Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
rahasia mereka


__ADS_3

Di sebuah kamar. Zayn tak hentinya menarik ke dua sudut bibirnya, menatap ke arah seorang perempuan yang sedang tak sadarkan diri di ranjang king size. Perasaannya meledak-ledak bak ada kembang api di dalam hatinya. Rasa cinta itu semakin berlipat-lipat, setelah mendengar ucapan dokter yang baru saja memeriksa keadaan Alana, memberikannya kabar yang begitu membahagiakan. Ahhhh rasanya dia ingin berteriak saking bahagianya.


“Dia hamil, aku akan menjadi ayah,” gumam Zayn tak hentinya tersenyum, membayangkan buah cintanya telah berada di perut istrinya. Malam panas mereka telah menumbuhkan benih cinta.


Sementara itu di samping pemuda ini, seorang perempuan masih membeku seakan tak percaya dengan kabar yang ia dengar.


“Apa Vin! Jadi kalian sudah menikah di Jerman!” pekik Nara bak di sambar petir mendengar pengakuan lelaki yang duduk di sebelahnya. Oh astaga adik dan sahabatnya telah menikah diam-diam di Jerman.


Ya setelah Alana pingsan, Zayn menghubungi Nara, hanya Nara ia tidak ingin membuat kehebohan yang masih dalam suasana pesta.


Sahabatnya ini pun datang dan menyuruh Zayn membawa Alana ke kamar. Lalu memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Alana. Dan di sinilah mereka berdua. Sepasang sahabat yang telah menjadi ipar.


Zayn yang bahagia dan Nara yang masih tak percaya. Dua mimik yang begitu berbeda.


Zayn merotasi mata malas. Ya ampun bisakah dia meluapkan kebahagiaannya sejenak melihat istrinya. Dari pada menjawab cecaran pertanyaan dari sahabatnya ini yang merupakan kakak dari istrinya tercinta.


“Aku dan Nana sudah menikah beberapa bulan yang lalu, saat itu dia mencoba menolongku dari tipu daya seorang perempuan yang akan menjebakku menikah dengannya, tapi saat itu Nana menolongku hingga aku terjebak menikah dengannya!” jelas Zayn ia pun mulai menceritakan semuanya tentang hubungan mereka di Jerman.


Menikah karena di jebak?


Nara terdiam ia hanya mendengarkan semua cerita sahabatnya dengan detail.


Dan setelah beberapa saat Zayn telah menjelaskan semuanya. Nara mendesah kasar, dia bukannya tidak suka sahabatnya ini menikah dengan adiknya, dia bahkan sangat bahagia adiknya mendapatkan suami yang tepat. Tapi bagaimana dengan ibunya. Oh astaga ibunya pasti sangat syok mendengar putri bungsunya telah menikah diam-diam.


“Vin jadi selama ini kau tidak tahu jika kau menikah dengan Nana?” ulang Nara lagi.


“Iya. Aku menikah karena di jebak," jelas Zayn.


"Jadi selama di Jerman adikku bersamamu!"


Tatapan Nara menyelidik ada satu sifat yang sangat di tahu Nara tentang sahabatnya ini.


"Vin aku tahu kau akan jutek kepada orang yang tidak kau kenal, kau pasti bersikap tidak baik dengan adikkukan saat di Jerman,” tuding Nara.


O, o. Zayn tersenyum miring, habislah dia. Nara sangat tahu sifatnya yang jutek, sulit bergaul dan dingin pada orang baru karena itulah hingga detik ini dia hanya punya dua sahabat Nara dan Chelsea.


“Hanya sedikit Ra, lagi pula aku mana tahu jika dia adikmu,” balas Zayn dengan senyum kaku mengingat bagaimana perlakuannya pada Alana dulu, memerintahnya bahkan memanggilnya dengan sebutan Vampir China.


Uhg, jika Nara dan ibunya tahu habislah dia.


Kedua anak manusia ini terdiam tak ada kata lagi, hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga Zayn mulai teringat sesuatu.


