
Malam harinya, semua anggota keluarga berkumpul dimeja makan untuk makan malam bersama. Tiana masih tampak lemas sama seperti waktu tadi pagi saat Azam terakhir kali berbicara dengannya. Bahkan sampai sekarang Tiana terus mendiamkan Azam.
Azam sendiri mulai cemas dan khawatir melihat sikap dari istrinya. Ia mulai memikirkan apa kesalahan yang telah ia lakukan sehingga istrinya itu terlihat sangat marah kepadanya. Tiana bahkan tak pernah menoleh kearah suaminya, tatapan Tiana hanya terfokus pada makanan yang ada dihadapannya, dengan tangannya yang terus bergerak memasukkan makanan kedalam mulutnya.
Setelah makan malam selesai, Azam akhirnya pamit kepada Abah dan juga Umi untuk segera menuju kekamarnya, karena Tiana yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar setelah makan malam telah selesai.
Sesampainya didepan pintu kamarnya, Azam mengetuk lalu mengucapkan salam. Namun Azam merasa aneh, mengapa ia melakukan hal itu. Padahal, kamar Tiana kan kamarnya juga. Ia lalu masuk kedalam kamar kemudian menutup kembali pintu itu.
Azam tersipu malu dibuat oleh tingkah bodohnya. Karena kecemasannya akan sikap Tiana, Azam sampai melupakan segala hal.
Sedangkan Tiana yang sedang berbaring diatas tempat tidur hanya menjawab salam suaminya dalam hati. Tiana menyadari kehadiran suaminya karena ia yang memang masih belum terlelap.
Walaupun mata Tiana tertutup, namun ia sama sekali belum tertidur, karena pikirannya masih terus memikirkan tentang sikap suaminya yang sampai saat ini belum menyentuhnya.
Azam lalu berjalan menuju ketempat tidur, ia melihat istrinya sedang berbaring sambil membelakanginya.
Tiana yang merasa tempat tidurnya sedikit bergoyang mengetahui jika Azam kini berada disamping. Namun Tiana tetap memejamkan matanya dan tak memperdulikan Azam yang masih duduk di pinggiran tempat tidur.
"Aku tau kau belum tidur" Ucap Azam.
Tiana lalu membuka kedua matanya mendengar Azam yang sedang berbicara padanya, Namun ia kembali memejamkan matanya. Tiana memilih tak menghiraukan perkataan suaminya yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Jika aku ada salah, bisakah kita bicarakan kesalahanku dengan baik-baik. Jangan diam seperti ini" Ucap Azam lagi, namun Tiana tetap saja setia dalam diamnya.
Azam lalu bangkit, kemudian berjalan menuju kearah berlawanan dengan posisi tidurnya. Dimana ia sekarang berada tepat dihadapan Tiana yang masih memejamkan matanya.
Perlahan Azam lalu duduk dilantai sambil menatap wajah istrinya. Ia sangat menyadari jika istrinya itu sangat marah kepadanya, karena Tiana yang tidur sambil memakai penutup wajahnya.
Azam lalu meraih tangan istrinya. "Ada apa, apa yang membuatmu jadi seperti ini?" Tanya Azam, ia mulai berbicara dengan nada suara yang begitu lembut kepada istrinya. Lagi-lagi Tiana hanya diam, membuat Azam mulai frustasi.
"Istriku, bukankah jika ada masalah kita seharusnya membicarakan masalah itu secara baik-baik. Diam mu itu tidak akan memberikan jawaban dari apa yang ingin kau ketahui dariku" Ucap Azam dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin jika perkataan akan membuat istri semakin marah.
Tiana mulai mencerna apa yang barusan suaminya katakan, ia mulai menyadari jika apa yang Azam katakan itu benar. Diamnya tidak memberikan solusi dari permasalahannya.
