PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 31 SIASAT LICIK RARA


__ADS_3

Larisa memutuskan untuk menginap dirumah Tiana, ia berpikir akan meminta bantuan kepadanya mengenai permasalahan yang sedang ia hadapi.


Dengan meminta bantuan dari Tiana setidaknya Larisa tau apa yang harus ia lakukan, walaupun awalnya ia merasa ragu dan malu untuk mengatakannya pada Tiana, namun ia berpikir ia bisa mendapatkan solusi dari masalahnya jika ia mau menceritakannya pada orang lain, dan Tiana adalah orang yang tepat menurutnya.


Setelah hampir beberapa lama mereka bertiga membicarakan tentang banyak hal, akhinya Ardian memutuskan untuk undur diri, mengingat perjalanan yang lumayan jauh sekitar 2 jam untuk sampai dirumahnya.


Ardian bangkit dari duduknya lalu diantar oleh Tiana dan Larisa sampai keteras rumah.


Setelah meninggalkan rumah Tiana, Ardian bergegas keparkiran yang berada dalam kompleks pesantren untuk menuju kemobilnya.


Sedangkan Tiana dan Larisa hanya memandang kepergian Ardian hingga mobilnya hilang didepan gerbang pondok pesantren.


Tiana dan Larisa masih diam mematung beberapa saat, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, namun tiba-tiba.


"Aku harus bagaimana kak?"


Ucap Larisa sambil menatap kedepan tanpa menoleh kearah Tiana.


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Larisa, Tiana lalu menoleh ke arah Larisa yang sedang menatap kedepan dengan Tatapannya yang kosong, tapi Tiana bisa melihat raut wajah Larisa yang terlihat cemas.


"Ada apa, Apakah kau sedang ada masalah?"


Jawab Tiana sambil memegang pundak Larisa.


Larisa masih diam menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakannya sekarang, namun jika ia tak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi ia juga bingung harus bagaimana dengan perbuatan mas Ardian dibelakangnya.


Tiba-tiba muncul Siti dan Aisyah yang berjalan kearah mereka.


Tiana lalu memperkenalkan Larisa pada kedua sahabatnya itu.


"Tiana yuk kita jalan-jalan ke mall, sekalian lihat yang cakep-cakep siapa tau bisa dijadikan bapak untuk anak-anakku"


Ucap Siti sambil menaikkan kedua alisnya kearah Tiana.


"Sekarang, Aisyah bagaimana?"


Tanya balik Tiana.


"Ya masa tahun depan, ya sekarang dong, Aisyah pasti ngikut-ngikut aja"


"Benar Aisyah, kamu tidak papa?"


Tanya Tiana pada Aisyah sambil memasang wajah serius.


"Iya tidak papa, aku boleh pinjam niqab kamu kan?"

__ADS_1


Tanya Aisyah balik sambil menunjuk luka yang ada pada wajahnya, membuat Tiana paham maksud dari Aisyah yang ingin meminjam niqabnya untuk menutupi luka yang ada pada wajahnya.


Larisa yang melihat wajah Aisyah sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga wajah sahabat Tiana bisa jadi seperti itu, namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya, mengingat ia baru mengenal Aisyah, ia takut jika perkataannya nanti akan menyinggung perasaan sahabat Tiana.


"Kok temennya dianggurin, kamu juga ikutkan, tapi Suami kamu mana, dia mengizinkan kamu kan kalo kita ajak jalan bareng?"


Tanya Siti menunjuk kearah Larisa dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Mendengar pertanyaan dari Siti, Larisa menjadi bingung harus menjawab apa, tidak mungkin jika dirinya mengatakan bahwa dirinya belum memiliki suami sedangkan orang lain bisa melihat dengan jelas perutnya yang sudah membesar karena sedang hamil.


Tiana yang melihat ekspresi bingung diwajah Larisa menjadi mengerti jika Larisa tak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan Siti.


"Suami Larisa ada urusan kerjaan diluar kota, makanya Larisa biasa nginap disini, soalnya dia juga sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri"


Ucap Tiana berbohong karena sejujurnya dia juga bingung harus menjawab apa pada Siti, namun yang jelas Tiana tau jika ada sesuatu yang terjadi antara Larisa dan Ardian.


"Terima kasih kak, lagi-lagi kau menolongku, walaupun kau harus berbohong kepada sahabatmu sendiri"


Ucap Larisa dalam hatinya sambil tersenyum sebagai tanda terima kasih kepada Tiana yang telah membantunya menjawab pertanyaan Siti, dan dibalas juga dengan senyuman oleh Tiana, walaupun tak bisa dilihat oleh Larisa.


***


Ardian menyetir dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan ia memikirkan sikap Larisa yang sepertinya marah kepadanya, namun dirinya tak tau apa yang menyebabkan Larisa bisa marah.


Ia menyetir sambil satu tangannya memijit kepalanya yang mulai sakit karena terus berpikir.


"Kenapa aku tak memikirkannya dari tadi, aku harus memberikannya hadiah agar dia tidak marah lagi"


"Aku akan meminta bantuan pada Rara, dia pasti tau selera Larisa seperti apa, karena dia seorang wanita"


Ardian lalu menghubungi Rara dan sepakat akan bertemu disebuah mall untuk membeli sebuah hadiah untuk calon istrinya, awalnya Rara menolak ajakan dari Ardian karena tidak ingin ikut sekedar membeli hadiah untuk wanita yang sekarang menjadi rivalnya itu, namun Ardian terus memaksanya dan mengatakan jika ini adalah perintah mau tak mau akhirnya Rara pun menyetujui perintah dari Ardian.


