
Setelah beberapa saat mereka bertiga berpelukan, akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka satu sama lainnya.
"Jangan menangis" Ucap Tiana sambil menghapus air mata di pipi Aisyah.
"Terima kasih Tiana, jika bukan karenamu mungkin aku tak akan disini sekarang" Ucap Aisyah menatap Tiana yang juga ikut menangis karena harus berpisah dengan sahabatnya itu.
"Jangan berterima kasih, aku hanya ingin yang terbaik untuk dirimu dan juga kebahagianmu, kita ini sudah seperti saudara bukan? Jika kau tersakiti maka aku juga akan merasakannya" Ucap Tiana membuat Aisyah terharu dengan jawaban sahabatnya itu.
"Kau benar Tiana, selalu ada hikmah dan pembelajaran dari setiap peristiwa. Aku sadar mungkin Tuhan mengambil bayi yang ada dalam perutku agar suamiku bisa sadar dan menyesali perbuatannya. Dan itu benar terjadi Tiana, Sidan akhirnya menyadari kesalahannya" Ucap Aisyah sambil memegang tangan Tiana sangking bahagianya.
Tiana ikut senang melihat ekspresi wajah sahabatnya. Begitu juga Larisa yang tak henti-hentinya ikut tersenyum mendengar apa yang Aisyah katakan.
"Berterima kasihlah kepadaNya Aisyah. Aku ini hanya menjadi perantara diantara kamu dan suamimu. Tentu saja ini semua sudah pasti ada campur tangan dariNya"
"Aku hanya ingin melihatmu bahagia Aisyah" Ucap Tiana membuat hati Aisyah tersentuh dengan apa yang sahabatnya itu katakan.
Aisyah menghambur kepelukan Tiana dengan air mata yang kini terus mengalir di kedua pipinya.
"Sudah, jangan menangis lagi, kita pasti akan segera bertemu" Ucap Tiana kemudian menghapus air mata Aisyah yang kini telah membasahi kedua pipinya.
"Aku harap aku segera mendapatkan kabar baik mngenai kelanjutan hubunganmu dan Ustad Azam" Ucap Aisyah memegang wajah Tiana dengan kedua tangannya.
"Emm" Tiana hanya berdehem karena tak ingin membahas lagi tentang masalah perjodohannya.
"Bumil, jaga dirimu baik-baik ya. Pastikan kemanakanku lahir dengan selamat, aku doakan semoga persalinanmu nanti lancar" Ucap Aisyah kemudian memeluk Larisa yang juga membalas pelukannya.
"Terima kasih kak, aku tunggu kabar baik dari kakak"
Aisyah melepaskan pelukannya dari Larisa. " kita lihat saja nanti siapa yang akan segera memberi kabar baik. Aku ataukah Tiana" Ucap Aisyah tapi Tiana hanya tersenyum tak ingin lagi memperpanjang pembahasan tentang dirinya.
"Ayo, sudah waktunya kita masuk" Ucap Sidan yang tiba-tiba muncul diikuti Pak Kosim yang berada dibelakangnya.
"Ya sudah ayok" Ucap Aisyah sambil memegang tangan Sidan.
"Tiana, Larisa aku pergi, jangan lupa untuk menghubungiku terus ya" Ucap Aisyah kemudian melangkah pergi meninggalkan para sahabatnya yang menatap kepergiannya sambil melambai-lambaikan tangan kearah Aisyah.
__ADS_1
"Kita doakan saja yang terbaik untuk Aisyah dan suaminya kak" Ucap Larisa yang menoleh kearah Tiana yang terus memandang kepergian Aisyah sampai hilang tak terlihat lagi.
"Iya kau benar" Ucap Tiana membenarkan apa yang Larisa katakan.
"Ayo kak kita pulang" Ucap Larisa sambil berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Tiana dibelakangnya.
Saat ini Tiana dan Larisa sudah berada didalam mobil. Larisa akan mengantar Tiana lebih dulu baru setelah itu dia akan menjemput suaminya, yang tadi sempat menelpon meminta untuk Larisa menjemputnya dikantor karena dia dan Alex akan malam bersama diluar.
Setelah mengantar Tiana pulang, Larisa kemudian melanjutkan perjalanannya untuk segera menjemput suaminya itu dikantor.
Ting. Ting.
Terdengar bunyi pesan masuk kedalam Hp Larisa yang berada di dalam tasnya.
Larisa lalu mengambil Hpnya kemudian melihat jika ada pesan masuk dari suaminya, menyuruh dirinya untuk segera menuju ke cafe yang berada tak jauh dari rumah sakit yang merupakan tempat dimana beberapa hari yang lalu mereka melangsungkan pernikahan.
"Pak, suami saya bilang tidak usah jemput dikantor, langsung datang ke cafe dekat rumah sakit suami saya saja Pak" Ucap Larisa pada Pak Kosim yang sedang fokus menyetir.
"Baik Nyonya"
Sesampainya dicafe yang Alex maksud Larisa kemudian berjalan masuk kedalam cafe untuk mencari keberadaan suaminya.
tersebut, sampai matanya menatap pada dua orang yang sangat dia kenali sedang berbicara tepat dipojok ruangan. Ntah apa yang sedang mereka bicarakan.
Sekujur tubuh Larisa terasa dingin seperti es, sama seperti terakhir kali ia melihat Ardian dan Rara kala itu. Denyut jantungnya berdegub kencang, pikirannya kini mulai menduga-duga apa yang sedang suaminya lakukan bersama wanita yang sangat ia kenali, jika wanita itu juga dulu pernah mengisi hati suaminya.
