
"Tentu saja aku akan sangat marah, dan akan menghajar pria itu karena telah berani menggangu Nyonya Alex" Ucap Alex sambil memperagakan ucapannya.
"Sama sepertimu aku juga akan melakukan hal yang sama" Balas Larisa menatap kearah lampu-lampu kota yang menyala
Alex lalu menyandarkan wajahnya dibahu Larisa."Apakah maksudmu kau marah karena tadi ada Tiara saat kita makan malam?" Tanya Alex sambil mencium bau parfum Larisa yang membuat dirinya nyaman dan terus mengeratkan pelukannya.
"Tidak tau, lepaskan Alex. Kau membuatku sesak saja, nanti kalau ada orang lewat terus melihat kita bagaimana?" Ucap Larisa yang kaget karena bibir Alex mendarat secepat kilat dibibirnya.
Larisa akhirnya mengingat jika ia telah melakukan kesalahan karena memanggil suaminya dengan namanya, sehingga ia mencapatkan ciuman langsung dari Alex.
Alex tersenyum memandang wajah istrinya yang terkejut karena serangan yang tiba-tiba ia lakukan. "Kau tak perlu khawatir aku sudah mengamankan tempat ini jadi tidak akan ada orang yang akan mengganggu kita" Ucap Alex kemudian ingin mencium kembali wanitanya namun gagal karena Larisa yang menahan wajah Alex dengan tangannya.
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau marah karena Tiara?" Tanya Alex kini sambil memegang wajah Larisa dengan kedua tangannya. Membuat Larisa memalingkan wajahnya karena tak ingin bertatapan wajah dengan suaminya itu.
"Aku tadi tak sengaja bertemu dengannya ketika dia akan pulang, jadi aku memutuskan untuk mengajaknya ikut makan malam bersama kita" Ucap Alex sambil menarik wajah Larisa agar mau menatap kearahnya namun tetap saja Larisa masih tetap tak ingin memandang wajah Alex.
"Dulu aku dan Tiara sempat berpacaran namun hubungan kami berakhir karena Tiara yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya diluar negri. Sejak saat itu aku sama sekali tak pernah lagi berhubungan atau berkomunikasi dengannya. Walaupun aku tau jika dia bekerja dirumah sakitku, aku tak pernah sekalipun berniat untuk kembali menjalin hubungan dengannya. Hingga suatu hari aku melihatmu duduk didepan ruang prakter Tiara, membuat aku semakin kaget karena kau masuk kedalam ruangannya. Sehingga aku memutuskan untuk memanggil Tiara kala itu untuk mencari tau apa seenarnya kau lakukan. Dan itulah awalnya aku tau jika kau ternyata sedang hamil" Ucap Alex kemudian memegang perut wanitanya. Membuat Amarah Larisa berangsur-angsur kini mulai redah mendengar apa yang Alex katakan.
"Jadi waktu itu kau melihatku masuk keruangan dokter Tiara?" Tanya Larisa kini mulai melihat kearah Alex.
"Aku bahkan duduk didekatmu waktu itu, tapi sepertinya kau tak menyadari keberadaanku" Jawab Alex membuat Larisa terkejut dengan apa yang Alex katakan.
Akhirnya Larisa tau bagaimana Alex bisa mengetahui tentang kehamilannya saat itu.
"Aku dan Tiara sekarang hanya berteman, jadi jangan khawatir. Walaupun waktu itu dia meminta agar aku mau memperbaiki hubungan kami yang sudah lama berakhir. Tapi dengan tegas aku menolaknya karena sekarang ada kamu dihatiku. Ditambah lagi kau akan memberikan seorang anak untukku membuatku tak ingin melepaskanmu walaupun kau terus saja menolakku" Tambah Alex membuat ekspresi diwajah Larisa kini terlihat senang, tidak seperti waktu mereka bertemu di cafe tadi.
"Tapi aku tidak suka jika kau dengan mudahnya menyentuh tangan wanita lain. Robi saja kau larang untuk menatap wajahku, kenapa kamu malah dengan mudahnya menyentuh wanita lain" Ucap Larisa membuat Alex kini sepenuhnya menyadari jika istrinya itu sedang cemburu pada Tiara. " Bahkan kau menyentuh tangan wanita lain tepat dihadapanku" Sambung Larisa membuat Alex kini mulai merasa bersalah karena tidak menyadari kesalahannya yang sangat fatal.
