
Sinar matahari telah mengintip dari celah jendela. Alana mulai menggeliat membuka kelopak matanya perlahan. Ia sedikit terkejut saat sepasang bola matanya menatap raut wajah tampan menyambut paginya.
Alana meneliti tubuh polosnya yang tertutup selimut di mana tangan kekar melingkar erat di pinggangnya. Seakan mengukung tubuhnya untuk tak beranjak.
Oh Astaga dia berada di dalam pelukan Zayn yang kini telah menjadi suami sebenarnya ...
Suami sebenarnya. Ya, karena semalam mereka telah menikmati malam pertama, selayaknya sepasang suami-istri. Dia telah memberikan mahkotanya untuk suaminya itu.
Wajah Alana seketika memanas mengenang percintaan mereka semalam. Terasa syahdu, karena tuan jutek ini begitu lembut mencumbunya.
Ahhh, rasanya memalukan, bagaimana dia mendesahh, mengerang karena Zayn.
Rasanya Alana tidak mampu untuk berhadapan dengan pemuda itu. Dia harus pergi.
Dengan hati-hati Alana menggerakkan tubuhnya, sedikit meringis saat merasakan tubuhnya terasa remuk, apalagi bagian bawahnya yang terasa perih. Alana mengangkat tangan Zayn yang melingkar di pinggangnya, setelah berhasil bebas Alana pun turun dari ranjang, memunguti pakaian lalu beranjak keluar kamar.
Sementara itu Zayn yang baru saja tersadar dari tidur lelapnya terjengkit dengan cepat duduk di ranjang, saat ia sudah tak mendapati istrinya tidak ada lagi di sampingnya.
“Kemana dia?” gumam Zayn meneliti keadaan kamar tidak ada tanda-tanda perempuan itu di kamarnya. Zayn lalu meraih gagang telepon di nakas.
“Di mana dia?” tanya Zayn pada pelayannya melalui sambungan telepon.
“Nona sudah pergi tuan,” ujar bibi Lucy.
“Pergi!” sentak Zayn menaruh kembali gagang teleponnya.
Zayn mendesah kasar. “Dasar Vampir China, pergi begitu saja! Aku kan belum memberinya ciuman selamat pagi,” decak Zayn gemas akan ulah istrinya itu.
Zayn beralih menarik sudut bibirnya, ketika kepingan kenangan malam pertamanya terniang. Ahhh rasanya ada jutaan kupu-kupu menggelitik hatinya. Indah dan manis sekali.
Mengingat itu, tubuh Zayn kembali menegang, ia menatap tubuh bagian bawahnya. Ah sial, kini telah kembali berdiri kokoh. “Ahhh, dia itu, kan tadi bisa satu kali lagi, seenaknya saja pergi tanpa pamit,” decak Zayn ingin kembali menyatu dengan Alana.
Zayn pun mendesahh kasar beranjak ke kamar mandi untuk mengguyur tubuh panasnya dengan air dingin.
***
Hari telah menjelang sore. Di ruangan kantor presdir, Zayn sedang duduk termenung di depan layar komputernya, menopang dagu dengan senyum terus menghiasi wajahnya.
Sejak tadi bayangan malam pertamanya terus menari-nari di pikirannya. Berawal dengan perdebatannya dengan Alana berakhir dengan malam pertama.
Ken masuk ke dalam ruangan bergidik saat melihat wajah tuan juteknya kini berganti senyuman.
“Tuan,” sapa Ken yang telah berada di hadapan Zayn.
__ADS_1
Lamunan Zayn buyar lalu mengalihkan pandangannya. Kembali memasang wajah jutek, mengganggu saja, decaknya.
Seperti biasa Ken lalu meletakkan laporan di meja. Ken hendak pergi, Zayn seketika teringat sesuatu.
“Ken apa taman yang aku perintahkan padamu sudah mulai pengerjaannya?” tanya Zayn memasang raut wajah tak sabar.
Ken termenung menatap wajah tuannya meneliti apa tuannya ini bercanda, dia baru saja di beri tugas kemarin? Dia sudah bertanya tempat itu. Hei tuan dia bukan jin di dalam dongeng, bisa mengerjakan dengan cepat. jerit Ken.
“Belum tuan.”
“Kenapa lama sekali Ken!”
“Saya masih mencari tempat yang pas tuan,” jawab Ken.
