PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 59 KONTRAKSI


__ADS_3

"Sayang maafkan aku, aku sedih karena kedua orang tuaku kini tak ingin menganggapku lagi sebagai anaknya" Ucap Ardian mmemandang kearah Rara yang sedang memandang keluar jendela.


"Terus kenapa kalo mereka tidak menganggapmu lagi sebagai anak?" Tanya Rara lalu menoleh kearah Ardian, tatapan keduanya saling bertemu beberapa saat. Rara yang kesal terus saja menatap tajam kearah Ardian.


"Jangan menatapku seperti itu, aku akan mengantarmu pulang sekarang" Ucap Ardian kemudian menyalakan mobilnya.


"Aku tak ingin pulang" Balas Rara kemudian melipat kedua tangannya didepan dada.


"Baiklah terserah kau saja" Ucap Ardian tak ingin lagi memperpanjang perdebatan dengan kekasihnya itu kini mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit tempat Ibunya dirawat.


*


*


*


*


Kabar mengenai perjodohan Tiana dan Azam kini mulai terdengar dilingkungan pesantren. Banyak yang mendukung perjodohan mereka namun ada pula yang tak terima dengan perjodohan keduanya.


Hari itu seperti biasa Tiana bersiap-siap menuju kekelas untuk memberikan materi pelajaran para santri wati yang kini sedang menunggunya.


Tiana telah selesai berpakaian, hanya tinggal memasang cadarnya saja.


Setelah berpamitan pada Umi yang sedang berada didapur, Tiana lalu bergegas keluar rumah untuk segera kekelas.


Dipertengahan jalan Tiana bertemu dengan Azam yang sedang duduk dibawah pohon bersama dua orang santri laki-laki.


Azam hanya melihat Tiana yang berlalu begitu saja dihadapannya. Azam sangat ingin menegurnya namun mengurungkan niatnya itu karena setelah kabar tentang perjodohan antara dirinya dan Tiana diketahui semua orang, Tiana seperti menjaga jarak, sehingga Azam menjadi sungkan untuk menyapa Tiana walaupun sekedar mengucap salam.


Sejak dulu Azam memang sering mencuri-curi pandang kearah Tiana yang sedang mengajar atau sedang mengadakan rapat bersama Abah dan para pengajar yang lain. Namum tak pernah berani untuk menyatakan perasaannya karena Azam merasa tidak percaya diri dengan statusnya selain itu Tiana adalah anak pimpinan pesantren tempat ia mengajar, membuat nyalih Azam menciut untuk mendekati Anak seorang ulama seperti Tiana.


Tiana sendiri yang berjalan dihadapan Azam sebenarnya ingin bertegur sapa dengannya, namun Tiana tak ingin melakukan itu karena Tiana takut jika akan terjadi fitnah apalagi status mereka sekarang sedang taaruf.


"Aku dengar kau akan dijodohkan dengan ustadzah Tiana" Tanya Ustad Rido yang kini sedang duduk didepan kelas.


"Iya benar" Jawab Azam sekedarnya. Membuat Rido hanya tersenyum kearah Azam yang melihatnya.

__ADS_1


"Kamu beruntung bisa mendapatkan wanita seperti ustadzah Tiana" Tanya Rido lagi sambil memegang sebelah bahu Azam.


"Aku belum sepenuhnya mendapatkannya, kami baru tahap pengenalan dulu, untuk menuju kesana masih butuh waktu yang lama"


"Itupun jika aku dan Tiana merasa cocok, jika tidak maka kami tak akan melanjutkan lagi ketahap selanjutnya yaitu pernikahan" Sambung Azam sedangkan Rido hanya mendengarkan apa yang Azam katakan.


"Semoga kalian bisa lanjut ke tahap pernikahan, apalagi aku lihat kau sepertinya menyukai Tiana"


"Semoga saja, tapi aku tidak akan terlalu berharap pada perjodohan ini. Karena aku sadar diri aku dan Tiana bagaikan langit dan bumi" Ucap Azam yang tetap tersenyum saat berbicara dengan Rido. Bisa Rido lihat jika apa yang Azam katakan sangat berbanding terbalik dengan apa yang hatinya inginka. Jauh di dalam hati Azam kita mulai terukir nama Tiana.


"Jangan psimis seperti itu, yakin saja jika kau dan Tiana akan bersatu. Dilihat dari tampangmu Tiana juga pasti akan menyukaimu. Bukankah semua orang juga tau jika kau adalah orang paling tampan di pesantren ini"


"Aku merasa tak setampan itu juga, kau hanya melebih-lebihkannya" Ucap Azam tak setuju dengan apa yang Rido katakan.


"Aku kekelas dulu, sudah waktunya aku mengajar" Ucap Azam kemudian bangkit bangkit dari duduknya.


"Baiklah aku juga akan kekelas sekarang" Balas Rido kemudian mereka berpisah menuju kekelas mereka masing-masing.


Tak sengaja Tiana melewati kelas dimana Azam yang sedang mengajar, membuat Tiana menghentikan langkahnya lalu memandang Azam yang sedang memberikan materi didalam kelas.


