
“Arion mengapa kau menyiram wajahku!” pekik Alana menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Wajah Alana telah basah, tetesannya jatuh mengenai pakaian yang ia kenakan.
“Apa yang kau lakukan!” bentak perempuan itu, emosinya mulai naik.
Bagaimana tidak Arion bisa merusak hiasan wajahnya. Oh tidak dia tidak ingin itu terjadi.
Masih menutupi wajah dengan satu tangan. Lalu dengan cepat sebelah tangan Alana yang lain, turun meraba tas selempang yang menggantung di bahunya, tas kecil yang selalu ikut bersamanya, yang berisikan alat make up. Untuk antisipasi jika hal ini terjadi. Perempuan itu harus memperbaiki riasannya.
Tangan Alana baru saja merogoh tasnya namun terhenti saat tangan Arion mencekalnya.
“Arion apa yang kau lakukan lepaskan aku,” pekik Alana mencoba berontak menarik tangannya yang telah memegang bedak.
Pemuda ini tidak mengidahkan kata Alana, dengan masih menahan tangan Alana, dia pun meraih sakunya mengeluarkan sapu tangan berwarna putih.
“Maaf aku harus melakukan ini,” ucap Arion lalu menurunkan tangan Alana yang menutupi wajahnya, tangan Arion yang memegangi sapu tangan telah menggantung.
Mata Alana membulat melihat Arion akan menempelkan sapu tangan di wajahnya yang basah.
“Arion jangan!” pinta Alana gelagapan, pemuda itu akan mengusap wajahnya.
Oh tidak, wajah buruk rupanya bisa terlihat.
“Arion jangan!” lirih Alana mencoba berontak namun Arion mencekal tangannya.
“Maaf kan aku,” Arion lalu mengusap wajah Alana dengan sapu tangan, menekannya agar make up yang menempel di wajah itu terhapus. Sedikit agak sulit karena make up yang terpulas baik, Arion terus mengusap asal, tak beraturan terutama bagian pipi kiri Alana.
Ya Tuhan, wajah asli Alana.
Arion melepaskan Alana setelah, riasan di wajah perempuan itu telah terlihat berantakan. Kini sudah tidak ada Alana yang terlihat seperti putri.
“Arion,” hardik Alana.
Arion hanya mematung mengamati wajah Alana dengan riasan berantakan, serta luka yang menghiasi pipi kiri Alana.
Alana akan meluapkan amarahnya lalu tersadar akan sesuatu. Arion tahu wajah buruk rupanya. Oh astaga bagaimana lelaki ini tahu wajah buruk rupanya?
Alana menatap Arion yang terdiam meneliti wajahnya yang cacat.
__ADS_1
"Arion kau tahu?” lirih Alana menangkup pipi kirinya manik matanya mulai berkaca-kaca. Tubuhnya bergetar, kakinya terasa lemas, seakan ia tidak bisa bernapas dengan baik.
Ya Tuhan, ada yang melihat wajah yang selama ini susah payah ia tutupi.
Pemuda itu pasti takut melihat wajahnya yang mengerikan. Seketika Alana di liputi rasa malu, sungguh dia tidak percaya diri di hadapan Arion.
“Iya, aku tahu sejak awal, dari fotomu di ponsel yang aku temukan dulu. Maaf aku lancang memeriksanya,” ucap Arion tahu rahasia Alana, dia mengira Zayn tahu tentang Alana akan tetapi saat Arion mendapatkan informasi dari Gisel jika mereka menikah hanya terpaksa. Di situlah Arion yakin Zayn tidak tahu wajah Alana sebenarnya.
Alana tertegun, jadi selama ini, Arion tahu bagaimana rupanya.
“Karena aku tahu keadaanmu. Aku tidak mau kau terluka karena Zayn,” papar Arion.
Zayn akan membuatnya terluka? Bagaimana bisa.
Mendengar itu, Alana mendesahh kasar. Arion hanya mencari cara agar menghalanginya bertemu dengan Zayn, itu pikir Alana tak mengerti arah kalimat Arion.
“Hentikan Arion! Kak Zayn tidak akan pernah melukaiku. Dia sangat mencintaiku,” tekan Alana penuh keyakinan.
“Aku harus menemuinya sekarang.”
“Baiklah pergilah dalam keadaan seperti itu, tanpa riasan kita lihat apakah Zayn akan menerimamu,” tantang Arion.
Alana berdiri tertegun dengan jantung yang seakan terjun bebas ke dasar perut. Menemui Zayn dalam keadaan kacau tanpa make up dan memperlihatkan wajah buruk rupanya. Sungguh perasaannya seketika gusar. Apakah Zayn akan menerimanya?
Benarkah akan seperti itu. Zayn tidak akan menerimanya. Bagaimana reaksi pemuda itu jika melihatnya tanpa make up. Ya ampun rasa takut merayapi hati Alana, jika Zayn menolaknya.
Tapi bukan itu sekarang, dia harus pergi. Zayn menunggunya
“Aku akan tetap pergi,” ucap Alana lalu melangkah meninggalkan Arion. Tapi kali ini ada rasa bimbang di hati Alana.
“Kau akan terluka, jika Zayn tidak menerimamu.” Arion mengingatkan.
