
"Umi dan Larisa juga bisa beli tas yang kalian sukai. Anggap saja ini hadiah dariku" Ucap Azam sambil tersenyum pada kedua wanita yang sejak tadi hanya diam menyaksikan dirinya yang memilih tas untuk calon istrinya.
"Sebentar mbak, saya masih mau lihat-lihat lagi. Mungkin saja ada tambahannya. Biar bayarnya sekalian kan" Ucap Azam lagi pada petugas kasir lalu dibalas dengan senyuman dan anggukan kepala oleh petugas itu.
"Ustadz Azam serius?" Tanya Larisa dengan ekspresi yang bahkan sangat terlihat serius. Ia ingin memastikan jika ucapan Azam yang akan membelikan tas untuknya dan juga Umi bukanlah bualan semata.
"Bukannya aku ingin merendahkan Ustad tapi..." Larisa menggantungkan perkataannya. Tak ingin meneruskan apa yang akan ia ucapkan, karena terkesan sangat merendahkan calon suami Kak Tiana. Apalagi Azam yang sekarang hanya memakai celana kain dan baju koko ke Mall, sangat tidak memperlihatkan jika dirinya adalah orang yang memiliki banyak uang.
"Tidak usah nak, Umi juga jarang pake tas. Palingan Umi kalo kemana-mana hanya membawa dompet kecil. Seperti ini" Tolak Umi secara halus, kemudian memperlihatkan dompet yang berada ditangannya pada Alex.
Alex memandang dompet kecil Umi. "Ya sudah Umi beli dompet saja kalo begitu" Balas Azam sambil tersenyum.
Azam menyadari jika kedua wanita itu sepertinya ragu jika memang ia sanggup untuk mentraktir mereka sebuah tas dengan merk ternama.
Niat hati ingin menolak permintaan Azam. Malah sekarang Umi semakin tidak enak jika harus menolak lagi permintaan calon menantunya untuk membelikannya sebuah dompet.
Apalagi Umi sempat mengatakan jika hanya menggunakan dompet seperti yang ada ditangannya saat ini. Sehingga Azam menyarankan untuk dirinya membeli itu saja, dan membuat Umi tidak berkutik lagi, dan mau tidak mau harus menerima permintaan calon menantunya itu dengan terpaksa.
"Baiklah nak. Terima kasih" Ucap Umi kemudian mulai melangkah kederetan dompet-dompet yang terlihat begitu memanjakan mata Umi.
Setelah melihat-lihat dompet mana yang akan ia beli, akhirnya Umi menjatuhkan pilihannya pada sebuah dompet berwarna hitam polos dengan ukiran brand yang menghiasi bagian depan dompet itu.
Terlihat polos, namun terkesan sangat elegan. Berbeda dengan yang ada dibenak Umi, ia berpikir jika dompet itu mungkin harganya murah karena terlihat biasa saja. Hanya ada ukiran brandnya saja yang terlihat dibagian depan.
"Yang ini harganya berapa?" Tanya Umi pada petugas yang sedang melayani dirinya.
"Kalo dompet ini harganya 5 juta Nyonya" Ucap petugas itu membuat Umi lagi-lagi terkejut mendengar kata juta untuk harga sebuah dompet yang terlihat biasa-biasa saja.
__ADS_1
Alex menghampiri Umi. "Umi suka yang ini?" Tanya Azam sambil memegang dompet yang tadi Umi pilih.
Umi tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya melempar senyuman kearah Azam. Tak tau harus mengatakan apa. Menolak pun tak ada gunanya, sebab Azam akan terus memaksanya untuk membeli dompet itu. Jika ia mengatakan iya juga tidak mungkin. Umi sangat malu, apalagi setelah ia mengetahui harga dompet itu.
"Saya beli dompet ini juga mbak. Tolong satukan dengan belanjaan saya tadi" Ucap Azam kemudian memberikan dompet yang Umi pilih kepada pelayan toko.
"Ayo Umi, kita bayar belanjaan kita dulu. Masih banyak yang harus kita beli untuk seserahan anak Umi kan" Azam kemudian berjalan menuju kekasir untuk menyelesaikan transaksinya terlebih dahulu.
Disana sudah menunggu Larisa yang juga sudah memilih tas yang menjadi incarannya sejak kemarin. Namun belum sempat terbeli karena ia yang baru saja melahirkan dan setelah itu ia harus mengadakan acara akikahan Kenan.
"Total belanjaan saya berapa mbak?" Tanya Azam sambil mengeluarkan dompet yang kini mencuri perhatian Larisa. Karena dompet itu tentu saja bukanlah dompet murahan seperti yang dijual dipasaran dengan harga yang murah meriah mencret. Kalo pun Azam bisa membeli dompet yang bagus, tentu saja harga dompet itu tidak sampai jutaan. Bahkan mungkin hanya ratusan ribu.
Sedangkan dompet yang kini berada ditangan Azam bisa Larisa perkirakan jika harganya mencapai tiga sampai lima juta.
"Apakah mungkin Ustad Azam memiliki usaha lain?" Gumam Larisa dalam hatinya.
