
"Duduk" Ucap Aisyah sedikit kasar lalu mendudukkan tubuh Siti ditempat Tiana tadi duduk.
Larisa dan juga Aisyah duduk mengapit Siti agar ia tidak bisa kabur. Aisyah menaikkan kedua alisnya karena Siti yang terus diam tak mengatakan sepatah kata pun sejak pertemuan mereka tadi. Wajah Siti masih nampak syok karena kedua sahabatnya yang menemukannya, apalagi Larisa dan juga Aisyah yang memperlakukan Siti seperti pencuri.
Aisyah sejujurnya tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Siti. Sehingga ia bersikap seperti itu agar Siti tau jika dirinya benar-benar sangat marah karena sikap dari Siti yang terkesan penuh misteri. Mulai dari Siti yang hilang begitu saja dihari akad nikah Tiana dan juga Azam. Lalu Siti yang tiba-tiba memblokir nomor para sahabatnya.
"Jika kalian ingin mengetahui apa yang membuatku seperti, aku akan menceritakan semuanya kepada kalian" Kini Siti mulai membuka suara lebih dulu.
"Baguslah, cepat ceritakan apa masalahmu yang sebenarnya. Kenapa sampai-sampai kau memblokir nomor kita semua?" Balas Aisyah ketus. Namun Siti sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sikap sahabatnya itu karena ia tahu jika memang dirinya lah yang salah sudah menghilang begitu saja membuat para sahabatnya khawatir.
Larisa nampak terlihat memasang wajah serius. Ia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Siti. Kenapa ia menghilang begitu saja di hari akad nikah Tiana dan Azam.
Siti meraup udara sebanyak-banyaknya lalu membuangnya. Ia kini siap untuk memceritakan semuanya kepada para sahabatnya tentang pernikahannya yang sempat kandas bersama Azam.
"Aku pergi karena aku tak ingin bertemu dengan suami Tiana" Kedua wanita hamil itu mengerutkan dahi mereka karena tak mengerti maksud Siti yang mengatakan jika tak ingin bertemu dengan suami Tiana.
"Tunggu, tunggu. Memangnya kenapa dengan suami Tiana Kak?" Potong Larisa yang terlihat begitu penasaran.
"Siti" Panggil Tiana yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Siti yang sedang duduk membelakanginya.
"Kak Tiana, Tiana" Balas Larisa dan Aisyah hampir bersamaan.
Siti yang mendengar suara Tiana terlihat mulai panik. Jantung Siti berdegub sangat kencang. Orang yang sebenarnya ia hindari kini berada tepat dibelakangnya.
Wajah Siti terlihat pias, tangannya mulai terasa dingin karena kehadiran Tiana yang tiba-tiba saja muncul membuatnya begitu kaget.
"Kenapa kembali lagi kak?" Tanya Larisa yang penasaran mengapa Tiana bisa datang lagi.
Tiana menoleh kearah Larisa. "Oh itu. Charger hpku ketinggalan, makanya aku kembali lagi kesini"
__ADS_1
"Oh gitu" Balas Larisa.
"Kamu kemana aja?" Tanya Tiana pada Siti namun yang ditanya malah diam tak menjawab pertanyaan dari Tiana yang beberapa bulan ini mengkhawatirkan dirinya.
"Ma, maaf aku" Tiana nampak tak mengerti dengan kata maaf yang Siti katakan. Tiana heran karena ia yang bertanya apa, namun dijawab apa oleh sahabatnya itu.
Ketiga sahabat Siti nampak bingung dengan Sitinyang seperti menyembunyikan sesuatu dari mereka.
"Kamu ada masalah apa?" Tanya Tiana lagi. Ia lalu duduk ditempat Aisyah, sedangkan Aisyah berpindah ditempat duduk lain.
"Ak, aku, aku" Jawab Siti ragu-ragu. Ia sangat takut mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada Tiana.
"Aku apa sih? Kalo bicara itu yang jelas" Potong Aisyah yang kesal karena Siti yang berbicara tidak jelas.
"Aku pergi karena tidak ingin bertemu dengan mantan suamiku" Jawab Siti membuat ketiga sahabatnya nampak terkejut karena jawaban dari Siti yang setau mereka belum pernah menikah.
"Hah? Kamu sudah pernah menikah?" Tanya Aisyah yang terkejut mengetahui jika ternyata sahabatnya itu adalah seorang janda.
"Mantan suami?" Gumam Tiana dalam hatinya. Tiana mulai berpikir keras, berusaha menyangkut pautkan apa yang Siti katakan dengan apa yang terjadi belakangan ini.
Mata Tiana membulat sempurna, ia kini menyadari siapa Siti sebenarnya. Tiana yakin jika Siti adalah mantan istri suaminya. Jika mantan suami Siti adalah orang lain yang hadir diacara akad nikahnya waktu itu, lalu mengapa Siti malah menjauhi dirinya? Pikir Tiana dalam benaknya. Namun Tiana mulai memikirkan mengapa Siti begitu tega memfitnah suaminya.
