
Di lain waktu dengan suasana dengan tempat yang berbeda. Sedang digelar acara pernikahan antara 2 orang yang kini sudah menyandang status sebagai suami istri.
Keduanya tak henti-hentinya melempar senyuman pada para tamu undangan yang ikut memberikan doa restu untuk rumah tangga mereka.
Akhirnya Ardian dan Rara menikah juga setelah sebelumnya terjadi perselisihan antara Ardian dan kedua orang tuanya yang terus menolak hubungan keduanya. Namun mereka akhirnya terpaksa menikahkan mereka berdua karena Rara yang kini sedang berbadan dua. Sehingga dengan terpaksa kedua orang tua Ardian akhirnya menerima keputusan anaknya yang akan menikahi kekasihnya yang kini sedang hamil.
Bu Mina terlihat sangat malu, ketika teman arisannya terang-terangan membicarakan mengenai kehamilan Rara. Membuat wanita paruh baya itu kini mulai frustasi karena anaknya telah membuat malu dirinya.
Ardian tak henti-hentinya menatap wajah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
Sempat terlintas dikepala Ardian jika saja wanita yang berada diatas pelaminan bersama dirinya adalah Larisa atau Tiana, mungkin saja dirinya akan merasa lebih bahagia.
Sejujurnya Ardian juga merasa bahagia dengan pernikahannya dengan Rara, namun Ardian merasa jika dirinya mungkin akan lebih bahagia jika menikah dengan Tiana ataukah Larisa.
Namun secepat mungkin Ardian menghentikan khayalan bodohnya itu. Ardian merasa tak seharusnya memikirkan wanita lain saat kini ia telah menjadi suami dari Rara.
"Kenapa kau melamun sayang?" Tanya Larisa yang menoleh kearah laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya.
"Tidak sayang, tidak papa" Ucap Ardian berbohong, sebab tak mungkin jika dia mengatakan bahwa dirinya sedang memikirkan wanita lain. Itu hanya akan membuat Istrinya pasti akan sangat marah.
"Kau sangat cantik" Ucap Ardian membuat Rara menjadi tersipu malu karena pujian dari Ardian.
"Kemarin aku tidak cantik?"
"Hari ini sangat sangat cantik maksudku sayang" Ucap Ardian membuat Rara tersenyum kembali karena termakan oleh rayuan dari suaminya.
Jam kini menunjukkan di pukul 09.00 malam. Para tamu yang hadir kini satu persatu mulai meninggalkan tempat dimana acara pernikahan Ardian dan Rara diselenggarakan.
Kini Ardian dan Rara sudah memasuki kamar hotel dimana pesta pernikahan mereka dilangsungkan.
Terlihat Rara yang mulai meregangkan otot-otot tubuhnya karena merasa sangat lelah, sebab sejak tadi pagi terus berdiri menyambut para tamu undangan yang hadir dipesta pernikahannya.
"Sayang bantu aku melepaskan gaunku ini" Pinta Rara pada suaminya yang juga sedang melepaskan jas yang tadi ia pakai.
Ardian lalu menghampiri istrinya yang sangat kesusahan melepaskan gaun pengantinnya.
__ADS_1
Membuat Ardian selalu saja terpana melihat kulit putih mulus istrinya yang selalu menjadi candunya.
"Sayang jangan malam ini, aku sangat lelah" Ucap Rara pada Ardian yang kini mulai menggerayangi tubuh polosnya.
Ardian menghela nafas kasar mendengar apa yang wanitanya katakan. Namun Ardian mengerti jika istrinya itu kini sangat lelah tak mungkin jika ia memaksakan kehendaknya mengingat istrinya itu juga sedang hamil muda.
"Baiklah kau istirahat saja, aku akan mandi dulu" Ucap Ardian yang dijawab anggukan oleh Rara kemudian bergegas masuk kekamar mandi.
*
*
*
*
*
Alex yang sedang sibuk bekerja didalam ruangan kerja dirumahnya tiba-tiba menghentikan aktivitasnya melihat Robi yang masuk kedalam ruangannya sambil membawa sesuatu.
Alex bisa melihat benda pipih yang dibawa oleh Robi terlihat seperti undangan pernikahan.
