Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
bukti


__ADS_3

Sementara Zayn yang terjebak di atas panggung. Seorang perempuan berdiri dari kejauhan, mengamati tingkah Zayn yang sedang menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Seperti biasa ke tiganya akan menggila jika berada di atas panggung.


Alana terkekeh lucu dia sangat senang melihat tiga sahabat itu yang walau waktu telah berlalu bertahun-tahun, Chelsea dan Nara telah memiliki anak namun tak ada yang berbeda mereka tetap solid dan kompak. Alana terkadang iri dengan persahabatan kakaknya. Betapa beruntungnya memiliki teman seperti mereka.


Alana hanya bisa menatap Zayn dari jauh, seperti biasa tak ingin menampakkan diri, walau dia sangat merindukan pemuda jutek itu.


“Kamu ngak makan Na?” suara lembut seorang perempuan yang tiba-tiba menyapa membuat Alana tersentak kaget.


Alana menatap ibunya yang menghampiri. “Nggak lapar bu,” jawab Alana singkat.


“Selama pulang dari Jerman ibu lihat kamu jarang makan Na,” ucap ibu menatap putrinya sedikit cemas.


“Nana, nggak selera makan bu, mungkin lidah Nana terbiasa makan masakan Jerman, kaya Gisel,” balas Alana.


Ya entah mengapa dia tidak memiliki selera makan sesampainya di sini. Setiap makan perutnya terasa bergejolak.


Ibu Salma mengerti dengan alasan Alana hampir dua tahun putrinya berada di Jerman tentu saja punya kebiasaan dalam makanan.


Ibu Salma kemudian beralih pada pemandangan yang sejak tadi di lihat oleh Alana dari kejauhan.


“Kamu lihat mereka dangdutan ya,” ibu Salma sangat tahu Alana senang melihat ketiga sahabat itu menggila.


“Iya bu, mereka lucu,” balas Alana dengan senyuman.


“Kakakmu itu sudah punya anak tiga masih aja suka dangdutan sama mereka. Mereka itu benar-benar ngak pernah berubah dari dulu."


Alana hanya membalasnya dengan senyuman.


“Nak Vino sudah datang, nanti ibu akan temui dia, jarang-jarang ibu ketemu sama dia, ibu hanya ketemu kalau ada acara seperti ini,” ujar ibu Salma.


Alana hanya diam, mengukir cengiran samar. Rasa bersalah terbesit dalam diri Alana telah merahasiakan hal besar pada ibunya yaitu sebuah pernikahan dengan pemuda yang di kenal ibunya sebagai Vino. Dan telah berakhir sebelum mengungkapkan semuanya.


Oh Alana harap rahasia ini tetap terus tersimpan rapat. Toh dia dan Zayn juga tidak akan bertemu lagi sebagai pasangan suami-istri. Sekarang dia hanya akan memiliki hubungan sebagai Nana dan kak Vino.


“Ayo ikut ibu, kamu harus makan,” kata ibu Salma lalu menarik tangan putrinya ke arah ruang makan.


“Ibu Nana ngak lapar,” rengek Alana bak anak kecil.


“Nanti kamu sakit Nana, kalau ngak makan,” ujar ibu Salma khawatir akan keadaan putri bungsunya.


Ibu dan anak ini telah berada di ruang makan. Ibu Salma tidak mengajak Alana untuk berbaur di acara pesta karena tahu putrinya ini pasti minder dengan keadaannya.


Alana duduk di kursi makan dengan wajah memberengut saat ibunya mengambilkannya makanan selayaknya dia anak kecil, yang masih di perhatikan. Padahalkan dia tidak ingin makan.


“Ini makan dulu.” ibu Salma menyodorkan piring yang terisi nasi di hadapan Alana.


“Ibu.” Protes Alana.


“Sudah kamu makan. Ibu mau ke depan dulu, ibu mau ketemu dengan Vino, jarang-jarang ibu ketemu dia,” kata ibu Salma tak sabar.


Bertemu Vino.


Alana terdiam. Dia tahu ibunya sangat menyukai Zayn dan telah menganggap sahabat putrinya itu sudah seperti anaknya sendiri. Dan kini malah menjadi menantunya.


“Cepat kamu makan dan habiskan."


Ibu Salma pun pergi meninggalkan Alana sendiri.


