
Larisa dan Alex berjalan perlahan menuruni tangga menuju kehalaman rumah mereka, yang sudah didekor dengan sedekian rupa sehingga terlihat begitu sangat indah dengan gemerlap kerlap kerlip lampu-lampu yang menghiasi setiap bagian dari halaman rumah mereka.
Tiana dan Siti kemudian menghampiri Larisa yang baru saja keluar dari dalam rumah, lalu berjalan perlahan menghampiri kerumunan tamu undangan yang sejak tadi menunggu kehadiran mereka bertiga untuk mengucapkan selamat atas kelahiran anak pertama mereka yaitu Kenan.
"Kak Tiana, Kak Siti" Ucap Larisa melihat mereka berdua datang menghampiri dirinya.
"Wah ini yah pemeran utama kita malam ini. Ternyata lebih menggemaskan aslinya ketimbang foto yang kamu kirim waktu itu Larisa" Ucap Siti sambil mencubit gemas pipi Kenan yang terlihat seperti tersenyum karena sentuhan dari Siti.
"Sayang, aku kesana dulu ya. Aku ingin menyapa rekan bisnisku" Ucap Alex sambil melepaskan pegangan tangannya pada Larisa.
"Iya sayang" Ucap Larisa lalu mendapatkan kecupan dipipinya dari sang suami. Membuat Larisa yang taj mengira akan mendapat perlakuan seperti itu dsri suaminya menjadi sangat malu dan berakhir dengan wajahnya yang kini terlihat merah merona sambil menggigi kedua bibirnya.
"Sayang. Kan malu dilihat orang" protes Larisa. Sambil memandang kearah Tiana dan juga Siti yang tertawa karena tingkah Alex.
"Udah gak papa. Lagian kita juga kepengen dikecup kayak gitu tapi belum ada calonnya" Jawab Siti yang tak mempermasalahkan sikap Alex pada Larisa.
"Tuh kan. Mbak Siti aja gak masalah kok" Ucap Alex mencari dukungan. Yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Siti.
"Ya udah pergi gih sana" Usir Larisa pada suaminya yang belum juga beranjak dari tempatnya.
"Jangan lupa janjimu padaku sebentar malam" Balas Alex sambil melangkah meninggalkan Larisa, lalu mengedipkan mata genitnya kearah Larisa, membuat ia semakin malu karena tingkah suaminya itu.
"Maafkan suamiku yang terlalu mesum itu ya kak" Ucap Larisa pada Tiana dan juga Siti.
"Sudahlah gak papa. Biasa aja kali" Ucap Siti sedangkan Tiana hanya mengangguk-anggukan kepalanya kearah Larisa.
Tiana kini bergantian menggendong Kenan, Karena Lsrisa yang mulai kelelahan menahan bobot Kenan yang kian hari makin bertambah besar.
"Cucuku" Ucap Bu Ayu yang baru saja datang setelah tadi ia kesalon terlebih dahulu, untuk membuat penampilannya semakin memukau malam ini.
Kini Kenan beralih pada Bu Ayu yang begitu senang menggendong cucunya itu.
"Kamu siapa?" Tanya Bu Ayu pada Tiana. Merasa takjub dengan penampilan Tiana begitu sangat tertutup.
"Ini Kak Tiana Bu. Sahabatku yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri" Ucap Larisa memperkenalkan siapa Tiana.
"Ohh" Bu Ayu hanya ber oh ria.
"Mama kamu mana?" Tanya Bu Ayu lagi karena tak melihat keberadaan besannya itu.
__ADS_1
Larisa mulai mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Mamanya.
"Tuh disana" Tunjuk Larisa kearah pintu masuk.
Bu Ayu yang melihat penampilan besannya itu hanya bisa menganga sangking kagetnya dengan penampilan Mama Larisa malam ini.
Mama Larisa berjalan dengan begitu percaya diri menghampiri Bu Ayu dan juga Larisa yang masih diam terpaku memandang penampilannya yang ia rasa sangat luar biasa malam ini.
"Bagaimana menurut kamu penampilan mama malam ini?" Tanya Mama Larisa sambil berputar-putar dan berpose layaknya pragawati.
Larisa nampak malu dengan sikap Mamanya. "Ma, Mama kok dandannya seperti itu. Mama kayak ondel-ondel berjalan tau" Ucap Larisa begitu kesalnya.
"Apa kamu bilang, Mama itu udah dandan hampir lima jam terus kamu bilang kayak ondel-ondel. Wah kurang ajar kamu Larisa ngatain Mama kayak gitu" Protes Mama karena tak terima dikatai ondel-ondel oleh anaknya sendiri.
"Lagian Mama malu-maluin aja. Kok dandannya gitu amat. Lipstik, blush on, sama shadownya mana pake warna yang mencolok lagi. Sakit mata Larisa lihat wajah Mama kayak umbul-umbul berjalan" Balas Larisa lagi tak ingin kalah dari Mamanya.
"Apa? Umbul-umbul berjalan? Tadi ondel-ondel, sekarang umbul-umbul. Nanti kamu mau ngatain Mama seperti apa lagi. Kamu tuh ya anak anak Mama satu-satunya, tapi gak pernah buat Mama seneng" Balas Mama Larisa membuat bibir Larisa terkunci. Tak bisa membalas perkataan dari Mamanya yang selalu saja memili balasan setiap apa yang ia katakan.
