
"Kamu mau kemana?" Tanya Aisyah sambil memegang pergelangan tangan Siti.
Ya, wanita itu adalah Siti, mantan istri dari Azam sekaligus sahabat Tiana.
"Aku mau ketoilet dulu" Jawab Siti, susah payah ia menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Em, jangan lama-lama loh, Ijab kabulnya udah mau dimulai nih" Balas Aisyah lalu melepaskan pegangannya pada tangan Siti.
"Emangnya gak bisa ditahan?" Tanya Aisyah lagi dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Siti.
"Ya sudah sana pergi" Usir Aisyah dan segera Siti bergegas meninggalkan tempat acara karena matanya yang tak bisa lagi berkompromi.
Beberapa menit kemudian akhirnya acara yang ditunggu-tunggu akan dilaksakan juga.
Aisyah mulai celingak celinguk sambil memandang kearah kepintu masuk mencari keberadaan Siti.
Namun acara akan dimulai Siti tak kunjung kembali. Entah apa yang ia lakukan didalam toilet. Aisyah kembali fokus memandang Abah dan Azam yang kini mengucapkan ijab kabul.
"Nak Azam sudah siap?" Tanya Abah kini tangannya bersalaman dengan Azam.
"InsyaAllah Abah, Azam sangat sangat siap sekarang" Jawab Azam mantap tanpa keraguan sama sekali, dan dibalas dengan senyuman oleh Abah yang sangat senang mendengar jawaban tegas dari orang yang tidak lama lagi akan menjadi menantunya.
"Sah" Terdengar suara teriakan para tamu yang memenuhi seluruh bagian masjid setelah Azam tanpa kendala apapun mengucapkan ijab kabul yang membuat kini tanggung jawab mengenai hidup Tiana berpindah kepadanya.
Dalam satu tarikan nafasnya Azam berhasil mengucapkan ijab kabul yang kini sudah merubah statusnya menjadi seorang suami.
Dengan ragu Azam lalu meraih tangan putih mulus istrinya lalu memasangkan cincin kawin tepat dijari manis Tiana.
Sesekali Tiana hanya mencuri-curi pandang pada Azam yang kini telah menjadi suaminya. Tiana malu jika harus menatap wajah tampan Azam. Darahnya berdesir tatkala Azam yang menyentuh tangannya. Bulu kuduknya meremang karena untuk pertama kalinya Tiana mendapatkan sentuhan dengan lawan jenisnya.
__ADS_1
Tiana tersenyum dibalik cadarnya, hatinya bersyukur akhirnya ia menjadi istri dari Azam.
Tiana tersenyum begitu lebarnya tatkala Azam yang sedang memegang bucket bunga mawar putih.
"Ini untukmu" Ucap Azam sambil memberikan bucket bunga mawar putih itu kepada Tiana.
"Terima kasih" Balas Tiana pelan namun masih bisa terdengar oleh Azam. Kemudian Tiana mencium tangan suaminya dengan takzim.
"Selama ini aku tidak pernah memberikan bunga kepada siapapun. Aku juga ingin merasakan memberikan bunga kepada orang yang kucintai yaitu istriku Tiana. Semoga ini yang pertama dan juga yang terakhir. Walaupun kau bukan yang pertama, tapi aku sangat berharap kau adalah yang terakhir dihidupku" Ucap Azam membuat semua yang hadir ditempat itu bertepuk tangan dan kagum dengan sosok Azam yang ternyata sangat romantis. Sangat berbeda jauh dengan keseharian Azam yang lebih banyak diam dan terlihat kaku.
"Aamiin. Berbahagialah nak. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Selalu berpegang teguh pada ajaran dan syariat agama kita. Abah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kalian" Ucap Abah sambil memegang bahu Azam. Kemudian Azam meraih tangan Azam lalu menciumnya sebagai tanda rasa hormat. Lalu beralih pada Umi yang sedang berdiri disamping Abah lalu mencium tangannya.
"Aamiin" Ucap Tiana dan Azam dalam hati.
