
Dirumah sakit dimana Bu Mina dirawat terlihat jika kondisinyanya kini sudah lebih membaik, Bu Mina bahkan kini sudah bisa duduk walaupun masih diatas brangkar pasien. Ditemani Bapak yang juga sedang duduk disampingnya untuk berjaga-jaga jika saja istrinya itu membutuhkan sesuatu.
Ardian terlihat masuk kedalam ruangan Ibunya yang seperti biasa juga ada Rara yang selalu setia mendampinginya, membuat Bu Mina merasa tidak senang jika wanita cantik itu selalu saja berada didekat anaknya. Karena hal itu juga membuat Bu Mina seperti naik pitam melihat Rara yang terus saja memegang lengan Ardian tanpa merasa risih sedikitpun.
"Bagaimana keadaan Ibu?" Ucap Ardian tersenyum lalu mendekat kearah Ibu yang melihat dirinya, namun Ibu hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Anaknya itu.
"Jangan terlalu memaksa Ibumu untuk berbicara, kondisi Ibu sekarang sudah membaik tapi belum bisa terlalu diajak berbicara terlalu sering" Ucap Bapak pada Ardian yang baru saja masuk keruangan Bu Mina.
"Mau apa kalian kesini? Belum puas kamu buat Ibu sakit dan hampir mati karena perbuatanmu itu?" Tanya Bu Mina membuat Ardian tak percaya dengan apa yang Ibunya katakan.
Ardian merasa bersalah mendengar apa yang Ibunya katakan, tapi sejujurnya ia tak menginginkan semua ini terjadi pada Ibunya.
"Bu, Ibu jangan bicara seperti itu, Ardian tidak bermaksud membuat Ibu seperti ini" Ucap Ardian sambil memegang tangan Ibunya namun Bu Mina melepaskan pegangan tangan dari Ardian karena tak sudi disentuh oleh anak yang telah membuat hatinya kecewa.
"Bu, tolong terima Rara jadi menantu Ibu ya. Rara janji akan menjadi menantu dan istri yang baik untuk Mas Ardian" Ucap Rara membuat Ibu menatap tajam kearahnya, namun Rara sendiri tak takut walaupun mendapat tatapan yang tajam dari Ibu Ardian.
"Iya Bu, apa yang dikatakan Rara itu benar, Ibu mau ya menerima Rara" Pinta Ardian sambil meraih kembali tangan Ibunya namun Bu Mina tetap saja menolak disentuh oleh Ardian. Sedangkan Bapak sendiri tidak perduli lagi apa yang anaknya itu ingin lakukan. Hati Bapak kecewa mengetahui perbuatan anaknya yang berani melakukan hal yang sangat dilarang dalam agama.
"Ibu heran dengan jalan pikiranmu itu, untuk ke 2 kalinya kau membuang berlian dan mutiara hanya untuk batu kali yang sama sekali tidak ada harganya" Ucap Ibu menunjuk kearah Rara. Membuat Rara mengepalkan kedua tangannya karena merasa terhina dengan perkataan Ibu Ardian.
"Sudah Bu, jangan emosi biarkan saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan, jika ia ingin menikah dengan Rara biarkan saja. Bapak sekarang tidak peduli lagi dengan urusan pernikahanmu, terserah kau mau menikah sama siapa Bapak tidak perduli. Cukup 2 kali kau sudah membuat bapak kecewa Ardian, mulai sekarang Bapak tidak peduli lagi sama kamu"
Duar...
__ADS_1
Seperti tersambar petir, kata-kata bapak berhasil menghancurkan hati Ardian. Ardian tak menyangka sedalam itukah dia telah menyakiti perasaan kedua orang tuanya. Sampai-sampai mereka tidak peduli lagi dengan dirinya.
Ardian menatap lekat-lekat wajah Bapak yang menunduk bahkan tak sudi untuk melihat wajah anaknya sendiri.
Mata Ardian mulai berkaca-kaca, Bu Mina hanya memejamkan matanya karena tak sanggup melihat wajah Ardian yang bersedih mendengar perkataan dari suaminya.
Semarah apapun Bu Mina tetap hatinya tak akan tega untuk tidak memperdulikan anak semata wayangnya itu. Namun segera Bu Mina melupakan kasih sayangnya itu kepada Ardian, dia berpikir mungkin karena kasih sayangnya itu juga yang kini membuat anaknya seperti itu.
Karena kasih sayangnya kepada Ardian yang sangat besar membuat Bu Mina selalu memanjakan dan memaafkan setiap kesalahan Ardian. Sehingga itu yang membuat Ardian merasa selalu dilindungi sebab ada kedua orang tuanya yang menjadi tamengnya.
"Lebih baik kamu pergi saja dari sini, Ibu malu Ardian mengetahui perbuatanmu itu" Pinta Bu Mina sambil menunjuk kearah pintu masuk.
