PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 52 TIANA AZAM TA'ARUF?


__ADS_3

Rara kemudian berjalan kearah Ardian yang sedang duduk di samping Ibunya.


"Sayang Ibu kamu gimana, dia baik-baik aja kan?" Ucap Rara yang berdiri disamping Ardian sambil memegang bahunya.


"Kamu kesini, iya Ibu udah baikan cuma belum sadar" Ucap Ardian terus menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu.


"Kamu jangan sedih, Ibu kamu pasti akan segera sembuh" Ucap Rara berusaha memberi semangat kepada Ardian yang terlihat begitu sedih karena Ibunya tak juga sadar.


"Ini semua salahku" Ucap Ardian kemudian menagis dipelukan Rara.


"Tidak sayang, ini bukan salahmu jadi berhenti terus menyalahkan dirimu" Ucap Rara sambil mengelus belakang Ardian yang terus saja menangis.


Ardian melepaskan pelukannya dari Rara, ia merasa sebelah tangannya disentuh oleh tangan Ibunya.


Bu mina perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang mulai masuk dikedua matanya.


Pandangannya tertuju pada langit-langit rumah sakit yang berwarna putih, setelah itu Bu Mina kemudian melihat Ardian dan Rara yang berada tepat disampingnya, secepat mungkin Bu Mina membuang pandangannya karena tak suka melihat Ardian dan Rara.


Rara yang menyadari jika Ibu Ardian sepertinya tidak suka dengan kehadirannya hanya tersenyum, walaupun senyum itu hampir tak terlihat di wajahnya. Rara berusaha untuk tetap tenang, dia tak boleh gegabah, walaupun bagaimana pun wanita ini adalah Ibu Ardian dan tentu saja akan menjadi Ibu mertuanya, ia harus tetap bersikap baik agar Ardian benar-benar menikahi dirinya.


"Bu, Ibu, alhamdulillah Ibu sudah sadar" Ucap Ardian kemudian mencium tangan Ibunya karena begitu senang akhirnya Ibunya sadar juga.


"Kenapa gak mati aja sih sekalian" Gumam Rara dalam hatinya, namun tetap memperlihatkan ekspreai bahagia agar Ardian tidak curiga.


"Sayang, cepat panggil dokter" Pinta Ardian lalu Rara bergegas keluar ruangan untuk memanggil dokter.


Tak berselang lama Rara akhirnya datang bersama seorang dokter dan seorang suster dibelakangnya. Kemudian Dokter itu mulai memeriksa keadaan Bu Mina yang baru saja sadar.


"Syukur Ibu Anda sudah baikan sekarang" Ucap Dokter itu setelah memeriksa keadaan Bu Mina.


"Jangan membuat Ibu anda terlalu banyak bicara dulu, biarkan dia beristirahat, jangan lupa untuk memberikan obat yang saya resepkan dan minumnya harus teratur, jika ada kemajuan mungkin lusa Ibu anda sudah boleh pulang" Ucap Dokter itu lagi lalu memberikan obat kepada Ardian.


"Terima kasih dok"


"Sama-sama, saya permisi dulu"


Ucap Dokter itu kemudian keluar dari ruangan Bu Mina.


Ardian terus mencium tangan Ibunya karena ia sangat senang Ibunya sadar juga, berbeda dengan Rara yang memutar bola matanya malas karena melihat Ardian yang terus saja menciumi tangan Ibunya.


*

__ADS_1


*


*


*


Keesokan harinya setelah akhirnya Aisyah dan Sidan menikah kembali untuk kedua kalinya, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mesir.


Tiana dan Larisa sudah sepakat akan mengantar sahabatnya itu kebandara untuk mengucapkan salam perpisahan. Penerbangan Aisyah nanti sore, namun pagi-pagi sekali Larisa sudah datang di antar oleh supirnya yangbterlwbih dulu mengantar suaminya ke kantor.


"Assalamu'alaikum" Ucap Larisa memberi salam kemudian mencium tangan Abah dan Umi yang sedang berada diruang tamu.


"Waalaikumsalam nak, pagi betul datangnya, pesawat Aisyah terbangnya kan nanti sore" Ucap Umi kemudian duduk disamping Abah begitu juga dengan Larisa yangnikut duduk tepat dihadapan Abah dan Umi.


"Larisa bosan dirumah Umi, makanya abis anterin Alex kekantor sekalian kesini"


"Wah gak lama lagi cucu Umi bakalan lahir" Ucap Umi yang melihat perut buncit Larisa.


"Iya Umi, doakan Larisa biar persalinannya nanti lancar soalnya Larisa pengennya lahiran normal Umi" Ucap Larisa sambil memegang perutnya yang kini tambah membesar.


"MasyaAllah, iya nak aamiin, Umi doakan semoga Ibu dan bayinya selamat dan sehat"


"Aamiin, makasi Umi"


"Ada didalam, sebentar lagi juga keluar" Ucap Abah kemudian meletakkan gelas kopi dimeja.