Setelah menyampaikan mengenai undangan pernikahan Ardian dan Rara Robi kemudian keluar.
Alex terus saja memandangi undangan pernikahan Ardian dan Rara. Kemudian bergegas menuju kekamar untuk menemui Larisa yang sedang sibuk menidurkan bayinya yang rewel sejak tadi.
"Sayang aku ada sesuatu untukmu" Ucap Alex yang kini berada didalam kamarnya kemudian menghampiri Larisa yang berada ditempat tidur bersama dengan bayinya.
"Apa itu sayang" Ucap Larisa menoleh kearah suaminya yang berjalan menghampiri dirinya.
"Kau lihat saja sendiri" Ucap Alex kemudian memberikan undangan pernikahan Ardian dan Rara pada Larisa.
Rara terkejut melihat benda pipih yang berada ditangannya Rara melihat undangan itu adalah undangan pernikahan dari Ardian dan Rara.
"Apakah kita harus menghadiri pernikahan mantanmu itu?"
__ADS_1
Ucap Alex yang membuat Larisa semakin bingung apakah ia harus menghadiri pernikahan orang yang sudah menyakitinya atau tidak.
"Tidak perlu, akukan sudah bilang tidak ingin berurusan lagi dengan mereka" Ucap Larisa kemudian membuang undangan pernikahan Ardian dan Rara kedalam tempat sampah.
"Apa kau yakin" Tanya Alex lagi ingin memastikan jika benar istrinya tak ingin datang kepernikahan mantannya.
"Tentu saja aku yakin, lagi pula tak ada gunanya aku berada disana" Ucap Larisa tanpa keraguan sama sekali.
"Syukurlah kalo seperti itu, aku pikir kau akan menghadiri pesta pernikahan mereka. Padahal mereka berdua sebenarnya sudah menikah"
"Maksudnya?" Tanya Larisa yang kini mulai bingung.
"Undangan itu baru Robi berikan kepadaku, sedangkan acaranya sudah 3 hari yang lalu"
"Jadi maksudmu tadi bertanya apakah kita harus hadir kepernikahan mereka atau tidak itu apa?"
"Aku hanya ingin tau bagaimana reaksimu mengetahui pernikahan dari orang yang dulu sangat kau cintai itu"
"Apakah kau masih meragukan cintaku? Tanya Larisa kini dengan ekspresi yang serius diwajahnya. "Apakah cemburuku waktu itu masih belum bisa membuktikan cintaku kepadamu?
"Tidak sayang, aku hanya bercanda" Ucap Alex kemudian meraih tangan Larisa kemudian menciumnya.
"Bercanda mu itu tidak lucu, aku merasa kau seperti masih meragukan ku"
Alex kemudian mencium bibir istrinya yang kini terlihat mulai ngambek. Membuat Larisa terkejut dengan ciuman dari suaminya itu.
"Apa yang kau lakukan" Ucap Larisa kemudian mendorong tubuh kekar suaminya agar menjauh darinya.
"Aku ingin memproses adik untuk Kenan" Ucap Alex membuat Larisa membulatkan kedua matanya sangking terkejutnya dengan apa yang suaminya katakan.
Larisa heran apakah suaminya itu lupa jika baru beberapa hari yang lalu ia melahirkan, dan masa nifasnya pun belum berakhir, kini suaminya itu meminta anak lagi kepadanya.
"Tidak bisa sayang" Ucap Larisa membuat wajah Alex menjadi kecewa.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Alex dengan dahi yang kini berkerut.
__ADS_1
"Kau harus menunggu 36 hari lagi sampai masa nifasku selesai, baru kau bisa memproses adik lagi untuk Kenan" Ucap Larisa membuat Alex menghela nafas kasar karena tak bisa menyalurkan hasratnya itu. Padahal kini kejantanannya mulai menegang karena melihat tubuh istrinya yang bertambah seksi setelah ia melahirkan.
Karena tidak bisa menyalurkan hasratnya akhirnya alex memutuskan untuk masuk ke kamar mandi lalu menyiram tubuhnya menggunakan air dingin untuk menghilangkan hasratnya yang tidak bisa tersalurkan