"Maafkan aku sayang, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi" Ucap Alex kemudian menarik tangan Larisa lalu membawa tubuhnya dalam dekapannya.
"Kemarin berjanji, hari ini juga berjanji, besok apa lagi?" Omel Larisa membuat Alex tertawa karena wanitanya itu masih terus memarahinya.
"Aku serius sayang, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku karena telah menyentuh wanita lain" Ucap Alex kemudian memeluk kembali tubuh Larisa.
__ADS_1
Alex lalu melepaskan pelukannya kemudian mencium bibir Larisa dalam-dalam begitu juga dengan Larisa yang akhirnya membalas ciuman dari suaminya. Membuat suasana malam itu menjadi romantis karena mereka yang berciuman dibawah sinar rembulan.
"Aku mencintaimu sayang, percayalah hanya kau wanita satu-satunya dalam hatiku" Ucap Alex setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Apakah sikapku tadi kurang membuktikan jika aku juga sangat mencintaimu? Apakah perlu aku menampar atau mencakar wajah cantik dokter Tiara sehingga kau percaya jika aku begitu mencintaimu. Bahkan sangat sangat mencintaimu" Ucap Larisa memandang wajah suaminya yang ikut bersinar diterpa cahaya bulan.
"Iya sayang aku percaya, aku senang karena kau cemburu itu tandanya kau benar-benar mencintaiku" Jawab Alex sambil tersenyum memandang wajah cantik Larisa yang kini terlihat sangat bahagia.
"Apakah kita perlu berbulan madu. Setelah kita menikah harusnya kita melakukan hal yang banyak pengantin baru lakukan yaitu berbulan madu. Bukankah itu ide yang bagus sayang, kau setuju?"
"Bagaimana kita bisa berbulan madu jika keadaanku seperti ini" Ucap Larisa sambil menunjuk kearah perutnya yang tak lama lagi akan melahirkan. "Kita tunda saja dulu sampai aku melahirkan" Tambah Larisa agar rencana bulan madu mereka ditunda saja dulu karena kondisi Larisa yang tidak memungkinkan. Ditakutkan hanya akan membahayakan kehamilannya.
"Baiklah sayang aku ikut apa yang kau inginkan. Setelah kau melahirkan nanti secepatnya aku akan membuatmu segera hamil kembali" Ucap Alex membuat Larisa kemudian mencubit perutnya membuat Alex meringis kesakitan.
"Kenapa kau ingin agar aku cepat-cepat hamil lagi? Bukankah sebaiknya jika menunggu sampai anak pertama kita besar dulu baru aku akan hamil lagi"
"Karena aku ingin memiliki anak yang banyak jadi kau harus terus melahirkan untuk memberikan anak yang banyak untukku" Ucap Alex tapi nampaknya Larisa tidak setuju dengan keinginan suaminya itu.
Membuat mata orang-orang yang melihat mereka ketika melewatinya merasa takjub karena melihat pasangan yang sangat serasi yang satunya sangat cantik dan satu lagi sangat tampan.
*
*
*
*
Di perusahaan AAGroup Ardian dan Larisa sedang mengadakan meeting bersama karyawan lainnya, untuk membahas apa yang para manager akan lakukan untuk membuat perusahaan miliknya semakin maju dan berkembang.
Setelah 2 jam meeting berlangsung Ardian kemudian kembali kedalam ruangan kemudian duduk dimeja kerjanya sambil memijat pelan kepalanya yang kini mulai merasa sedikit pusing, karena sejak kemarin Ardian terus saja memikirkan tentang keadaan Ibunya, Larisa yang tiba-tiba saja meninggalkan dirinya, dan semakin membuat pusing kepalanya mengingat ternyata Larisa juga pernah menghianatinya dengan berselingkuh dengan Alex dan lebih parahnya lagi Larisa memutuskan meninggalkan dirinya dan lebih memilih menikah dengan Alex.
Rara masuk kedalam ruangan Ardian kemudian ia duduk di kursi yang berada tepat dihadapan Ardian. Terlihat oleh Rara jika kekasihnya itu seperti sedang memiliki banyak pikiran karena dapat Rara lihat jika raut wajah Ardian terlihat begitu cemas. Ntah apa yang sedang Ardian cemaskan pikir Rara dalam benaknya.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak pikiran, nanti kamu sakit sayang" Ucap Rara melihat kekasihnya itu sedang memijat kepalanya.
