex kini telah melupakan status pertemanan dan Ardian sebagai rekan bisnisnya, yang sekarang Alex pikirkan bahwa kini ia memiliki saingan untuk mendapatkan Larisa.
"Tutup mulutmu, anak itu adalah anakku, dia calon istriku, setelah ia melahirkan aku akan segera menikahinya"
Jawab Ardian dengan penuh penekanan, tak mau kalah dengan apa yang Alex katakan.
"Sudah cukup, bisakah kalian sebentar saja tidak berdebat, kalian lupa sedang ada pasien yang sedang dirawat diruangan ini, dan sekarang larisa juga seperti ini karena kalian berdua, lebih baik kalian berdua pergi saja"
Tiana bangkit kemudian menyuruh Alex dan Ardian untuk pergi karena hanya akan menggangu pasien dengan perdebatan mereka yang tak ada habisnya.
"Sekarang keluar dari sini, rumah sakit ini adalah milikku, jika kau tak ingin kupermalukan dengan menyuruh satpam menyeretmu keluar dari sini, maka sekarang juga angkat kakimu dan pergi"
Ancam Alex pada Ardian
Mendengar apa yang Alex katakan, Ardian hanya tertawa sinis, namun segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, karena ancaman Alex bukanlah candaan.
Sedangkan Alex dan Tiana masih berusaha untuk membangunkan Larisa yang belum sadarkan diri juga.
"Aku akan meminta dokter untuk memeriksanya"
Ucap Alex memberi saran, dan dijawab hanya anggukan oleh Tiana.
Tiana dan Alex menunggu kedatangan dokter dengan perasaan yang was-was karena Larisa belum kunjung sadar.
Tak beberapa lama kemudian Tiara masuk keruangan dan melihat Larisa yang telah terbaring tak sadarkan diri diatas sofa.
"Ada apa ini?"
Tanya Tiara pada Alex melihat Larisa yang terbaring tak sadarkan diri.
"Dia pingsan, cepat kau periksa dia, aku tak ingin sampai terjadi sesuatu pada anakku"
Ucap Alex menyuruh Tiara memeriksa kondisi Larisa.
Tiara memandang wajah Larisa dengan penuh kebencian, dalam benaknya rasanya ia ingin menyuntik mati saja wanita yang ada didepannya itu.
Sebab karena wanita ini adalah penghalang diantara dirinya dan Alex.
Tiara berusaha bersikap profesional dengan memeriksa Larisa, dan mengesampingkan dulu kebenciannya pada wanita itu.
"Dia tidak papa, mungkin dia sedikit lelah makanya ia bisa pingsan, biarkan dia beristirahat dulu"
Ucap Tiara memberi penjelasan.
"Apakah anak dalam kandungannya baik-baik saja"
Tanya Alex penuh kecemasan.
"Tidak usah khawatir, ibu dan bayinya baik-baik saja"
Ucap Tiara, dan sejujurnya ia sangat menginginkan sesuatu terjadi sehingga membuat Larisa bisa pergi dari hidup Alex, namun kenyataan berkata lain, itulah yang membuat Tiara jadi kesal.
__ADS_1
"Alex bisakah kita berbicara sebentar?"
Pinta Tiara sambil mengajak Alex untuk keluar dari ruangan agar orang lain tidak mendengar pembicaraan mereka.
Alex yang mendengar Tiara ingin berbicara dengan kemudian mengikutinya keluar dari ruangan.
Karena tak ingin pembicaraan mereka didengar, Tiara mengajak Alex sedikit menjauh dari ruangan tempat Aisyah dirawat.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Tanya Alex tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Aku mencintaimu Alex, aku tak bisa melupakanmu, aku ingin hubungan kita kembali lagi seperti dulu"
Ucap Tiara penuh penekanan, menunjukkan keseriusan dengan apa yang ia katakan.
"Hubungan kita sudah lama berakhir, jangan pernah ungkit masalah itu lagi, kau tau sendirikan sekarang dihatiku hanya ada Larisa"
Alex berbicara dengan lembut berusaha memberi pengertian pada Tiara.
"Tapi Larisa telah menghianatimu, dan ia akan segera menikah, selama ini dia menjalin hubungan dengan pria lain Alex"
Ucap Tiara menggebu-gebu.
"Tutup mulutmu, dari mana kau tau jika Larisa telah menghianatiku?"
Tanya Alex dengan mata melotot karena mulai tersulut emosi dengan apa yang Tiara katakan.
"Tidak penting dari mana aku tau, kalo kau tidak percaya, kau bisa tanyakan sendiri langsung pada Larisa"
"Anak yang ada dalam perutnya bukan anakmu Alex"
"Sudah cukup Tiara, aku tak ingin mendengarkan apapun lagi"
"Kenapa Alex, apakah kau begitu dibutakan oleh cintamu kepadanya, sehingga kau tidak bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya?"
