
"Tiara"
"Hei"
"Ya ada apa?"
"Kenapa sekarang kamu yang melamun, katanya kau akan mendengarkan masalahku, dari tadi aku panggil kau hanya diam saja"
Ucap Alex yang sedari tadi memanggil Tiara tapi ia hanya diam mematung.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing"
Tiara berbohong kepada Alex, ia berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Aku belum cerita saja kau sudah pusing, bagaimana kalau aku sudah menceritakan masalahku, aku yakin kau pasti akan jadi lebih pusing"
Ungkap Alex yang mendengar Jawaban dari Tiara.
"Sudahlah aku tidak apa-apa, kau bisa berkonsultasi sekarang jika kau mau"
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, apakah masalahmu mengenai wanita yang bernama Larisa itu?"
"Iya benar"
"Bukankah dia itu istri dari temanmu, jadi kau ada main dengan istri temanmu itu?"
"Bukan seperti itu, jangan salah paham dulu"
"Baiklah kau jelaskam dulu bagaimana cerita yang sebenarnya, kenapa bisa kamu jadi seperti ini, dan apa hubunganmu sama wanita yang bernama Larisa itu"
"Begini..."
Alex kemudian menjelaskan bagaimana awalnya ia bisa bertemu dengan Larisa, mengenai kehamilannya, dan kenapa akhirnya ia bisa jadi seperti sekarang.
Alex menjelaskan panjang lebar sedangkan Tiara berusaha menjadi pendengar yang baik, dan berusaha memberikan solusi dari masalah Alex.
"Jadi begitulah ceritanya, kenapa aku dan Larisa bisa saling kenal"
"Tapi apa alasan kamu sehingga sangat yakin kalo anak yang ada dalam kandungannya itu benar anak kamu?"
"Aku tidak memiliki alasan untuk hal itu, namun hatiku sangat yakin jika anak yang ada dalam kandungannya adalah anakku"
"Dan dia melakukan itu pertama kali hanya denganku, dan selama itu pula, aku dan dia sering melakukannya, sampai aku akhirnya mengetahui sendiri jika ia sedang hamil,
Tiara hanya diam, berusaha untuk menyembunyikan sakit hatinya mendengarkan apa yang Alex katakan, Tiara berusaha menjadi pendengar yang baik tanpa menghalangi Alex untuk mengeluarkan semua keluh kesahyang selama ini Alex pendam.
"Bayi yang ada dalam perut Larisa adalah bayi laki-laki"
Ungkap Tiara memberitahu jenis kelamin dari bayi yang ada dalam perut Larisa.
"Benarkah itu, dari mana kau bisa tau?"
__ADS_1
"Kau lupa, selama ini dia selalu memeriksakan kandungannya kepadaku, waktu itu dia bertanya mengenai jenis kelamin bayinya"
Tampak Alex sangat begitu bahagia dengan apa yang Tiara katakan.
Namun tiba-tiba ekspresi bahagia diwajah Alex seketika berubah mengingat apakah anak itu benar anaknya atau bukan.
"Kau bisa melakukan tes DNA jika kau ingin mengetahui kebenarannya"
"Apakah kamu yakin? Yang aku tau jika kita melakukan itu sekarang akan berakibat fatal karena akan membahayakan kehamilan Larisa.
"Kita tunggu sampai dia melahirkan anak itu, baru setelah itu kita bisa melakukan tes DNA secepatnya"
Seketika wajah Alex menjadi senang kembali setelah mendengarkan solusi dari Tiara.
"Sepertinya aku akan membuka spesialis baru yang belum ada dirumah sakit manapun"
Tiara mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari Alex.
"Aku akan membuka praktek spesialis cinta, dan kau akan menjadi dokter cintanya... hahahahha"
Tiara yang melihat Alex tertawa ikut bahagia,
Tiara merasa senang akhirnya, Alex bisa tertawa lembali.
"Kau bayangkan saja setiap hari akan ada banyak orang yang datang lalu berkonsultasi denganmu Tiara"
"Tuan, bisakah kau hentikan kehaluanmu itu, aku harus pergi sudah waktunya aku memeriksa kembali pasienku"
"Terima kasih dokter cinta"
Tepat didepan pintu Tiara yang mendengar perkataan dari Alex berbalik sambil memberikan senyuman terbaiknya.
***
Setelah dari rungan Alex tadi, Larisa kembali menuju keruangan prakteknya.
Tiara tadi berbohong dengan mengatakan akan memeriksa pasiennya, ia hanya ingin segera pergi dari ruangan Alex, karena ia merasa tak bisa menerima kenyataan jika Alex mencintai wanita lain.
