
"Abah, Umi, Aisyah pamit" Ucap Aisyah sambil mencium tangan Abah dan Umi ketika akan keluar dari ruang tamu menuju ke pintu masuk. Setelah mereka tadi sempat berbincang-bincang dulu, sambil menunggu waktu sore hari ketika tiba waktunya Aisyah harus berangkat ke bandara.
"Iya nak, kamu jaga diri baik-baik yah, ingat pesan Abah untuk tetap sabar menjalani cobaan dalam pernikahan kalian" Ucap Abah sambil memegang pundak Aisyah.
"Dan kau nak Sidan" Ucap Abah lagi lalu menoleh kearah Sidan yang juga memandang kearah Abah.
"Belajarlah untuk tidak mengulangi kesalahanmu lagi, Istrimu adalah orang yang akan menamani mu sampai kelak maut memisahkan kalian. Perlakukan istrimu dengan baik bersabar lah jika dia selalu membuatmu marah, dan tuntunlah dia jika dia kadang melakukan kesalahan. Kau adalah pemegang kendali dalam bahtera rumah tanggamu. Jika kau tak bisa mengendalikan kemana bahtera itu akan berlayar, maka kau akan terombang ambing tak tau harus berlabuh kemana, dan bahkan akan menghancurkan bahteramu sendiri, karena kau tak siap menghadapi terjangan ombak permasalahan yang menghantam bahtera rumah tanggamu"
"Dan kau Aisyah, jalankan tugasmu sebagaimana tugas seorang istri nak. Bersabarlah dalam menghadapi segala ujian yang menerpa rumah tanggamu. Kalian berdua harus menjaga satu sama lain dan bekerja sama dalam memperkuat pondasi rumah tangga kalian. Sehingga tak mudah runtuh ketika badai permasalahan menghantam. Berpegang teguhlah pada ajaran agama kita, jika kalian melakukan dan menjalankan sesuai apa yang telah di ajarkan, maka insyaAllah rumah tangga kalian akan mendapat berkah dan rahmatNya"
Aisyah kemudian menghambur kepelukan Abah, sedangkan Umi, Tiana dan Larisa yang melihat Aisyah juga ikut terharu mendengar apa yang Abah katakan. Sangking terharunya mereka semua sampai tak sadar menitikan air mata.
Tiana lalu mengusap punggung Aisyah yang menangis dalam pelukan Abah, Aisyah merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik seperti keluarga Tiana.
"Terima kasih Abah karena sudah mengizinkanku tinggal beberapa hari dirumah ini" Ucap Aisyah sambil menghapus air matanya.
"Jangan berterima kasih nak, jika kau ingin tinggal lebih lama lagi atau tinggal selamanya disini, tentu Abah juga akan merasa sangat senang. Rumah Abah menjadi ramai jika ada kalian" Ucap Abah melepaskan pelukan Aisyah kemudian memegang kedua pundaknya, berbicara sambil menatap wajah Aisyah sambil tersenyum.
"Iya Abah" Jawab Aisyah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku akan merindukan kalian semua" Ucap Aisyah lagi sesenggukan. Kemudian beralih pada Umi yang kini juga ikut menangis karena merasakan kesedihan yang Aisyah rasakan.
"Umi" Ucap Aisyah kemudian memeluk Umi sambil menangis, Sidan yang melihat Istrinya terus menangis menghampirinya sambil mengelus lembut punggung Aisyah.
Umi kemudian memegang tangan Sidan, membuat Sidan beralih memandang kearah Umi yang juga sedang menangis sambil memeluk Aisyah. Tatapan mata Umi sendu menatap wajah Sidan yang melihat kearahnya.
"Berjanjilah nak, kau akan memperlakukan istrimu dengan baik. Jangan menyakiti hatinya, Umi mohon bahagiakan istrimu dan jangan pernah berbuat kasar lagi kepadanya" Ucap Umi kemudian memegang wajah Sidan.
Sidan kemudian memegang tangan Umi lalu menciumnya dengan takzim, lalu tersenyum kearah Umi yang menatap nanar kearahnya.
__ADS_1
Sidan lalu melepaskan tangan Umi. "InsyaAllah Umi, aku berjanji akan memperlakukan Aisyah dengan baik. Dan aku juga berjanji akan menjaga Aisyah dengan segenap jiwa dan raga ini" Ucap Sidan, membuat Abah yang mendengar perkataan Sidan tersenyum sambil menepuk bahunya.
"Terima kasih Abah, walaupun singkat sekali waktuku disini tapi saya banyak belajar. Terima kasih juga karena telah menyadarkanku atas semua kesalahanku kepada Aisyah. Aku menyesal Abah, semoga saja dosa-dosaku diampuni olehNya" Ucap Sidan dengan ekspresi menyesal yang kini terlihat diwajahnya.