Ardian hanya tersenyum ke arah Rara yang masuk keruangannya begitu cantik dengan setelan kemeja berwarna putih lengkap dengan rok selutut yang memperlihatkan bentuk tubuh Rara yang hampir sempurna.
Semenjak Ardian yang menerima Rara kedalam hidupnya, membuat Rara sedikit demi sedikit merubah penampilannya karena kekasihnya yang sangat tidak menyukai dirinya jika terlalu berpakaian seksi. Itu juga yang membuat Ardian merasa senang dan perlahan-lahan akan merubah Rara sama seperti Larisa yang akhirnya mau hijrah dan meninggalkan pakaian yang menurut Ardian sangat kekurangan bahan itu.
"Bagaimana sudah ada informasi dari perusahaan Alex" Tanya Ardian kemudian memandang wajah cantik kekasih barunya yang tak lama lagi akan segera ia nikahi.
"Sampai sekarang belum ada informasi apapun dari perusahaan Tuan Alex sayang. Sepertinya Tuan Alex tidak akan memutuskan kerjasama dengan perusahaan kita" Ucap Rara sambil terus memandang layar ponsel pintar miliknya.
"Kenapa Alex tidak memutuskan kerjasama diantara kita? Padahal Alex terkenal tidak suka terlibat permasalahan antara sesama rekan kerja bisnisnya, bahkan tak segan-segan ia akan memutuskan kerjasama dan akan menghancurkan perusahaan yang mencari masalah dengannya" Ucap Ardian sambil terus memikirkan tentang perusahaan Alex.
Rara kemudian bangkit kemudian duduk diatas meja kerja Ardian, membuatnya selalu merasa tak enak jika Rara selalu saja tak bisa memposisikan dirinya yang sedang berada dilingkungan kantor.
Walaupun kedua orang tua Ardian telah mengetahui hubungan antara dirinya dan Rara, namun tetap saja Ardian selalu merasa tidak nyaman jika Rara terang-terangan terus mendekatinya ketika mereka sedang berada dikantor, sebab Ardian tidak nyaman dilihat oleh karyawan lain. Ardian berpikir hal itu bisa menghilangkan wibawa Ardian dimata para karyawannya.
"Sepertinya Tuan Alex mungkin membuat pengecualian kepadamu sayang. Sudahlah jangan memikirkan tentang Tuan Alex terus. Bukankah bagus jika Tuan Alex tak membatalkan kerjasama antara perusahaan kita" Ucap Rara membuat Ardian juga setuju dengan apa yang Rara katakan.
"Bukankah lebih bagus jika kerjasama antara perusahaan kita tidak dibatalkan, apalagi semenjak kerjasama terjalin membuat perusahaan kita meningkat sangat pesat sayang"
"Kau benar, Baiklah aku akan kerumah sakit sekarang untuk melihat kondisi Ibu" Ucap Ardian segera bangkit dari tempat duduknya, terlihat ekspresi diwajah Rara berubah karena tak senang jika harus bertemu dengan Ibu Ardian yang jelas tak menyukai dirinya.
Ardian berdiri menatap wajah cantik kekasihnya, Ardian mengerti kekhawatiran Rara karena Ibu yang belum bisa menerima dirinya.
"Jangan khawatir, Ibu memang seperti itu orangnya. Dulu juga Ibu sempat tak suka kepada Larisa, namun seiring berjalannya waktu Ibu bisa menerima. Aku yakin sama seperti Larisa lambat laun dia juga akan menerima dirimu sayang" Ucap Ardian sambil memegang tangan Rara dibalas dengan Rara yang bermaksud ingin mencium Ardian namun Ardian segera menolaknya.
"Jangan disini sayang ini kantor apa kata karyawanku jika melihatku berbuat seperti ini denganmu" Ucap Ardian sambil menahan tubuh Rara menggunakan kedua tangannya karena Rara yang akan menciumnya.
"Tapi aku calon istrimu sayang, tak lama lagi aku akan menjadi istri dari pemilik tunggal perusahaan ini. Bukankah seperti itu?" Ucap Rara membuat Ardian menjadi frustasi menghadapi keras kepala kekasihnya itu.
"Sudahlah, kita kerumah sakit sekarang saja. Ibu pasti sudah menunggu kedatangan kita"
"Huhhhhfffff... aku kan malas banget lihat wajah judes Ibumu itu" Gumam Larisa kemudian segera bangkit menyusul Ardian yang lebih dulu meninggalkan dirinya.
__ADS_1