Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
rencana Alana


__ADS_3

Hari menjelang pagi, Alana masih berada di dalam kamarnya. Detik-detik waktu terus berlalu, terasa menyedihkan.


Permintaan ibunya semakin membuat dadanya terasa sesak.


Pulang.


Alana teringat akan rencananya berdua dengan Zayn. Seharusnya dia pulang ke Indonesia, dengan membawa kebahagiaan bersama dengan Zayn, meminta restu pada ibu dan kakaknya, lalu hidup bersama dengan cintanya menjadi istri dari seorang juru kamera di pernikahan, menjaga suami tampannya dari godaan biduan di pernikahan. Uhg, semua itu telah tersusun dengan baik. Rencana itu sangat manis sekali. Namun hayalan tinggi yang telah melambungkan Alana itu akhirnya harus kandas. Berujung dengan kecewa. Kilauan bulir air mata terus turun membasahi pipi Alana.


Sudah semalaman Alana merenung dan menangis hingga merasa telepon dari ibunya telah membuka jalan untuk dirinya yang sedang mengalami patah hati.


Kembali ke Indonesia.


Ya, setelah menimbang ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia membawa luka hatinya, berharap semoga di sana belenggu kesakitan yang menaungi perasaannya menghilang seiring waktu.


“Aku akan pulang,” gumam Alana telah mengambil keputusan dengan keyakinan.


“Dan aku akan pergi, tanpa mengatakan siapa aku, aku akan menutup rapat cerita pertemuan dan pernikahan ini, biarkan aku dan kak Zayn kembali menjadi orang asing. Hubunganku dengannya hanya sebagai Nana dan Kak Vino.” Alana mengusap air matanya.


Orang asing, walau sudut hatinya merasa tak rela. Namun dia harus melakukannya, sudah tak ada harapan dia dan Zayn bersama. Mustahil untuk Alana bersama dengan orang yang takut melihat wajahnya.


***


Pagi telah menyambut, seperti biasa Alana telah bersiap untuk ke salon. Walau tubuhnya terasa lemah karena semalam dia terus menangis dia harus tetap pergi. Alana memaksakan diri ke salon Gisel karena ini adalah terakhir kali untuknya.


Terakhir kalinya.


Ya dia akan pamit pada Gisel sebelum pulang ke Indonesia, meninggalkan Jerman untuk selamanya, membawa semua kenangan.


Alana telah berada di salon, baru saja dia masuk ke dalam. Gisel telah menyambutnya dengan riang.


Gadis mesum ini sudah tidak sabar mendengar cerita Alana yang semalam menemui pujaan hatinya dan telah menghabiskan malam indah di taman, Alana telah menemukan kebahagiaanya dan hidup dengan Zayn cinta pertamanya. Duh, betapa beruntungnya Alana, itu pikir Gisel.


“Alana,” sambut Gisel dengan antusias lalu menggiring tubuh Alana duduk di sofa panjang. “Ayo duduk cerita padaku.”


Dada Alana terasa sesak melihat Gisel yang begitu riang, sahabatnya itu pasti sangat berharap dia bahagia bersama dengan Zayn.


“Bagaimana malam pertemuanmu di taman, ah pasti romantis sekali kan,” ucap Gisel menggebu.


Tatapan Alana sendu, bayangan buruk semalam terlintas.


“Bagaimana Alana?”

__ADS_1


Alana menarik napas berat, mengisi rongga paru-parunya mengumpulkan kekuatan menahan air mata itu agar tidak menetes lagi.


“Tidak Sel, aku tidak bicara apa-pun padanya,” suara Alana terdengar bergetar.


“Memangnya kenapa?” tanya Gisel bingung. Kan tinggal selangkah lagi hubungan mereka. Alana datang ke taman itu dan bahagia.


“Dia ...” Manik mata Alana mulai berkaca-kaca. “Dia, dia takut melihat wajah asliku Sel,” ungkap Alana dan saat itu juga setitik cairan bening jatuh dari netra matanya.


Gisel tercengang mencoba mencerna. Bagaimana bisa?


“Takut melihat wajah aslimu! Bagaimana bisa, aku mendandanimu begitu cantik bak putri,” sosor Gisel terdengar tak menyangkah. Dia mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk merias sahabatnya itu bak putri agar Zayn terpesona.


“Sebelum aku bertemu Zayn. Arion datang Sel, dia menghapus make up. Selama ini dia tahu wajah asliku,” ungkap Alana.