"Maksud kamu Mas Azam mantan suamimu?" Tanya Tiana ingin memastikan jika apa yang ia pikirkan memang benar.
"Hah" Larisa dan Aisyah terkejut mendengar apa yang Tiana katakan.
"Mana mungkin Ustad Azam mantan suami si Siti" Ucap Aisyah tidak percaya.
"Iya benar" Potong Siti dan lagi-lagi berhasil membuat Larisa dan juga Aisyah terkejut. Namun tidak dengan Tiana yang memang merasa yakin jika mantan istri suaminya adalah sahabatnya sendiri yaitu Siti.
__ADS_1
Wajah Siti terus menunduk karena tidak sanggup menatap wajah para sahabatnya yang menatapnya tajam. Apalagi Tiana yang kini mengetahui apa yang ia sembunyikan selama ini, terlebih Tiana adalah istri dari orang yang selama ini ia cinta sekaligus orang yang sudah ia fitnah.
"Tapi kenapa selama ini kamu tidak pernah mengatakannya kepada kita?" Tanya Aisyah sambil memegang bahu Siti yang sejak tadi menunduk.
Siti mengangkat wajahnya memandang wajah Aisyah yang menatap kesal kepadanya.
"Karena aku tidak ingin kalian tahu statusku yang sebenarnya. Aku malu jika teman-temanku tahu jika diusiaku yang masih sangat muda tapi aku sudah menjadi janda" Jawab Siti memberi tahu alasan yang sebenarnya mengapa ia selama ini menyembunyikan statusnya dari para sahabatnya.
"Kamu malu orang mengetahui statusmu janda, sedangkan kamu sendiri tega membuat orang lain malu karena fitnah yang telah kau buat" Tambah Tiana, kini wajah Siti kembali tertunduk karena merasa bersalah telah memfitnah mantan suaminya yang tak lain adalah suami Tiana.
Larisa hanya bergantian memandang wajah sahabatnya satu persatu. Walaupun mereka bertiga telah menganggap Larisa sahabat mereka. Namun tetap saja ia masih merasa sungkan untuk ikut bersuara, karena ia merasa masih baru dalam hubungan persahabatan yang baru saja ia jalin dengan para sahabat Tiana.
"Fitnah apa yang kamu maksud?" Tanya Aisyah pada Tiana. kini ia semakin penasaran dengan pembahasan mengenai masa lalu antara Siti dan juga Azam.
Tiana menghela nafasnya, sebenarnya ia tidak ingin membahas mengenai masalah fitnah yang Siti buat pada Azam. Karena ia sendiri tau jika itu tidak benar. Apalagi ia yang sedari tadi merasa tidak enak badan karena mual dan pusing yang masih ia rasakan.
Namun tidak akan Tiana sia-siakan kesempatan untuk bertanya apa sebenarnya alasan sehingga Siti memfitnah suaminya begitu kejam. Bukankah selama ini ia sangat penasaran dengan sosok dari mantan istri suaminya itu. Tapi sekarang tanpa Tiana mencari tau mengenai mantan istri suaminya, ia muncul dengan sendirinya karena orang itu tak lain adalah orang yang sangat ia kenali dan merupakan orang yang dekat dengannya.
"Siti memfitnah Ustad Azam dengan mengatakan jika ia adalah pria impoten" Ucap Tiana sambil menatap tajam kearah Siti yang masih menunduk.
"Impoten itu apa kak?" Tanya Tiana dengan santainya membuat Aisyah mendaratkan pukulan ditangan Larisa lalu menyuruhnya untuk diam.
Karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, Larisa lalu mencari informasi mengenai apa itu impoten di hp miliknya. Wajah Larisa mulai berubah ekspresi saat mengetahui jawaban dari pertanyaan. Ia tidak menyangka jika Siti begitu kejam dengan memfitnah seseorang sampai sebegitunya.
Bukankah jika orang lain mengetahui hal ini, mereka akan memandang rendah pada Ustad Azam. Dan tentunya tidak akan ada wanita yang akan mau menjadi istrinya. Batin Larisa sambil menatap Siti yang terlihat merasa bersalah dengan perbuatannya dimasa lalu.
"Kenapa kamu memfitnah Ustad Azam?" Kini Tiana mulai menanyakan apa yang selama ini ingin ia tahu kebenarannya. Walaupun Tiana merasa sedikit lemas namun tidak mengurangi besarnya rasa ingin tahunya pada apa yang telah Siti fitnahkan pada suaminya.
"Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan Siti. Memangnya kamu tidak memikirkan bagaimana akibatnya pada suamiku dengan fitnah yang telah kau buat" Ucap Tiana lagi dengan nada suara yang mulai keras menandakan jika ia kini benar-benar marah.
__ADS_1
Mata Siti mulai berkaca-kaca, ia mulai menyesali perbuatannya. Namun apalah daya semuanya sudah terjadi menyesalinya tak akan ada gunanya lagi.