
Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam, semua orang yang tadinya masih berada dirumah Tiana satu persatu undur diri, karena waktu yang sudah semakin larut.
Setelah acara makan malam selesai.
Larisa dan Alex berpamitan untuk segera pulang, setelah Ardian dan Rara yang lebih dulu pamit, karena Rara yang sedang hamil muda sudah terlihat sangat kelelahan.
Tiana masuk kedalam kamarnya, diikuti dengan Azam yang juga ikut masuk, setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Azam memandang wanita pujaannya dengan tatapan memuja, wanita yang selama bertahun-tahun sangat ia kagumi dan akhirnya bisa ia miliki.
Azam tersenyum kepada Tiana yang kini telah sah menjadi istrinya.
Tiana juga terlihat malu-malu karena Azam yang terus saja memandanginya. Membuat Wajah Tiana memanas karena tatapan mata suaminya.
"Kenapa cadarnya belum dibuka, kamu tidak ingin memperlihatkan wajahmu kepadaku?" Tanya Azam yang kini berada diatas tempat tidur pengantin.
Tiana masih diam terpaku di depan lemari pakaian. Jantungnya berdegub sangat kencang karena Azam yang ingin melihat wajahnya.
"Kemari lah" Panggil Azam sambil menepuk pinggiran tempat tidur mengisyaratkan kepada Tiana agar duduk di sampingnya.
Azam sebenarnya tau jika istrinya sedang datang bulan, karena ia tadi melihat noda merah yang ada di belakang tubuh istrinya.
Bukan maksud Azam ingin menyentuh Tiana padahal ia sedang datang bulan. Tapi Azam ingin melihat wajah cantik Tiana yang banyak orang bicarakan sehingga membuat dirinya penasaran, dan ingin melihat wajah istrinya secara langsung.
Tiana dengan ragu melangkah dengan degub jantung yang terus berdetak tidak karuan. Sejujurnya ia sangat takut berhadapan langsung dengan lawan jenisnya, namun ini adalah malam pertamanya. mau tidak mau ia harus menuruti apa yang suaminya akan lakukan kepadanya.
Dengan perlahan Tiana lalu duduk disamping Azam, namun wajah Tiana terus saja menunduk karena sangat malu menatap wajah tampan suaminya.
Azam hanya tersenyum melihat sikap malu-malu istrinya.
"Boleh kah aku melihat wajahmu?" Tanya Azam lagi. Walaupun mereka telah sah menjadi suami istri, namun Azam tetap akan meminta izin Tiana terlebih dahulu, sebelum melakukan apa pun termasuk melihat wajah istrinya.
Tiana menganggukkan kepala tanda ia memberi izin kepada suaminya.
Azam lalu mulai mengangkat tangannya untuk membuka penutup wajah Tiana, namun ia kesulitan karena tak tau caranya untuk membuka penutup yang ada diwajah istrinya.
"Biar aku saja" Ucap Tiana lembut kepada suaminya. Tiana memutuskan biar dia saja yang membuka cadarnya, karena suaminya yang terlihat begitu bernafsu ingin melihat wajahnya, namun nampak kesulitan untuk membuka cadarnya.
Azam akhirnya membiarkan Tiana yang membuka penutup wajahnya. Kini jantung Azam yang berganti terus berdegup kencang, karena akan melihat wajah istrinya untuk pertama kali.
__ADS_1
Mata Azam tak bisa lepas dari Tiana. Senyumnya merekah sempurna tatkala memandang wajah cantik istrinya.
"Kamu sangat cantik" Azam memuji kecantikan istrinya membuat wajah Tiana kembali memanas karena ia yang begitu malu. Dan membuat wajah Tiana semakin memerah tatkala Azam yang menyentuh tangannya lalu mencium tangan Tiana.
Kedua insan berbeda jenis itu seakan melakukan senam jantung. Karena jantung mereka yang terus berdegub seiring dengan tatapan mata dari keduanya yang tak bisa lepas.
Naluri lelaki Azam akhirnya kembali membara, ia yang belum pernah merasakan nikmatnya malam pertama ingin segera merenggut kehormatan istrinya. Namun, Azam hanya bisa bersabar sambil menghela nafas pelan karena istrinya sedang datang bulan.
Azam meneguk salivanya melihat bibir mungil istrinya, yang berwarna merah alami tanpa polesan lipstik sama sekali.
"Bolehkah aku..." Tanya Azam terputus. Ia malu jika ingin mengatakan maksud dari keinginannya.
"Tentu saja boleh. Apapun yang kau inginkan aku mengizinkannya. Bukankah aku dan segenap jiwa dan ragaku sudah menjadi milikmu sekarang" Ucap Tiana lembut. Ia sangat tau arah dan maksud pembicaraan dari suaminya yang terlihat begitu menginginkannya.
"Apakah aku mencicilnya saja dulu, nanti setelah Tiana selesai datang bulan, baru aku akan melakukan malam pertamaku yang sebenarnya" Gumam Azam dalam hatinya.
Azam berniat akan melakukan pemanasan dulu, sebelum ia benar-benar akan melakukan malam pertamanya bersama Tiana setelah datang bulannya selesai.
"Tidak, Tidak, jika aku melakukannya sekarang, aku akan khilaf" Gumam Azam lagi. Ia mengurungkan niatnya untuk melakukan pemanasan karena ia takut akan kelewatan dan menuntut lebih kepada istrinya yang sedang datang bulan.