"Syukurlah nak jika kau kini menyadari semua
kesalahanmu, bertaubatlah dengan bersungguh-bersungguh dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. InsyaAllah taubatmu itu akan diterima, karena Dia maha pengasih lagi maha pengampun"
"Pergilah nak, jadikan masalah ini sebagai pembelajaran. Semoga kalian bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan jadikan pula ini sebagai awal yang baik untuk kalian berdua memperbaiki kembali rumah tangga kalian" Ucap Abah yang kini berada tepat dihadapan Aisyah dan Sidan.
"Pergilah nak, Abah doakan semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Ingat selalu pesan Abah"
Mereka semua kemudian berjalan mengantar kepergian Aisyah dan Sidan sampai didepan pintu gerbang pesantren.
Abah dan Umi memandang kepergian mobil Larisa hingga hilang dan tak nampak lagi saat berbelok di depan pintu gerbang pesantren
"Melihat mereka, Abah teringat waktu kita dulu masih muda" Ucap Abah pada Umi yang kini berdiri tepat disampingnya.
"Semoga anak-anak kita senantiasa dilindungi olehNya, dan semoga mereka selalu bahagia. Hanya itu yang abah harapkan" Ucap Abah kemudian merangkul bahu Umi.
"Iya Abah Umi juga berharap seperti itu, semoga mereka bisa terus mempertahankan rumah tangga mereka, dan bisa melalui segala cobaannya"
"Aamiin" Jawab Abah dan Umi bersamaan.
*
*
*
__ADS_1
*
Mereka berempat Tiana, Larisa, Aisyah, dan Sidan kini berada didalam mobil. Sidan yang duduk tepat disamping supir, sedangkan Tiana, Larisa, dan Aisyah duduk dibagian belakang.
Mereka terus saja saling melepar senyuman karena ikut bahagia mengantar kepergian Aisyah kembali ke negera tempat Aisyah tinggal dengan suaminya.
"Aku harap kalian bisa berkunjung kerumahku nanti" Ucap Aisyah memulai pembicaraan.
"Tentu saja Aisyah, jika ada waktu kami akan berkunjung" Ucap Tiana menoleh kearah Aisyah karena Tiana duduk diapit oleh Larisa dan Aisyah.
"Benar Aisyah, aku juga ingin sekali berkunjung ke negara tempat tinggalmu. Aku ingin melihat Piramida Giza yang menjadi icon negaramu itu. Aku melihat di televisi salah satu artis India yang sedang syuting di piramida itu, membuatku juga ingin menginjakkan kaki disana" Ucap Larisa dengan ekspresi berbinar-binar yang nampak diwajahnya. Mengingat keindahan Piramida Giza yang berada di negara tempat Aisyah tinggal.
"Masih banyak tempat destinasi wisata yang lebih indah selain Piramida Giza Aisyah. Jika nanti kau kesana aku akan membawamu ke Sungai Nil, Karnak, Hurghada, dan juga ke Alexandria"
"Alexandria itu kalo tidak salah kota terbesar kedua dinegaramu itu kan? disana ada peninggalan sejarah kerajaan romawi makanya banyak dijadikan destinasi wisata, tapi aku lupa apa nama kerajaannya" Ucap Larisa sambil berpikir.
"Aku juga lupa apa nama kerajaannya, aku kesana hanya sekali" Ucap Aisyah dan dibalas anggukan kepala oleh Larisa.
"Aku dengar dari Abah, kau akan dijodohkan dengan salah satu ustad yang mengajar di pesantren Abahmu Tiana" Ucap Aisyah kini beralih pada Tiana terlihat pula ekspresi diwajah Tiana berubah nampak tegang, karena tak menyangka jika hal itu yang akan Aisyah bicarakan.
"Iya benar" Jawab Tiana seadanya.
"Kenapa kamu seperti tidak bahagia dengan perjodohan ini?" Tanya Aisyah sedangkan Larisa hanya diam mendengarkan pembicaraan antara Tiana dan aisyah.
Tiana menghela napas pelan. "Aku bukannya tidak bahagia" Ucap Tiana singkat.
"Aku hanya mengingat kembali perjodohanku yang dulu sempat dibatalkan" Sambung Tiana, kemudian menoleh kearah Larisa. "Percayalah aku berbicara seperti ini tidak bermaksud untuk menyinggungmu, aku hanya mengatakan apa yang menjadi ke khawatiranku" Ucap Tiana sambil memegang tangan Larisa.
Larisa tersenyum mendengar perkataan Tiana. "Iya kak aku tau" Ucap Larisa membalas pegangan tangan Tiana. Larisa juga merasa bahwa Tiana berkata seperti itu sama sekali tidak pernah ingin menyinggung perasaanya. Walaupun tak dipungkiri memang pernikahan Tiana batal karena dirinya.
__ADS_1
"Jadi kau akan menerima ustad Azam?" Tanya Aisyah lagi membuat Tiana kembali menoleh kearahnya.
Tiana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat Aisyah bingung dengan tingkah Tiana.