PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 28 RARA MENGUNDURKAN DIRI


__ADS_3

( Dikantor Ardian AAGroup )


Ardian sedang berada dalam ruangannya sambil terus menatap layar laptop miliknya.


Tiba-tiba hpnya berbunyi, Ardian lalu mengambil hp yang ia taruh diatas meja untuk melihat siapakah yang menghubunginya.


Seketika senyum diwajah Ardian mengembang mengetahui siapa yang menelponnya.


"......"


"Walaikumsalam, ada apa kau menelponku"


"......"


"Benarkah, aku akan memberitahu kepada orang tuaku mengenai hal ini, kau bersiap-siaplah kita akan kesana, aku akan menjemputmu lebih dulu"


"......"


"Sudahlah jangan bahas itu terus, lagipula silaturahmi harus tetap terjalin, benarkan?"


"......"


"Waalaikumsalam"


Ardian mengakhiri percakapan lalu menekan tombol interkom untuk memanggil Rara yang sedang berada diruangannya, karena ada urusan yang harus ia kerjakan hari ini.


Ardian akan meminta Rara untuk menggantikannya menghadiri meeting lanjutan bersama pimpinan perusahaan AGPWare yaitu Alex.


"Anda memanggil saya pak?"


"Aku mau kamu menggantikan aku untuk meeting dengan pimpinan perusahaan AGPWare, setelah selesai kau segera mengirimkan hasilnya lewat emailku, aku ada urusan hari ini, aku harap kau bisa menghandle semuanya seperti biasa, ingat tuan Alex itu orang yang sangat profesional, dan satu lagi mulai hari ini jangan menggunakan pakaian yang terlalu terbuka, kau mengerti?"


Ucap Ardian tanpa menoleh kearah Rara sedikitpun, ia hanya fokus pada layar laptopnya.


Lama Ardian menunggu jawaban dari Rara, namun yang ditanya hanya diam membatu, menatap kebawah sambil menggigiti bibir bawahnya.


Ardian lalu menoleh kearah Rara, melihat apa yang Rara lakukan sehingga tak menjawab pertanyaan darinya.


Ardian menutup layar laptopnya.


"Kenapa diam saja?"


Rara mengangkat wajahnya, lalu dengan terbata-bata Rara akhirnya menjawab pertanyaan dari Ardian.


"A... aku, ing..in mengundurkan diri pak, sepertinya saya tidak cocok menjadi asisten bapak?"


"Kenapa mendadak sekali, kenapa kau ingin mengundurkan diri, apakah gaji yang aku berikan kurang?"

__ADS_1


Tanya Ardian sambil menatap Rara intens, ia ingin menemukan kejujuran dari sorot matanya.


"Bukan begitu pak, gaji yang selama ini bapak berikan lebih dari cukup"


Jawab Rara, kedua tangannya mulai terasa dingin dan berkeringat, ia sangat takut jika Ardian akan marah lagi kepadanya.


"Lalu kenapa kau ingin mengundurkan diri? selama ini progres kerjamu juga sangat baik, kau bisa menghandle proyek miliaran dan aku sangat puas dengan kinerjamu itu"


Yang ditanya hanya diam, tak berani mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Rara"


Teriakan Ardian berhasil menyadarkan Rara dari lamunannya.


"Iy.. iya pak"


"Kemarilah, duduklah dikursi itu"


Pinta Ardian menyuruh Rara mendekat lalu duduk tepat dihadapan meja kerjanya.


"Aku tidak berbicara sebagai atasanmu, anggaplah yang berbicara sekarang adalah temanmu, atau terserah kau ingin menganggapku apa, tapi jawab dulu pertanyaanku, apa alasanmu ingin mengundurkan diri dari posisimu sekarang ini, kalau kau mau, aku akan menaikkan gajimu 3 kali lipat, asalkan kau tidak berhenti bekerja, bagaimana?"


"Aku tidak ingin kau berhenti karena, jika aku mencari orang lain akan sangat sulit bagiku, aku membutuhkan orang yang bisa kupercayai untuk membantuku mengurus perusahaan ini, orang yang sudah paham dan mahir mengenai pekerjaanku tanpa susah payah mengajarinya lagi, tapi tidak mudah mendapatkan orang seperti itu, kalo kamu berhenti, aku akan kesulitan untuk mencari penggantimu"


"Jawab aku Rara"


"Aku menyukai mu pak, semenjak malam itu aku terus memikirkanmu, aku tidak bisa melupakan tentang malam itu bersama bapak, tapi sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan, selama ini bapak tak pernah meresponku bahkan bapak sepertinya menjauh dariku, aku menjadi tidak enak dengan hal itu, maafkan aku yang sudah lancang berbicara seperti ini, aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya sebelum aku berhenti bekerja diperusahaan bapak"


Ucap Rara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Ardian yang mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rara seketika matanya melotot sangking kagetnya, ia tak menyangka Rara akan mengutarakan perasaannya kepadanya.