Tiana memperhatikan bagaimana Azam yang dengan sabar mengajari para santri yang tidak paham dengan pelajarannya. Sesekali Tiana juga melihat senyuman yang terlihat diwajah Azam ketika sedang bercanda dengan para santrinya. Membuat Tiana ikut tersenyum melihat Azam yang menurutnya memang baik.


Tiana merasa malu karena ketahuan oleh Azam jika dirinya yang diam-diam memperhatikannya.


Azam kemudian menghampiri Tiana yang berdiri didepan kelas. " Assalamu'alaikum" Ucap Azam yang berjalan ke arah Tiana.


"Waalaikumsalam" Jawab Tiana malu-malu. "Maaf aku tak sengaja lewat kemudian melihatmu" Ucap Tiana kikuk.


"Tidak papa, aku malah senang jika diperhatikan olehmu" Balas Azam membuat Tiana semakin malu.


"Kalo begitu aku permisi dulu, tidak enak jika ada yang melihat kita berbicara berdua seperti ini" Ucap Tiana dan dijawab anggukan kepala oleh Azam.


"Permisi, Assalamu'alaikum" Ucap Tiana kemudian melangkah meninggalkan Azam yang masih berdiri didepan kelas.


"Waalaikumsalam" Jawab Azam, namun matanya tak bisa lepas dari Tiana. Bahkan saat Tiana pergi meninggalkan dirinya matanya terus memandang Tiana yang terus berjalan sampai benar-benar hilang dari pandangannya.


*

__ADS_1


*


*


*


Sebulan berlalu begitu cepat, namun tidak dengan Larisa yang merasa jika hari-harinya begitu terasa lambat karena tak sabar menanti kehadirannya calon bayinya.


Sejak tadi Larisa sudah mondar-mandir mempersiapkan segala keperluan yang akan dia bawa untuk persalinannya nanti.


Sejak beberapa hari yang lalu Alex mulai mengurangi aktivitasnya bekerja untuk berjaga-jaga jika saja Larisa tiba-tiba akan segera melahirkan.


"Sayang kau baik-baik saja?" Tanya Alex pada Larisa yang sejak tadi mondar mandir agar mempercepat proses pembukaannya. Karena tadi saat diperiksa Larisa sudah memasuki pembukaan 3.


Larisa menggigit bibir bawahnya untuk menekan rasa sakit yang kini mulai menjalar di pinggangnya. Beberapa kali terlihat Larisa yang menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa cemas yang ia rasakan.


Takut? Tentu saja, semua wanita yang akan menjalani proses persalinan akan merasakan ketakutan karena tak bisa membayangkan rasa sakit yang akan mereka hadapi, bahkan tak jarang Ibu hamil yang akan melahirkan akan sangat frustasi karena proses yang akan mereka lewati mempertaruhkan nyawa mereka.


"Iya, aku baik-baik saja" Ucap Larisa sambil meringis karena sakit yang kini ia rasakan.


Tak berselang lama terlihat air berwarna putih pucat mulai membasahi kedua kaki Larisa, membuat Alex yang melihat hal itu menjadi panik karena takut apa-apa akan terjadi dengan Istri dan bayinya.


"Sayang lihat itu" Ucap Alex melihat kedua kaki Larisa yang kini sudah basah, bahkan Lantai sampai ikut basah karena banyaknya air ketuban yang keluar dari pangkal paha Larisa.


"Kita kerumah sakit sekarang" Ucap Alex lagi, kemudian mulai memapah Larisa untuk segera masuk kedalam mobil.


Setelah menempuh perjalan selama 15 menit akhirnya mereka sampai juga, saat tiba semua dokter menyambut kedatangan Alex karena mereka tau jika Istri dari sang pemilik rumah sakit akan segera melahirkan.


"Berikan pelayanan yang terbaik untuk Istriku, aku ingin melihat Istri dan anakku lahir dalam keadaan selamat. Setelah itu aku akan memberikan bonus kepada kalian" ucap alex memberikan instruksi pada dokter yang akan menangani proses persalinan Istrinya, tak terkecuali dengan Tiara yang kini sedang mendengarkan penyampaian dari Bosnya atau lebih tepatnya mantan kekasihnya.


"Selamatkan Istri dan anakku" Ucap Alex pada Tiara yang kini berdiri tepat didepannya.


"Aku akan melakukan yang terbaik sebisaku" Balas Larisa kemudian melempar senyuman kearah Alex yang juga tersenyum kepadanya.


Kini Larisa sudah berada didalam ruangan persalinan, dokter yang memeriksa melihat jika pembukaan Larisa kini telah lengkap, sudah waktunya Larisa melahirkan.


Alex kini berada disamping Larisa sambil memegang tangannya, terlihat Alex yang juga merasa was-was padahal bukan dirinya yang akan melahirkan.

__ADS_1


Sangking khawatirnya karena ini adalah momen pertama Alex melihat proses persalinan istrinya sendiri, membuatnya kini mulai berkeringat dingin dan semakin kalut karena Larisa yang tiba-tiba saja menggigit tangannya.


Alex merasakan sakit karena gigitan Larisa, namun tetap membiarkan istrinya itu melakukannya karena Alex berpikir sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan sakit yang kini istrinya rasakan untuk melahirkan penerus dikeluarganya.


__ADS_2