“Jadi, Arion tahu wajah aslimu,” seketika Gisel gelagapan, tak menyangka.


“Iya Sel.”


Gisel lalu meraih tangan Alana. Memasang wajah sendu.


“Alana sumpah demi apa-pun aku tidak pernah memberitahunya tentang wajahmu,” ucap Gisel merasa tertuduh karena dia pernah kelepasan bicara pada Arion tentang rahasia pernikahan Alana.


“Aku tahu Sel, dia tahu dari ponselku yang tertinggal dulu,” jelas Alana. “Untuk membuktikan cinta Zayn dia menghapus riasanku dan menyuruhku untuk memperlihatkan wajah asliku,” papar Alana.


“Dan aku ingin membuktikan ucapan Arion, aku menemuinya tanpa riasan Sel, dan aku berniat menceritakan semuanya tentangku, siapa aku, agar tidak ada rahasia lagi dan kebohongan, tapi Sel. Saat aku bertemu dengannya, dia berteriak dan menutup mata,” suara Alana semakin bergetar. Air matanya telah luruh deras


Belum Alana melanjutkan kalimatnya, Gisel telah mengerti. Tanpa kata lagi gadis itu langsung memeluk tubuh sahabatnya. Setetes air matanya pun turun dari netranya.


“Kak Zayn, takut melihat wajahku Sel,” raung Alana semakin terisak dalam pelukan Gisel menumpahkan kesedihannya.


“Aku belum bicara apa-pun padanya tentangku, dia tak ingin melihatku,” Alana tergugu.


Gisel hanya diam. Ya, jangan pernah membahas wajah Alana karena itu akan membuat perempuan itu akan semakin rendah diri dan merasa tak pantas untuk apa-pun. Dan lihatlah sekarang.


Itu sebuah pukulan hebat untuk perasaan Alana, Gisel tahu Alana pasti sangat terluka saat ini, orang yang ia cinta takut melihat wajahnya.


Suasana salon menjadi sendu, Gisel hanya diam, tak ada kata yang bisa dia ucapkan. Biarlah Alana meluapkan kecewanya, Gisel sudah tak bisa memberikan pengertian pada Alana. Sikap Zayn pada sahabatnya itu pasti telah membuat tak ada sedikit pun kepercayaan diri dalam diri Alana yang tersisa.


Setelah hening menguasai, ke duanya duduk berdampingan.


“Sel, kakakku sudah melahirkan anak ke tiganya,” ucap Alana membelah keheningan.

__ADS_1


“Benarkah,” balas Gisel dengan keceriaan setidaknya itu bisa menenangkan hati sahabatnya.


“Iya, Sel, keponakan ke tigaku. Dan waktu yang telah di berikan ibu di Jerman telah berakhir, aku harus kembali.”


“Kembali!” sosor Gisel tak terima.


“Iya Sel, aku kemari untuk pamit padamu,” jelas Alana.


Netra mata Gisel seketika berkaca-kaca sahabat terbaiknya akan meninggalkannya.


“Kenapa begitu cepat,” protes Gisel.


“Waktuku sudah habis.”


“Alana.” Rengek Gisel memeluk Alana.


“Ibuku sudah menyuruhku pulang,” Alana mengelus punggung Gisel.


Alana juga sedih akan berpisah dengan sahabat yang kadar mesumnya tinggi ini.


Gisel lalu mengurai pelukannya, mengingat sesuatu.


“Alana kalau kau kembali bagaimana dengan Zayn? Kau menyerah begitu saja?”


“Kami telah berakhir Sel, tidak ada harapan untuk hubungan kami.”


“Yahh Alana, berilah pengertian padanya. Katakan siapa dirimu, dia akan menerimamu."


“Tidak Sel, Aku tidak akan hidup dengan orang yang takut melihat wajahku, membayangkan jika kami bersama, lalu saat pagi dia terbangun membuka matanya dia akan terkejut melihat wajah asliku, membayangkan itu saja rasanya sakit Sel,” ujar Alana dengan dada terasa terhimpit.


“Biarlah rahasiaku ini terus tersimpan, dan kami akan kembali sebagai orang asing,” ujar Alana dengan senyum penuh luka.


Alana lalu mendesahh napas.


“Besok aku akan mengurus kepulanganku,” papar Alana penuh keyakinan.


Hah.


“Besok!” ulang Gisel tercengang.


***

__ADS_1


Ya Cuma satu Sya, Hussstttt, lagi ngetik lagi nih. Sabar yeeh,


__ADS_2