PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 24 KONSULTASI HATI


__ADS_3

"Bukan aku yang sakit, tapi tuan Alex nona"


Deg deg deg


Jantung Larisa tiba-tiba saja berdetak sangat kencang, ia sangat kaget mengetahui jika yang sakit adalah Alex.


Ia merasa sedih mendengar Ayah dari bayi yang ia kandung jatuh sakit.


"Alex sakit apa?"


Tanya Larisa mulai panik.


"Belum diketahui pasti penyakit dari tuan Alex nona, karena masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut, dikhawatirkan penyakit tuan sangat parah"


"Kenapa bisa seperti itu, bukankah ia sangat sehat selama ini?"


"Setelah berpisah dari nona, tuan merasa sangat sedih, sehingga hampir setiap malam ia akan menghabiskan waktunya untuk mabuk-ma..."


"Bawa aku ke ruangannya sekarang, aku ingin bertemu dengan Alex"


Belum sempat Robi menyelesaikan kata-katanya, Larisa kemudian langsung menyuruhnya untuk segera keruangan tempat Alex dirawat.


"Ba...baiklah nona"


***


Larisa kemudian masuk kedalam ruangan tempat Alex dirawat.


Larisa lalu berjalan mendekat kearah tempat dimana Alex terbaring, ia melihat ayah dari bayinya sedang terbaring tak sadarkan diri, wajah Alex yang mulai kurus serta sangat pucat, sangat berbeda saat terakhir kali ia melihat Alex saat di apartemennya waktu itu.


Robi yang melihat Larisa menangis memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua, ia ingin memberikan sedikit ruang agar Larisa merasa nyaman disamping tuannya.


Larisa membelai wajah Alex, ia menangis sesenggukan melihat keadaan Alex yang begitu memprihatinkan


Tangan Larisa tak bisa lepas dari tangan Alex, ia terus saja menggenggam tangan Alex berharap ia segera sadar.


Alex yang mulai sadar perlahan-lahan membuka matanya, ia mulai menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, Ia merasa heran dengan tempat dimana ia sekarang berada, matanya mulai menelusuri seluruh sudut di ruangan itu.


Setelah mendapatkan sepenuhnya kesadarannya, mata Alex lalu melotot sangking kagetnya melihat wanita yang ada dihadapannya.


Alex terkejut melihat ada Larisa dihadapannya, menangis sambil memegang tangannya.


Seketika itu juga Alex lalu melepaskan genggaman tangan Larisa karena ia merasa sangat kecewa dan marah kepadanya.


Larisa lalu bangkit dari tempat duduknya, ia ingin memegang wajah Alex, tapi seketika Alex menolak dan melarang Larisa untuk menyentuhnya.


Larisa yang mendapat penolakan dari Alex seketika itu juga air matanya terjun bebas membasahi kedua pipinya yang putih, ia tak menyangka jika Alex akan menolak disentuh olehnya.


"Robi"


Suara teriakan dari Alex menggema memenuhi ruangan.


Robi yang sedang berada diluar mendengar panggilan dari tuannya lalu bergegas masuk menemuinya.


"Apa ada yang anda inginkan tuan?"


"Sedang apa wanita ini disini"


"Nona tadi..."


Belum sempat Robi menjawab pertanyaan dari tuannya, Alex kemudian menyuruh untuk Larisa pergi.


"Cepat pergi dari sini, aku tak mau melihat wajahmu itu, cepat pergi"


Teriak Alex yang membuat siapapun akan takut mendengarnya.


Larisa hanya menangis tersedu-sedu tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari Alex.

__ADS_1


Padahal selama ini Alex selalu bersikap lemah lembut kepada dirinya.


Larisa ingin mendekat kearah Alex, namun lagi-lagi Alex menolak dirinya.


"Jangan dekati aku, Robi cepat bawa wanita ini keluar dari sini, jika tidak kau akan ku pecat sekarang juga, cepat usir wanita itu"


Perintah Alex dengan sangat marahnya


Nafas Alex mulai naik turun melihat wajah Larisa, kedua matanya mulai memerah menahan air mata yang mulai tak bisa ia bendung.


"Baiklah tuan"


"Mari nona kita keluar, biarkan tuan beristirahat dulu"


Bujuk Robi agar Larisa mau keluar dari ruangan Alex, ia tak ingin membuat tuannya itu semakin marah.


Larisa hanya diam mematung ia tak bisa berkata apa-apa, ia sangat sedih dengan perlakuan Alex kepadanya.


Karena Alex menolak kehadirannya, akhirnya Larisa pergi meninggalkan ruangan tempat Alex dirawat, ia terus berjalan sambil menangis tanpa mempedulikan orang-orang disekelilingnya.


Tiba-tiba Larisa merasa ada seseorang yang memegang pundaknya dari belakang.


Larisa kemudian menoleh kearah belakang lalu tersenyum melihat orang itu, kemudian memeluknya erat-erat untuk menumpahkan segala kesedihannya.


"Kenapa kau menangis?"