"Jeng. Anak kamu itu benar. Dandanan kamu itu kayak... "
Ucap Bu Ayu tertahan.
Sedangkan Tiana dan Siti hanya menjadi penonton. Menyaksikan tontonan gratis perdebatan antara mereka bertiga.
Kenan mulai menggeliat-geliat karena suara mereka bertiga yang mulai membangunkan Kenan yang tadi sempat tertidur dalam gendongan Tiana.
"Astaga, galak amat sih jeng. Kitakan ngomong kayak gitu demi kebaikan kamu juga" ucap Bu Ayu pelan. Berusaha menasehati besannya itu.
"Benar Ma, apa yang Ibu bilang itu memang benar. Sekarang hapus deh makeup Mama. Penglihatan Larisa terganggu kalo wajah Mama seperti itu" Ucap Larisa namun ditolak mentah-mentah oleh Mamanya.
"Kamu kok malah belain mertua kamu sih Larisa?" Tanya Mama membuat wajah Larisa ditekuk karena merasa heran dengan perkataan Mamanya.
"Jeng. Lebih baik hapus dulu deh makeup kamu itu. Sebelum lebih banyak orang yang ngetawain kamu" Bu Ayu berbicara dengan tenang. Sama sekali tak tersulut emosi walaupun besannya itu seperti menyudutkan dirinya.
"Tuh kan. Mertua kamu itu memang gak bisa dijaga mulutnya" Balas Mama Larisa sambil menatap tajam kearah besannya yang diam saja.
"Mama stop, apa yang Ibu bilang itu memang benar. Sekarang Mama cepat pergi dari sini, jangan buat keributan nanti Larisa tambah malu" Ucap Larisa dengan nada suara yang sedikit lebih keras.
"Anak tak tau diuntung kamu ya. Awas kamu anak kurang ajar" Umpat Mama Larisa kemudian bergegas meninggalkan Larisa dengan amarah yang tertahan didadanya.
__ADS_1
"Sudahlah nak. Jangan diambil hati ucapan Mama kamu itu" Ucap Bu Ayu pada Larisa yang terlihat sedih karena Mamanya yang mengatai dirinya.
"Sabar. Mama kamu marahnya cuma sebentar kok" Tiana mulai bersuara, berusaha memberi semangat pada Larisa.
"Makasi Kak" Balas Larisa sambil memegang tangan Tiana.
"Tidak ada kata terima kasih untuk seorang saudara" Jawab Tiana membuat Larisa kini tersenyum kembali.
Tak berselang lama, acara pun segera dimulai dengan menampilkan pertunjukan dari beberapa artis papan atas yang memang sedang naik-naik daunnya.
Para tamu dimanjakan dengan pertunjukan serta hidangan yang disiapkan untuk menjamu mereka.
Kini Larisa, Alex, dan juga Kenan berdiri diatas pelaminan yang telah disiapkan untuk menyambut para tamu yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka.
Terlihat Kenan yang begitu antusias. Biasanya bayi mungil itu akan tertidur pulas sepanjang waktu. Namun berbeda dengan kali ini, Kenan yang sepertinya mengetahui jika sedang diadakan pesta besar-besaran untuknya, sehingga sejak tadi mata bayi mungil itu terus saja terbuka lebar.
Setelah semua acara telah dilaksanakan, mereka bertiga pun segera bergegas turun dari pelaminan untuk membawa tubuh mungil Kenan yang terlihat sudah mulai lelah dan terlihat sangat mengantuk karena terus saja meronta-ronta ingin segera disusui.
Akhirnya Kenan tidur juga. Larisa lalu keluar dari kamar kemudian kembali keacara yang belum juga usai.
Para tamu kini satu persatu mulai berpamitan pada Larisa dan juga Alex.
Terlihat senyum simpul yang terukir jelas diwajah Alex yang tak sabar ingin segera mengakhiri acara ini. Untuk segera mengetahui apa yang akan istrinya itu lakukan kepada dirinya.
"Larisa, aku pamit pulang ya. Selamat untuk kalian" Ucap Siti pada Larisa dan diikuti juga dengan Tiana yang berada tepat dibelakangnya.
"Iya, udah malam banget nih. Kita pamit ya" Tambah Tiana lagi sambil memegang tangan Larisa.
"Ya sudah. Hati-hati ya calon pengantin. Jangan lupa sampaikan salamku sama Abah dan Umi kak" Balas Larisa dan dibalas dengan senyuman oleh Tiana walaupun sunyuman itu tak nampak karena terhalang oleh cadarnya.
"InsyaAllah. Nanti aku sampaikan salammu sama Abah dan Umi" Ucap Yiana sambil cipika cipiki dengan Larisa terlebih dahulu. Begitupun juga dengan Siti.
"Sampai jumpa beberapa hari lagi" Sambung Larisa.
"Aamin, doakan ya semoga lancar sampai hari H" Balas Tiana lagi.
"Pasti kita akan doakan yang terbaik untukmu" Ucap Siti. Dan akhirnya mereka bertiga saling berpelukan.
Larisa melambaikan tangan kearah sahabatnya yang kini berada di pintu masuk, dan dibalas juga dengan lambaian tangan oleh Tiana dan juga Siti saat mereka kembali berbalik kearah Larisa.
__ADS_1