PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 35 AISYAH YANG MALANG


__ADS_3

"Poligami tidak dilarang dalam agama kita, jika seorang suami sanggup untuk memiliki istri lebih dari satu itu diperbolehkan"


"Tapi Aisyah belum siap untuk dipoligami, ia tak ingin dimadu, bukankah jika istri pertama tak mengizinkan untuk menikah lagi, maka anda tidak bisa untuk berpoligami"


Ucap Tiana tak mau kalah.


"Itulah sebabnya aku akan membawanya pulang kerumah orang tuanya, aku tak mau mempunyai istri yang pembangkang dan tak menuruti perintah dari suaminya, aku akan menceraikanmu Aisyah"


Ucap Sidan mulai tersulut emosi.


Duarrr...


Bagai disambar petir disiang bolong, Aisyah kaget dan tak menyangka jika ternyata apa yang ia harapkan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia dapatkan.


Ia yang awalnya menyangka jika Sidan akan menjemputnya kembali karena telah sadar akan perbuatannya dan ingin memperbaiki kembali rumah tangga mereka, namun kenyataan pahitlah yang malah Aisyah dapatkan, ternyata suaminya datang untuk menceraikannya.


"Istigfar mas, kau berbicara seperti ini sama dengan menjatuhkan talak 1 pada Aisyah, dan kau tak boleh lagi menyentuhnya sebelum kau menikahinya lagi, kau berbicara seperti itu karena kau sedang emosi, tak bisakah kalian berdua untuk membicarakannya dulu secara baik-baik, jangan emosi, sebab orang yang sedang marah tak bisa berpikir jernih, pikirannya dan hatinya dipenuhi oleh amarah yang dibisikkan oleh setan agar ia berhasil membuat kalian bercerai, istigfar mas, istigfar, jangan sampai kau menyesal dengan perkataan dan keputusanmu itu"


Ucap Tiana sambil memeluk Aisyah yang mulai menangis.


"Kau tak layak dipanggil seorang suami, kau memukuli Aisyah hanya karena tak ingin kau menikah lagi, Aisyah melakukan itu karena dia menjagamu dari perbuatan dosa, hanya karena nafsu kau ingin menikahi wanita lain, dan membiarkan istri pertamamu tersiksa dengan keputusanmu ini, jika seperti itu apa bedanya kau dengan binatang, poligami tak dilarang asalkan memenuhi syarat dan yang terpenting mendapatkan izin serta keikhlasan dari istri pertama untuk merelakan dirinya berbagi suami dengan wanita lain"


"Sekarang ini, hanya karena suami memiliki pendapatan yang lebih mereka berpikir jika mereka sudah pantas untuk berpoligami, padahal semuanya tak selalunya tentang uang, sandang, pangan, dan papan mungkin saja bisa dibeli dengan uang, namun kebahagiaan, ketenangan hati tak bisa mas, jika istri mas tidak bahagia dengan pernikahan ini, mas pikir kebahagiaan itu bisa dibeli dipasar atau disupermarket? tidak mas, karena ada hal yang tak bisa dibeli dengan uang"


Ucapan menohok dari Tiana membuat wajah Sidan memerah menahan amarah.


"Apakah kau akan tetap menceraikanku mas?"


Aisyah bertanya sambil melepaskan pelukan dari Tiana dan menatap wajah suaminya yang telah menjatuhkan talak 1 kepadanya.


"Jika kau tak menuruti perkataanku, maka aku akan tetap menceraikanmu"


Ucap Sidan sambil memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah Aisyah.


"Baiklah mas jika itu memang keinginanmu aku ikhlas, maafkan aku yang selama ini tak bisa menjadi istri yang baik dan berbakti seperti yang mas inginkan, aku akan merawat anak kita baik-baik"


Tangis Aisyah pecah mendengar perkataan suaminya yang benar-benar akan menceraikannya.


"Maksud kamu apa Aisyah, anak apa yang sedang kau bicarakan?"


Tanya Sidan dengan ekspresi bingung diwajahnya, keningnya berkerut karena tak mengerti perkataan dari Aisyah.


"Aku hamil mas"


Deg.


Sekarang giliran Sidan yang kaget mendengar perkataan dari Aisyah, ia tak mengetahui jika ternyata istrinya itu sekarang sedang mengandung anaknya.


Spontan Tiana dan Larisa juga ikut kaget dengan perkataan Aisyah, selama dirinya berada dirumah Tiana, Aisyah sama sekali tak pernah mengatakan mengenai kehamilannya.


Aisyah hanya tersenyum dengan dipaksakan kearah Sidan, kini hatinya sangat terluka karena didepan orang lain dengan teganya Sidan menceraikan dirinya.


