PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 51 TIANA AZAM?


__ADS_3

"Iya Ustadzah, Assalamualaikum" Jawab Ustad Azam.


"Eh, Waalaikumsalam"


"Maaf Ustadzah saya tidak sengaja menyenggol anda tadi, apa Hpnya tidak rusak?" Tanya Ustad Azam sambil melihat Hp yang berada ditangan Tiana.


Tiana kemudian memeriksa keadaan Hpnya, namun untungnya Hp Tiana tidak rusak sama sekali.


"Alhamdulillah Hp saya tidak rusak kok, jadi tidak usah khawatir" Ucap Tiana.


"Dia siapa kak?" Tanya Larisa melihat Ustad Azam yang baru pertama kali ia lihat.


"Dia Ustad Azam, salah satu pengajar di pesantren ini, beliau lulusan Qairo mesir sama seperti suami Aisyah. Dia mengajar tentang Bahasa Arab disini" Ucap Tiana memberitahu kepada Larisa tentang Ustad Azam.


"Wah berarti jago Bahasa Arab dong" Ucap Larisa dan di balas senyuman oleh Ustad Azam.


"Ustad Azam, kau datang juga nak, kemarilah" Tiana dan Larisa menoleh kearah Abah yang memanggil Ustad Azam.


"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum" Ucap Azam sambil tersenyum kemudian beralih menuju kearah Abah yang sedang menunggunya.


"Waalaikumsalam" Ucap Tiana dan Larisa bersamaan.


Tiana dan Larisa melihat kepergian Abah dan Ustad Azam, kemudian kembali bergabung bersama dengan yang lainnya.


Abah dan Azam kemudian berjalan menuju ke pendopo karena ada yang ingin Abah bicarakan serius dengannya.


Abah lalu mempersilahkan Ustad Azam untuk duduk didepannya.


"Ada apa Abah memanggil saya?" Tanya Azam lebih dulu tanpa basa basi, karena merasa sangat penasaran dengan maksud Abah yang memanggilnya.


"Aku ingin membicarakan hal serius denganmu nak, makanya Abah memanggilmu kesini agar kita bisa membicarakan hal ini dengan lebih leluasa" Ucap Abah kini terlihat ekspresi serius diwajahnya.


"Tentu saja Abah, tapi apa yang akan Abah bicarakan?"


"Aku ingin membicarakan tentang perjodohanmu dengan anakku Tiana" Ucap Abah yang spontan membuat Ustad Azam kaget karena tak percaya dengan apa yang Abah katakan.


"Perjodohan?" Tanya Azam mulai bingung.


"Iya nak, aku ingin menikahkanmu dengan anakku Tiana Larasati"


"MasyaAllah, Abah serius?" Tanya Ustad Azam tak percaya.


"Apakah wajahku ini terlihat seperti bercanda" Ucap Abah sambil tertawa. "Tentu saja aku serius"

__ADS_1


Ustad Azam diam untuk beberapa saat, kini ia mulai memikirkan apa yang Abah katakan.


"Tapi aku tidak pantas mendampingi anak Abah" Ucap Ustad Azam dengan nada yang lembut namun tersirat penolakan didalamnya.


"Kenapa tidak pantas nak, bukankah nak Azam sendiri belum memiliki istri"


"Bukan begitu Bah, saya merasa tidak pantas mendampingi anak Abah yang masih gadis, sedangkan saya sendiri adalah seorang duda"


Abah tersenyum mendengar alasan dari Ustad Azam. "Gadis, Perjaka, duda, atau janda itu bukanlah suatu ukuran pantas atau tidak pantasnya seseorang untuk bisa menjadi pasangan orang lain. Jangan berkecil hati, yang terpenting Abah rela menikahkan anak Abah denganmu walaupun statusmu seorang duda" Ucap Abah sambil memegang bahu Ustad Azam.


"Tapi Tiana pasti tidak akan setuju Abah, selama ini kami berdua hanya berteman sebagai sesama pengajar dipesantren Abah ini" Ucap Azam kini mulai berkecil hati karena akan mendapat penolakan dari Tiana.


"Tiana anak yang berbakti, apapun yang aku katakan pasti akan ia lakukan. Jadi jangan khawatir aku akan memberi tahu masalah pernikahan kalian, dan Abah mengharap agar kalian berdua secepatnya menikah"


"Apakah itu terlalu terburu-buru Abah, lebih baik jika aku dan Tiana taaruf saja dulu, aku khawatir jika Tiana akan merasa tidak cocok denganku. Sehingga jika dia ingin membatalkan perjodohan ini tentunya tidak akan menjadi sebuah masalah karena kami berdua belum terikat dalam ikatan suci pernikahan"


"Apakah nak Azam memiliki calon istri?" Tanya Abah memastikan.


"Tenang saja Abah, aku sama sekali tidak memiliki siapa-siapa dalam hidupku, aku hanya ingin Tiana dan aku bisa saling mengenal sebelum akhirnya kami menikah" Ucap Azam memberi pengertian kepada Abah.