Perlahan-lahan Tiana membuka kedua matanya, sejujurnya Tiana memang merasakan lemas. Ntah mengapa sekujur tubuhnya terasa sangat pegal, bahkan persendian Tiana terana mengilu, membuatnya ingin terus berbaring, karena jika ia terus bergerak maka sekujur tubuhnya akan semakin sakit.
Ditambah lagi, dengan pikiran-pikiran negatif yang terus saja terngiang-ngiang di benaknya, membuat semangat hidup Tiana menghilang. Rasanya seperti ingin mati saja, pikir Tiana dalam benaknya.
__ADS_1
"Aku tidak papa, aku hanya sedikit lemas. Mungkin aku lagi masuk angin atau kecapean" Jawab Tiana pelan, bahkan berbicara pun rasanya ia sangat malas.
"Tapi tidak biasanya kamu seperti ini?" Tanya Azam lagi. Ia tidak sepenuhnya mempercayai perkataan istrinya yang mengatakan jika ia memang tidak kenapa-kenapa.
Jika Tiana hanya merasa kecapean atau memang sedang sakit, seharusnya ia tidak perlu sampai memdiamkannya seperti ini.
Azam terus saja memaksa Tiana mengatakan apa yang sebenarnya mengganjal di dalam hati istrinya. Azam ingin jika masalah mereka di bicarakan secara baik-baik dan tidak berlarut-larut. Karena hal itu hanya akan membuat rumah tangga mereka akan menjadi renggang.
Apalagi, Azam yang belum merasakan malam pertamanya sejak mereka sah menjadi suami istri. Membuat Azam harus melakukan hal extra untuk terus membujuk istrinya agar ia tidak marah lagi.
Kini Tiana sudah membuka kedua matanya, ia bisa melihat samar-samar wajah suaminya yang terlihat murung.
Dengan perlahan Azam membuka penutup wajah Tiana, kali ini Azam berhasil melakukannya karena ia waktu itu melihat bagaimana cara Tiana membuka cadarnya. Sehingga ia tak kesulitan lagi untuk membukanya.
Tiana berusaha untuk bangun, namun pergerakannya tertahan karena Azam yang tiba-tiba ingin mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Tiana.
Azam ingin cepat-cepat merasakan bibir mungil Tiana. Karena bibir istrinya itulah, dirinya terkadang sampai tidak fokus jika sedang memberikan materi pelajaran di dalam kelas. Karena selalu terbayang dengan wajah cantik istrinya yang terus saja mengusik pikirannya.
Azam selalu membayangkan bagaimana rasa dari bibir mungil berwarna merah itu. Bibir mungil yang terlihat seperti buah strowberry.
Namun pergerakan Azam terhenti tatkala ia yang melihat, jika ada bantal guling yang menghalangi tubuh mereka berdua. Membuat Azam menghentikan niatnya tadi, lalu tersenyum kikuk karena Tiana yang menatapnya malu-malu sambil tertawa kecil.
Mereka berdua nampak sama-sama kaku, karena tak tau harus bagaimana cara untuk memulainya. Walaupun ini bukanlah pernikahan pertama untuk Azam. Namun sama sekali ia belum pernah merasakan yang namanya malam pertama.
Tiana sendiri tak kalah malunya, wajah Tiana kembali memanas karena Azam yang mulai terlihat salah tingkah karena tak bisa melanjutkan apa yang tadi ingin ia lakukan, karena terhalang oleh sebuah bantal guling.
Azam yang mendapat tatapan dari istrinya itu merasa seperti tertantang, dan beralih duduk di samping Tiana yang kini sedang duduk diatas tempat tidur.
"Bukankah kau sendiri yang waktu itu mengatakan jika seluruh jiwa dan ragamu adalah milikku. Dan kau sudah memberiku izin atas seluruh tubuhmu" Balas Azam. Kini tatapan mereka saling beradu.
Azam menatap wajah cantik istrinya, menelisik setiap bagian dari wajah Tiana. Semakin membuat Azam terpesona memandang wajah cantik istrinya yang begitu alami tanpa polesan sama sekali.
