
Setelah resmi menjadi istri sah dari Ardian, Rara kini mulai sibuk dengan kehidupan barunya. Bahkan Rara semakin sibuk karena kini dirinya menjadi istri dari seorang pengusaha.
Hari itu Rara yang bangun terlambat tak sempat lagi membuatkan sarapan untuk Ardian. Membuat mereka harus bertengkar karena permasalahan sepele yang biasa terjadi dalam kehidupan berumah tangga.
"Mas, kamukan bisa pesan makan atau suru asisten barumu untuk membelikanmu makanan. Masa gitu aja kamu marah-marah" Ucap Rara yang kini sedang terlwpibat pertengkaran dengan Ardian.
Rara kini tidak lagi bekerja sebagai asisten pribadi suaminya. Karena Ardian ingin istrinya tinggal saja dirumah. Ditambah lagi Rara yang sedang hamil membuat Ardian khawatir jika Rara yang terlalu sibuk mengurus pekerjaan, akan berdampak pada kehamilannya.
"Tapi kan ada kamu sebagai istriku, yang sudah menjadi tugasmu untuk melayaniku, termasuk menyiapkan sarapan untukku" Balas Ardian tak mau kalah.
"Kan baru kali ini aku terlambat buatin kamu sarapan, lagian kamu kan bisa beli Mas. Gitu aja kok repot" Ucap Rara lagi membuat Ardian semakin kesal karena Rara yang selalu membantah apa yang dirinya katakan.
"Apa kamu bilang, baru sekali? Yang benar itu baru sekali kamu buatin sarapan untuk aku, selebihnya tidak pernah. Iya kan?" Ucap Ardian begitu menohok membuat Rara tak bisa berkata apa-apa karena memang apa yang suaminya katakan itu benar.
"Sudahlah, aku capek berdebat masalah ini terus setiap hari sama kamu" Ucap Ardian kemudian meninggalkan Rara yang diam melihat kepergian suaminya.
"Aku menikah sama kamu kan untuk hidup senang, ngapain susah-susah gaji pembantu kalo aku juga yang harus repot ngurusin kamu" Gumam Rara dalam hatinya.
Rara kemudian menuju kekamarnya karena ingin melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terganggu, karena Ardian yang pagi-pagi sudah mengomel membuat ia jadi terbangun.
*
*
*
*
*
"Bagaimana nak, apakah kamu sudah memutuskan mengenai kelanjutan hubunganmu dengan Azam? Ini sudah sebulan lebih tapi Abah belum mendengar kabar baik itu darimu" Ucap Abah pada Tiana yang kini duduk tepat dihadapannya.
"Sebenarnya Tiana ragu Abah" Ucap Tiana tanpa basa basi.
"Ragu kenapa nak, coba jelaskan pada Abah"
"Tiana ragu sekaligus takut karena masa lalu Ustad Azam Bah" Ucap Tiana membuat Abah mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putri sulungnya itu.
"Memangnya ada apa dengan masa lalu Azam nak? Bukankah setiap orang pasti memiliki masa lalu dikehidupan mereka" Jawab Abah memberi pengertian kepada anaknya.
"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dimasa lalunya. Tapi kita tidak bisa menyalahkan masa lalu orang lain nak" Ucap Abah lagi sambil memegang puncak kepala putri yang sangat ia sayangi itu.
"Bukankah masa lalu memberi kita pengajaran agar kita bisa lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan hidup dimasa depan Abah"
"Kamu benar nak, tapi kita tak bisa selalu berfokus hanya pada masa lalu seseorang. Bagaimana jika orang tersebut telah bertaubat dengan sungguh-sungguh? Jangan hanya melihat kehidupan seseorang dari masa lalunya. Lihat juga bagaimana kehidupannya dimasa sekarang. Bukankah tidak adil jika kita menghakimi seseorang karena masa lalunya yang kurang baik"
__ADS_1
"Nak Azam itu baik, kenapa tidak kau coba dulu untuk membuka hatimu untuk dia. Sampai kapan kau akan terus merasa khawatir dengan perjodohanmu dulu. Yakinlah jika memang Ardian bukanlah jodohmu, sehingga jalannya sudah diatur olehNya sehingga perjodohan kalian bisa dibatalkan" Ucap Abah lagi membuat Tiana hanya diam namun pikirannya terus berpikir tanpa henti.