"Kenapa kau diam saja, jawab aku Alex"
Melihat Alex yang tidak bereaksi apa-apa atas apa yang sudah ia katakan, membuat Tiara memegang kedua pundak Alex kemudian mengunjangkan tubuhnya.
"Alex, dengarkan aku, aku masih sangat mencintaimu, selama ini aku diam karena sikapmu yang terlalu dingin kepadaku, tapi aku selalu menunggumu"
Tiara mulai terisak.
"Perasaanku untukmu telah hilang bersama dengan kepergianmu yang lebih memilih pergi melanjutkan pendidikanmu, dari pada meneruskan hubungan kita, padahal waktu itu aku sangat berharap kita akan segera menikah"
Alex berusaha menjelaskan yang sebenarnya.
"Selama kau pergi aku berusaha untuk melupakanmu dengan seluruh kenanganmu itu Tiara, aku berusaha untuk tak mengingat lagi tentang dirimu walaupun itu sangat sulit bagiku"
"Setiap hari Robi selalu menghiburku, menemaniku, membuatku agar bisa mengikhlaskan kepergianmu"
"Namun aku sadar, kau lebih mementingkan keinginanmu mengejar pendidikanmu dari pada memilih diriku, namun itu bukanlah hal yang salah, kau sudah memilih jalanmu"
"Jadi jangan salahkan aku juga jika aku memutuskan memilih orang lain sebagai penggantimu, karena yang lebih dulu memberi pilihan adalah kau bukan aku"
"Dan berhentilah mengharapkan cintaku lagi, perasaanku untukmu sudah mati"
Apa yang Alex katakan berhasil membungkam mulut Tiara, kini ia tak bisa lagi berkata apa-apa.
Hanya air mata yang terus mengalir dikedua kelopak mata Tiara, hatinya hancur, Alex menolaknya mentah-mentah.
__ADS_1
Melihat Tiara yang hanya menangis tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia kemudian memutuskan pergi dan kembali masuk kedalam ruangan dimana Larisa berada.
Tiara hanya diam mematung melihat kepergian Alex, kebenciannya kepada Larisa tiba-tiba saja semakin bertambah.
Kebencian itu bertambah karena kini Larisa lah yang memenuhi hati Alex yang seharusnya menjadi miliknya.
Ia berusaha menghapus sisa air matanya dan kembali keruangannya lagi.
***
Setelah beberapa lama tidak sadarkan diri, akhirnya Aisyah sadar.
Matanya perlahan-lahan mulai terbuka, pandangannya melihat keseluruh bagian dalam ruangan itu, tapi ia merasa asing dengan tempat dimana ia sedang berada.
Tangan Aisyah merasakan sentuhan, ia lalu menoleh dan mendapati Sidan yang sedang tidur terduduk dikursi sambil memegang tangannya.
"Kau sudah sadar?"
Tanya Tiana yang keluar dari toilet kemudian berjalan kearah tempat Aisyah berbaring.
"Bagaimana perasaanmu?"
Lagi-lagi Tiana bertanya, namun Aisyah yang belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Tiana.
Mendengar suara Tiana, Sidan akhirnya terbangun dan melihat jika Aisyah sudah sadar.
"Kau sudah sadar?"
Tanya Sidan lalu bangkit kemudian memegang wajah Aisyah.
Akan tetapi Aisyah hanya menjawab pertanyaan Sidan dengan Anggukan.
"Apa yang terjadi denganku?"
Aisyah bertanya pada Tiana.
"Istirahatlah dulu, nanti akan kujelaskan keadaanmu"
"Maksudnya, sebenarnya aku kenapa? Kenapa aku sampai..."
Belum sempat Aisyah menyelesaikan perkataannya, ia merasa ada yang aneh dibagian ***********, ia lalu membuka kain penutup bagian atas tubuhnya dan melihat jika ada darah yang keluar seperti seorang wanita yang sedang menstruasi.
"Apa ini, kenapa bisa seperti ini, anakkuuuuuuuuu"
Aisyah mulai menangis mengetahui jika ia kehilangan bayinya.
Sidan lalu mulai menenangkan Aisyah tapi sepertinya Aisyah sangat marah kepadanya.
"Maafkan aku Aisyah, maafkan aku"
Ucap Sidan merasa bersalah dengan keadaan Aisyah.
"Jangan sentuh aku, kau pembunuh, pergi, aku bukan istrimu lagi"
Ucap Aisyah menolak disentuh oleh Sidan.
"Maafkan aku Aisyah, maafkan aku"
"Aku tidak membutuhkan maafmu"
Ucap Aisyah sambil memalingkan wajahnya, tak ingin melihat wajah Sidan yang akan membuat hatinya semakin hancur.
__ADS_1
"Mari kita lanjutkan saja perceraian kita, tak ada lagi alasanku untuk bertahan denganmu"