Namun Alana hanya melangkah. Meninggalkan Arion, mencoba mengabaikan perkataan pemuda itu.
Setelah memacu kendaraannya, Alana telah berada di taman, sebelum bertemu Zayn, dia akan merias kembali wajahnya, tidak mungkin dia bertemu Zayn dalam keadaan kacau seperti ini. Alana telah memegang spoon bedak, lalu mematung, memikirkan ucapan Arion.
Tangan kanan Alana memegang tempat bedak yang terbuka. Alana menatap dirinya yang kacau, rambut yang indah tergerai tadi kini tak beraturan dan jangan lupa riasan di wajahnya telah berantakan, terhapus tak rata karena ulah Arion, riasan tebalnya kini hanya menyisihkan bekas-bekas titik putih hingga terlihat jelas wajahnya pucat, belum lagi dengan bekas luka terlihat begitu mencolok di pipi kirinya. Wajahnya terlihat sangat mengerikan, tak dikenali.
“Apa benar kak Zayn tidak akan pernah menerimaku, jika dia tahu wajahku seperti ini?” batin Alana terus menatap wajahnya di cermin bedak. Perasaan rendah dirinya kembali menerjang. Ya selama ini Alana memang tidak memiliki kerpercayaan diri karena wajahnya, hingga ia terus menutup diri.
__ADS_1
Pikiran Alana mengudara. Zayn adalah kak Vinonya, kak Vinonya pasti akan menerima apa-adanya. Alana meyakinkan diri.
“Baiklah, malam ini aku akan jujur padanya, siapa aku. Aku akan menceritakan, jika aku adalah Nana adik kesayangannya,” gumam Alana dengan keyakinan. Mengurungkan kembali niat, untuk memperbaiki riasaannya, ia pun berjalan cepat untuk menemui Zayn.
Alana melangkah menjelajahi taman bunga. Mencari dimana keberadaan Zayn. Sembari melangkah Alana meneliti suasana taman yang membuatnya takjub. Cahaya teraman dari lampu-lampu taman.
“Ini hebat sekali,” decak Alana.
Malam semakin larut, Zayn yang sejak tadi berdiri menantikan kedatangan Alana mulai lelah, pemuda itu duduk di bangku panjang, menatap ke air mancur yang mengucur indah, pandangannya kosong, hatinya mulai tersayat, Alana tak kunjung datang membuatnya hampir putus asa. Perempuan itu tidak akan datang dan meneruskan pernikahan dengannya.
“Dia tidak datang,” batin Zayn sekali menatap jam di pergelangan tangannya menghembuskan napas pedih.
Alana mengembangkan senyuman saat melihat punggung Zayn yang duduk di kursi sembari menatap air mancur.
“Indah sekali,” batin Alana terharu. Tuan jutek telah membuat taman yang begitu indah untuknya. Alana bisa melihat besar cinta Zayn
Alana terus melangkah mendekat ke arah Zayn. Pemuda ini tidak menyadari kedatangan Alana yang berjalan berada di belakangnya.
Zayn yang masih menunggu Alana, tersentak kaget saat merasakan tepukan di pundaknya. Pemuda itu dengan cepat berdiri lalu berbalik. Menebak Alana telah datang, namun yang ia lihat bukan perempuan cantik mempesona bak Dewi , seperti setiap hari yang ia lihat.
Zayn seketika terbelalak ngeri, dengan jantungnya seakan lompat ke luar, saat melihat perempuan mengenakan pakaian putih panjang dengan rambut panjang acak-acakan, serta wajah putih pucat, dengan bekas luka menghiasi. Sungguh sangat mengerikan, baginya.
Karena reflek. “Aahhh,” pekik Zayn berdiri di tempat, menutup matanya rapat.
Sementara itu, Alana yang berdiri di hadapan Zayn, tak menduga, melihat sikap Zayn yang berteriak dan menutupi matanya saat melihat wajah asli Alana tanpa riasan. Bak melihat hantu. jantung Alana seakan terpukul kencang, tusukan kecewa merayapi hatinya.
Oh astaga ternyata Zayn tidak mengenalinya dan takut melihat wajah aslinya.
Angan Alana terhempas. sedikit harapan jika pemuda itu akan menerimanya seketika luruh, Zayn takut melihat wajahnya.
Hati Alana hancur remuk. Pemuda itu takut padanya. Percaya dirinya yang rendah semakin hilang. Dia bahkan belum bicara, jujur tentang dirinya. tapi Zayn telah takut padanya.
“Dia takut melihatku,” batin Alana, seketika kristal bening terjun bebas dari pelupuk matanya, membasahi pipi, orang yang dicintainya takut melihatnya. Dan itu membuat perasaannya sangat terluka, bagaimana dia akan membina hubungan dengan orang yang takut melihat wajahnya.
Dengan dada terasa sesak, terhimpit. Alana berlari cepat meninggalkan Zayn, sebelum pemuda itu menyadari kehadirannya.
***
Sorry lambat dan Cuma satu, Sya terbuai sama nasi kotak kelurahan. Katanya kalau ikut dengar penyuluhan dapat nasi kotak. Taukan Sya ama Alana sama aja ngak bisa dengan yang gratis.
__ADS_1