Tanya Tiana yang bingung melihat Larisa yang terus saja menangis tanpa mengatakan apapun.


"Apa yang terjadi?"


Namun tak ada jawaban dari Larisa.


Larisa tak bisa menjawab pertanyaan dari Tiana karena tangisnya semakin pecah membuatnya sesenggukan dan sulit untuk berbicara.


Akhirnya Tiana hanya membiarkan Larisa menangis, memberinya waktu sampai tangisan Larisa terhenti, dan Larisa mau mengatakan apa yang sebenarnya ia tangisi.


"Maafkan aku kak"


"Kenapa setiap ketemu kau terus saja meminta maaf kepadaku?"


"Maafkan aku karena membuatmu bertanya-tanya dengan keadaanku"


"Sudah, tidak papa, sebenarnya apa yang terjadi kenapa kamu bisa menangis seperti ini?"


"Aku..."


"Aku..."


"Kamu kenapa?"


"Sebenarnya..."


Larisa ragu ingin mengatakan yang sebenarnya pada Tiana.


"Tidak papa jika kau belum siap mengatakannya kepadaku, tapi kamu jangan bersedih lagi, kasian bayi yang ada dalam perutmu"


Ucap Tiana sambil mengusap punggung Larisa untuk saling menguatkan.


"Aku harus pergi, umi sudah menungguku"


"Me..memangnya kakak sedang apa disini?"


Tanya Larisa yang masih sesenggukan karena tangisnya.


"Abah sakit, jadi dia dirawat disini"


"Sudah berapa hari abah dirawat disini, kenapa kakak tidak bilang kepadaku?"

__ADS_1


"Baru kemarin, aku awalnya ingin memberitahumu tapi umi bilang tidak usah, umi tidak mau kamu repot apalagi kamu sedang hamil"


"Kakak jangan bicara seperti itu, aku sudah menganggap abah seperti orang tuaku sendiri, apalagi abah yang selama ini mengajariku banyak hal tentang ilmu agama"


"Aku mau menjenguk abah sekarang, boleh kan kak?"


"Tapi kamu sedang hamil, apalagi dimasa pandemi sekarang ini, pasien tak diperbolehkan menerima tamu terlalu sering"


"Baiklah aku akan menjenguk abah jika ia sudah pulang kerumah, kakak hubungi aku ya kalo abah sudah diperbolehkan pulang"


Tiana hanya menjawab pertanyaan Larisa dengan anggukan, lalu setelah itu mereka berdua saling berpamitan.


***


Alex menangis meratapi kepergian Larisa, awalnya ia sangat bahagia melihat wanita yang sangat ia cintai ada dihadapannya.


Namun rasa senang itu seketika musnah mengingat apa yang Larisa telah lakukan kepadanya.


Ia tak bisa memaafkan penghianatan yang telah Larisa lakukan, sehingga sangat marah melihat wajah Larisa.


Tiba-tiba pintu terbuka, Tiara masuk sambil membawa kantong makanan yang ia beli untuk Alex.


"Kau sudah bangun?"


Tiara bertanya sambil meletakkan kantong makanan yang ia bawa dimeja lalu berjalan mendekat kearah Alex.


"Emmm"


"Ada apa, kenapa kamu diam saja?"


"Apa aku mengganggumu?"


Alex hanya menjawab pertanyaan dari Tiara dengan gelengan kepala.


"Sepertinya yang sakit bukan hanya tubuhmu tapi juga hatimu, benarkan?"


"Jika yang sakit adalah hatimu, maka seberapa banyakpun obat yang kau habiskan tak akan bisa membuatmu sembuh"


Ucap Tiara sambil menunjuk dada bidang milik Alex.


Alex tak bisa berkata apa-apa, ia hanya tersenyum mendengar apa yang Tiara katakan.


"Apakah semua ini karena wanita yang bernama Larisa itu?"


Namun Alex terus saja diam, sibuk dengan pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya.


"Sudahlah, kalau begitu aku akan pergi, sepertinya kau sedang tak ingin diganggu"


Saat akan berdiri meninggalkan ruangan Alex, langkah Tiara tertahan karena Alex tiba-tiba saja menahannya.


"Tunggu"


"Bisakah aku berkonsultasi denganmu mengenai masalah hatiku?"


Tiara tertawa mendengar ucapan dari Alex, ia lalu duduk kembali disamping Alex.


"Ck..ck.ck.. kau pikir aku ini dokter cinta, memangnya apa masalahmu?"


"Aku sebenarnya ingin mengatakannya kepadamu, tapi aku merasa tidak enak, apalagi kita dulu pernah bersama, aku..aku.."


"Kau tak usah khawatir, kau bisa menganggapku temanmu, dengan begitu kau tak perlu merasa tak enak lagi untuk berbicara kepadaku mengenai masalahmu"


Tiara membesarkan hatinya, ia berusaha menerima


kenyataan jika Alex tak mencintainya lagi.


Cerita cinta Tiara dan Alex telah berakhir, sekarang Alex memiliki seseorang yang ia cintai, tapi itu bukanlah dirinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2