PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 81 CICILAN MALAM PERTAMA


__ADS_3

Setelah dari kamar mandi, Tiana yang kini masuk kembali ke dalam kamar melihat jika suaminya nampak murung.


Tiana tersenyum melihat suaminya yang diam saja dipinggiran tempat tidur. Tiana sangat yakin jika sikap suaminya seperti itu karena malam pertama mereka gagal.


Langkah Tiana terhenti tatkala ia mengingat jika suaminya yang ternyata ingin melakukan malam pertama mereka.


Tiana mulai berpikir jika suaminya ternyata bukanlah pria impoten seperti yang selalu ia pikirkan hampir satu minggu ini. Tiana yakin akan hal itu, karena tadi suaminya yang berniat akan menciumnya. Dan semakin membuat Tiana yakin karena Azam sendiri yang mengajaknya untuk melakukan malam pertama mereka.


Tiana mengingat, jika tadi ternyata suaminya sendiri yang meminta haknya. Tiana melihat dengan jelas mata suaminya yang dipenuhi dengan hasrat untuk segera melakukan malam pertama dengannya.


Dalam benaknya, ia memikirkan jika tidak ada satu pun ciri-ciri dari Azam jika ia adalah pria impoten. Jika suaminya adalah pria impoten, tentu saja ia tidak akan mau mencium atau bahkan mengajak dirinya untuk melakukan hubungan suami istri.


Namun, Tiana heran mengapa suaminya itu baru meminta haknya sekarang, mengapa Azam tidak memintanya saat dimalam pengantin mereka. Padahal waktu itu Tiana sudah siap untuk menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada suaminya.


Dan Tiana kembali gagal untuk memberikan hak dari suaminya karena ternyata ia sedang menstruasi. Dan mereka harus menunggu seminggu lagi setelah Tiana benar-benar telah bersih baru bisa melakukan malam pertama yang sudah sangat terlambat menurut Tiana


Tiana berharap semoga setelah datang bulannya selesai, tidak ada lagi halangan yang bisa mengganggu malam pertamanya dengan Azam, Karena Tiana sejujurnya sangat ingin cepat-cepat hamil agar segera bisa memiliki seorang anak.


Azam yang melihat Tiana yang diam di depan pintu bangkit lalu menghampirinya. Ia lalu memegang pundak Tiana yang sejak tadi berdiri dan tak menghiraukan dirinya.


"Kenapa berdiri terus?" Tanya Azam sambil menatap wajah cantik istrinya dan begitu pun sebaiknya.


"Kamu kan tadi bilang kalo kecapean" Sambung Azam lagi.


Tiana tidak memperdulikan pertanyaan dari suaminya karena terus menatap wajah tampannya. Sampai-sampai Azam menyadari jika istrinya itu sedang memandang wajahnya, karena Tiana yang tidak merespon pertanyaannya.


Azam lalu menyilangkan kedua tangannya dibalik tubuh Tiana. Tiana yang mendapatkan perlakuan seperti itu spontan memejam matanya.


Tubuh Tiana terasa sangat kaku, sekujur tubuh merasakan dingin karena baru kali ini ia sedekat ini dengan Azam.


Azam tertawa kecil melihat ekspresi wajah istrinya yang kini sedang menutup rapat-rapat kedua matanya.


Tanpa meminta izin lagi kepada Tiana, Azam mendaratkan bibirnya tepat di pipi Tiana. Membuatnya merasa geli karena terkena bulu-bulu halus yang ada diwajah suaminya.

__ADS_1


Tiana membuka matanya lalu tersenyum sambil tersipu malu melihat Azam yang juga tersenyum kepadanya karena sudah berhasil mencium pipinya.


"Boleh cium lagi?" Tanya Azam membuat Tiana terkekeh mendengar suaminya yang seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada Ibunya.


"Kenapa harus izin lagi, yang tadi tidak izin kok" Jawab Tiana pelan.


" Yang tadi itu testernya, ternyata rasa pipi kamu enak jadi kepengen lagi" Balas Azam.


Tiana kemudian memberanikan dirinya mengecup bibir Azam yang akan menciumnya. Namun Azam kalah cepat karena Tiana yang lebih dulu memberi kecupan tepat di bibirnya.


Menit berikutnya Azam mulai memberanikan dirinya untuk mencium bibir Tiana. Azam merasakan ciuman pertamanya yang begitu manis, dan begitu pun sebaliknya dengan Tiana yang mulai mengikuti alur permainan bibir suaminya.


Azam membawa tubuh istrinya untuk bersandar didinding, dengan tangan mereka berdua yang kini saling bertautan. Nafas keduanya memburu, keduanya bisa merasakan nafas yang keluar dari hidung masing-masing karena aktivitas yang belum bisa mereka hentikan.


Azam terus menc**m bibir mungil istrinya. Bahkan Tangan Azam kini mulai bergerak lincah di dalam baju Tiana yang kini sedang memakai pakaian rumahan yang banyak ibu-ibu pakai saat dirumah.


