
Hari berlalu terasa lambat, detik-detik yang di lalui terasa menyesakkan dada bagi seorang yang merasakan patah hati. Sangat sulit menahan rasa rindu yang membumbung tinggi.
Perasaan hampa dan kosong, itulah yang saat ini dirasakan oleh Zayn. Tak ada semangat melalui hari, setelah perpisahannya bersama dengan Alana. Sudah beberapa hari ini perempuan itu tak menyapa harinya.
Sumpah demi apa-pun Zayn sangat merindukannya, rasanya ia ingin gila. Ingatannya tentang bayangan Alana sungguh kuat tak bisa ia sapu sedetik pun.
Ia merindukan candanya, tawanya, suaranya. Hari-hari yang mereka lalui bersama.
“Kak Zayn aku harus pakai bedak nanti minyak di wajahku seperti kotak martabak.”
Kenang Zayn mengingat perempuan itu sangat suka sekali berdandan dan tak bisa berpisah dari make up. Hingga ia memanggilnya Vampir China.
“Ingat, ini kotak makanku jangan sampai hilang,”
Kenang Zayn saat mereka bertengkar pertama kalinya hanya karena kotak makan.
“Aku sudah masak sup daging untuk kakak.”
Alana selalu memanjakan lidahnya.
Dan sekarang mereka terpisah.
Ahhh, Sial. Kenangan Alana begitu kuat. Seakan hidupnya terbawa separuh bersama Alana. Padahal perempuan itu telah menggores luka di hatinya, dia menolak untuk hidup bersama.
Ken masuk ke dalam ruangan, menarik napas berat saat melihat lagi tuannya hanya termenung. Padahal Zayn seharusnya senang karena telah mendapatkan posisinya kembali. Tapi yang terjadi tuanya selalu saja murung. Ken lebih suka melihat tuannya yang jutek dari pada diam tak bersemangat seperti ini.
“Tuan,” sapa Ken.
“Ada apa?” Zayn mengarahkan tatapannya pada Ken.
__ADS_1
“Dua hari lagi acara kelahiran pewaris ketiga Maxkal, apa saya harus menyiapkan penerbangan Anda?" tanya Ken seperti biasa Zayn akan ke Indonesia jika salah satu sahabatnya mengadakan acara kelahiran. Baik Chelsea maupun Nara.
Zayn menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, tatapannya kosong.
Haruskah dia pergi? Ke acara kelahiran anak sahabatnya, saat suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
“Tidak perlu, aku sedang tidak ingin ke mana-mana!” ucapnya lemah, tatapannya selalu terlihat sendu meredup.
Pemuda ini mengambil keputusan.
Zayn kemudian berdiri, melangkah meninggalkan kursi kerjanya.
“Kau urus semua Ken, aku ingin pulang,” titah Zayn berlalu meninggalkan Ken.
Ken hanya menggeleng pelan melihat sikap tuannya yang telah keluar dari ruangan. Ke mana tuan jutek bermulut pedas yang dulu? ia rindu itu.
***
Oh ya ampun, dia sangat merindukan vampir Chinanya itu, Zayn tidak pernah menyangka ia akan serapuh ini karena penolakan Alana. Beberapa bulan ini Zayn begitu tergantung pada Alana hingga saat hatinya terhempas luka itu pun terlalu dalam.
Zayn telah selesai dengan makan malamnya, pemuda ini membawa piring kotornya ke wastafel cuci piring untuk mencucinya, karena dia telah menyuruh bibi Lucy untuk pulang. Zayn sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan sendiri, lagi pula hanya satu piring dan satu gelas.
Pemuda ini mengulas cairan cuci piring dengan spoon, berganti dengan gelas tak lama membilasnya.
Zayn terdiam sejenak saat ia hendak menyusun piring bersihnya ke dalam rak piring, pemuda itu melihat tempat rak piring ada sebuah wadah plastik berwarna hijau.
Wadah itu ...
Menaruh piring yang ada di tangannya. Zayn beralih meraih wadah itu. Meneliti dia mendapati ada inisial huruf S.
__ADS_1
“Ini miliknya,” ujar Zayn.
Ingatan Zayn mengudara dia atas kepala. wadah itu adalah milik Alana yang tertinggal saat ia mengantarkan sup daging. Zayn masih mengingat dengan jelas saat kejadian itu di mana dia mencium bibir Alana, karena begitu bahagia perempuan itu lebih memilih memasak untuknya dari pada bertemu Arion. Ya karena malu dan canggung Alana berlari pulang tanpa membawa kembali wadah itu.
“Wadah tempat sup ibuku tadi, aku titip dulu, jangan sampai hilang,” pesan Alana berkata cepat saat menghindari Zayn yang telah menciumnya.
Untuk sesaat Zayn tersenyum samar betapa Alana sangat manis dan menggemaskan kala itu.
Lalu tak lama senyuman itu surut saat teringat bagaimana Alana menolaknya dan membuat hatinya patah.
Zayn menghela napas berat.
“Ini sangat penting baginya.”
Pemuda ini terdiam sejenak, terlihat memikirkan sesuatu. wadah ini milik ibu Alana dan Alana sangat takut jika wadah ibunya ini hilang. karena dia akan mendapatkan omelan dari ibunya.
“Aku akan mengembalikan padanya besok, sebelum ke kantor,” putus Zayn setelahnya menaruh kembali wadah itu.
Pemuda ini pun berlalu meninggalkan ruang makan menuju kamarnya, untuk mengistirahatkan diri.
***
Sya terima kasih yah buat kalian yang udah vote sampai pasangan Zaynal masuk sepuluh besar terharu Sya tuh walau mungkin cuma sehari. Terima kasih, itu jadi membuktikan kalau kalian habis baca kagak bengong aja kaya tukang somay kehilangan garpu. Hehehe, terima kasih yaaa.
Jangan lupa.
Like
Coment
__ADS_1
Vote
Jangan bengong aja ...