
“Hei lepaskan aku! Aku sedang tidak ingin berjoget,” pekik Zayn putus asa kini tubuhnya telah terhuyung terseret oleh dua perempuan yang sedang menarik lengannya kuat menuju ke panggung. Dia terlihat bak anak kecil yang di seret oleh ibunya untuk ke sekolah.
Ya ampun, Zayn rasanya ingin gila, dia sedang menjalankan rencana bersama dengan Berlin. Dan dua sahabatnya ini malah menyuruhnya untuk bergoyang bersama.
“Ayo Vin kau harus nyawer,” seru Nara semakin menarik tangan Zayn untuk ikut bersamanya.
“Aku tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu,” balas Zayn arah pandangannya menatap ke arah di mana dia melakukan kesepakatan pada bocah kecil itu untuk membawa Alana padanya. Namun apa yang terjadi dua sahabat gilanya ini malah menyeretnya ke panggung.
“Sesuatu apa?” tanya Chelsea.
“Jangan bilang kau tidak punya uang,” tebak Nara.
Tarikan tangan itu pun terhenti mereka menatap Zayn lekat.
Zayn memutar bola mata malas, ya ampun setelah bertahun-tahun dan telah menikah dengan lelaki kaya raya Nara sahabatnya ini masih saja mengharapkan saweran.
“Iya Vin. Kau tidak punya uang,” timpal Chelsea.
Inilagi sama saja.
“Tidak, aku sedang tidak mood,” jawab Zayn, terus menatap jauh di tempat yang telah di sepakati oleh Berlin dengan gelisah, mungkin tak lama lagi Berlin datang bersama Alana, jika bocah itu berhasil membawa Alana.
Zayn begitu gugup, degupan jantungnya bergemuru untuk bertemu dengan Alana lagi setelah berpisah beberapa saat.
"Tidak mood." ulang Nara.
“Tidak bisa! Hari ini kau harus nyawer dan selipin di Bh ku. Aku sudah menjiwai nyanyi bagian jandanya, lihat nih aku udah pake bh warna janda. Ungu,” jelas Chelsea dengan dada membusung.
"Iya Sea kau pake bh ungu, warna janda,” seru Nara menimpali heboh seperti biasa,. “Coba aku lihat,” pintanya. Nara pun maju mendekat ke arah Chelsea.
“Lihatlah,” tunjuk Chelsea menarik kerah bajunya lebar. “Bh warna, ungu lavender, bisa ngusir nyamuk,” ucap Chelsea dengan bangga akan bra yang ia kenakan.
Zayn membulatkan matanya mendengar bra Chelsea. Benar-benar gila sahabatnya ini. Itu bra atau obat nyamuk.
Nara pun mengintip dari celah baju Chelsea.
“Iya benar, ungu lavender mana pake renda-renda lagi. Kaya gorden warteg,” heboh Nara.
“Coba lihat bh Sea, Vin,” tawar Nara menarik leher pakaian Chelsea semakin lebar.
Oh astaga, Zayn hanya memutar mata jengah.
“Hei, Bisa tidak. Tidak membahas bh,” protes Zayn. Ya Tuhan sahabatnya ini memang tidak punya batasan padanya. suka sekali membahas bra.
“Kalau begitu ayo sudahlah,” ucap Chelsea.
“Ayo mulai.” Timpal Nara.
Dua perempuan ini kembali menarik lengan Zayn.
“Hei lain kali saja!” kembali Zayn menolak, namun perempuan ini menariknya dengan sekuat tenaga.
Zayn mendesah napas kasar, dia harus naik panggung padahal tidak lama lagi Berlin membawa Alana.
Nara dan Chelsea telah mengeluarkan kata sambutan di hadapan tamu undangan, sementara Zayn netra tak henti menatap ke arah depan. Oh ya ampun dia terjebak bersama dengan dua sahabatnya. Bagaimana dengan Alana?
“Musik!” ucapnya kompak.
Irama musik di awal lagu andalan mereka perawan atau janda telah menghentak. Dua perempuan ini telah menggila meliuk-liukan tubuhnya terlihat begitu lentur. Sedangkan Zayn hanya menggerakkan tubuhnya kaku, sumpah demi apa-pun dia tidak fokus untuk bergoyang netranya terus menunggu kedatangan Alana.
Uhhg, jika saja dia tidak punya urusan penting, dia pasti juga sudah menggila bersama dengan dua perempuan ini. Bergoyang tanpa malu, meluapkan segalanya.
Tibalah di awal lagu yang di mulai oleh Nara.
“Abang pilih yang mana perawan atau janda, perawan memang menawan janda lebih menggoda.” Nara melantunkan nada di awal ia mengambil bagian perawan bergoyang di hadapan Zayn menggodanya.