Kini Azam mulai berani untuk menyentuh Tiana, sedangkan Tiana sama sekali tidak menolak dengan perlakuan dari suaminya, karena memang itu yang ia inginkan. Tiana ingin mengetahui apakah benar jika suaminya itu bukanlah pria impoten seperti yang mantan istrinya fitnahkan kepadanya.
"Apakah kau sudah siap untuk memberikan hakku malam ini?" Tanya Azam sambil memegang kedua tangan istrinya.
Tiana hanya menjawab pertanyaan dari Azam dengan anggukan kepala. Karena Tiana masih malu dan sejujurnya ia takut karena malam ini ia akan melakukan malam pertamanya dengan suaminya.
__ADS_1
"Kita sholat sunah dua rakaat dulu. Kita berdoa semoga Allah merahmati rumah tangga kita. Dan memberikan anak yang soleh dan sholeha" Ucap Azam lagi dan lagi-lagi Tiana hanya menggangguk. Seperti terhipnotis Tiana hanya menuruti perkataan dari suaminya.
Seperti sekarang Tiana yang mulai bangkit kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum mereka sholat dua rakaat seelum mereka melakukan malam pertama.
Setelah mengambil air wudhu, Tiana kembali masuk ke dalam kamar kemudian bergantian dengan Azam.
Setelah Azam keluar untuk mengambil air wudhu, Tiana merasa seperti ada yang terasa aneh di antara pahanya.
Tiana merasa seperti dirinya sedang datang bulan, dan setelah Tiana memeriksa ternyata benar jika dirinya sedang menstruasi.
Azam yang baru saja masuk kedalam kamar, melihat jika istrinya sedang sibuk mencari sesuatu. Ia lalu menghampiri Tiana, untuk membantunya mencari apa yang istrinya butuhkan.
"Akhirnya ketemu juga" Ucap Tiana sambil memegang bungkusan yang biasa wanita pakai saat mereka menstruasi.
Azam yang melihat benda ditangan istrinya mulai bingung, sebenarnya benda apa itu? Pikir azam dalam benaknya. Ia sama sekali belum pernah melihat benda seperti itu.
"Itu apa?" Tanya Azam penasaran.
"Ini roti" Jawab Tiana mengerjai suaminya dengan mengatakan benda yang ditangannya adala Roti. Namun Azam terlihat tidak percaya dengan perkataan istrinya.
"Mana ada roti modelnya seperti itu" Balas Azam terus menatap benda yang Tiana pegang.
"Ini pembalut" Ucap Tiana lagi.
"Apa lagi itu pembalut, benda apa itu? Aku tidak penah mendengarnya" Ucap Azam. Ia semakin bingug dengang nama benda yang istrinya pegang. Karena seumur hidup Azam, ia sama sekali belum pernah mendengar atau pun melihat benda semacam itu.
Tiana tertawa melihat wajah suaminya yang semakin bingung. "Ini namanya pembalut. Yang perempuan pake pas
mereka datang bulan" Jawab Tiana memberi tahu yang sebenarnya mengenai benda apa yang sedang ia pegang.
"Oh" Balas Azam singkat.
Namun menit berikutnya, ekspresi diwajah Azam mulai berubah dengan keningnya yang kini berkerut mengingat perkataan istrinya yang mengatakan datang bulan.
"Jadi kamu lagi datang bulan?" Tanya Azam, ia begitu penasaran.
Tiana menyengir kuda mendengar perkataan dari suaminya. "Iya, aku datang bulan. Baru saja" Jawab Tiana santai.
__ADS_1
Lagi-lagi Azam hanya bisa menghela nafasnya, bahkan terdengar ia yang menghela nafas kasar karena harus menunda lagi malam pertama yang kembali gagal karena istrinya yang sedang datang bulan.
Tiana yang mendengar helaan nafas dari suaminya hanya tertawa kecil kemudian berlalu meninggalkan Azam yang diam mematung di pinggiran tempat tidur.