Azam yang tak sengaja lewat melihat Tiana dan Abah yang sedang duduk dipendopo hanya melempar senyuman kearah mereka, kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Abah dan Tiana.
Tiana yang melihat Azam yang tersenyum kearahnya hanya menatap wajah sendu Azam yang berlalu didepannya.
"Apakah kau sudah sholat istikharah?" Tanya Abah lagi pada Tiana yang terus memandang kepergian Azam.
"Iya Abah" Jawab Tiana singkat.
"Lalu apa keputusanmu?"
"Awalnya aku merasa sudah yakin untuk menerima Ustad Azam. Namun aku belum mengatakan keputusanku itu kepada Abah karena aku ingin menanyakan dulu kepada Ustad Azam mengenai kenapa rumah tangganya yang dulu bisa gagal" Ucap Tiana memberi tahu kepada Abah apa yang sebenarnya.
"Terus apa yang Azam katakan kepadamu mengenai rumah tangganya?" Tanya Abah mulai penasaran.
"Ustad Azam bilang jika pernikahannya dulu gagal karena mereka yang awalnya dijodohkan namun tak bisa mempertahankan rumah tangga mereka karena tidak adanya cinta dan ketidak cocokan diantara keduanya"
"Mantan istri Ustad Azam juga memfitnah dirinya jika dia memiliki penyakit impoten" Sambung Tiana namun seperti ragu ingin mengatakan hal itu kepada Abah.
"Astaghfirullah. Benarkah nak? Abah tidak menyangka jika nak Azam seperti itu" Ucap Abah kaget mendengar apa yang Tiana katakan.
"Kita tidak tau yang sebenarnya Abah, karena kita hanya mendengar ceritanya hanya dari Ustad Azam" Jawab Tiana lagi membuat Abah mengangguk-anggukan kepalanya.
"Benar nak, kita tidak boleh selalu mudah percaya begitu saja.
"Jangan putus asa seperti itu, jika kalian memang berjodoh bagaimana pun sulitnya cobaan yang akan kalian lalui, maka cobaan itu akan berlalu sehingga kalian akhirnya akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan" Ucap Abah membuat hati Tiana merasa tenang setelah tadi begitu was-was jika perjodohannya dengan Azam akan gagal. Sama seperti waktu ia dijodohkan dengan Ardian.
"Jika hatimu merasa yakin dengan Azam, maka terimalah dia menjadi imammu, dan berusaha untuk tidak mengait-ngaitkan apa yang terjadi dimasa depan. Bukankah kau sendiri yang pernah bilang pada Abah jika seburuk atau sebaik apapun suamimu kelak, tetap kau akan berusaha membuat agar apa yang kau lakukan berbuah pahala yang bisa membawamu kesurgaNya"
"Kau akan bersabar dengan keburukan suamimu yang hadir dihidupmu sebagai cobaan, dan kau akan selalu bersyukur dengan kebaikan suamimu yang hadir sebagai ujian" Ucap Abah membuat Tiana tersenyum dengan mengurai air mata yang kini telah membasahi kedua pipinya.
"dua sifat yang tetap akan menguji imanmu nak. Tak ada pilihan lain selain kau harus tetap menjalankan ibadah rumah tangga ini bersama suamimu kelak" Ucap Abah sambil menghapus air mata yang keluar dari mata anak yang begitu ia sayangi.
Tiana kemudian meraih tangan Abah kemudian menciumnya dengan penuh rasa hormat dan sayang. Tiana tidak bisa membayangkan dirinya akan menjadi sperti apa jika tanpa Abah disisinya.