Ardian mulai membasuh wajahnya dengan kasar, Ardian merasa udara diruangannya yang tadinya dingin seketika berubah menjadi panas, ia kemudian mengendorkan kerah kemejanya karena merasa sulit bernafas.


Sejenak mereka saling bertatapan, Ardian menatap netra coklat milik Rara, ntah kenapa ia merasa kasihan pada gadis itu.


"Maafkan aku Rara, aku tak sengaja melakukan itu karena kita sedang mabuk"


Ucap Ardian dengan suara yang dibuat pelan, ia takut jika ada karyawan lain yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Tapi pak bukankah kita melakukannya lagi waktu itu, dan itu dalam keadaan bapak telah sepenuhnya sadar, kita melakukannya suka sama suka, tanpa ada paksaan"


Jawab Rara dengan air mata yang mulai jatuh dikedua pipi putih miliknya.


"Rara dengarkan aku dulu, apapun akan kuberikan, tapi jangan ungkit masalah ini lagi, aku akan menikah aku tidak ingin jika pernikahanku batal karena masalah ini, kau butuh berapa? aku akan memberikanmu"


"Pak, apakah sebegitu mudahnya orang kaya seperti bapak menilai sesuatu dengan uang? aku tidak butuh uangmu, aku akan pergi dari hidup bapak untuk selamanya, jika memang kehadiranku mengganggu hidup bapak"

__ADS_1


Ancam Rara pada Ardian.


"Apa maksudmu Rara, jangan berbicara seperti itu, aku... aku... akkkhhhhhh"


Ardian mulai frustasi, ia mengutuk kebodohannya yang waktu itu mau mengikuti paksaan dari Alex untuk ikut minum bersamanya.


"Sial, kenapa aku selalu dihadapkan dengan masalah seperti ini, aku harus bagaimana, jika larisa dan orang tuaku tau, mereka akan membunuhku"


Gumam Ardian dalam hatinya.


Rara yang sedang menangis sesekali melirik wajah bosnya itu dengan tatapan liciknya.


Ia merasa aktingnya kali ini berhasil, dan sepertinya kali ini Ardian akan menuruti keinginannya dan menerima cintanya.


Rara tak perduli jika Ardian akan menikah, walaupun dijadikan yang kedua dan dinikahi siri sekalipun ia akan sangat senang, setidaknya Ardian mau menerima cintanya.


Terlihat senyum licik mulai terbentuk disudut bibir Rara, ia senang melihat ekspresi takut diwajah Ardian.


"Pak saya permisi, jika tak ada lagi yang bapak inginkan saya mohon diri, hari ini saya resmi keluar dari perusahaan bapak"


Rara bangkit dari duduknya, namun langkahnya terhenti karena Ardian memegang tangannya dan berusaha untuk menahan langkah Rara agar tidak pergi.


"Tunggu, siapa yang mengizinkanmu untuk pergi"


Rara tersenyum penuh kemenangan, merasa bahwa rencananya telah berhasil.


Rara melepaskan pegangan tangan Ardian dari tangannya.


"Saya harus pergi pak, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan, diam bapak adalah jawaban jika bapak memang menginginkan aku untuk pergi dari hidup bapak selamanya"


"Bukan begitu, maksudku bisakah kita mengesampingkan masalah pribadi kita, dan kau tetap bekerja bersamaku, aku hanya ingin kau tetap bekerja disini, kumohon pikirkan dulu semuanya sebelum kau memutuskan untuk pergi"


Rara mundur beberapa langkah menjauh dari Ardian.


"Aku akan tetap pergi pak, apakah bapak sendiri akan merasa nyaman setelah mengetahui perasaanku, tidak kan, setelah ini pasti bapak akan semakin menjaga jarak diantara kita, dan itu semakin membuat perasaanku terluka dengan perlakuan bapak itu, jadi biarkan aku pergi pak"


Ardian menahan kepergian Rara, ia menarik lengannya lalu membawanya kedalam pelukannya.


Larisa yang akan mengunjungi Abah karena telah diizinkan pulang, memutuskan untuk kekantor Ardian agar perjalanan mereka lebih cepat, ketimbang ia harus menunggu Ardian dulu untuk menjemputnya, ia dan Ardian sepakat akan menjenguk Abah dirumahnya.


Saat akan masuk keruangan Ardian, Larisa melihat Ardian yang sedang berbicara dengan Rara, Pintu yang tadinya ia buka kembali ditutup, karena Larisa memutuskan untuk mendengar pembicaraan antara Ardian dan Rara.


Awalnya Larisa merasa senang mengetahui jika Rara ingin mengundurkan diri.


Namun setelah mendengar apa yang selanjutnya Rara katakan, Larisa merasa seperti tersambar petir disiang bolong, jantungnya berdegub sangat kencang, tubuhnya mulai terasa sangat dingin, pandangannya kini seakan berputar-putar, namun sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap kuat mengetahui kenyataan yang ada didepan matanya.


Kenyataan bahwa calon suaminya, yang selama ini sangat ia cintai berselingkuh dibelakangnya.

__ADS_1


Laki-laki yang selama ini ia perjuangkan ternyata telah menghianatinya.


__ADS_2