Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
Bonus


__ADS_3

Di ruang sebuah kamar, terlihat perempuan cantik berdiri di antara dua box bayi. Perempuan itu mendekap satu bayi lucu dalam gendongannya.


“Anak mama sayang ngantuk lagi ya, ” ucap Alana dengan senyuman menatap putra kesayangannya yang berada di dalam dekapannya, kini kelopak mata bayi lucu itu telah tertutup setelah baru saja menyesap asi ibunya. Alana menatap satu box bayi lagi di mana seorang bayi perempuan yang telah terlelap.


Setelah menghujani ciuman di wajah bayi menggemaskan itu Alana kembali meletakkan putranya ke dalam box bayi di samping bayi perempuannya.


Tak hentinya Alana menatap gemas melihat putra dan putri kembarnya. “Ihh cantik banget anak mama!” gemas Alana mencolek pipi putrinya.


Suara pintu kamar terbuka, Zayn baru saja masuk ke dalam kamar. Menarik ke dua sudut bibirnya saat melihat istrinya itu sedang menatap ke dua anak mereka. Ya, mereka bak mendapatkan mainan baru, rasanya sangat menyenangkan melihat dua bayi menggemaskan itu.


Zayn segera mendekat bergabung bersama dengan istrinya. Pemuda tampan itu lalu melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, memeluknya dari belakang.


“Sayang!” sapa Zayn manja mengecup pipi istrinya.


“Sayang, Lihatlah mereka sangat menggemaskan bukan, dengan pakaian ini,” ujar Alana antusias, memperlihatkan maha karyanya pada suaminya itu.


Zayn menghela napas, ia mengerti Alana sangat bahagia di anugerahi anak kembar dan begitu antusias mendandaninya layaknya kembar couple. Bahkan memesan dan mendesain pakaian yang sesuai dengan keinginannya.


Dan Kali ini ke dua bayinya mengenakan pakaian berwarna sama yaitu pink, memang Zayn akui sangat menggemaskan namun, ya ampun istrinya itu tidak mengerti jika bayi mereka itu sepasang, bukan berjenis kelamin sama. Pink untuk anak lelaki ... oh astaga.


“Sayang pakaian mereka.”


“Lucu kan, mereka mengenakan warna pakaian yang sama!” sahut Alana dengan penuh kebanggaan.


“Tapi kan sayang, anak kita kembar laki-laki dan perempuan,” ujar Zayn.


“Memangnya kenapa sayang? Mereka terlihat menggemaskan,” balas Alana.


“Ya masa Nathan pakai baju warna pink, itu kan warna anak perempuan, kan bisa memberi warna lain untuk mereka jika memang ingin coupel, seperti biru,” protes Zayn memberi saran.


“Tapi sayang, Nala terlihat sangat lucu jika mengenakan pakaian berwarna pink, lagi pula model pakaian mereka berbeda Nathan tetap dengan pakaian laki-laki hanya warna saja yang sama,” jelas Alana.


“Karena mereka kembar, Mereka akan selalu mengenakan pakaian yang berwarna sama, biar terlihat kompak,” tambah Alana.


Selalu sama


Mendengar keputusan istrinya yang bak seorang menteri dalam rumah yang tak bisa di bantah, Zayn hanya mengukir cengiran melihat ke arah putranya.


“Kasian kamu nak, ibu akan terus mendandanimu sama seperti adikmu,” batin Zayn. Ya ampun anak lelakinya ini akan menjalani riuhnya menjadi sepasang anak kembar yang selalu tampil kompak.


Zayn masih berada di posisi memeluk Alana dari belakang. Zayn menatap ke dua bayinya bergantian, sampai sekarang rasanya ia masih tak percaya di anugerahi dua malaikat kecil yang sangat lucu.


“Aku sudah ngak sabar melihat dia tumbuh, berjalan, berlari, bisa nunjuk dan merengek minta kinder joy di depan meja kasir,” ucap Zayn sembari mengecup pipi istrinya mesra.


“Hahaha.” Alana terkekeh mendengar ucapan suaminya

__ADS_1


.


“Kenapa harus kinder joy sih.”


“Ya itu kan yang memang sering di rengekan anak kecil, di depan meja kasir. Dan ibu-ibu sangat suka menghindari, bahkan pura-pura tidak melihatnya.” paparnya.


“Awa saja ya, jika saat mereka memintanya kau malah seperti ibu-ibu yang lain, membohongi mereka dan malah menggantinya dengan permen sugus," tekan si tuan jutek yang telah khatam dengan kelakuan warga +62 apalagi istrinya.


“Hahaha.” Kembali Alana terkekeh lucu. Zayn tahu isi kepalanya. Jiwa noraknya kan masih melekat, walau telah berstatus istri orang kaya. Namun ini berbeda ayah dari anaknya kan, seorang presdir, tentu saja dia tidak akan membatasi putra dan putrinya. Apalagi melihatnya merengek.