Benar kata Abah, tak berselang lama Tiana keluar dengan membawa piring yang berisi pisang goreng ditangannya. Tiana berjalan sambil tersenyum kearah Larisa kemudian meletakkan piring berisi pisang goreng di atas meja.


"Sudah lama datangnya?" Tanya Tiana kemudian duduk disamping Larisa.


"Belum kak, Larisa baru aja sampai" Ucap Larisa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Uhhh gemes, gak sabar pengen cubit pipi anak bayi ini" Ucap Tiana sambil memegang perut buncit Larisa.


"Iya Tante makanya cepat nikah biar dede bayi nanti ada temennya" Balas Larisa menirukan suara bayi.


"Iya nanti ya kalo sudah dapat jodohnya dipinggir jalan"


"Kok di pinggir jalan sih kak" Tanya Larisa merasa heran dengan jawaban Tiana.


"Ya kali aja nemu di jalan, terus aku pungut terus bawa pulang" Ucap Tiana membuat Larisa tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Kakak ada-ada aja deh, emangnya barang dibawa pulang"


"Lagian kamu nanyanya gitu, kayak cari suami seperti mungut barang"


"Tiana" Panggil Abah membuat Tiana dan Larisa menoleh kearah Abah.


"Iya Abah, abah mau Tiana ambilkan minum?" Tanya Tiana kemudian bangkit dari duduknya namun Abah menyuruhnya untuk duduk kembali.


"Sudahlah nak, duduk saja Abah bukan ingin menyuruhmu mengambil minum untuk Abah"


Umi yang melihat kearah Abah dalam hatinya sangat yakin jika Abah akan mengatakan perihal perjodohan Tiana dan Ustad Azam.


"Abah kenapa?" Ucap Tiana mulai penasaran.


"Abah ingin bicara serius sama kamu" Ucap Abah dengan ekspresi wajah yang kini serius.


"Apa itu Abah?"


"Aku ingin menjodohkan mu dengan Ustad Azam" Ucap Abah yang seketika itu juga membuat Tiana kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulut Abah.


Tiana diam berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Abah. Pikirannya kembali mengingat tentang pernikahannya yang dulu batal, Tiana seperti takut jika mendengar kata pernikahan, bukan tidak mungkin jika Tiana merasa takut karena dulu ia bersikeras menikah dengan Ardian yang ternyata bukanlah pria yang setia.


Larisa yang mendengar apa yang Abah katakan sangat senang, karena Tiana akan segera menikah dan tak lama lagi Tiana juga akan hamil, dan memiliki bayi seperti dirinya dan anak-anak mereka nanti akan bermain sama-sama.


"Kak, kau juga akan segera menikah, tidak perlu susah payah mencari dijalan, tanpa kakak cari jodoh kakak datang sendiri" Ucap Larisa sambil tersenyum kearah Tiana, namun senyumnya hilang begitu saja melihat Tiana yang diam seperti tak senang mendengar apa yang tadi Abah katakan jika dia akan di jodohkan kembali.


"Kak, kenapa diam saja?" Ucap Larisa sambil memegang tangan Tiana.


"Nak Azam itu orang yang baik nak, walaupun dia itu duda tapi Abah yakin dia bukanlah orang yang jahat"


"Benar Nak, Umi melihat jika nak Azam itu orang baik" sambung Umi membenarkan apa yang Abah katakan.


Abah mengerti perasaan putrinya yang masih kaget mendengar berita jika dia akan di jodohkan kembali. Melihat ekspresi putrinya yang hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun, membuat Abah mengerti jika ada keraguan dihati anaknya itu, sangat berbeda ketika Abah memberikan berita mengenai perjodohannya dengan Ardian dulu.


"Abah tak memaksamu untuk segera menikah dengan Ustad Azam, dia juga setuju menikah denganmu asalkan memang kalian benar-benar sudah merasa cocok. Ustad Azam ingin jika kali taaruf saja dulu, jika kalian benar-benar sudah merasa cocok baru kalian bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu pernikahan" Ucap Abah dan terlihat sudut mata Tiana yang ikut naik menandakan dia sedang tersenyum.


"Jadi kak Tiana akan taaruf dulu baru setelah itu ia akan menikah Bah?" Tanya Larisa.


"Benar nak, mereka akan menikah jika mereka merasa sama-sama cocok" Ucap Abah tersenyum kearah Tiana yang sejak tadi hanya diam.


"Tunggu, tunggu" Ucap Larisa sambil mulai berpikir. "Ustad Azam yang waktu itu menyenggol tangan kakak sampai Hp kakak jatuh kan? Ucap Larisa mengingat kembali sosok yang waktu itu membuat Hp Tiana jatuh.

__ADS_1


"Iya benar" Ucap Tiana singkat.


"Wah Kakak beruntung sekali, selain terlihat alim orangnya juga tampan, seperti wajah orang-orang timur tengah, apalagi diapandai berbahasa Arab, paket komplit kak" Ucap Larisa sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Tiana yang tak sedikit pun bereaksi melihat tingkah konyolnya.


__ADS_2