Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
gengsi


__ADS_3

Alana dan Arion duduk di kursi sofa panjang yang ada di salon. Mereka baru saja kembali dari sebuah restoran setelah menyantap makan siang bersama.


“Terima kasih Arion. Seharusnya aku yang mentraktirmu! Ini malah tadi kau yang membayar semuanya,” protes Alana tak suka karena merasa tak enak pada idola itu.


Bibir Arion melengkung mendengar ucapan Alana.


“Tidak apa-apa! Tapi ingat hutangmu belum lunas. Lain kali aku akan menagihnya."


“Belum lunas?” Alana tak mengerti.


“Iya hutang traktiranmu, kau harus membayar secepatnya biar tidak berbunga,” canda Arion.


“Hah berbunga, sudah seperti rentenir saja!” balas Alana tak percaya dengan ucapan sang artis.


“Semakin lama kau membayarnya maka bunganya semakin banyak,” jelas Arion menatap wajah Alana lekat.


Apa ... hutangnya akan semakin berkembang. Alana mengerucutkan bibirnya.


"Ya ampun, buaya darat aja udah nyakitin, apalagi di tambah sama lintah darat,” keluh Alana pelan namun masih terdengar oleh Arion.


Tawa renyah terdengar dari Arion. Untuk ke sekian kalinya Alana membuatnya tertawa. Hari ini benar-benar berkesan baginya, beberapa saat saja bersama Alana, rasanya semua bebannya menghilang berganti dengan gelak tawa yang di ciptakan oleh Alana.


“Oh, iya untuk merayakan kesuksesan filmku. Aku akan mengadakan acara bersama rekanku sesama artis, aku mengudangmu untuk datang, kau harus hadir,” kata Arion.


Alana tercengang pesta rekan Arion itu berarti bertabur superstar di acara itu.


“Aku di undang!” ulang Alana menunjuk dirinya seakan tak percaya.


“Tentu saja! Kau dan temanmu itu boleh datang,” ucap Arion.


Senyum Alana semakin mengembang dia dan Gisel di undang di pesta sebesar itu. Aahhh, sorak Alana dalam hati.


“Arion di sana apa aku boleh mengumpulkan foto dan tanda tangan artis?” tanya Alana dengan keceriaan.


“Tentu saja boleh.”


Di otaknya sudah membayangkan ibunya yang akan bangga, jika dia memiliki banyak foto bersama idola Jerman. Anak saya itu, anak saya itu. Ucapan ibunya yang berdiri bangga memamerkannya di grup arisan panci bermain di pikiran Alana. Ahh, jiwa norak artis itu ada dalam diri Alana.


Lamunan Alana buyar saat mendengar suara Gisel.


“Alana aku tidak salah melihatkan?” seru Gisel berdiri di depan pintu kaca menatap ke arah keluar.


“Apa Sel?” tanya Alana menatap bingung kenapa lagi sahabatnya ini.


“Coba lihat apa benar itu dia!" tangan Gisel mengibas memanggil Alana.

__ADS_1


“Tunggu sebentar Arion," kata Alana.”


Alana pun bangkit dari duduknya, melangkah mendekat ke arah Gisel.


“Ada apa Sel?” tanya Alana yang telah berada di samping Gisel.


“Apa itu dia?” tanya Gisel menunjuk seorang pemuda yang berada di luar sana berdiri di samping motor yang terparkir.


Alana menatap arah yang di tunjuk Gisel. Ia pun menegaskan pandangannya. Mengerjap beberapa kali. Sama seperti Gisel dia juga menatap tak percaya.


Astaga ...


Zayn? pemuda jutek itu ada di sini. Untuk apa seorang Zayn Arsenio datang ke salon tempatnya bekerja.


Apa yang telah terjadi? Batin Alana lalu melangkah cepat ke luar untuk menemui tuan jutek itu.


"Aku ingin menjemputmu," Sebuah kata yang sejak tadi di ulang-ulang oleh Zayn.


Zayn yang telah berdiri di parkiran di depan salon tempat Alana bekerja dengan map laporan di tangan. Niatnya ingin menjemput Alana dengan sepeda motor yang telah ia siapkan karena tahu perempuan itu Trauma dengan mobil, lalu pulang ke rumah membicarakan kesalahpahaman yang terjadi selama ini.