“Ra, mengapa kau tidak mengoperasi wajah Nana? bukannya aku telah memberimu kartu tanpa limied padamu? Yang bisa kau pakai untuk pengobatan hingga Nana pulih seutuhnya, bahkan operasi wajah?” tanya Zayn itulah yang mengganjal pikirannya tentang Alana.

__ADS_1


Wajah Nara seketika sendu meredup mendengar pertanyaan Zayn.


“Aku memang tidak memakai kartu untuk perawatan wajah Alana. Setelah kesehatannya pulih, aku pun memutuskan tidak memakai kartu itu, dan mengumpulkan sendiri biaya untuk operasi Nana,” jelas Nara.


“Kenapa Ra?” tanya Zayn penasaran.


“Karena aku tidak tahu Vin, bagaimana hidup barumu di sana, apa benar kau menukarnya dengan hidupmu. Aku takut kau akan bekerja keras untuk menutupi tagihan kartu itu. Aku tidak ingin menyusahkanmu, Nana sadar dan masih hidup itu sudah cukup untukku,” jelas Nara mulai terisak membayangkan bagaimana pengorbanan sahabatnya ini.


Ya dulu dia bisa saja memakai kartu yang di berikan Zayn padanya tapi dia tidak ingin di balik itu semua, akan ada derita yang di tanggung oleh Zayn sebagai timbal balik dari kartu itu.


“Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucap Zayn mengusap punggung Nara agar tenang.


“Kau pergi, aku selalu merasa bersalah. Aku selalu memikirkan kehidupanmu yang jauh di sana, apa kau baik-baik saja setelah pergi dari kami. Apa kau hidup dengan layak dan berkecukupan. Aku takut Vin, kau menderita di sana. Dan aku pun selalu berdoa di mana pun tempat kau berada entah di bagian bumi mana, aku berdoa agar tidak ada lagi tetangga yang mengasapi jemuranmu lagi, semoga juga kau tidak mendapatkan tetangga yang menyebalkan yang suka dangdutan menyetel musik tak kenal waktu, yang suara berisik banget sampai bikin kusen getar. Dan aku juga berharap kau di jauhkan dari jenis tetangga yang potong keramik di hari libur,” ucap Nara polos yang menanggap Zayn akan tinggal di rumah sewa. Seperti tempat tinggal Vino dulu di mana pemuda ini selalu komplain mengenai tetangga.


Zayn tersenyum mendengar ucapan Nara. Tuh Kan, sahabat ini sangat perhatian padanya.


“Hidupku baik-baik saja Ra, aku menjadi penerus kerajaan bisnis keluargaku di Jerman, jadi aku ngak punya tetangga yang kalau kita beli motor di juga ikut beli,” papar Zayn dengan kekehan.


“Benar kah Vin? Selama ini kau hidup enak di Jerman?” tanya Nara memastikan lagi padahal dia sudah mendengar semua cerita dari Zayn.


“Iya.” Balasnya dengan anggukan.”


“Syukurlah. Ternyata kau menjalani kehidupan yang sangat baik,” ucap Nara menarik napas lega. Kecemasannya bertahun-tahun hilang seketika, setelah tahu hidup Zayn.


"Nggak nyangkah yah Vin, benar kata orang dunia itu berputar. Kita yang dulu miskin dan tidak punya apa-apa sekarang telah berubah, memiliki segalanya, kita telah berada di puncak! Semua bisa kita milik,” ujar Nara hingga sekarang tak menyangkah takdir hidupnya menikah dengan seorang presdir kaya, merubah kehidupannya.


Zayn ikut tersenyum, jika mengingat kisah dulu, mereka hanyalah dua anak manusia yang selalu bekerja keras tanpa henti dan sekarang mereka telah hidup dengan kenyamanan.


“Kau tahu Vin, sekarang jika aku belanja, aku udah ngak pernah memantau monitor kasir, langsung bayar berapa pun,” ucap Nara dengan norak menyombongkan diri.