Alana menatap piring makan dengan tak bersemangat, dia sedang tak ingin makan tapi ibunya, pasti akan terus cemas dan khawatir jika dia tidak makan.

__ADS_1


Dari pada harus membuat ibunya mengoceh Alana pun mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


Makanan di piring belum tandas, Alana mendengar suara langkah kaki dari belakang, mendekat padanya. Ibunya pasti telah kembali setelah bertemu dengan Vino.


“Ibu bagaimana? Sudah bicara dengan kak Vino?” tanya Alana.


“Sudah, kini giliranmu bicara padaku!” suara berat dari seorang lelaki membuat Alana tersentak ia sangat mengenali suara itu.


Deg ...


Alana seketika bangun dari duduknya, berbalik menatap sekilas pemuda tinggi, berwajah tampan yang telah berdiri di hadapannya.


Dada Alana bergemuruh, aliran darahnya seakan terhenti saat melihat pemuda yang tidak ingin dia temui telah berada di ruangan yang sama dengannya.


Ya Tuhan mengapa Zayn berada di sini.


“Kak Vino,” lirih Alana tertunduk dalam, masih mencoba menyembunyikan wajahnya. Berharap jika pemuda ini hanya ingin menemui Nana.


“Bukan Vino!Tapi Zayn!” ralat Zayn dengan penuh penekanan membuat pandangan Alana terangkat, melihat Zayn telah menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin menghunusnya.


Zayn.


Akhirnya pemuda itu telah tahu semua yang selama ini dia simpan.


Zayn semakin mendekat ke arah Alana. Alana membeku tanpa kata, kini dia tinggal menerima kemarahan dari pemuda itu, yang pasti merasa tertipu olehnya, karena tak memberi tahu identitasnya selama ini. Yang telah terjebak hubungan dengan perempuan yang ia anggap adiknya sendiri.


"Kau pasti tidak menyangka aku akan tahu semuanya! Dan berada di sini." sinis Zayn.


Alana hanya mematung, irama jantungnya membuatnya tak bisa berkata-kata di hadapan Zayn.


“Aku tidak akan bertanya mengapa kau menyembunyikan semuanya padaku?” ujar Zayn nadanya terdengar dingin.


“Aku tidak akan bertanya mengapa kau tidak memberitahuku Kalau kau adalah Nana adik sahabatku,” tambah Zayn lagi.


Bak seorang tersangka yang sedang di adili, Alana hanya diam tanpa pembelaan, ia tak mampu menjawab mulutnya seakan terkunci. Ya dia akui telah membohongi pemuda itu.


“Aku juga tidak akan bertanya mengapa kau pergi begitu saja tanpa penjelasan dan membiarkan semuanya menjadi rahasia!” hardik Zayn dengan nada meninggi, geram. Oh bagaimana tidak Alana akan melupakan semua yang telah terjadi dan meninggalkannya dengan cintanya begitu saja. Setelah membuatnya menggila dan memiliki perasaan yang begitu dalam.


Setiap ucapan yang keluar dari Zayn, membuat Alana menghitung satu-persatu daftar rahasia yang ia sembunyikan pada Zayn hingga pemuda ini geram padanya, merasa tertipu.


“Aku tidak peduli dengan semua jawaban itu darimu! Karena itu semua tidak penting bagiku!” suara Zayn meledak di telinga.


Tubuh Alana semakin bergetar, tuan jutek ini meluapkan emosinya padanya.


“Aku hanya ingin bertanya Akan satu hal padamu!” Zayn semakin mendekat ke arah Alana hingga tubuh mereka hampir menempel. Tangan Zayn lalu terulur mengangkat wajah Alana.


“Lihat aku dan tatap mataku!” seru Zayn.


Melihat Alana sejak tadi hanya tertunduk mendengar semua kata-katanya.


Alana mengangkat pandangannya. Sejenak keduanya terdiam sesaat pandangan itu beradu dengan cipratan-cipratan rindu terkilas dari keduanya. Zayn melepaskan tangannya mulai memecah kebisuan.


“Apa kau benar-benar tidak datang ke taman itu?” tanya Zayn akan mendengar jawaban Alana secara langsung. Ada sesuatu yang harus ia buktikan.


Deg ....


Alana membeku, bagaimana dia menjelaskan jika dia datang namun Zayn takut melihatnya. Rahasia wajah buruk rupanya akan terungkap.


