
Acara akhirnya selesai juga. Larisa lebih dulu masuk kekamar untuk memeriksa keadaan Kenan yang sedang tidur didalam box bayinya.
Larisa nampak gemas sambil tersenyum memandang wajah tampan anaknya, kemudian menarik selimut Kenan untuk menutupi seluruh tubuhnya agar bayi mungil itu merasa hangat, karena beberapa saat setelah acara selesai hujan pun turun.
Setelah benar-benar memastikan keadaan Kenan, Larisa kemudian berjalan untuk mengambil remote AC untuk menaikkan suhu dikamarnya yang terasa sangat dingin. Ditambah lagi kondisi diluar yang sedang hujan membuat udara dingin semakin menusuk hingga ketulang-tulang.
Gegas Larisa menuju kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Matanya tak bisa lagi menahan rasa kantuk yang mulai menyerang. Meminta untuk segera terpejam menuju kedunia kapuk.
Selesai melakukan ritual bersih-bersihnya. Larisa kemudian keluar untuk memakai baju karena saat ini ia hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
Deg.
Larisa terkejut karena Alex yang telah berdiri disamping kamar mandi sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Sayang, kau mengagetkanku" Ucap Larisa memegangi dadanya yang sempat terkaget karena kehadiran Alex yang begitu tiba-tiba.
"Aku ingin menagih janjimu" Balas Alex kini memeluk tubuh Larisa yang hanya berbalut handuk itu.
"Sabar sayang, aku..." Belum sempat Larisa menyelesaikan kata-katanya. Benda kenyal itu kini menempel di bibir seksi Larisa.
Alex yang masih mengenakan pakaian kini mulai melepaskan satu persatu pakaian yang menutupi tubuhnya. Hingga hanya tersisa celana boxer yang menutupi kejantanannya.
Larisa membulatkan matanya melihat benda tumpul yang kini telah berdiri kokoh, meminta untuk segera diberikan pelepasan.
"Sayang kemarilah" Alex menyuruh Larisa untuk berbaring ditempat tidur. Tidak menunggu lama Larisa pun segera menghampiri suaminya itu karena ia harus memberikan pelayanan untuknya.
Mereka pun akhirnya saling bercumbu. Saling menikmati tubuh satu sama lainnya. Hingga tiba saatnya Larisa yang harus bekerja extra untuk membantu suaminya mendapatkan pelepasannya.
"Terus sayang" Ucap Alex menikmati permainan dari Larisa.
Walaupun masa nifasnya belum selesai, Larisa memberikan pelayanan kepada suaminya dengan cara lain. Sehingga suaminya tidak merasa kesal karena harus menunggu masa nifasnya yang baru akan selesai setelah tiga minggu lagi.
Terdengar suara erangan panjang yang keluar dari mulut Alex. Nafasnya memburu setelah mendapatkan pelepasan yang hampir dua minggu ini ia tahan.
Alex menarik tubuh Larisa agar berada tepat diatas tubuhnya, lalu mencium kembali bibir Larisa dalam-dalam, untuk mengucapkan terima kasih untuk service yang telah diberikan istrinya itu kepadanya.
"Kau hebat sayang, terima kasih" Ucap Alex setelah melepaskan tautan bibir mereka.
Larisa tersenyum malu-malu dengan pujian yang suaminya ucapkan untuknya.
Beberapa hari Larisa yang lalu, Larisa mulai mencari informasi mengenai apa yang bisa pasangan suami istri bisa lakukan selama masa nifas belum berakhir.
__ADS_1
Akhirnya Larisa mulai mencari informasi diinternet. Kemudian membaca beberapa artikel yang membahas tentang apa yang ia cari.
Karena itulah, Larisa bisa mempraktekkan apa yang ia baca diinternet pada suaminya. Membuat Larisa senang karena tidak sia-sia dirinya mencari informasi tentang hal itu.
Karena Larisa yang memang sejak tadi merasa mengantuk, membuat dirinya kini tidur diatas tubuh suaminya. Alex sama sekali tidak ingin memindahkan tubuh istrinya. Malah membiarkan tubuh Larisa tetap berada diatas tubuhnya. Alex lalu menarik selimut karena merasa kedinginan kemudian menutup tubuh polosnya dan juga Larisa.
β€β€ππππππππ
*
*
*
*
*
Keesokan harinya, dirumah Abah Tiana orang-orang mulai sibuk untuk mempersiapkan acara pernikahan Tiana dan juga Azam.
Para orang-orang dari wedding organizer yang Tiana panggil untuk menyulap Masjid yang berada dikomplek pesantren Abah, karena memang rencananya mereka akan melakukan ijab kabul dimasjid itu.
kesana kemari memeriksa pakaian yang akan mereka pakai untuk acara pernikahan Tiana yang akan diadakan lusa.
Kini Fatimah beranjak kekamar Tiana untuk membawa pakaian persatuan yang akan sahabatnya pakai diacara sakralnya nanti.
Fatimah tiba didepan pintu kamar Tiana, saat akan membuka pintu kamar Kakaknya Fatimah mengurungkan niatnya itu.