Dia ingin menjelaskan semuanya tentang tuduhannya dan segera meminta maaf namun sudah sejak tadi ia sampai di tujuannya, Zayn tak berani menemui Vampir China itu.


Tubuhnya membatu, Langkanya terasa berat, untuk mendatangi Alana mengatakan jika dia datang untuk menjemput Alana, untuk berbicara penting.


Ya gengsinya yang menggunung sangat sulit ia kikis di hadapan Vampir China itu. Seakan harga dirinya akan jatuh jika ia mengatakan jika dia salah selama ini.


Dan langkah awal meminta maaf dan mengakui kesalahan adalah datang mengatakan jika dia ingin menjemputnya.


Jantung Zayn berpacu dua kali lebih cepat saat menatap Alana melangkah mendekat ke arahnya. Gawat Vampir China itu telah tau kedatangannya.


Zayn mengatur napas mencoba tenang. Ya Tuhan ingin rasanya dia menghilang saja dari pada harus meruntuhkan sedikit gengsinya. Mengatakan aku kemari menjemputmu.


“Kak Zayn!” sapa Alana dengan senyum terulas.


Membuat Zayn tersentak kaget. Sial bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi keningnya.


“Ada apa kemari?” tanya Alana.


Pertanyaan Alana ada apa kemari, semakin membuat tenggorokan Zayn terasa kering.


“Ak ... Aku,” ucap Zayn terbata. Ya ampun lidahnya keluh.


Astaga, kadar gengsinya tak bisa turun sedikit pun. Hanya mengatakan akan menjemputmu.


“Ada apa kak Zayn?” tanya Alana menatap heran, tidak seperti biasanya Zayn hanya diam dan tidak menunjukkan wajah juteknya.

__ADS_1


Tak ada jawaban Alana lalu mengarahkan pandangannya pada motor yang ada di samping pemuda itu.


“Wah, kak Zayn kemari naik motor ya, motor baru lagi!” decak kagum Alana menatap motor sport berwarna merah mengkilap itu.


Aku ingin menjemputmu! kata itu seharusnya yang ingin keluar dari Zayn namun tak bisa terucap.


“Ayolah Zayn katakan, ingin menjemputnya,” batin Zayn menyemangati dirinya.


“Emm.” Zayn berdehem.


“Aku datang kemari karena ...”


“Ada apa kak?”


Pandangan Alana kembali terpusat pada Zayn seakan ia juga menanti apa yang akan di katakan Zayn yang telah datang ke tempat ini. Seperti ada sesuatu yang penting.


“Aku kesini mengendarai motor! Untuk ....”


“Untuk ...”


Alana semakin mendekatkan tubuhnya saking penasarannya, apa yang akan di ucapkan oleh pemuda jutek itu.


“Aku naik motor untuk ...”


Ayo Zayn ucap menjemputmu. Alasanmu bertemu kemari mengendarai motor.


Tangan Zayn terkepal, mencoba bicara dan akhirnya.


“Naik motor karena, Aku sudah lama ngak ngerasain ngaca di spion motor, jadi aku ingin mencobanya lagi,” ucap Zayn dengan cepat satu tarikan napas, mengatupkan bibir rapat, membuang pandangannya.


Oh, astaga bukan kata menjemputmu yang keluar. Konyol


“Hah.” Alana tercengang dengan mulut terbuka lebar mendengar ucapan Zayn.


Alana tahu selama menjadi presdir kaya Zayn pasti sudah tidak pernah merasakan naik motor lagi. Tapi harus kah seperti ini.


Datang membawa motor baru ke salon hanya untuk memamerkan kesombongannya, menunjukkan punya motor baru karena hanya ingin merasakan berkaca lagi di spion motor. Apa presdir ini sudah gila?


Sial ...


Zayn berdecak kesal dalam hati. Ahhh, sial mengapa harus kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Dia benar-benar tidak bisa menurunkan sedikit gengsinya di hadapan Vampir China. Bahkan sekarang dia terlihat ingin pamer di depan Vampir China itu.


...****************...


Ya ampun baru ngomong mau menjemput susah banget dah ... udah jutek gengsian pula.

__ADS_1


karena banyak yang coment tutupi aja dulu itu jadinya baru ngomong jemput aja udah kaku.


yakin bang cuma mau ngaca di spion motor, arion loh ada di dalam ... Ayo ngaku cepat, ngak mau bawa Alana pergi. gemes deh nih pasangan.


__ADS_2