“Katakan! Apa kau benar-benar tidak datang ke taman itu?” ulang Zayn kali ini terdengar mendesak.

__ADS_1


Oh astaga, dia akan tahu jika dia bicara jujur.


“Aku tidak datang kak Zayn!” ungkap Alana mengalihkan pandangannya agar Zayn tak membaca sorot matanya yang berbohong.


“Benarkah,” seringai mengiasi wajah dingin Zayn saat mendengar ucapan Alana.


“Iya. Aku tidak datang,” tekan Alana dengan keyakinan.


Zayn mendesah kasar.


“Baiklah, jika kau tidak datang. Tapi, aku akan memastikan sesuatu, sebagai bukti,” ujar Zayn. Lalu merogoh saku celananya, meraih sesuatu dan mengeluarkannya.


“Bukti!” Alana terdiam sejenak melihat gelagat Zayn kemudian menjadi gelagapan saat Zayn mengeluarkan sapu tangan. dan akan menyodorkan di wajahnya.


“Diamlah! Jangan bergerak. Aku hanya perlu bukti!” Zayn mengarahkan sapu tangan itu ke wajah Alana. Zayn masih ingat di bagian mana luka wajah itu. Kini dia akan melihat wajah asli di balik riasan tebal itu.


“Kak Zayn jangan!” lirih Alana tubuhnya semakin bergetar, bulir keringat dingin telah jatuh membasahi pelipisnya. Tubuhnya terasa lemas tak bisa bergerak.


Tangan Alana mengepal erat, dadanya naik turun, seakan kesulitan bernapas. Kini Air mata Alana mulai luruh jatuh membasahi pipinya saat Zayn mulai mengusap pipi kirinya.


Tak ada kata darinya, dia pasrah kini semua telah terbongkar. Zayn akan melihat wajah buruk rupanya.


Setelah mengusap pipi kiri Alana. Dan telah melihat sesuatu dari balik riasan tebal yang selama ini tersembunyi. jantung Zayn terasa di hempas dari ketinggian. dia mematung, menatap wajah Alana. Dadanya terasa teremass kuat. Melihat wajah Alana tanpa riasan, luka itu. Oh ternyata. bayangan buruk rupa yang ia lihat di taman.


“Ternyata benar, itu bukan halusinasi, dia datang di hadapanku dan aku yang tidak menyadarinya. Bodoh,” batin Zayn, hantaman rasa bersalah menggelayut di hatinya. Ya Tuhan perempuan ini pasti sangat terluka dengan reaksinya saat itu.


“Tolong jangan menatapku seperti itu. Wajahku sangat mengerikan!” isak Alana masih berdiri dengan air mata terus turun melihat Zayn yang terpaku menatapnya.


Tanpa kata Zayn meraih tubuh Alana membawanya dalam pelukannya. Meluapkan seluruh perasaannya. Alana datang sudah cukup untuknya, dia tidak peduli apa-pun lagi.


“Kau takut melihat wajahku!” lirih Alana.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu,” ucap Zayn dengan suara bergetar menahan tangis.


“Kau menutup matamu saat itu!” lirih Alana semakin terisak dalam dekapan Zayn.


“Maaf, aku membuatmu terluka dan kecewa,” pelukan Zayn semakin erat menghunjami puncak kepala Alana dengan ciuman. Begitu pun Alana air matanya semakin deras.


“Bagaimana pun keadaanmu aku akan selalu mencintaimu selamanya,” ungkap Zayn.


Pasangan ini terus berpelukan, larut dalam dekapan melepaskan semua rasa rindu yang terpendam. Hingga Zayn merasa aneh.


“Nana!” pekik Zayn saat merasakan tak ada pergerakan dari perempuan yang berada di dalam dekapannya.


***


Hai maaf ya, Sya libur puasa pertama. Lagi konsen puasa. Soalnya nih masih suka tergoda buka mejikom. Sya juga memperbanyak ibadah yah biar dapat pahala walau pun ibadah yang Sya banyakin adalah tidur.


kesempatan Sya yang tukang molor mendulang pahala, hahahahaha....


Selamat menunaikan ibadah puasa.


Like


Coment


Vote ..


Kalau typo kagak ngefel, coment lagi hang ini, lemes.

__ADS_1


__ADS_2