Zayn menarik napas berat. Taman tanda cintanya, yang akan dia ungkapkan pada Alana agar berkesan entah kapan rampung. Zayn takut tidak dapat menahan diri mengungkapkan semua perasaannya. Semalam saja ia hampir kelepasan, menyatakan cintanya terang-terangan pada Alana. Ah itu bukan rencananya, dibayangannya sangat romantis dan indah. Semalam sama sekali tidak keren, walau pun mengantarkannya pada malam pertama.
“Aku ingin kau selesaikan secepatnya Ken, setelah semuanya selesai aku akan mengajaknya bulan madu,” titah Zayn semua telah terencana baik di kepalanya.
“Baik tuan,” balas Ken.
Zayn menatap jam di pergelangan tangannya. Lengkungan senyuman kembali menghiasi wajahnya. Ken lagi-lagi bergidik.
Zayn bangun dari duduknya.
Dia akan menemui Alana, lalu menghabiskan malam indah yang penuh ******* lagi, ahhh rasanya bagai candu yang selalu ingin Zayn ulangi.
Ken tercenung, menatap ke pergian sang boss. Istriku, gumamnya lalu bergidik ngeri.
***
Alana berada di salon termenung, ucapan Zayn semalam terus berputar di kepalannya, perdebatan yang membawanya menikmati malam pertama dengan Zayn.
Zayn mengatakan jika tidak suka dia dekat dengan Arion. Lalu bagaimana dengan pekerjaan yang telah dia terima dari Arion. Bagaimana menjelaskannya pada suaminya itu.
Uh andai saja Zayn seperti Gisel. Lihatlah dia baru saja mengatakan jika Arion memberikannya perkerjaan menjadi asistennya dia telah antusias.
“Apa! Alana, kau akan menjadi asisten untuk memake up di tempat syuting Arion,” seru Gisel berdiri di hadapan Alana sembari memegang bahu Alana.
“Ahhhh! Alana kau sangat beruntung,” heboh Gisel suara memenuhi salon.
“Sel,” protes Alana menatap malas.
“Alana ini kesempatan langkah, kau sangat beruntung.” Uhg Alana yang bekerja bersama Arion Gisel yang begitu antusias.
__ADS_1
“Iya Sel, gajinya besar dan lumayan untuk menambah tabungan biaya operasi wajahku,” balas Alana.
“Iya Lan, jangan buang-buang kesempatan ini. Ya ampun andai itu aku, aku akan bertemu dengan banyak lelaki tampan di lokasi syuting nanti,” iris mata Gisel berbinar. “Siapa tahu bisa cinlok Alana,” tambah Gisel.
Alana memutar bola mata malas. Dasar Gisel tak jauh dari pemuda tampan.
“Sel ini pekerjaan bukan bertemu lelaki tampan.”
“Ya ampun Alana namanya juga usaha. siapa tahu berawal dari cinlok berakhir dengan di colok,” ujar Gisel antusias.
“Sel ...” mata Alana memicing.
Sedangkan Gisel hanya membalasnya dengan cengiran.
Obrolan terhenti saat seorang lelaki tampan dengan setelan jas masuk ke dalam salon.
Aliran darah Alana serasa berkumpul di Wajah, seketika ia merona malu. Bayangan percintaan mereka semalam. Ya ampun, dia belum siap bertemu dengan Zayn saat ini.
Kenapa dia muncul sih, Alana belum siap bertemu.
“Alana, dia menjemputmu lagi," Gisel kembali heboh menatap Zayn yang terlihat memesona.
Semakin meningkat saja kemajuan mereka. Batin Gisel.
Alana hanya terdiam, tolong sembunyikan dia.
“Alana dia selalu datang menjemputmu, ini bagus berawal dari di jemput berakhir ....” suara Gisel tertahan saat mata Alana telah melotot galak padanya.
“Iya ...Iya ...”
Gisel lalu menyeringai. Saat Zayn semakin dekat.
“Alana, Berawal dari di jemput berakhir dengan di emuttt,” seru Gisel kemudian berlari kecil meninggalkan Alana membiarkan pasangan ini.
“Gisel.” Geram Alana.
Gisel memajukan bibirnya menggoda Alana.
Ahhh semakin mati kutu dan salah tingkah saja Alana dibuat sahabatnya itu.
***
kata gisel berawal dari malu-malu berakhir mual-mual.
__ADS_1