"Benarkah itu Aisyah"

__ADS_1


Tanya Sidan berjalan mendekat kearah Aisyah namun, Aisyah mengambil langkah menjauh darinya.


"Kenapa kau tak mengatakan jika kau hamil?"


Namun tak sempat Aisyah menjawab pertanyaan dari Sidan, dirinya jatuh tak sadarkan diri lagi, tepat dihadapan Sidan yang masih terkejut dengan apa yang Aisyah katakan.


Melihat Aisyah yang pingsan dan jatuh kelantai, Tiana dan Larisa mencoba membangunkannya, namun Aisyah tak sadar lagi.


Karena tak sadarkan juga, akhirnya Tiana menyuruh Sidan agar mengangkat tubuh Aisyah kesofa, agar Aisyah bisa lebih nyaman, Namun Larisa kaget melihat darah segar yang keluar diantara kaki Aisyah.


"Suami macam apa kau ini, kenapa diam saja, kita harus membawa Aisyah kerumah sakit sekarang, sepertinya dia pendarahan"


Ucap Larisa mulai emosi.


"Kita bawa naik mobilku saja kak"


Ucap Larisa lagi menawarkan diri.


"Kau tidak papa? kau kan juga sekarang sedang hamil"


Jawab Tiana dengan ekspresi yang sangat khawatir pada Aisyah dan juga Larisa.


"Aku tidak papa, ayo cepat bawa Aisyah kemobilku sekarang"


Pinta Larisa pada Sidan.


***


Sesampainya di UGD Aisyah segera mendapat penanganan dari beberapa perawat dan dokter yang sedang bertugas.


Terlihat raut wajah Sidan yang mulai terlihat cemas saat tadi melihat darah diantara kaki Aisyah tak berhenti keluar.


Sidan bersandar didinding namun sesekali berjalan mondar mandir untuk menghilangkan kegelisahannya.


Sedangkan Tiana dan Larisa duduk sambil berdoa agar Aisyah dan bayinya dapat diselamatkan.


"Lihatlah pria bodoh itu kak, karena nafsu serakahnya sekarang dia membahayakan nyawa istri dan bayinya, semoga saja Aisyah dan bayinya selamat, kalo disini ada yang harus mati, biarlah pria bodoh itu, tak ada gunanya dia menjadi suami, hidup bersamanya hanya akan menambah penderitaan, awalnya kita menikah hanya sekedar ingin beribadah agar amal itu yang akan membawa kita ke surgaNya namun, mendapatkan suami jenis seperti ini malah akan membuat hidup seperti dineraka, tak akan bahagia, matipun belum tentu masuk surga, sebab kita tak ikhlas menjalankan pernikahan kita dan sama halnya telah mendzolimi diri kita sendiri, lebih banyak mudharatnya"


Ucap Larisa memandang penuh kesal pada Sidan yang telah menyebabkan Aisyah harus dilarikan kerumah sakit.


"Kamu benar Larisa, tapi astagfirullah, sangking sebalnya aku jadi mendoakan yang tak baik untuk suami Aisyah, kita doakan saja yang terbaik untuk Aisyah dan rumah tangganya, semoga dengan adanya masalah ini, Sidan akhirnya sadar dan mau berubah, kita tidak tau, mungkin saja ada hikma yang bisa ia dapat dari kejadian ini, semoga saja"


Ucap Tiana sambil menghembuskan nafas kasar.


"Tapi kak, dulu kakak mengizinkan mas Ardian untuk berpoligami, tapi kenapa kakak malah menentang suami Aisyah?"


Tanya Larisa penasaran.


"Aku tidak menentang jika suami Aisyah ingin berpoligami, tapi Aisyah sendiri yang mengatakan jika ia tak ingin harus berbagi suami dengan orang lain, sedangkan kalo aku sendiri waktu itu kenapa mengizinkan mas Ardian untuk menikahi kita berdua karena aku merasa sanggup dan ikhlas berbagi denganmu"


Ucap Tiana menjelaskan yang sebenarnya sambil tersenyum kearah Larisa.


"Waktu itu aku tak ingin jika, ketika aku dan mas Ardian telah sah menjadi suami istri, lalu kau datang untuk meminta pertanggung jawaban kepadanya, tentu itu akan membuat permasalahan baru dalam rumah tangga kami, aku juga melihat jika sebenarnya kau orang yang baik, jadi aku berpikir tidak sulit hidup dalam satu atap bersama denganmu, kita akan hidup damai walaupun berbagi suami, bukankah itu indah?"