Nafas Larisa memburu, hatinya menjadi panas melihat suaminya bersama wanita lain. Tak disadari kini air mata mulai meluncur dipipi mulusnya.
Larisa kemudian menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk mengendalikan amarah yang kini memenuhi hati dan pikirannya.
Jika saja dirinya sedang tidak ditempat umum, mungkin Larisa akan segera memberi pelajaran pada wanita yang menyandang status sebagai mantan pacar, karena telah berani-berani mengganggu suaminya.
Larisa terus saja memandang wajah wanita cantik yang sedang duduk disamping suaminya itu, bahkan Larisa bisa melihat jika wanita itu kini sedang memegang pundak suaminya, membuat Larisa semakin terbakar api cemburu.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Baru saja aku berbahagia karena menikah dengan pria yang sangat aku cintai, tapi mengapa sekarang aku malah dihadapkan dengan kenyataan yang menyakitkan seperti ini lagi ya Tuhan. Salahku apa Tuhan?" Gumam Larisa dalam hatinya melihat Alex yang kini tersenyum kearah Tiara yang juga tersenyum padanya.
__ADS_1
Larisa kemudian kembali menghirup nafas dalam-dalam untuk menghilangkan sesak didadanya kemudian menghapus sisa air mata yang ada di pipinya.
Dengan langkah pasti akhirnya Larisa memutuskan menuju kearah dimana Alex dan Tiara sedang duduk berdua.
Alex yang melihat Larisa dari kejauhan bangkit dari tempat duduknya, diikuti juga oleh Tiara yang ikut bangkit menyambut wanita yang telah meluluh lantakan hatinya karena telah berhasil mendapatkan cinta Alex.
Tiara tersenyum kearah Larisa yang berjalan menuju kearahnya. Namun Tiara bisa melihat jika Larisa seperti tidak senang melihat dirinya berada ditempat yang sama dengan Alex. Terlihat dari mata Larisa yang tak berhenti menatap kearah Tiara, membuatnya menjadi tak nyaman karena terus diperhatikan oleh wanita yang kini menjadi istri dari orang yang sangat dia cintai.
Larisa kemudian duduk disamping Alex, begitu juga dengan Alex yang ikut duduk. Tapi Tiara masih berdiri membuat Alex menoleh kearahnya.
"Kenapa masih berdiri, kamu duduk saja dan ikut makan malam bersama kami" Ucap Alex membuat Larisa spontan menoleh kearah Alex dengan tatapan tak percaya.
Karena Larisa mengira jika makan malam ini hanya ada dirinya dan Alex, namun ternyata Larisa salah. "mengapa harus ada dokter Tiara diantara kami?" Gumam Larisa dalam hatinya.
"Sayang tidak papa kan jika dokter Tiara juga ikut makan malam bersama kita?" Tanya Alex pada Larisa dan dibalas dengan senyuman dipaksakan oleh Larisa.
"Tentu saja" Ucap Larisa sekedarnya. Membuat Tiara yang masih berdiri merasa semakin tak nyaman.
"Tidak usah, saya makan malam dirumah saja. Lagipula memang saya sudah akan pulang tadi, tapi kita kebetulan ketemu disini makanya aku menyapa dulu sebelum aku pulang" Ucap Tiara kikuk. Terlihat dirinya yang mulai salah tingkah karena berada diantara Alex dan Larisa.
"Sudah, kau duduk saja lagi" Ucap Alex sambil menarik tangan Tiara agar duduk kembali untuk ikut makan malam bersama dengannya.
Larisa membulatkan kedua matanya melihat suaminya dengan mudahnya memegang tangan wanita lain tepat di depan matanya. Hati Larisa semakin hancur, kini dia mulai berpikir jika didepannya saja suaminya bisa seperti itu pada wanita lain, bagaimana jika meraka sedang tidak bersama? kini pikiran-pikiran negatif tentang suaminya mulai memenuhi kepala Larisa namun sekuat tenaga ia tetap berusaha untuk bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.
Karena Alex yang terus saja memaksanya, akhirnya Tiara memutuskan untuk kembali duduk dan ikut makan malam bersama dengan Alex dan juga Larisa.
Sesekali Tiara bisa melihat tatapan mata Larisa yang terlihat tidak suka dengan keberadaannya diantara mereka berdua.
Namun Tiara berusaha untuk tetap bertahan karena tak ingin jika Alex tersinggung karena telah menolak ajakan makan malam darinya.
Setelah menunggu beberapa lama, pelayan cafe akhirnya datang membawa pesanan makanan yang tadi mereka pesan. Pelayan itu kemudian menyajikan makanan yang tadi mereka pesan dimeja. Larisa merasa sangat berselera untuk menghabiskan makanan yang tadi dia pesan.
"Wah bukankah ini makanan favoritmu?" Tanya Tiara pada Alex sambil menunjuk makanan yang tadi pelayan bawa kemeja mereka.
"Kau masih ingat?" Tanya balik Alex membuat selera makan Larisa kini menghilang.
__ADS_1
Larisa merasa seperti pengganggu diantara 2 orang kekasih. Larisa bahkan semakin jengkel mendengar Tiara dan Alex yang membicarakan tentang makanan favorit mereka, karena selama ini Larisa bahkan tak mengetahui makanan favorit suaminya itu.
"Ya Tuhan, rasanya aku ingin menghilang saja" Gumam Larisa dalam hatinya sambil mengaduk-aduk makanan yang ada didepannya, karena kini ia tak berselera lagi untuk memakan makanannya itu.