"Dengan pembelajaan 2 tas dan 1 dompet. Yang masing-masing harganya untuk tas yang pertama seharga 57 juta sedangkan tas yang kedua seharga 75 juta. Dan sebuah dompet dengan harga 5 juta" Ucap petugas kasir lagi sambil memperlihatkan 2 tas mahal yang akan Azam beli.
Larisa tersipu malu karena mengetahui ternyata tas yang akan ia beli jauh lebih mahal dari tas Tiana.
Bibir Larisa menjadi manyun karena dia yang berpikir Azam tak akan jadi memberikan hadiah tas itu kepadanya, karena tas yang ia pilih ternyata harganya jauh lebih mahal dari pada tas yang akan Azam berikan kepada Tiana.
"Baiklah mbak. Silahkan diproses segera ya. Jangan sampai membuat Ibu saya menunggu terlalu lama" Ucap Azam lalu memberikan black card miliknya kepada petugas kasir. Membuat Larisa terkejut melihat kartu yang kini berpindah ketangan petugas kasir untuk memproses transaksi pembelanjaan Azam.
Larisa sangat mengenal kartu yang Azam pegang. Tidak sembarang orang yang bisa memiliki kartu itu. Larisa sangat yakin karena suaminya juga memiliki kartu yang sama seperti yang Azam punya.
Karena hal itu, kini membuat Larisa semakin curiga jika Azam bukanlah orang sembarangan. Buktinya calon suami Tiana itu bahkan mampu membeli barang-barang mahal.
__ADS_1
"Kenapa melamun? Ini tas kamu" Azam memberikan paper bag belanjaan Larisa kepadanya, namun Larisa sedikit merasa malu menerima paper bag itu, karena ia yang seperti tak tau diri karena sudah lancang membeli tas yang lebih mahal dari tas yang akan Azam berikan sebagai seserahan pada Tiana.
Diluar dugaan Larisa, ternyata Azam benar-benar membelikan dirinya tas yang sudah ia pilih tadi, membuatnya merasa senang dengan wajah sumringah setelah menerima paper bag yang Azam berikan kepadanya.
"Terima kasih Ustadz" Ucap Larisa kikuk.
"Sama-sama" Balas Azam. Lalu memberikan paper bag milik Umi dan disambut juga dengan wajah yang tak kalah senangnya dari Larisa.
"Kita cari seserahan yang lain lagi, masih banyak yang harus kita beli kan" Ucap Azam sambil berjalan menuju kepintu keluar, diikuti kedua wanita dengan wajah yang masih terlihat berseri-seri karena telah mendapatkan sebuah hadiah.
Setelah kurang lebih tiga jam mengelilingi Mall untuk membeli berbagai macam seserahan untuk pernikahan Tiana dan juga Azam. Walaupun berkali-kali Larisa dan juga Umi yang selalu takjub dengan barang yang Azam beli untuk calon istrinya.
Tak tanggung-tanggung Azam memberikan satu stel perhiasan bertahtakan berlian yang harganya mencapai lima ratus juta. Membuat Umi sangat bahagia melihat perhiasan yang akan Azam berikan kepada anaknya.
Berbeda hal dengan Larisa yang kini semakin bingung. Sebenarnya apa pekerjaan atau usaha yang Azam miliki? sehingga ia mampu membeli perhiasan mahal yang tak main-main harganya. Membuat Larisa mulai iri dengan Tiana yang mendapatkan seserahan yang begitu banyak dari calon suaminya. Bahkan acara pernikahannya dulu diselenggarakan dengan sangat sederhana.
Setelah lelah dan menyelesaikan membeli semua barang yang diperlukan untuk keperluan seserahan. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk mengisi lambung mereka yang sudah meronta-ronta meminta untuk segera diisi.
Mereka bertiga sekarang sedang berada disebuah restoran yang Larisa pilih. Setelah memesan makanan terlebih dahulu, Azam meminta izin untuk menuju ke mushollah yang berada tidak jauh dari restoran tempat mereka makan, untuk menunaikan sholat yang kini hampir terlewat sangking semangatnya Azam yang ingin membeli seserahan untuk calon pengantinnya.
Kini tinggallah Larisa dan juga Umi dimeja makan. Sekeliling bahkan meja makan mereka penuh dengan barang belanjaan. Membuat orang-orang yang juga sedang berada direstoran itu memandang kearah mereka.
"Kamu kenapa nak? Umi lihat dari tadi makanannya cuma diliatin aja" Umi memegang bahu Larisa yang sedang mengaduk-aduk makanannya.
"Umi, Kak Tiana beruntung banget ya, bisa memiliki suami seperti Ustad Azam?" Tanya Larisa. Membuat Umi mengerutkan dahinya karena pertanyaan dari Larisa.
Namun menit berikutnya Umi mulai merekahkan senyumanya karena menyadari apa yang Larisa katakan benar. Anaknya memang beruntung mendapatkan calon suami seperti Azam. Walaupun pikiran Umi hampir sama dengan Larisa yang kini mulai menebak-nebak apa sebenarnya usaha lain dari calon menantunya itu? Sehingga ia bisa memiliki banyak uang. Padahal Umi tau betul berapa besar gaji seorang pengajar seperti Azam yang bekerja dipesantrennya.
__ADS_1