"Kita istirahat saja. aku sudah sangat lelah" Ucap Azam lagi karena sejujurnya ia memang merasa sangat mengantuk. Karena saat di pelaminan ia berdiri terlalu lama, membuat Azam kini kelelahan dan ingin segera memejamkan matanya.
Mungkin jika istrinya tidak sedang datang bulan, ia akan begadang semalam suntuk untuk menikmati malam pertamanya. Namun karena Tiana yang sedang datang bulan, sehingga Azam harus bersabar sampai datang bulan istrinya selesai. Baru setelah itu, ia bisa menikmati malam pertama mereka.
"Apakah jangan-jangan suamiku ini benar adalah pria impoten?" Gumam Tiana dalam hatinya.
Dengan terpaksa dan sedikit kecewa Tiana menuruti perkataan suaminya, ia tidak ingin terkesan terlalu murahan didepan suaminya, jika ia yang lebih dulu meminta untuk melakukan kegiatan yang pengantin baru lakukan di malam pengantin mereka.
Tiana lalu mematikan lampu kamar tidurnya, lalu berbaring di samping Azam, yang telah terlelap lebih dulu karena sejak tadi memang ia menahan rasa kantuknya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
1 Minggu kemudian...
Hari berlalu begitu saja, tak terasa sudah seminggu berlalu setelah hari pernikahan Tiana dan Azam digelar.
Nampak sepasang suami istri sedang asyik menyantap sarapan di meja makan. Tiana dengan telaten melayani suaminya. Lalu menyiapkan segelas kopi panas untuk Azam. Karena setelah sarapan Azam akan mengisi materi untuk para santrinya di kelas. Dan begitu pun juga dengan Tiana.
Wajah Azam terlihat sangat cerah. ia sangat bersemangat setelah seminggu belakangan terlihat lesu karena belum mendapat jatah malam pertama dari istrinya.
Dan rencananya malam ini ia akan meminta haknya sebagai seorang suami kepada istrinya.
Namun berbeda halnya dengan Tiana yang malah terlihat sedikit lemas. Karena Azam yang belum sekali pun menyentuhnya, Tiana terus memikirkan tentang perkataan Azam, jika mantan istrinya dulu pernah memfitnahnya jika ia adalah seorang pria impoten.
Sehingga Tiana terus memikirkan hal itu. Tiana takut jika ternyata memang Azam adalah pria impoten. Sebab seminggu sudah mereka menikah namun suaminya belum pernah menyentuhnya sekalipun. Bahkan sekedar menciumnya saja belum pernah, membuat Tiana terus memikirkan tentang hal yang negatif tentang suaminya.
"Astagfirullah" Ucap Tiana dalam hatinya. cepat-cepat ia beristigfar karena telah berprasangka buruk kepada suaminya.
Azam yang melihat tingkah istrinya merasa sedikit heran. Terlebih wajah istrinya yang nampak pucat. Azam beranggapan jika mungkin istrinya sedang sakit.
"Kamu sakit" Tanya Azam, salah satu tangannya memegang tangan istrinya, sedangkan tangannya yang satu berada di kening Tiana, untuk memeriksa suhu tubuh istrinya.
"Tidak, aku tidak sakit, hanya sedikit lemas" Jawab Tiana sambil melepaskan pegangan tangan dari suaminya.
"Kita ke dokter sekarang ya, aku khawatir kamu kenapa-kenapa" Ucap Azam menghentikan aktivitas istrinya yang sedang menumpuk piring kotor.
Azam lalu menyuruh Tiana kembali duduk sambil memegang kedua tangannya.
"Abah sudah mempercayakan dirimu kepadaku, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. kita ke dokter sekarang ya" Ucap Azam lagi, namun lagi-lagi Tiana menolak. kemudian bangkit membawa piring kotor itu ke wastafel.
Dengan lemas Tiana lalu mencuci piring-piring kotor itu. Azam yang melihat sikap tak acuh dari istrinya kemudian menghampirinya.
"Kamu kenapa, apakah aku ada salah sama kamu?" Tanya Azam yang kini berdiri tepat disamping istrinya.
Tiana hanya diam, ia tidak ingin berdebat dengan Azam, yang akan membuat Abah mendengar perdebatan mereka.
"Aku lelah, aku hanya butuh istirahat saja. tidak perlu ke dokter" Jawab Tiana setelah lama terdiam, ia mengira jika Azam akan pergi, namun ternyata Azam tetap berdiri dan menunggu jawaban darinya.
Setelah piring terakhir Tiana letakkan diatas rak cucian piring. Ia bergegas meninggalkan Azam yang masih berdiri sambil memandang kearahnya.
Namun baru beberapa langkah Tiana lalu berbalik, kemudian berjalan kearah Azam lalu meraih tangannya dan menciumnya.
__ADS_1
Setelah itu, Tiana kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Karena memutuskan tidak akan masuk ke kelas, ia hanya akan menyuruh orang lain untuk menggantikannya sehingga ia bisa beristirahat di kamar.
Azam hanya memandang kepergian Tiana, ia bingung dengan sikap istrinya. Namun tak berselang lama ia akhirnya memutuskan untuk menuju ke kelas, untuk memberi materi kepada para santrinya. Biarlah nanti ia akan mengurus Tiana setelah jam pelajarannya telah selesai.