
Setelah beberapa jam Akhirnya Robi selesai juga menyiapkan segala persiapan untuk pernikahan tuannya itu.
Tak lupa Tiana juga mengabari Abah dan Umi mengenai pernikahan Larisa. Awalnya mereka kaget karena merasa jika pernikahan Larisa begitu mendadak, namun Abah dan Umi Akhirnya juga ikut senang dan bahagia karena Larisa akhirnya menemukan orang yang tepat untuk menjadi imamnya.
Rencananya Abah sendiri yang akan menikahkan Larisa dengan Alex, karena itu adalah permintaan Larisa langsung kepada Abah.
Terlihat wajah sedih Larisa yang mengingat almarhum papanya yang telah tiada, namun kesedihannya sedikit berkurang karena ada Abah yang akan menjadi walinya menggantikan sosok papanya.
Berbagai macam totebag Robi bawa kedalam ruangan Aisyah lalu memberikannya kepada Tiana.
"Ini apa?"
Tanya Tiana pada Robi sambil mengangkat totebag yang tak terhitung banyaknya yang berada ditangan Tiana.
"Ini hadiah untuk nona Larisa, tuan Alex menyuruhku agar membawakan gaun pengantin terbaik untuk nona Larisa, saya tak tau harus membeli yang mana sehingga saya membawa semua gaun yang menurut saya bagus kesini, dan nona Larisa sendiri yang akan memilih, mana menurut nona sukai"
Ucap Robi sambil menyeka keringat yang mulai membasahi wajahnya karena kelelahan sebab acara pernikahan Alex dan Larisa yang begitu mendadak. Membuat dirinya harus bekerja ekstra, agar Tuannya hari ini benar-benar bisa menikahi wanita yang dicintainya.
Melihat Robi yang kelelahan membuat Tiana dan Larisa ikut tertawa karena sikapnya.
"Istirahatlah Robi"
Ucap Larisa melihat Robi yang mulai kelelahan.
"Tapi nona, Tuan Alex menyuruhku untuk memastikan jika tak ada yang kekurangan dengan acara pernikahan tuan dan nona hari ini"
Jawab Robi sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau berbicara sambil menunduk seperti itu?"
"Tuan melarang saya untuk memandang wajah nona, Tuan bilang tidak ada yang boleh melihat kecantikan istrinya"
Jawab Robi berusaha mengatakan yang sebenarnya.
"Ishh.. dasar suami posesif"
Gumam Larisa.
Tiana hanya tertawa melihat tingkah asisten pribadi Alex.
"Seharusnya kau bersyukur memiliki suami seperti dia. Bukankah itu tandanya dia sangat mencintaimu, dan sangat menjaga dirimu"
Ucap Tiana berbicara pada Larisa yang kini sibuk merias wajahnya.
"Benar kata nona Tiana, Tuan sangat mencintai nona Larisa. Saat siang hari tuan hanya akan tersenyum ketika bertemu dengan rekan bisnisnya, saat malam hari ia akan menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan karena ia sangat patah hati karena nona terus saja menolaknya, bahkan saat dengan dokter Tiara dulu tuan tak seposesif ini pada pasangannya"
Ucap Robi yang membuat Larisa kaget karena nama dokter Tiara disebut.
"Dokter Tiara spesialis kandungan dirumah sakit ini?"
Tanya Larisa berusaha memastikan.
"Betul nona, tuan Alex dan dokter Tiara dulu pernah berpacaran. Tetapi itu sudah lama sekali nona, tak usah dipikirkan, aku menjamin 100% hati tuan Alex sekarang hanya untuk nona Larisa seorang"
Robi berusaha menjelaskan agar Larisa tak salah paham dengan apa yang telah ia katakan.
"Kau ini sama saja, suka menggombal sama seperti tuanmu itu"
Seketika tawa mereka bertiga pecah karena perkataan Larisa.
"Ini buat kakak"
Ucap Larisa memberikan sebuah totebag pada Tiana.
"Ini apa?"
__ADS_1
"Kakak buka saja sendiri"
Tiana membuka totebag yang diberikan kepadanya, kemudian Tiana mengambil isi dari totebag itu dan terlihat sebuah gamis cantik berwarna biru navy lengkap dengan khimar dan niqab yang berwarna senada.
Melihat isi dari totebag itu membuat Tiana takjub akan keindahannya.
"Ini harganya sangat mahal Larisa, kau tak perlu memberikanku pakaian yang sangat bagus seperti ini"
Tiana berusaha menolak pemberian dari Larisa.
"Tidak papa kak, aku sudah menyiapkan semuanya. Bahkan aku juga menyiapkan untuk Abah, Umi, dan Fatimah"
"Tak perlu repot-repot seperti ini Larisa, melihatmu menikah dengan pria yang kau cintai kami semua sudah sangat bahagia"
"Aku tidak merasa direpotkan sama sekali, aku melakukan ini karena aku juga ingin kalian merasakan kebahagiaanku"
Ucap Larisa sambil memeluk Tiana begitu erat seperti kakak dan adik.
Larisa kemudian melepaskan pelukannya pada Tiana.
"Dan aku berharap kakak juga bisa menemukan seseorang yang bisa menjadi imam kakak nanti, aamiin"
Ucap Larisa memegang kedua tangan Tiana.