Zayn tersenyum memperlihatkan gigi ratanya mendengar ucapan Nara. Ya ampun sombong sekali dia. jadi orang kaya.


“Aku juga Ra, Kalau belanja, melewati lemari pendingin. Aku juga sudah ngak pernah bengong lama lagi di depan lemari pendingin minuman untuk mencari harga yang termurah,” balas Zayn dengan sombong. Oh ya ampun noraknya mereka menjadi orang kaya.


“Aku juga sudah ngak pernah di teriakin ibu kalau makan ayam goreng, seperti ini. pake nasi Ra, biar kenyang!” tambah Nara memperaktekan gaya ibunya dulu.


Zayn terkekeh, oh astaga betapa sulitnya hidup mereka dulu.


“Aku juga udah ngak pernah minum kopi sachet di tambahin gula biar jadi banyak trus mana di aduk pake bungkusnya lagi,” tambah Zayn mengenang kemiskinannya.


“Hahahahha.” Nara tertawa mendengar ucapan Zayn.


“Dan aku juga Sekarang Vin, kalau makan ice cream kotaknya langsung di buang, ngak di pakai jadi wadah naruh cabe, bawang atau di jadiin kotak makan. Botol Air dingin di kulkas juga udah bukan dari bekas botol minuman soda,” papar Nara. Ya ampun bangga sekali dia.

__ADS_1


“Aku juga udah ngak pernah pakai rantang bekas, buat jadi gayung mandi,” tambah Zayn.


“Hahahhaha.” Kompak tawa Nara dan Zayn pecah mengingat akan hidup kekurangan mereka dulu.


Suara tawa membuat terlihat sebuah pergerakan di ranjang. Alana mulai sadar. Zayn lalu mendekat ke arah ranjang. Nara pun keluar dari ruangan memberi waktu untuk Alana dan Zayn untuk bercerita sambil menyiapkan kata untuk menjelaskan pada ibunya.


Alana mengerjapkan mata beberapa kali, belum mencerna apa yang terjadi dengan dirinya.


“Sayang!” ucap Zayn duduk di pinggir kasur memegang tangan Alana, menatap dengan tatapan lembut.


Melihat Zayn berada dihadapannya kini Alana mulai mengingat apa yang ia lewati bersama dengan pemuda itu. Dia menangis dalam pelukan Zayn saat wajah buruk rupanya telah terungkap.


Cairan bening kembali turun membasahi pipi Alana.


“Jangan menangis lagi,” ucap Zayn mengusap air mata di pipi Alana.


“Mulai saat ini kita akan menjalani semua bersama, dan Terima kasih atas kebahagiaan yang kau berikan. Tidak lama lagi, Kita akan punya keluarga kecil,” ucap Zayn mengecup tangan Alana dengan lembut.


Keluarga kecil


Kerutan tipis menghiasi wajah Alana tak mengerti.


“Kak Zayn,” lirih Alana.


“Kau sedang mengandung sayang. Tidak lama lagi aku akan menjadi seorang ayah,” jelas Zayn dengan senyuman Betapa dia sangat bahagia saat ini.


Zayn akan menjadi ayah pikiran Alana mengudara itu berarti.


“Kak Zayn aku hamil?” tanya Alana.


“Iya sayang, tidak lama lagi kau akan menjadi seorang ibu. Dia ada di sini sekarang.” Zayn mengusap perut Alana dengan senyum terkembang.


Alana tercengang mendengar ucapan suaminya.


“Nana!” teriak seorang paruh bayah yang baru saja masuk ke dalam kamar, wajahnya terlihat menyiratkan gurat kemarahan. Membuat pasangan ini tersentak kaget.


***


Sya kok Cuma satu.


Sahur ... sahur ... sahur ... noh sayur hangatin dulu, entar lewat lagi. atau jangan bilang Sayur kalian indomie. idih apaan tuh, sama dong kaya Sya indomie di jadikan sayur. hahahaha


Vino sama Nara kalau ketemu benar-benar deh, nggak kaya nggak miskin sama aja noraknya.

__ADS_1


__ADS_2