Disebuah toko perhiasan, Ardian tengah melihat-lihat perhiasan mana yang akan diberikan kepada Larisa, tampak wajah Rara menjadi kesal karena hal itu.


Petugas toko perhiasan datang menghampiri mereka berdua yang tengah melihat perhiasan yang ada dalam lemari kaca etalase pajangan yang berada dihadapan mereka.


"Perlihatkan kepadaku koleksi terbaru ditoko ini?"


Pinta Ardian pada petugas toko.


"Baiklah tuan, tunggu sebentar"


Jawab petugas toko singkat.


Tak berselang lama keluar petugas toko dengan membawa koleksi perhiasan berlian terbaik di tokonya.

__ADS_1


Ardian mulai melihat-lihat beberapa koleksi perhiasan yang petugas toko bawakan untuknya.


Beberapa kali Ardian menyuruh Rara untuk mencoba perhiasan yang ia pilih, namun dari sekian banyak yang Ardian lihat ia belum juga menemukan yang mana menurutnya cocok untuk Larisa.


Sedangkan dilain tempat Larisa, Tiana, dan kedua sahabatnya sedang mencari restoran mana yang akan mereka masuki, mereka berempat memutuskan untuk makan terlebih dahulu, setelah itu mereka akan nonton di bioskop.


Mereka terus berjalan melihat-lihat beberapa restoran yang ada didalam Mall tersebut.


Setelah lama mencari, akhirnya pilihan jatuh pada restoran korea barbeque.


Mereka akhirnya masuk lalu duduk dimeja tepat didekat pintu masuk yang hanya terhalang oleh kaca sehingga mereka bisa melihat orang-orang diluar sedang berlalu lalang.


Setelah mereka memesan makanan dan pelayan menginformasikan jika makanan akan siap dalam 30 menit, akhirnya mereka memutuskan memainkan hp mereka masing-masing untuk mengisi waktu agar tak merasa bosan karena lama menunggu.


Pengunjung Mall hari itu lumayan sangat padat,Tiana melihat banyak orang yang mondar mandir kesana kemari melalui kaca didepannya.


Tatapan Tiana terhenti pada sosok yang sangat ia kenali yang sedang berada didalam toko tepat didepan restoran dimana Tiana dan yang lainnya berada.


Beberapa kali dirinya berusaha untuk mengelak jika orang itu bukalah Ardian, namun semakin lama terlihat jelas bahwa orang itu benar adalah dia.


Dan yang membuat Tiana semakin menjadi bingung karena Ardian bersama seorang wanita, pikiran Tiana mulai menduga-duga.


Ia kembali mengingat jika tadi Larisa akan mengatakan sesuatu kepadanya, namun tak jadi karena kedua sahabatnya tiba-tiba muncul dan mengajak mereka keluar untuk jalan-jalan ke mall.


"Mungkinkah ini yang tadi Larisa ingin katakan kepadaku, jika Ardian, ahhh sudahlah"


Gumam Tiana dalam hatinya memandang wajah Larisa, tiba-tiba ia merasa kasihan kepada wanita itu.


Melihat dua sahabatnya sedang sibuk dengan hp mereka, Tiana lalu mencoba memberitahu Larisa yang duduk tepat disampingnya perihal apa yang ia lihat.


Tiana lalu menunjuk kearah toko tepat didepan mereka, dan seketika itu juga mata Larisa melotot melihat pemandangan yang ada didepannya.


Hati Larisa sakit melihat calon suaminya sedang bersama wanita lain, ia berusaha menahan air matanya yang tak bisa diajak berkompromi.


Susah payah ia menahan agar air matanya tak keluar, Larisa tak ingin menangis dihadapan sahabat Tiana, ia malu jika mereka mengetahui tentang apa yang ia lihat, ditambah lagi tadi Tiana telah berbohong dengan mengatakan jika suaminya sedang berada di luar kota.


Larisa lalu bangkit dari tempat duduknya, melangkah kedepan toko perhiasan tempat Ardian dan Rara berada.


Tiana melarangnya untuk menemui Ardian, namun Amarah yang sudah memenuhi dada Larisa tak bisa ia tahan lagi, sehingga ia memutuskan untuk menemuinya.


Saat tiba didepan toko, Larisa menghentikan langkahnya, ia tak jadi masuk kedalam toko dimana Ardian berada, ia hanya memperhatikan Ardian yang sesekali memakaikan perhiasan ditangan dan Leher Rara, seketika air bening yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh dipipi Larisa karena tak sanggup melihat pemandangan didepan matanya.


Namun bersamaan dengan itu, Rara melihat keberadaan Larisa yang sedang memperhatikannya dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya tepat didepan toko, ia melihat wanita yang akan menjadi istri Ardian itu dengan tatapan kebencian.


Tiba-tiba terbesit pikiran licik Rara untuk memanfaatkan keadaan ini untuk memanas-manasi Larisa sehingga Ardian dan Larisa bertengkar dan hubungan antara mereka berdua menjadi hancur.

__ADS_1


Rara memandang Ardian yang masih sibuk memilih perhiasan dengan tatapan penuh cinta, lalu satu tangan Rara kemudian memegang pundak Ardian, Ardian menoleh kearah Rara karena merasa bingung dengan tingkahnya, namun ia berusaha untuk tak mempedulikan lagi tingkah Rara lalu kembali melihat koleksi perhiasan yang akan ia berikan pada Larisa.


Ardian kemudian memasukkan cincin berlian ketangan Rara, lalu dengan sombongnya Rara mengangkat tangannya kemudian memperlihatkan cincin yang melingkar dijari manisnya sambil memainkan jari jemarinya pada Larisa yang masih berdiri didepan toko.


__ADS_2