Awalnya ia berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Alex mencintai Larisa, namun hatinya tak bisa bohong, ia masih sangat mencintai Alex.
Tiara berharap hubungan yang pernah berakhir bisa terjalin kembali.
Tiara duduk dimeja kerjanya sambil memijit kepalanya yang tidak pusing, ia sangat frustasi mengetahui jika Alex sekarang mencintai wanita lain, dan wanita itu sekarang sedang mengandung anaknya.
"Kenapa seperti ini, apa yang harus aku lakukan agar Alex kembali lagi kepadaku, aku awalnya ingin mengikhlaskannya tapi kenapa hatiku tak bisa, hatiku tak rela"
"Ck... kenapa juga aku harus memberi solusi kepada Alex, jika anak itu benar adalah anaknya, maka pupus sudah harapanku untuk memiliki Alex kembali"
"Aku harus menemukan cara agar Alex dan Larisa tak bisa bersatu, aku harus menemukan cara menjauhkan mereka, ya aku harus"
"Aku sudah menunggumu terlalu lama Alex, tak akan kubiarkan Larisa merebutmu dariku, aku bukannya jahat, aku hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku, akupun sebenarnya tak membenci Larisa, dia wanita yang baik, tapi hatiku tak bisa membiarkanmu bersamanya, aku tidak bisa Alex, kumohon sekali saja kau mau memberiku kesempatan". Gumam Larisa sambil mengepalkan tangannya sangking kesalnya.
__ADS_1
***
( di apartemen Larisa )
Larisa yang sedang asyik menonton berita seputar ibu hamil diruang tamu, mendengar suara pintu apartemennya dibuka, ia bergegas menuju kearah pintu dan tak lama Ardian muncul dari balik pintu itu.
Larisa terkejut dengan kedatangan Ardian diapartemennya, Larisa heran karena Ardian selama ini paling tidak mau jika diajak berada di apartemen milik Larisa.
Jikapun Ardian mau, itu karena Larisa terus saja memaksanya, karena tak ingin terus berdebat dengan Larisa akhirnya Ardian pun mau.
"Mas, kok tumben kesini?"
"Iya sayang, aku merindukanmu dan anak kita, jadi aku mampir dulu kesini"
Semenjak Larisa berubah, Ardian juga mulai kembali menerima Larisa, dan berusaha untuk melupakan tentang Tiana.
Ia tak ingin berharap pada Tiana yang tak akan pernah bisa ia miliki, tapi ia bersyukur dengan memiliki Larisa, karena ia sekarang mau berubah menjadi wanita yang lebih baik, seperti keinginannya dulu.
Kedua orang tua Ardian juga ikut merasa senang, walaupun awalnya hubungan mereka tak disetujui, namun karena ibu Ardian tahu bahwa Larisa sedang mengandung anak dari Ardian yang notabene adalah cucunya, yang sangat ia impi-impikan kehadirannya, itu membuat hati ibunya luluh dan perlahan-lahan mau menerima Larisa.
Terlebih lagi dengan perubahan Larisa yang menjadi lebih tertutup, membuat ibu Ardian semakin senang.
Ardian mendekat ingin mencium kening larisa, namun seketika itu juga Larisa mengambil langkah mundur menjauh beberapa langkah dari Ardian.
Merasa lucu dengan tingkah Larisa yang berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu, Ardian ingin mengerjai Larisa dengan terus menggodanya.
Larisa yang melihat gelagat aneh dari Ardian berlari menjauh, tepat dibelakangnya Ardian berusaha untuk menggapai tangan Larisa, namun Larisa terus berlari memutari ruang tamu dan akhirnya mereka kejar-kejaran seperti anak kecil.
Keduannya sangat bahagia, seolah-olah mereka seperti anak kecil yang sedang berlari-larian, yang kerjanya setiap hari bermain, tanpa memikirkan tentang masalah yang sedang mereka hadapi.
"Mas, sudah hentikan, ingat aku sedang hamil anakmu"
Nafas Larisa naik turun karena sudah mulai lelah.
"Aku hanya ingin menciummu, kenapa kau menolak"
"Jangan mas, tidak boleh, kita belum sah menikah"
"Ck... kau ini, dulu saja kau terus memaksaku untuk melakukannya, sekarang aku hanya minta dicium kau tak mau"
Ardian mendekat memegang pinggang Larisa dengan kedua tangannya.
"Mas kalo aku bilang gak boleh, ya gak boleh"
"Pokoknya aku ingin menciummu sekarang"
Ardian mencium kening, dan pipi Larisa bertubi-tubi, membuat Larisa terus saja berontak karena kelakuan Ardian.
"Mas, sudahh, geli ihh"
"Mas beneran udah move on dari kak Tiana?"
__ADS_1