Kini giliran Tiana yang mencium tangan Abah dan juga Umi. Sangking bahagianya, Abah dan Umi sampai meneteskan air mata karena melihat anak kesayangannya kini menjadi seorang istri.
Mereka bertiga saling berpelukan lalu disusul dengan Fatimah yang juga ikut bergabung, membuat suasana kala itu menjadi begitu emosional.
Walaupun harus melewati berbagai drama yang hampir saja membuat pernikahan mereka batal. Namun berkat keyakinan Tiana, dan Azam yang begitu sabar menunggunya, akhinya usaha mereka tak sia-sia karena berakhir dipelaminan.
Tiana dan Azam naik keatas pelaminan karena para tamu undangan sudah menunggu, dan sejak tadi mulai mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin.
Namun berbeda dengan Aisyah yang kini justru terlihat mulai cemas pada Siti yang tidak kunjung muncul. Padahal acara ijab kabul Tiana dan Azam telah selesai.
"Kak Siti mana?" Tanya Larisa yang tidak melihat keberadaan Siti.
"Tadi katanya ketoilet, tapi kok lama banget ya" Jawab Aisyah sedikit cemas.
"Kita susul aja" Balas Larisa dan disetujui oleh Aisyah. Mereka berdua segera menuju ketoilet yang berada tepat disamping masjid.
__ADS_1
Setibanya disana, Larisa dan juga Aisyah mulai mencari keberadaan sahabatnya itu namun nihil karena toilet itu kosong. Sama sekali tak ada orang didalamnya.
"Kak Siti kenapa tiba-tiba menghilang yah?" Tanya Larisa. Wajahnya kini berubah khawatir jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
"Aku juga gak tau Larisa, tadi aku lihat dia biasa aja gak ada yang mencurigakan" Jawab Aisyah.
"Kita kasi tau Tiana dulu kalo Siti menghilang" Ucap Aisyah lagi sambil menuju ke pintu keluar, bermaksud untuk segera menemui Tiana untuk mengatakan jika Siti yang tiba-tiba saja menghilang.
"Jangan kak" Ucap Larisa menahan tubuh Aisyah sehingga langkahnya terhenti.
"Jangan kasi tau kak Tiana. Kakak mau merusak momen bahagianya? Lebih baik tidak usah" Ucap Larisa lagi memberi saran dan setelah dipikir-pikir Aisyah merasa jika saran dari Larisa ada benarnya.
"Kamu benar Larisa, terus kita harus bagaimana?" Tanya Aisyah bingung.
"Kita tunggu saja dulu, mungkin Kak Siti ada disekitar sini" Jawab Larisa dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Aisyah.
Selama hampir tiga jam Tiana dan juga Azam menyalami para tamu yang datang memberikan ucapan selamat dan juga doa, dan selama itu pula mereka berdua terus berdiri sambil melemparkan senyuman kebahagiaan pada setiap tamu yang datang.
Tiana mulai merasa kelelahan dan memutuskan untuk segera turun dari pelaminan karena kakinya yang kini sudah mulai keram dan pegal.
Tiana berjalan lebih dulu turun dari pelaminan lalu diikuti Azam yang mengikutinya dari belakang.
Mata Azam tertuju pada noda merah yang berada dibagian belakang tubuh istrinya. Azam mulai berpikir jika mungkin istrinya sedang datang bulan dan darah haidnya mengenai kebaya pengantinnya.
Azam menghela nafas kasar karena Tiana yang sedang datang bulan, sehingga malam pertama mereka harus ditunda sampai beberapa hari kedepan.
Tiana yang mendengar helaan nafas dari suaminya menoleh kebelakang. " Ada apa Mas?" Tanya Tiana melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat sedikit murung.
"Tidak papa dek" Jawab Azam sambil tersenyum dengan dipaksakan. Lalu Tiana melanjutka kembali langkahnya menuju kekamar pengantin yang berada dilantai dua.
__ADS_1
"Sabar, sabar" Gumam Azam dalam hati, lalu mengikuti langkah istrinya.