
“Alana jangan pergi,” rengek Gisel kini telah berada di rumah Alana ekor matanya mengeluarkan cairan bening saat melihat Alana telah menarik kopernya. Sahabat terbaiknya akan meninggalkannya.
“Sel, aku harus pulang, ibuku menungguku,” balas Alana dengan suara bergetar menahan tangis, menangkup pipi Gisel yang basah.
“Aku tidak punya teman lagi.”
Alana hanya tersenyum getir, sama dengan Gisel dia juga pasti akan merindukan sahabat mesumnya ini.
“Kau harus sering-sering menemuiku di Indonesia,” tekan Alana.
“Iya tapi kau harus mengenalkanku dengan pemuda yang tampan,” candanya.
“Dasar kau ini, berhenti berpikir mesum.”
Gisel lalu menubruk tubuh Alana memeluknya erat.
“Pasti sepi tanpamu,” keluh Gisel.
“Sudah!” Alana mengelus punggung Alana.
“Ayo nanti aku terlambat,” ujar Alana.
“Sopirku akan mengantarkan kopermu dan aku akan memboncengmu,” jelas Gisel tahu jika sahabatnya ini trauma mengendarai mobil.
Alana mengangguk.
“Tapi Sel aku harus menemui kak Zayn untuk terakhir kalinya,” Alana dengan dada teremmas kuat, entahlah mungkin dia sangat merindukan Zayn hatinya terasa kosong.
Alana ingin sekali melihat wajah pemuda itu untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi meninggalkan Jerman. Hingga seakan logika menghilang, dia tidak peduli Zayn akan marah dan menumpahkan kekecewaannya saat bertemu dengannya yang penting dia sudah melihat wajah itu, mendengar suara ketusnya. yang justru itulah yang akan sangat ia rindukan.
Lagi pula Alana merasa harus berpisah dengan Zayn secara baik-baik.
“Ini masih pagi, aku akan menemuinya sebelum dia ke kantor," ucap Alana sembari melihat jam di pergelangan tangannya.
“Baiklah, aku akan mengantarkanmu,” balas Gisel.
***
Zayn telah rapi mengenakan jas berwarna abu-abu, pemuda tampan itu kini berada di ruang makan, menyantap sarapan pagi dengan tak bersemangat. Sebenarnya dia tidak sedang nafsu makan namun hari ini dia membutuhkan energi yang kuat, hari ini adalah hari pemilihan presdir di kantornya.
__ADS_1
Moment ini akan menjadi hari yang melengkapi kehancuran hatinya sudah tidak bisa bersama dengan Alana sekarang posisinya pun akan hilang.
“Tuan ada nona Alana menunggu di depan rumah,” sapa bibi Lucy, memberi informasi.
Zayn menghentikan makannya.
Alana datang ke rumah ini ....
Zayn tidak tahu apakah dia harus sedih atau senang, Alana menemuinya. Alana. Ah sial. Hatinya selalu saja berdesir jika mendengar nama itu.
Memasang wajah dingin Zayn keluar dari rumah menemui Alana.
Di luar Alana telah menunggu Zayn, dia akan pamit sebelum pergi ke bandara. Di luar gerbang Gisel telah mengunggunya.
Alana sengaja tidak masuk ke dalam rumah Zayn, karena merasa sudah tidak memiliki hak lagi menginjakkan kaki di dalam rumah itu.
Tak beberapa lama menunggu akhirnya.
Kaki Alana terasa lemas seakan tak kuat menopang tubuhnya saat menatap Zayn telah keluar dari pintu untuk menemuinya.
Tahan Alana, ucap Alana dalam hati, dadanya seakan sesak melihat Zayn yang melangkah mendekat. Air matanya ingin tumpah, ini terakhir untuknya berhadapan dengan Zayn si jutek. Oh Tuhan rasanya Alana tak kuasa berpisah, sedih sekali.
Deg...
Sepasang jantung terpompa cepat dengan sama-sama berdenyut sakit. Ini pertemuan pertama mereka lagi setelah janji pertemuan di taman itu. Yang meninggalkan luka terdalam untuk ke duanya.