"Bu Ardian minta maaf" Ucap Ardian kemudian menghambur memeluk Bu mina sedangkan Rara hanya memutar bola matanya malas karena Ardian yang mulai merasa bersalah dengan apa yang telah mereka lakukan.
"Sudah cukup, lepaskan Ibu, lebih baik kalian pergi dari sini. Hati Ibu sakit Ardian. Kamu buat Ibu malu lagi dan semudah itu kamu minta maaf. Capek Ibu dengar kata maafmu itu" Ucap Bu Mina kemudian mendorong tubuh Ardian agar menjauh darinya membuat Bu mina hampir jatuh kelantai, untung saja dengan sigap Ardian dan Bapak memegang tubuh Ibu sehingga tak sampai jatuh ke lantai.
"Cepat pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajah kalian berdua. Jika kalian tetap berkeras untuk menikah silahkan saja. Tapi ingat Ardian mulai saat itu juga kau bukan anakku. Seluruh harta Bapak akan diwakafkan untuk para anak yatim jika kau benar-benar menikah dengan wanita itu." Ucap Bapak kini dengan nada suara yang sangat keras membuat suaranya memenuhi seluruh ruangan tempat Ibu dirawat.
"Bapak maafkan Ardian, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi, tapi jangan abaikan Ardian Pak, Bu. Ardian mohon" Ucap Ardian kini mulai bersimpuh dikaki Bapak namun sama sekali bapak tak terpengaruh dengan apa yang Ardian lakukan, Bapak tetap saja tak memperdulikan Ardian.
Ibu kini mulai menitikan Air mata melihat anak satu-satunya kini sedang memeluk kaki suaminya, memohon untuk dikasihani namun suaminya itu sama sekali tak bergeming.
Mendengar apa yang dikatakan oleh orang tua Ardian Rara menjadi semakin kesal, bahkan kini Rara sudah bersiap untuk segera meninggalkan ruangan tempat Ibu Ardian dirawat. Namun dia mengurungkan niatnya itu ketika melihat Ardian yang berdiri kemudian mencium tangan kedua orang tuanya membuat tangis yang sedari tadi Bu Mina tahan akhirnya pecah juga tatkala Ardian menghampirinya kemudian mengucapkan salam perpisahan kepadanya.
__ADS_1
Dengan berurai Air mata Bu Mina menatap kepergian anak yang begitu ia sayangi pergi meninggalkan dirinya.
"Ayo kita pergi" Ucap Ardian pada Rara yang sejak tadi hanya diam. Rara lalu mengikuti langkah Ardian. Bisa Rara dengar tangis Ibu Ardian yang meraung-raung ketika akhirnya Rara melangkahkan kaki keluar dari ruangan Bu Mina.
Tatapan Ardian kosong menatap kedepan tanpa mempedulikan orang-orang yang berjalan disamping yang menatapnya heran. Bahkan kini Ardian tak sengaja menabrak orang yang sedang berjalan didepannya, membuat Ardian terjatuh karena menabrak orang tersebut.
Orang yang ia tabrak itu tak lain adalah Alex, Orang yang telah menikahi calon istrinya. Ardian terkejut menatap wajah Alex yang kini juga sedang menatapnya namun Alex hanya diam saja memandang kearah Ardian tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Rara yang melihat Ardian menabrak seseorang kemudian mempercepat langkahnya namun langkah Rara menjadi lambat ketika melihat dari dekat jika orang yang Ardian tabrak adalah Tuan Alex.
Ardian tak mempedulikan lagi Alex yang terus menatap dirinya kemudian berlalu begitu saja diikuti Rara yang mengikutinya dari belakang.
"Sayang kau tidak papa kan?" Tanya Larisa ketika mereka sampai diparkiran rumah sakit.
Ardian kemudian memukul-mukul stir mobilnya membuat Rara kaget melihat Ardian yang seperti kesetanan.
"Jangan seperti ini, nanti tanganmu akan terluka" Ucap Rara sambil memegang tangan Ardian.
"Lepaskan aku" Ucap Ardian membuat tangannya tak sengaja mengenai wajah Rara, membuatnya meringis kesakitan karena tangan Ardian yang tepat mengenai matanya.
Ardian ingin memegang wajah Rara yang terkena pukulan darinya. Namun Rara yang kesal menolak jika disentuh oleh Ardian. Bahkan Rara kini ingin keluar dari mobil kekasihnya itu, namun untung saja Ardian dengan sigap lalu menahannya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak sengaja" Ucap Ardian dengan ekspresi menyesal yang kini terlihat diwajahnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih?" Tanya Rara kesal.
Ardian menghembuskan nafas kasar. tak tau harus menjawab apa. Membuat Rara kini semakin kesal karena Ardian tak juga menjawab pertanyaan darinya.