"Semoga Abah selalu panjang umur" Ucap Tiana kemudian memeluk Abahnya.
"Apakah itu berati kau akan menerima Azam? Tanya Abah membuat Tiana melepaskan pelukan dari Abahnya kemudian menjawab pertanyaan dari Abah dengan menganggukkan kepala tanda ia menyetujui untuk melanjutkan hubungannya dengan Azam kejenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.
"Alhamdulillaah" Ucap Abah yang begitu bersyukur karena tak lama lagi putri kesayangannya akan segera menikah.
Rido yang tak sengaja lewat kemudian menuju kearah Abah yang memanggil dirinya.
"Tolong panggilkan Azam kesini, Ada hal penting yang ingin Abah katakan kepadanya"
__ADS_1
"Baiklah Abah, saya permisi dulu" Ucap Ridho kemudian segera berlalu mencari keberadaan Azam.
Tak berselang lama akhirnya Azam datang kemudian menghampiri Abah dan juga Tiana yang kini sedang menunggunya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Jawab Tiana dan Abah bersamaan.
"Ridho bilang jika Abah memanggil saya, ada perlu apa Abah?" Tanya Azam yang kini masih berdiri disamping pendopo.
"Kemarilah nak" Abah lalu menyuruh Azam untuk duduk tepat dihadapannya dan juga Tiana. Azam kemudian menuruti perkataan Abah.
"Abah ingin membicarakan mengenai kelanjutan hubungan kalian berdua"
Deg.
Tiba-tiba saja jantung Azam seperti akan berhenti mengetahui perihal apa yang membuat dirinya dipanggil oleh Abah.
"Apapun keputusan Tiana, saya akan menerima dengan ikhlas Abah" Ucap Azam terlihat sedikit kecewa karena ia mengira jika Tiana akan menolak untuk melanjutkan hubungan mereka.
"Aku ingin membicarakan tanggal pernikahan kalian"
Deg.
Kini jantung Azam malah berdetak sangat kencang mendengar kata yang keluar dari mulut Abah.
"Jika Abah ingin membicarakan mengenai tanggal pernikahan, itu tandanya jika Tiana akhirnya menyetujui perjodohan ini" Gumam Azam dalam hatinya.
"Kenapa diam saja nak Azam, apakah kau ingin perjodohan ini dibatalkan saja?" Tanya Abah yang melihat Azam yang hanya diam.
"Ti...tidak Abah, bukan itu maksudku" Ucap Azam membuat Tiana tertawa karena tingkah dari calon suaminya itu.
"Abah pikir kau ingin membatalkan perjodohanmu dengan Tiana"
"Tidak Abah" Ucap Azam spontan membuat Abah kini tertawa karena ekspresi wajah Azam yang sangat ketakutan jika sampai perjodohan ini dibatalkan.
"Apakah Tiana benar-benar menerimaku untuk menjadi imamnya Abah?"
"Tanyakan saja sendiri pada Tiana?" Ucap Abah membuat Azam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu jika igin bertanya pada Tiana.
Namun walaupun Azam merasa malu, ia tetap memberanikan dirinya untuk bertanya langsung pada Tiana.
"Jadi kau menerimaku untuk menjadi imammu?" Ucap Azam yang dibalas anggukan kepala oleh Tiana yang kini mulai malu-malu menatap wajah calon suaminya itu.
"Alhamdulillaah" Ucap Azam begitu bersyukur kemudian meraih tangan Abah lalu menciumnya.
__ADS_1
Dalam hati Azam, ia begitu senang karena ternyata apa yang ia takutkan tidak terjadi justru malah sebaliknya. Tiana yang akhirnya memutuskan akan melanjutkan hubungan mereka kejenjang yang lebih serius sehingga kini status Tiana berubah menjadi calon istrinya. Dan semoga saja benar-benar menjadi istrinya. Aamin. Pinta Azam dalam hatinya.