"Baiklah nak, aku memberikan waktu 3 bulan untukmu dan Tiana bisa saling mengenal, dan jika sebelum 3 bulan akhirnya kalian telah merasa cocok dan kalian memutuskan untuk menikah, maka dengan senang hati Abah akan menikahkanmu"


"Terima kasih Abah, sejujurnya saya pun sebenarnya sangat senang karena Abah dengan senang hati menerima saya menjadi bagian dari keluarga Abah, hanya saja saya belajar dari pernikahan terdahulu saya, karena saya takut jika harus gagal untuk ke dua kalinya, apalagi saya harus menikah dengan anak pimpinan pesantren seperti Abah. Saya seperti merasa beruntung sekali"


"Iya Abah. Aamiin"


*


*


*


*


Dirumah sakit tempat Ibu Ardian dirawat, Rara berjalan dikoridor rumah sakit menuju kerungan perawantan wanita yang akan menjadi Ibu mertuanya itu.


Tanpa sengaja Rara bertemu Tiara yang baru saja keluar dari ruangan prakteknya.


Melihat sahabatnya itu keluar dari ruangannya, Rara lalu berjalan menghampiri Tiara.


"Hai" Ucap Rara sambil sambil memegang tangan Tiara yang membuatnya menjadi kaget.


"Hai" Balas Tiara melihat ternyata orang yang memegang tangannya adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Sedang apa kau disini?"


"Aku kesini untuk menjenguk calon Ibu mertuaku" Jawab Rara sambil tersenyum bahagia. Namun senyum diwajahnya seketika itu juga hilang melihat ekspresi wajah Tiara yang hanya diam saja.


"Aku tau perasaanmu, kamu jangan sedih ya" Ucap Rara lagi sambil mengusap pundak sahabatnya.


"It's okay, aku baik-baik saja. Lagian aku juga sudah mengikhlaskan Alex bersama dengan perempuan itu" Ucap Tiara sambil tersenyum berusaha untuk tegar.


"Apa? Aku tidak salah dengar, semudah itu kau mengikhlaskan Alex bersama perempuan itu? Ucap Rara tak terima jika sahabatnya begitu mudah melepaskan Alex begitu saja.


"Iya Ra, lagian dia udah jadi suami orang sekarang"


"So, kenapa emangnya kalo Alex udah jadi suami orang, hey yang pertama kenal dan cinta sama Alex itu kamu bukan perempuan itu, masa gitu aja kamu nyerah, ini bukan dirimu yang aku kenal dulu"


"Kamu gila ya, jelas dong dulu aku bakal berusaha mati-matian untuk memperjuangkan cintaku ke Alex karena dia belum menjadi milik siapa-siapa, sekarang tidak ada lagi yang bisa ku perjuangkan Ra, Alex udah jadi suami Larisa"


"Ya rebut lagi dong Ti, masa kamu mau kalah sama si Larisa itu, aku aja mati-matian perjuangkan cintaku sama pak Ardian masa kamu nggak"


"Gak bisa Ra, lagian Alex udah gak cinta sama aku, terus apa yang harus aku perjuangkan dari dia"


"Duh Ti, berhenti ngomongin soal cinta, Alex itu kaya raya, rumah sakit ini aja punyanya dia, masa kamu mau lepasin dia begitu aja. Rebut lagi dong"


"Kamu udah gak waras ya, bisa-bisanya kamu suruh aku merusak rumah tangga orang lain"


"Kalo tau begitu kemarin-kemarin biar aku aja yang deketin Tuan Alex, kamu terlalu lembek sama si Larisa itu"


"Apa" Ucap Tiara kaget mendengar apa yang sahabatnya katakan.


"Yaiyalah, secara Alex itu kan tampan kaya raya pula, siapapun wanita akan jatuh hati kepadanya. Kamu aja yang bodoh membiarkan Alex begitu saja direbut sama Larisa" Ucap Rara, membuat Tiara kaget seakan tak percaya dengan apa yang sahabatnya itu katakan.


"Aku gak nyangka, kamu bakal ngomong seperti ini Ra, kita itu udah bersahabat udah lama banget, tapi kamu kok malah ngomong kayak gini"


"Kamu lupa, waktu itu aku ngomong sama kamu kalo bakal ngedeketin Alex tapi aku tau lebih dulu ternyata Alex yang kamu maksud adalah Tuan Alex makanya aku mundur karena aku tau kamu mencintainya"


"Kamu bukan sahabatku lagi Ra, kamu jahat" Ucap Tiara kemudian meninggalkan Rara karena Tiara merasa kecewa dengan apabyang Rara katakan.


"Terserah" Ucap Rara tak peduli kemudian berlalu menuju keruangan tempat Ibu Ardian dirawat.


Di salah satu ruangan dengan cat putih yang mendominasi warna dinding dirungan itu, Bu Mina terbaring lemah karena sejak kemarin belum sadarkan diri juga.


Disampingnya kini duduk Ardian yang menatap wajah pucat Ibunya sambil terus memegang tangan Bu Mina dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan Ibunya terbuka,

__ADS_1


Ardian menoleh kerah pintu mengira jika Bapak yang masuk keruangan Ibunya, namun dia salah justru Rara yang muncul dibalik pintu sambil tersenyum manis kearahnya.


__ADS_2