Azam kini beralih membawa tubuh Tiana untuk berpindah ke tempat tidur dengan cara menggendongnya. Namun dengan bibir mereka yang masih belum melepaskan tautannya satu sama lain.


"Kenapa baru sekarang kau meminta hakmu padaku?" Tanya Tiana, membuat Azam yang berniat ingin kembali melanjutkan aktivitasnya tadi mengurungkan niatnya itu.


"Waktu itu aku melihat ada noda merah dibagian belakang tubuhmu" Jawab Azam membuat Tiana tidak mengerti dengan maksud perkataan dari suaminya.


"Apa, noda merah?" Tanya Tiana lagi dan dijawab langsung oleh Azam dengan anggukan kepala.


"Aku mengira waktu itu kau sedang datang bulan, makanya aku tidak..." Azam menggantungkan ucapannya. Namun Tiana sangat tau kelanjutan dari apa yang akan suaminya katakan.


"Aku tidak tau tentang noda merah yang kau bicarakan. Tapi syukur lah. Karena gara-gara kau tidak..." Kini giliran Tiana yang menggantungkan ucapannya.


"Tidak apa? Jangan bilang kau berpikir jika aku pria impoten seperti yang mantan istriku fitnahkan kepadaku" Tanya Azam memastikan jika Tiana tidak berpikiran sama dengan apa yang mantan istrinya fitnahkan dulu kepadanya.


"Sejujurnya iya" Jawab Tiana cepat setelah Azam menyelesaikan ucapannya.


Azam lalu meraih tangan Tiana lalu membawanya utuk menyentuh benda tumpul milik Azam yang kini sedang mengeras meminta untuk segera diberikan pelepasan.

__ADS_1


Tiana memukul bahu Azam karena terkejut menyentuh benda tumpul milik suaminya.


"Apakah kau masih ingin bukti lagi jika aku tidak seperti yang difitnahkan mantan istriku?" Tanya Azam sedikit tertawa, ia masih memegang kedua tangan Tiana yang terus memberontak agar tangannya dilepaskan.


"Berarti waktu itu kau sedang tidak datang bulan?" Tanya Azam penasaran.


"Kan tadi kau lihat sendiri jika aku mencari roti yang biasa wanita pakai jika sedang datang bulan" Jawab Tiana sedikit kesal.


"Apa perlu aku memperlihatkannya kepadamu" Sambung Tiana lagi dan dibalas langsung dengan gelengan kepala oleh Azam.


Azam kini merutuki kebodohannya yang waktu itu tidak berani bertanya mengenai noda merah yang waktu itu ia lihat dipakaian pengantin istrinya.


Azam kembali menghela nafas kasar karena harus kembali bersabar menunggu sampai datang bulan istrinya selesai, baru ia bisa kembali melanjutkan malam pertamanya yang sudah ia cicil lebih dulu tadi.


Tiana hanya tertawa mendengar helaan nafas suaminya. Namun Tiana kini benar-benar yakin jika suaminya sama sekali tidak seperti apa yang ia pikirkan seminggu belakangan ini.


Ternyata selama seminggu ini mereka berdua sudah keliru, dan karena kekeliruan itu juga yang kini membuat malam pertama mereka kembali gagal.


Namun ada rasa yang tak bisa Tiana ungkapkan dengan kata-kata. Tetapi jauh didalam lubuk hati Tiana yang paling dalam, ia sangat merasa bersyukur karena kekhawatirannya sama sekali tidak benar. Membuat kini moodnya kembali merasa lebih baik, dan tubuhnya yang sejak beberapa hari terasa lemas kini sudah agak lebih baikan.


"Terkadang prasangka buruk bukan hanya membuat hati menjadi lelah dan sakit, namun tubuh pun ikut merasakan apa yang hati rasakan" Batin Tiana dalam hatinya.


Dan benar apa kata Azam. Jika sesuatu itu sebaiknya dibicarakan baik-baik, jangan hanya dipendam, karena tidak akan memberikan solusi untuk permasalahan. Pikir Tiana dalam benaknya membenarkan perkataan suaminya, setelah mengingat perkataan Azam tadi pagi saat suaminya itu begitu khawatir kepadanya.


Azam lalu menarik tubuh Tiana lalu memeluknya dan bersandar dibahu Tiana sambil menghirup aroma tubuhnya.


"Aku tidak menyangka jika kau akan menerimaku" Ucap Azam sambil berbisik ditelinga istrinya.


"Aku juga tidak menyangka jika kau adalah jodohku" Balas Tiana sambil memeluk tubuh suaminya.


Entah sudah berapa lama pengantin baru itu saling bercumbu karena tidak bisa melakukan penyatuan. Namun tak mengurangi hasrat Azam yang terus ingin menyentuh seluruh bagian tubuh istrinya.


Azam sama sekali tak henti-hentinya menempelkan bibirnya pada bibir Tiana, ia merasa jika bibir istrinya itu begitu nikmat dan membuat candu bagi dirinya. Sehingga Azam tak bisa untuk melepaskan tautan bibir mereka.

__ADS_1


__ADS_2