Fatimah mengingat pesan Tiana untuk mengetuk serta memberi salam dulu sebelum masuk kekamar orang lain. Walaupun itu kamar orang tua ataupun saudara sekalipun.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum" Fatimah mengucapkan salam sambil berteriak.
Mendengar suara Fatimah, Tiana yang sedang berdzikir terkejut lalu menghentikan aktivitasnya, kemudian beranjak menuju kepintu.
"Ada-ada aja sifat jail anak satu ini" gumam Tiana dalam hatinya.
"Waalaikumsalam" Balas Tiana dengan nada suara yang begitu lembut sambil membuka pintu kamarnya.
Tiana tersenyum melihat perubahan kecil dari adiknya, namun senyum itu berubah menjadi cubitan kecil dihidung Fatimah karena anak itu selalu saja jail dengan mengucapkan salam dengan cara berteriak.
__ADS_1
"Sakit kak" Keluh Fatimah yang mendapat cubitan oleh kakaknya.
"Ucap salamnya gak usah teriak-teriak juga dek, kakak kan gak budek" Ucap Tiana yang dibalas dengan senyuman yang lebar oleh Fatimah.
"Ada apa mencari Kakak?"
"Ini baju persatuan Kakak udah selesai dijahit, tadi orang dari taylor datang langsung membawakan baju ini" Fatimah lalu menunjukkan baju yang ada didalam paperbag.
"Ya sudah sini dek" Ucap Tiana kemudian meraih paperbag yang Fatimah berikan kepadanya.
"Makasih, adiknya kakak yang cantik" Tiana lalu mencubit gemas pipi Fatimah membuatnya meringis kesakitan karena cubitan darinya itu.
Tiana kemudian masuk kembali kekamarnya, meninggalkan Fatimah yang masih mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit karena cubitan darinya.
"Dasar calon pengantin gak ada akhlak" Omel Fatimah kemudian berlalu meninggalkan kamar Kakanya.
Sedangkan Azam sendiri, dibantu oleh Larisa dan juga Umi untuk menyiapkan seserahan yang akan diberikan Azam kepada Tiana nanti.
Terlihat mereka yang kini berada disebuah Mall besar dikota itu mulai memasuki Mall yang akan menjadi tempat mereka untuk membeli seserahan untuk calon pengantin.
Umi menoleh kearah Larisa karena merasa tidak enak jika Azam yang akan membeli seserahan untuk Tiana di Mall yang diketahui jika harga barang di Mall itu sudah pasti mahal-mahal.
Larisa hanya menggeleng-gelengkan kepala kearah Umi, dan mulai mengikuti arah kemana Azam akan pergi.
Terlihat jika Azam yang berjalan di Mall itu seperti sudah sering mengunjungi tempat itu.
Tak berselang lama, akhirnya Azam memasuki salah satu gerai tas yang terkenal mahal dengan merek ternama yaitu C****l. Kedua wanita itu kini membulatkan mata karena merasa tidak yakin jika Azam mampu untuk membeli salah satu tas yang berjejer ditoko itu.
Terdengar seperti meremehkan, namun itulah yang kini Larisa dan Umi pikirkan. Mengingat Azam yang bekerja sebagai seorang pengajar di pesantren abah dengan gaji UMR. Jika Azam mampu membeli salah satu tas dengan merk tersebut, tentu saja akan menghabiskan seluruh tabungan miliknya.
Larisa sangat mengetahui mengenai merk tas yang akan Azam beli untuk seserahan Tiana, karena dirinya yang dulu bekerja sebagai model yang mengharuskan Larisa harus tampil berkelas. Sehingga menuntut dirinya untuk mengoleksi beberapa barang-barang dengan merk yang bukan ecek-ecek itu. Termaksud merk yang akan Azam beli sekarang.
Bahkan tas yang akan Azam beli untuk Tiana yang kini berada ditangannya, sama persis seperti salah satu model tas yang Larisa koleksi.
Walaupun telah berhijrah dengan menjadi muslimah yang lebih tertutup. Namun, tidak mengurangi nafsu Larisa untuk memiliki barang-barang bermerk.
Terlebih Larisa yang kini bersuamikan seorang pengusaha nomor satu dinegri ini. Membuatnya tak perlu susah payah untuk mengunjungi toko untuk berbelanja. Larisa hanya perlu menghubungi pihak toko jika ingin berbelanja, dan tak perlu menunggu waktu lama, para pelayan toko akan datang kerumah Larisa dengan membawa koleksi tas, sepatu, dan barang-barang lain yang menurut mereka bagus untuk ditunjukkan kepada calon pembelinya.
"Harganya 57 juta pak. Pembayaran mau cash atau menggunakan cara lain?" Tanya petugas kasir yang sedang bertugas dengan ramahnya.
Umi membulatkan mata sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Umi tidak menyangka jika harga sebuah tas akan sama harganya dengan sebuah kendaraan. Pikir Umi dalam benaknya.
__ADS_1