
Umi masuk kedalam kamar Tiana untuk membantunya melepaskan segala macam printilan yang ada ditubuh anaknya itu.
Azam yang telah selesai mengganti pakaiannya lebih dulu, kembali keluar untuk berkumpul bersama Alex, Ardian, dan juga Abah Ahmad yang sedang berada di ruang tamu.
Abah mempersilahkan Azam yang baru datang untuk duduk disampingnya.
Nampak pula Larisa dan juga Rara yang berada diruangan tempat dimana para pria dengan inisial A itu berkumpul.
Terlihat Rara yang sejak tadi cuek bebek dengan keberadaan Larisa, dan begitupun juga sebaliknya dengan Larisa yang nampak tak acuh pada Rara.
Alex dan juga Ardian hanya diam saja tak menghiraukan istri mereka yang tidak saling bertegur sapa. Karena baik Alex maupun Ardian sangat mengetahui apa penyebab sehingga kedua wanita itu bermusuhan.
Rara semakin kesal melihat tubuh Larisa yang semakin bagus setelah melahirkan.
Padahal yang Rara ketahui jika wanita yang sudah pernah hamil lalu melahirkan, maka tubuh mereka akan mulai mengendor dan melar sana sini. Dan berangsur-angsur bahkan akan berubah menjadi gemuk.
Ditambah lagi seorang wanita yang telah melahirkan akan sibuk mengurusi bayinya, sehingga tak ada waktu untuk melakukan perawatan.
Sehingga terkadang wanita yang baru melahirkan terlihat kusam dan tidak terawat. Karena kesibukannya yang harus menjadi istri yang baik untuk suaminya dengan menyediakan apapun yang suaminya butuhkan, sekaligus menjadi seorang Ibu yang penuh perhatian dan juga kasih sayang untuk anak-anaknya.
Namun yang Rara lihat malah berbanding terbalik dengan apa yang ia ketahui, justru Rara hari ini melihat, jika Larisa sangat cantik. Bahkan sangat cantik dan juga mempesona setelah menikah dengan Alex.
Larisa nampak anggun dengan balutan kebaya modern yang menutupi tubuhnya, serta hijab polos berwarna senada dengan warna kebayanya. Menambah kesan jika Larisa adalah wanita dari kalangan atas. Rara sendiri pun tak menampik kebenaran itu,
karena Larisa memang istri dari Alex yang kaya raya itu.
"Aku ingin mengembangkan bisnisku sampai ke benua asia" Ucap alex yang sedang berbincang dengan yang lainnya.
"Wah, itu ide yang bagus. Jadi aku ada saingan sekarang" Balas Azam membuat Alex dan Ardian terkekeh.
"Tentu saja aku bukan apa-apa dibandingkan dengan dirimu" Balas Alex. Membuat Azam yang mendengar pujian dari Alex hanya tersenyum kearahnya.
"Aku pun juga bukan apa-apa awalnya, hanya bermodalkan keyakinan dan semangat kerja yang kumiliki. Sehingga aku bisa berada dititik ini sekarang" Ucap Azam tersenyum pada semua orang yang ada diruangan itu.
Rara yang melihat penampilan dari Azam mengangkat sebelah alisnya, ia tidak menyangka dari semua pria yang ada diruangan itu Azamlah yang sangat kaya raya. Namun Rara tidak menyukai penampilan Azam yang terlihat sangat sederhana.
Walaupun Rara mengakui ketampanan dari Azam, namun tetap saja dia bukanlah seleranya.
"Punya banyak uang kok gak beli baju yang bagusan dikit" Ucap Rara dalam hatinya yang merendahkan penampilan Azam yang terlihat biasa saja.
"Sama diri sendiri kok pelit banget" Ucapnya lagi, namun mata Rara kini terfokus pada tas selempang yang ada disamping Larisa.
Rara mencebikkan bibirnya kearah Larisa, ia kesal dengan penampilan Larisa yang lebih wow darinya, Rara juga sangat tau brand tas yang Larisa pakai hari ini, membuat dirinya semakin iri dan kesal lalu memalingkan wajahnya kearah para pria yang sedang asyik berbicara.
"Kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian, Abah mau kekamar Tiana dulu" Ucap Abah lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Aku ikut" Sambung Larisa lalu ikut bangkit menyusul Abah yang sedang berjalan menuju kekamar Tiana.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Tiana, Larisa dan juga Abah mengetuk pintu lalu mengucapkan salam dan masuk kedalan kamar Tiana.
"Walaikumsalam" Jawab Tiana dan Umi hampir bersamaan.
"Abah" Tiana menghambur kepelukan Abahnya. Ia begitu bahagia karena hari ini telah resmi menjadi istri Azam.
Abah membalas pelukan Tiana. "Abah senang dan ikut bahagia melihat kamu yang bahagia seperti ini nak" Ucap Abah sambil mengusap puncak kepala putri kesayangannya.
Sedangkan Larisa dan Umi menatap kedua orang itu sambil tersenyum dengan perasaan haru dan juga bahagia karena Tiana yang akhirnya menikah juga.
Tiana melepaskan pelukannya. "Terima kasih Abah" Ucap Tiana memandang wajah Abah yang menatap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk apa nak?" Tanya Abah menangkap wajah Tiana dengan kedua tangannya.
"Terima kasih karena Abah yang selalu menjamin kebahagiaan anak Abah" Jawab Tiana kini meneteskan air mata bahagia yang ia rasakan.
"Tidak ada kata terima kasih dalam sebuah hubungan keluarga nak, karena sudah menjadi kewajiban Abah untuk membuatmu bahagia. Tapi kewajiban itu sekarang berpindah pada Suamimu Azam. Dan Abah berharap dia bisa menjadi suami yang baik, suami yang bisa membahagiakanmu. Dan membawamu kesurganya Allah seperti yang kamu inginkan"
"Maafkan Tiana jika ada salah sama Abah dan Umi" Tiana menoleh kearah Umi lalu beralih memeluk erat tubuhnya.
"Umi dan Abah sudah memaafkanmu nak. Iya kan Abah?" Tanya Umi dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Abah, membenarkan apa yang istrinya katakan.
"Justru Abah yang ingin meminta maaf kepadamu" Abah berjalan mendekat kearah Tiana dan juga Umi.
Larisa yang sedang berdiri dibelakang Umi, hanya menyaksikan drama keluarga itu, hati dan mata Larisa menghangat melihat kehangatan yang terlihat dari keluarga Tiana.
"Kamu tau nak, ternyata Azam itu pengusaha" Abah memberi tahu kepada Tiana mengenai siapa Azam yang sebenarnya.
"MasyaAllah. Beneran Bah?" Tanya Tiana dengan ekspresi kaget dan juga penasaran yang kini terlihat diwajahnya.
"Benar nak" sambung Umi. Membenarkan apa yang Abah katakan.
"Iya kak, ternyata suami Kakak orang yang tajir melintir" Tambah Larisa, bermaksud agar Tiana percaya dengan apa yang dikatakan oleh Abah.
"Emang Kakak belum lihat seserahan yang Ustad Azam bawa untuk Kakak?" Tanya Larisa dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Tiana.
Karena sibuk membersihkan riasan yang menempel diwajahnya, Tiana akhirnya memutuskan untuk menyuruh Fatimah untuk menyimpan seserahan yang Azam berikan untuk dirinya didalam lemari pakaian. Dan rencananya akan ia buka satu persatu seserahan itu saat malam hari, disaat suasana mulai tenang.
Umi lalu berjalan kearah lemari kemudian mengeluarkan satu per satu seserahan itu lalu meletakkannya diatas tempat tidur pengantin.
Tiana spontan menutup mulut dengan kedua tangannya melihat barang-barang yang menjadi seserahan dari suaminya.
"Alhamdulillah" Gumam Tiana dalam hati.