Alana mencoba menarik ke dua sudut bibirnya dia harus terlihat ceria. Berbeda dengan Alana Zayn memasang wajah dingin.
“Kenapa kau tidak ke taman itu?” cecar Zayn menatap kecewa Alana.
Tidak ke taman itu.
Dada Alana semakin terimpit saja, tuh kan Zayn tidak menyadari kehadirannya. Miris sekali.
Alana hanya diam, mencoba menahan air matanya. Cintanya tak mengenalinya.
Zayn lalu melangkah semakin mendekatkan jarak mereka, tangannya terulur memegang bahu Alana.
“Beri aku alasan, kenapa kau tidak ingin melanjutkan pernikahan ini?” cecar Zayn lagi, ia merasakan putus asa, meminta jawaban dari Alana.
__ADS_1
Tidak ingin melanjutkan pernikahan! Ya Tuhan, andai Zayn tahu bagaimana dia memupuk percaya dirinya jika dia bisa bersama cintanya dan menerimanya apa-adanya, namun apa yang terjadi semuanya kandas. Saat pemuda itu menutup matanya rapat.
“Katakan apa alasanmu tidak ingin bersamaku,” tekan Zayn semakin mencengkeram bahu Alana meminta jawaban.
Alana menatap Zayn, ia melihat jika Zayn terluka pemuda itu merasa tertolak olehnya. Padahal tidak seperti itu, kini Alana harus mencari Alasan agar Zayn tidak terlalu sakit dengan perpisahan ini.
“Karena tidak akan lama lagi, kakak tidak akan menjadi presdir, karena itu lah aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini,” sentak Alana.
Zayn terpaku sesaat, sungguh tak percaya alasan Alana tak ingin bersamanya karena kelak dia bukan pemimpin perusahaan lagi.
“Hanya karena itu!” hardik Zayn geram.
“Maaf kak Zayn, kakak tahukan biaya make up ku, skincare, perawatan tubuhku, itu semua membutuhkan biaya yang banyak dan itu tidak cukup jika kau hanya menjadi juru foto di pernikahan,” papar Alana akan rencana Zayn.
Oh Alana seakan tidak bisa bernapas, perasaannya juga tersayat mengucapkan kata itu. Dia tahu pasti telah melukai Zayn. Tapi biarlah pemuda ini menilainya sebagai perempuan centil dan gila uang.
Zayn terbungkam tangan yang berada di bahu Alana seketika merosot lemas. Zayn tidak menyangkah, Alana tidak ingin hidup sederhana bersamanya. Semakin hancur saja hati Zayn mendengar ucapan Alana.
“Realistis saja kak Zayn aku perempuan yang banyak kebutuhan, aku ingin kemewahan ....” ucap Alana menatap ke atas menahan agar air matanya tidak tumpah.
Dada Zayn naik turun, menahan amarah, ucapan Alana bagai belati yang melukai hatinya.
“Pergilah dari hadapanku!” potong Zayn dengan tegas tangannya terkepal membuang pandangannya. Ia tak kuasa menatap Alana. Melihat itu hanya membuatnya semakin terluka.
Deg.
Alana terbungkam. Tusukan kecewa seakan menghunjam perasaannya. Pemuda ini menyuruhnya untuk pergi dari hadapannya. Ini yang ia harapkan, tapi saat Zayn mengatakannya mengapa ucapan itu seakan terasa membuat dunia terhenti. seakan runtuh.
Alana menarik napas menahan sesak dadanya.
“Baiklah. Kita tidak akan berjumpa lagi, jaga diri kakak,” ucap Alana lalu berbalik, saat kelopak matanya berkedip, saat itu juga cairan bening yang sejak tadi ia tahan mulai berlomba jatuh.
“Selamat tinggal kak Zayn,” ucap Alana kemudian mendekap mulutnya ia ingin terisak namun harus menahannya. Alana pun melangkah cepat pergi meninggalkan Zayn membawa hati yang tergores.
Like
Coment
Vote ...
__ADS_1