Zayn terdiam sejenak semakin mengeratkan pelukannya.


“Sayang beberapa bulan lagi, kita sudah bisa membawa Nathan dan Nala ke Jerman. Dan saat itu kita sudah bisa mengoperasi bekas luka di wajahmu,” ucap Zayn akan rencananya.


Alana terdiam, tak ada jawaban darinya, hanya wajahnya yang seketika sendu.


“Kau pasti terganggu dengan wajahku,” ucap Alana lirih. Ia merasa Zayn mendesaknya untuk melakukan operasi wajah. Seperti biasa jiwa rendah diri Alana kembali mencuat.


“Sayang bukan seperti itu.”


Oh astaga. Mendengar itu Zayn dengan cepat melepaskan belitan tangannya, menghadapkan tubuh Alana ke arahnya. Istrinya ini pasti tersinggung dengan ucapannya.


Zayn menangkup wajah Alana, tatapan mereka beradu. Sorot mata yang penuh dengan cinta terlihat dari keduanya.


Manik mata Alana berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya. Ya Tuhan, dia selalu lupa akan ketulusan suaminya. Tanpa kata Alana lalu memeluk tubuh Zayn.


Zayn membalas pelukan Alana mengusap rambut panjangnya dengan kelembutan.


“Andai jika aku boleh memilih, aku lebih menginginkanmu terus seperti ini dari pada kau harus berbaring di ranjang operasi dan merasakan sakitnya perawatan operasi wajah,” jelas Zayn sejujurnya dia mencemaskan keadaan Alana.


Mendengar itu, keharuan menyeruak di dalam diri Alana, betapa ia sangat beruntung memiliki suami seperti Zayn yang selalu mengerti dengan keadaannya. Alana pun mengangkat wajahnya, mendongak menatap ke arah Zayn.


"Papa Nathan!” panggil Alana dengan senyuman.


“Ya,” Zayn tertunduk menatap Alana.


“Terima kasih atas pengertiannya. I love you,” ucap Alana.


Lalu setelah mengecup lembut bibir Zayn. Setelanya kembali tertunduk malu menyembunyikan wajahnya. Ah rasanya masih memalukan walau mereka telah menjadi suami istri.


Senyum puas mengembang dari bibir Zayn. Uhg manis sekali begitu menggemaskan. Ingin rasanya dia langsung menerjang istrinya itu. Namun teringat sesuatu hal.


“Sayang. Kau menggodaku. Aku masih harus puasa panjang,” keluh Zayn seketika tak bersemangat. Bagaimana tidak dia belum bisa menyentuh istrinya itu. Karena pasca persalinan yang di lalui istrinya.


Alana tersenyum lucu mendengar keluhan suaminya.

__ADS_1


“Iya, 80 hari kan,” papar Alana.


Zayn seketika melerai pelukannya tak terima dia. Menggenggam bahu istrinya.


"80 hari dari mana, bukannya hanya 40 hari,” protes Zayn tak terima.


“Kan aku melahirkan dua anak sayang, jadi waktunya di kali dua,” jelas Alana menunjuk ke arah box bayi mereka


Zayn tercengang, seenaknya sekali dia, menahan selama itu kepala atas dan bawahnya bisa terasa cenat-cenut jika begini. Oh ya ampun.


“Tapi aku bisa mendapatkan ciuman semangat kan untuk menjalani hari puasaku,” goda Zayn.


“Ciuman semangat!” Alana gelagapan, melihat wajah Zayn semakin maju mengikis, jarak.


Ciuman dari Zayn tentu saja tidak sama sepertinya, ini pasti bergelora penuh gairah.


Zayn telah menempelkan bibirnya di bibir Alana, akan tetapi baru saja menempel.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu terdengar, membuat Zayn menghentikan aksinya. Menatap ke arah pintu.


Ahh, pengganggu!” jerit Zayn di dalam hati.


Padangan Alana dan Zayn bertemu.


“Kalau seperti ini, rasanya aku ingin pulang ke Jerman saja, ahh mengganggu saja!” keluh Zayn berdecak sebal.


Alana hanya tersenyum lucu melihat raut wajah tuan jutek ini.


Zayn pun berlalu meninggalkan Alana untuk membuka pintu.


Zayn terpaku menatap siapa yang berdiri di depan pintunya. Yang tak lain tiga bocah kecil.


“Mau apa mereka?” batin Zayn.


****


Ya elah Sya belum juga kangen luh udah muncul lagi. Udah tenang nih tidur ngak mikirin lu. Yah tega ...


Hai, Sya lagi gabut nih, ngak punya kerjaan. Emak belum ngasih perintah nyuci gorden buat nyambut lembaran. Jadi mending ngetik mereka.


Tetap semangat puasanya yehh. Puasa emang penuh kehangatan, tapi masa menu sahur di hangatin terus nih. Masakan emak juga udah mulai spam telur mulu. Tetap semangat ...


Ayo siapa itu tiga bocah?

__ADS_1


__ADS_2