__ADS_1


"Yang baik itu kakak, aku waktu itu masih jadi orang jahat, tapi aku juga berpikir jika yang menjadi kakak maduku seperti kak Tiana, yang memiliki ilmu agama dan kepribadian yang baik maka hidup berpoligami akan lebih indah, kita bisa saling membantu merawat suami kita kak, tanpa ada perselisihan diantara kita, bukankah kunci dari hidup berpoligami adalah selain suami harus berbuat adil pada istri-istrinya, kita sebagai istri juga harus bekerjasama untuk tidak menimbulkan percekcokan, menimbulkan kesalah pahaman, dan sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan masalah"


"Tapi kalo yang jadi maduku wanita yang kayak di mall waktu itu bersama mas Ardian, bisa-bisa setiap hari aku akan makan hati, bukannya malah bahagia, tapi tambah menderita karena tidak ada saling kecocokan diantara kami berdua"


Ucap Larisa memutar bola matanya malas.


"Wanita itu siapa Larisa?"


Tanya Tiana mulai penasaran.


"Dia asisten pribadinya mas Ardian kak, sekaligus orang kepercayaan yang selama ini bertanggung jawab mengurus segala keperluan mas Ardian baik dikampus maupun diperusahaan"


Jawab Larisa memberitahu yang sebenarnya.


"Emm, lalu apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui hubungan mereka?"


Tanya balik Tiana.


"Aku belum tau kak, selama ini aku mencintainya dan berusaha menjalankan wasiat almarhum papa yang ingin aku untuk menikah dengan mas Ardian, tapi sepertinya aku tidak bisa menjalankan lagi wasiat dari papa itu"


"Memangnya apa yang mas Ardian lakukan sampai papa kamu sangat ingin kau menikah dengannya?"


"Dulu, diakhir-akhir hidup papa, orang yang selalu membantuku merawatnya yaitu mas Ardian kak, dengan senang hati mas Ardian selalu meluangkan waktunya utuk membantuku merawat dan menemani papa, waktu itu papaku bangkrut dan mama seperti tak peduli lagi dengan kondisi papa yang sakit-sakitan, itulah sebabnya kenapa papa ingin aku menikah dengannya, karena papa merasa mas Ardian orang yang baik"


Ucap Larisa dengan mata berkaca-kaca mengingat kembali almarhum papanya yang telah tiada.


"Jadi itu alasannya, aku pikir selama ini kau sangat mencintainya sehingga kau mati-matian memperjuangkannya"


"Dulu aku mencintainya kak, sekarang aku tak tau lagi, perasaanku sepertinya menguap begitu saja, sejak aku mengetahui jika mas Ardian pernah tidur dengan asisten pribadinya itu"


"Astagfirullah, kamu yang sabar, sebaiknya kau minta penjelasan kepada mas Ardian agar semua lebih jelas, jangan sampai kau hanya menduga-duga sesuatu yang belum pasti kebenarannya"


"Untuk apa aku menanyakannya lagi kak, jelas-jelas aku melihat mereka berpelukan tepat dihadapanku"


"Astagfirullah, kamu yang kuat ya, ada bayimu yang akan menjadi penyemangat dalam hidupmu, aku tak menyangka jika mas Ardian akan seperti itu, tapi namanya manusia biasa, kadang kala iman kita naik turun, mungkin pada saat itu iman mas Ardian sedang turun akhinya ia terprovokasi oleh hasutan setan sehingga akhirnya ia lupa dan melakukan hal yang tak pantas seperti itu, kita doakan saja semoga ia cepat sadar, aamiin"


Ucap Tiana berusaha memberi pengertian pada Larisa.


Tak berselang lama, dokter keluar dengan raut wajah yang sepertinya membawa berita yang kurang baik, lalu mereka bertiga menghampiri dokter untuk mengetahui bagaimana kondisi dari Aisyah.


Dan benar saja, dokter itu memberitahu mengenai Aisyah yang mengalami keguguran karena terlalu setres, dan belum sadar dari pingsannya, karena ia kehilangan banyak darah sehingga akan dilakukan transfusi darah terlebih dahulu.


"Ya Allah Aisyah"


Ucap Tiana menangis mendengar bahwa Aisyah kehilangan bayinya, begitu juga dengan Larisa yang ikut menangis tak tega dengan kondisi Aisyah.


"Dimana Aisyah dok?"


Tanya Larisa.


"Aisyah telah dipindahkan keruangan perawatan, kalian bisa menjenguknya disana"


"Baiklah, terima kasih dok"

__ADS_1


Mereka bertiga lalu menuju keruangan tempat Aisyah dirawat, namun mereka kaget karena melihat Aisyah ditempatkan diruangan orang-orang kelas atas, yang lumayan akan menguras kantong mereka, tapi yang membuat mereka semakin bingung, siapa yang menempatkan Aisyah diruangan ini, mereka bertiga merasa tak memesan ruangan seperti ini untuk Aisyah.


__ADS_2