"Tas ini juga Ustad Azam yang membelinya loh Kak" Tiana menoleh kearah Larisa yang sedang memperlihatkan tas selempang dengan brand ternama ditangannya.
"Umi juga, nak Azam membelikan Umi dompet mahal banget, harganya sampe 5 juta" Ucap Umi sambil mengangkat tangannya memperlihatkan kelima jari tangannya kearah semua orang yang ada di kamar itu.
__ADS_1
"Seumur hidup baru kali ini Umi punya barang semahal itu" Sambung Umi lagi.
"Ehem" Abah berdehem sedangkan Umi menyengir kuda kearah Abah yang sedang menatapnya.
"Kalo nak Azam memberikan kepada Umi dompet mahal, itu tidak ada apa-apanya. Karena Abah akan berusaha memberikan surga Allah untuk Umi, dan membangun istana yang indah disana" Ucap Abah tak mau kalah.
"Abah" Ucap Tiana dan Larisa hampir bersamaan. Kedua wanita itu merasa tersentuh dengan kalimat romantis yang Abah katakan kepada Umi.
"Kakak beruntung mendapatkan Ustad Azam. Untung saja waktu itu Kakak tidak menerima pinangan dari Mas Ardian" Ucap Larisa julid. Ia kembali mengungkit tentang masa lalu yang bahkan tak pernah lagi Tiana ingat.
Umi mengangguk membenarkan apa yang Larisa katakan.
"Semua ini karena Abah, sebenarnya waktu itu aku bersikeras ingin tetap menikah dengannya, namun Abah meyakinkanku agar tidak mengambil keputusan yang terlalu gegabah" Balas Tiana.
"Namanya manusia, terkadang ada khilafnya. iya kan Bah?" Tanya Larisa mencari dukungan dari Abah.
"Benar nak" Balas Abah singkat.
Abah dan Umi lalu keluar dari kamar Tiana, setelah tadi membereskan terlebih dahulu seserahan yang Umi keluarkan dari lemari pakaian.
Kini tinggallah Larisa yang masih membahas perihal waktu itu, ia dan Umi yang berbelanja seserahan dan malah ditraktir juga oleh Azam. Dan seserahan yang tak ternilai harganya yang tadi Larisa bawa untuk Tiana.
Terlihat jika Tiana yang terus saja tersenyum mendengar Larisa yang bercerita. Semakin menambah kekaguman Tiana pada sosok suaminya, yang ternyata adalah orang yang kaya raya namun berpenampilan sederhana.
"Tapi Kak..." Larisa menggantungkan ucapannya.
"Tapi kenapa?" Tanya Tiana penasaran.
"Kak Siti gak tau kemana, dia ngilang gitu aja waktu acara ijab kabul akan dimulai kata Kak Aisyah" Tiana kini juga ikut bingung dengan sikap Siti.
"Setauku dia gak ada masalah apa-apa. Tadi juga masih senang dan ketawa bareng kita" Tiana mengingat kejadian sebelum acara ijab kabul dimulai.
"Iya Kak bener, Aku juga lihat sendiri dia masih sempat bercanda sama Kakak dan juga Kak Aisyah" Balas Larisa. membenarkan apa yang Tiana katakan.
"Aisyah mana?" Tanya Tiana kini beralih menanyakan Aisyah.
"Udah pulang tadi Kak, soalnya Mas Sidan khawatir sama kandungan Kak Aisyah makanya mereka pulangnya cepat" Jawab Larisa.
"Syukur lah kalo memang seperti itu" Balas Tiana sekedarnya.
"Apanya yang syukur Kak?"
"Syukur karena Sidan sudah berubah dan memperlakukan Aisyah dengan baik" Jawab Tiana.
"Oh iya. benar Kak. Malahan sekarang Mas Sidan kayak bucin banget sama Kak Aisyah"
"Bagus lah. Aku juga ikut bahagia mendengarnya"
__ADS_1
"Tapi, Siti kemana ya? Tanya Larisa lagi namun dijawab hanya gelengan kepala oleh Tiana.