Kini tiba bagian Chelsea.
“Abang pilih yang mana perawan atau janda perawan memang cantik, janda lebih menarik,” Chelsea meliuk-liukkan tubuhnya di dekat Zayn. Jadilah Zayn diapit oleh dua perempuan cantik ini.
__ADS_1
“Kalau abang pilih perawan masih muda masih segelan belum di sentuh orang.” Nyanyi Nara.
“Kalau abang pilih janda sudah pasti lebih dewasa sudah bermain cinta banyak pengalamannya.” Chelsea si bagian janda.
“Abang pilih yang mana perawan atau janda perawan memang bohai janda lebih aduhai.” Chelsea dan Nara bersamaan.
Setelah menyanyikan part awal, ada jeda di lagu, untuk masuk ke nada berikutnya.
“Goyang dong Vin, jangan bengong aja,” ucap Nara sembari menunggu lirik selanjutnya.
“Iya Vin,” timpal Chelsea yang melihat lelaki ini tak bersemangat seperti biasa.
Zayn tersenyum kaku ikut bergoyang pelan. Hingga saat matanya yang terus menatap jauh ke depan kini menangkap bayangan seorang anak lelaki menarik tangan seorang perempuan.
Hebat.
Berlin berhasil. Bocah cuek itu berhasil dengan tugasnya.
“Bagus El, bukan hanya boba jumbo. Aku akan membuatkanmu gerai boba,” batin Zayn tersenyum puas.
Zayn mempertegas penglihatannya, menatap wajah Alana.
Deg ...
Debaran jantung Zayn terpompa cepat. Dia melihat Alana, istrinya. Tubuh Zayn berdesir hebat, Benar Alana adalah Nana selama ini. Dia melihat wajah itu lagi setelah sekian lama. Rasa rindu menyeruak menguasai perasaannya, ingin ia segera berlari dan bertemu dengan istrinya itu.
Berlin telah berhasil dengan misi. Terlihat jika bocah itu menarik Alana ke tempat itu dengan alasan untuk mengambilkan makanan. Pintar juga bocah itu mencari alasan membuat Alana ikut bersamanya.
Alana pasti mengira jika dia belum tahu siapa jati diri yang sebenarnya, perempuan itu pasti mengira dia datang sebagai Vino dan tak akan melihatnya.
“Aku harus pergi menemuinya,” batin Zayn sebelum Alana kembali dan bersama dengan ibu Salma, maka semakin susah saja dia bicara dengan Alana.
Zayn baru saja hendak melangkah namun tubuhnya di tahan oleh Nara yang bergoyang.
“Vin sawerannya mana?” tanya Nara yang kini telah menghalangi tubuh Zayn untuk beranjak.
What! Saweran ...
Astaga situasi sedang tegang baginya dia malah di mintai saweran. Oh dia harus menemui Alana, ini adalah kesempatannya berbicara empat mata dengan istrinya itu. Mengertilah kalian, jerit Zayn di dalam hati.
“Ayo Vin sawerannya mana?” tanya Nara sembari menyodorkan telapak tangannya.
“Ya ampun Ra. Nih otak pikirannya nyawer mulu dah,”
Nara hanya membalasnya dengan senyum lebar penuh harap.
Zayn memutar bola mata malas, gemas sekali dia Alana bisa pergi kalau begini. Apalagi perempuan itu hanya terlihat mengambilkan makanan untuk Berlin.
Tak mau berlama-lama Zayn lalu meraih saku jasnya. Mengeluarkan buku panjang, Zayn lalu merobek selembar lalu memberikan kertas itu pada Nara.
“Ini ambilah, tulis sendiri berapa pun jumlahnya,” ucap Zayn menyodorkannya pada Nara tanpa menatap perempuan itu. Dia hanya fokus pada Berlin dan Alana yang masih berada di sana, dia harus ke sana secepatnya.
Wahhh.
Mata Nara seketika hijau berbinar senang.
“Wah Vin. Bukan dollar lagi, Gila Sea sawerannya cek, tulis sendiri lagi” seru Nara heboh. Uhgg, jiwa noraknya selalu bangkit jika mendapatkan saweran dari Vino.
“Nih bocah benar-benar jadi sultan arab nih kayanya,” timpal Chelsea tak menyangka sahabat ini selalu tak tanggung-tanggung dalam memberi saweran.
“Ayo gas Ra,” teriak Chelsea bersemangat mengangkat sebelah tangannya.
“Oke.” Balas Nara dengan semangat bergoyang. Bagaimana tidak dia mendapatkan cek.
