Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
kenang-kenagan


__ADS_3

Mata Alana terbelalak, saat Zayn menyambar bibirnya. Mengecup bibir ranum itu merasakan kenyalnya.


Ya tuhan ada apa ini? Batin Alana akal pikiran Alana tak mengerti apa yang terjadi. Zayn si jutek menciumnya.


Dengan lembut Zayn mulai mellumat bibir Alana meluapkan sebuah perasaan yang membuncah dalam dirinya yang seakan selama ini tertahan.


Alana menegang, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, tubuhnya terasa membeku saat Zayn terus menyesap, mengulum meneguk manis bibirnya.


Tangan Alana mengepal erat, menutup mata saat ciuman Zayn semakin dalam, mengulum dan menyesap terasa semakin menuntut. Ya ampun, dia tidak kuasa menghentikannya.


Ciuman ... Oh Astaga, ini pertama kali bagi Alana merasakan sensasi berciuman. Berciuman ... Bukan lebih tepatnya di cium mendadak, apalagi oleh pemuda jutek ini. Membuat otak Alana tak bisa berpikir dengan baik.


Zayn melepaskan tautan bibirnya saat merasakan napasnya telah terasa berat.


Kungkungan Zayn mengendur, menempelkan keningnya di kening Alana. Bahu mereka terlihat naik-turun, napas keduanya terengah-engah, mencoba berlomba meraup udara sebanyak-banyaknya terutama Alana seakan tidak bisa bernapas akan serangan mendadak yang di terima dari Zayn membuat tubuhnya serasa lemah tak bertulang.


Zayn menatap wajah Alana yang merona merah, Vampir China ini pasti syok karena menerima ciuman dadakan darinya. Zayn merutuki dirinya mengapa dia bisa kehilangan kendali atas dirinya, ia tak mengerti mengapa dia tidak dapat menahan diri.


Dengan napas masih tersengal Zayn lalu melepaskan tangannya di tengkuk Alana.


“Anggap saja ciuman itu kenang-kenangan,” alibi Zayn berpaling, menyembunyikan wajahnya yang juga merona, irama jantungnya berdetak kencang.


Kenang-kenangan katanya ...


Ya ampun, Zayn masih dengan gengsi yang tinggi, tidak ingin mengakui jika menginginkan Alana.

__ADS_1


Apa dia bilang? Kenang-kenangan.


Alana menutup mulutnya dengan punggung tangan, kenang-kenangan katanya. Ini kenang-kenangan yang aneh. Kenapa mesti menciumnya. Ini memalukan.


"Kak Vino mengambil ciuman pertamaku," batin Alana masih tak percaya.


Tanpa kata lagi Alana berbalik, melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Perempuan ini masih terkejut, tak menyangka, ciuman pertamanya telah di curi pemuda jutek itu. Yang parahnya lagi sahabat kakaknya. Rasanya sungguh aneh.


Setelah bayangan Alana menghilang di balik pintu, Zayn mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


Zayn kini mengendarai motor sportnya, memacu memecah jalan meninggalkan rumah Alana. Sembari berkendara sepanjang jalan Zayn terus memikirkan kebersamaan bersama Alana.


Mengapa beberapa hari ini ia selalu merasa ada perasaan yang aneh pada dirinya sebuah getaran yang membuatnya tidak bisa menahan diri, seolah tubuhnya bergerak sendiri untuk menyentuh Vampir China, ditambah gadis itu akan menjauh darinya membuat perasannya semakin tak karuan. Ada apa dengannya?


Jutaan bintang bertabur di langit, Malam telah menjelang, Zayn baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah melalui hari panjang dan melelahkan di kantor.


Zayn menyeret langkah berat masuk ke dalam rumah, rasanya tak ada semangat memasuki rumah lagi, ada perasaan kosong menyelimuti hatinya, semenjak mengantar Vampir China pulang ke rumahnya.


Ayunan langkah kaki Zayn seolah bergerak sendiri menapak menuju dapur. Kebiasaan sepulang dari kantor yang entah sejak kapan? Tanpa ia sadari dilakukannya.


Manik mata Zayn menangkap bayangan perempuan paruh bayah sedang menata meja makan. Ia menarik napas berat. Raut kecewa tampak tersirat dari wajahnya. Penampakkan dapur Tak seperti biasanya. Bukan lagi pemandangan Vampir China yang memasak sambil mengulas make up atau Vampir China yang sibuk menjawab panggilan telepon ibunya.


Menyadari kedatagan Zayn. Perempuan itu tertunduk sekilas memberi hormat saat melihat Zayn.


“Tuan makan malam telah sedia?” sapa pelayan yang melihat kedatangan sang tuan bernama bibi Lucy.

__ADS_1


Perempuan ini adalah pelayan yang mengurus rumah Zayn, karena Vampir China sudah tidak ada di rumah ini, jadi bibi Lucy dan beberapa pelayan akan kembali mengurus semua.


Akan tetapi beberapa pelayan hanya mengurus rumah, tidak menetap bersamanya, karena pemuda ini sudah sejak dulu terbiasa hidup sendiri sewaktu beridentitas sebagai Vino jadi ia risih dan tak suka jika tinggal bersama orang asing.


Dalam kasus Alana, Ia pun terpaksa serumah dengan Vampir China niatnya untuk mengawasi gerak-gerik perempuan yang ia kira orang suruhan pamannya.


“Silakan duduk tuan,” ucap bibi Lucy menarik kursi untuk Zayn agar menyantap makan malam.


Zayn mendekat lalu berdiri di depan meja makan, netranya menatap menu masakan yang tersaji. Ayam goreng dan sayur cap cay salah satu menu kesukaannya, namun ia sudah tahu rasanya tak akan sama dengan masakan buatan Vampir China.


Oh astaga Vampir China lagi ... isi kepalanya hanya terisi perempuan cantik bermake up tebal itu.


“Aku tidak lapar!” ucap Zayn tak bersemangat, tak berselera dengan sajian di meja makan. Zayn lalu melangkah pergi, tak lama berbalik menatap bibi Lucy pelayannya.


“Kau boleh pergi!” titah Zayn dengan wajah datar kembali melangkah menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, dia sama sekali tak punya selera makan. Malam ini dia akan tidur dengan melewatkan makan malam.


Malam semakin larut Zayn berada di dalam kamar, berbaring telentang menatap langit-langit kamar. Kelopak matanya enggan tertutup, sedikit pun ia tak merasakan kantuk, hanya ada perasaan gelisah dalam dirinya.


Zayn melipat sebelah tangan menjadikannya sebagai bantal, sembari pikiran mengudara jauh, ada sebuah sosok yang sejak tadi mencuri ruang di kepalanya, terasa mengacaukan perasaannya. Apalagi bayangan ciuman itu terus menari-nari di pikirannya.


“Vampir China, apa yang sedang kau lakukan sekarang?” gumam Zayn bertanya-tanya dalam hati. Jarak membuat Zayn sudah tidak tahu apa yang di lakukan oleh perempuan itu di tempat yang berbeda.


Like


Coment

__ADS_1


__ADS_2