"Aamin ya Allah"
Jawab Tiana kemudian tersenyuman pada Larisa sambil berurai air mata.
"Kenapa kakak menangis?"
Tanya Larisa berusaha menghapus air mata yang terlihat jatuh dikelopak mata Tiana.
"Aku menangis karena ikut terharu dengan pernikahanmu ini"
Ucap Tiana sambil tertawa.
"Aku hanya merasa lucu, dulu kita sama-sama pernah ingin menjadi istri dari orang yang sama, namun sekarang tak satupun diantara kita yang menjadi istrinya"
"Benar kak, jodoh itu rahasia Tuhan. Kita yang mencari Allah yang merestui"
Ucap Larisa sambil tertawa.
Tok...tok...tok...
Terdengar ada suara ketukan dari arah luar pintu, dan tak berselang lama muncul Abah, Umi, dan Fatimah.
"Abah, Umi, Fatimah"
Ucap Tiana dan Larisa hampir bersamaan.
Tiana dan Larisa kemudian bangkit lalu menghampiri Abah dan Umi lalu secara bergiliran mencium tangan mereka satu persatu.
"MasyaAllah anak Umi cantik sekali"
Ucap Umi melihat penampilan Larisa yang memakai gamis berwarna putih berkilauan, walaupun terlihat simple namun sangat elegan ditubuh Larisa yang terlihat membuncit. Namun sama sekali tak menghilangkan aura kecantikan diwajahnya.
"Makasi Umi, ini untuk kalian"
Ucap Larisa lalu memberikan totebag pada Abah, Umi, dan Fatimah.
"Aku ingin kalian menggunakan ini, aku ingin kalian menjadi keluarga dari mempelai wanita"
Ucap Larisa kemudian mereka semua saling berpelukan layaknya keluarga yang sebenarnya.
Terlihat keringat dingin mulai membasahi wajah Alex, terlihat jika dirinya begitu sangat gugup karena hari ini akan menikah dengan wanita yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Robi yang berada disampingnya tak henti-hentinya menghapus keringat yang terus keluar diwajah tuannya itu.
"Tuan anda akan menikah bukanlah bersaing untuk memenangkan terder miliaran ataupun pergi berperang"
Robi berbicara sambil menghapus keringat Alex yang kini membasahi wajahnya.
"Diamlah Robi, bahkan rasa gugupku mengalahkan itu semua"
Jawab Alex berusaha menenangkan dirinya yang sejak tadi merasa sangat gugup.
"Tuan ini seperti baru pertama kali saja akan merasakannya"
"Apa katamu"
"Ti...ti...tidak tuan"
Larisa kemudian keluar dengan diiringi Umi dan Tiana yang berada disampingnya.
Mata Alex tak hentinya memandang wajah wanitanya yang hari ini begitu sangat cantik.
"Tuan lihatnya biasa saja"
Ucap Alex berbisik tepat ditelinga Alex yang terpana melihat Larisa tanpa berkedip sama sekali.
"Bisakah kau tak menggangguku Robi"
Alex berbicara sambil menoleh kearah Robi.
"Tuan dulu kau bahkan sangat menginginkanku dan ingin agar aku menjadi istrimu, tapi sekarang setelah nona Larisa bersedia menikah denganmu, tuan malah mencampakkan diriku, tuan bilang hanya aku yang selalu setia menemani tuan dimanapun dan kapanpun"
"Hentikan Robi, aku sedang tak ingin bercanda"
Jawab Alex mulai emosi dengan kelakuan Robi yang terus saja menggodanya.
Larisa kemudian duduk tepat disamping Alex, membuat dirinya semakin grogi lalu mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kasar.
Melihat tingkah Alex Larisa bertanya dengan menaikkan kedua alisnya dan dibalas dengan gelengan kepala oleh Alex.
"Apakah kau sudah siap?"
Tanya Abah pada Alex.
"InsyaAllah siap Abah"
Jawab Alex tanpa ragu sedikitpun.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Alex Giovano Putra binti Surya Ditama Putra dengan Larisa Putri Cahyani binti Hendra Setiawan dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Larisa Putri Cahyani binti Hendra Setiawan dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai"
Ucap Alex dengan sekali tarikan nafas, membuat Larisa yang mendengarnya meneteskan air mata.
"Bagaimana hadiri semua dan para saksi?"
Tanya Abah.
"Sahhhhhhhh"
Dijawab serempak oleh semua yang hadir diruangan itu.
"Alhamdulillah sekarang kalian berdua telah sah menjadi suami istri. Abah berharap kalian bisa menjalankan ibadah ini sesuai dengan tanggung jawab kalian masing-masing nak" Ucap Abah memberikan nasehat pernikahan. "Jadilah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, jadilah istri yang sholeha untuk suamimu nak Larisa, dan jadilah
istri yang sesuai ajaran agama kita nak, serta berpegang teguhlah kalian pada hadist dan Alquran. Semoga keluarga kalian senantiara dirahmati oleh Allah SWT"
"Aamiin, terima kasih Abah"
__ADS_1
Jawab Alex dan Larisa bersamaan kemudian mencium tangan Abah.