Tak menghiraukan ocehan ke duanya. Zayn hendak pergi melangkah setelah memberi saweran, namun terhenti saat melihat Nara yang ada di hadapannya telah akan menekuk tubuhnya ke belakang. Membuat Zayn tersentak melihat aksi sahabatnya ini, ia tercengang.
“Hei kau mau apa?” tanya Zayn gelagapan melihat tingkah Nara.
“Vin saweranmu cek, goyanganku harus hot ini. Aku mau goyang sambil kayang,” ucap Nara.
__ADS_1
Jeduar
Apa dia bilang? dia mau goyang kayang. Sumpah demi apa-pun Ini gila.
Zayn menepuk jidatnya.
“Hei! Kau tidak harus kayang juga,” tahan Zayn gemas sekali dia. menarik tangan Nara yang sudah hampir menekuk tubuhnya.
“Sayang Vin saweranmu cek. goyangannya harus sesuai nih,” Uhg sudah benar-benar seperti biduan dangdut.
“Tapi Tidak perlu kayang juga!” bergidik ngeri Zayn akan ide gila Nara.
“Lalu. Bagaimana kau mau aku, memutar kepalaku, kaya trio macan,”
Zayn berdecak. Ya Tuhan tolong dia, jerit Zayn, kenapa sahabatnya ini semakin gila.
“Jangan!” tahan Zayn.
“Seperti biasa saja, ngebor sampai bawah aja,” ucap Zayn dengan cengiran ngeri. Membayangkan Nara akan kayang, atau memutar kepala di hadapannya.
“Baiklah.” Nara pun meliuk-liukan tubuhnya sesuai iringan musik.
Chelsea pun mengalun goyangan Nara.
“Goyang sampai bawah.”
“Sampai bawah.”
“Sampai bawahhhh.”
Zayn mendesah kasar, selesai dengan saweran Nara kini dia hendak pergi, namun lagi dia tertahan kali ini Chelsea.
Ck ... ck mengganggu saja. Uhh, gemas sekali Zayn mengapa mereka tidak berhenti jadi penghalangnya. Rasanya ia ingin menangis sungguh frustrasi. Alana cintanya akan kembali ke belakang waktunya hanya sedikit.
“Aku juga dong Vin sawerannya di selipin di bhku,” dada Chelsea telah membusung di hadapan Zayn sembari bergoyang genit.
Oh astaga, setelah bertahun-tahun ambisi perempuan ini masih sama seperti dulu di sawer layaknya biduan dangdut.
“Ayo dong Vin, sawerannya. Aku pake bh susu tumpah nih. Lihat dadaku udah luber kemana-mana nih,” ucap Chelsea bertingkah genit menggoda Zayn.
“Yaelah Sea, Kau pikir itu keran bocor!” seru Zayn tangannya lalu menoyor perempuan centil ini.
Ya Tuhan tolonglah dia, bisakah mengurangi sedikit saja kegilaan sahabatnya ini. Batin Zayn menjerit karena dua perempuan ini. Tapi itulah kebahagiaan dan berkahnya yang di miliki sebagai Alvino Dirga persahabatan tanpa batas yang melebihi saudara.
Lirik mulai masuk kembali pada nada. Nara mulai kembali bernyanyi.
“Abang pilih yang mana perawan atau janda perawan memang menawan janda lebih menggoda,” nyanyi Nara.
Zayn mengarahkan pandangannya kembali ke tempat Berlin dan Alana tadi. Mata Zayn menegaskan sorotannya. Pemuda ini menjadi gelagapan saat bayangan Alana dan Berlin sudah tidak ada. Netranya meneliti luas menyusuri tempat kini sudah tidak ada lagi mereka.
Pergi ....
Alana dan Berlin sudah tidak ada di sana.
Ya, Alana telah pergi.
Aahhh, Teriak Zayn di dalam hati. Mengusap wajahnya kasar, semua upayanya untuk bertemu Alana gagal, gara-gara melayani sahabatnya yang menggila.
Kini bagaimana lagi caranya dia bertemu dengan Alana. Menggunakan Berlin? Itu tidak akan mungkin lagi bocah itu pasti sudah tidak mau. Uhg, Chelsea, Nara.
“Kalian berdua menyebalkan.” Rasanya ia ingin mengetuk kepala dua sahabatnya itu. semuanya ambyar ...
***
ya elah Vino ribet banget dah, gagal ketemu Alana.
Asik dangdutan ... saweran kalian mana?
jangan mau kalah sama Vino. tuh Nara aja sampai mau kayang.
__ADS_1
Apa Sya juga harus goyang guling-guling karena saweran kalian nanti.
jangan dah, yang ada encok nih Sya. entar duit buat beli sarapan nasi kuning ke pake buat beli koyo lagi.