Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
pulang


__ADS_3

Setelah melewati penerbangan panjang Alana kini telah sampai di negaranya.


Kini perempuan ini telah berada di depan rumah mewah milik Kalingga, di mana ibu dan kakaknya berada.


Kakaknya baru saja melahirkan


Ibunya pasti sedang mendampingi kakaknya mengurus bayi yang baru lahir itu. Jadi Alana memutuskan ke tempat ini.


Menarik napas panjang, Alana mencoba untuk tenang. Memasang wajah ceria untuk bertemu keluarganya, mulai saat ini dia harus belajar untuk melupakan semua yang telah terjadi di Jerman. Dia harus bahagia di depan keluarganya.


“Semangat Alana,” batin Alana.


Alana baru saja melangkah dia telah di sambut oleh pelayan yang menarik kopernya serta mengantarkannya ke dalam kamar di mana ibu dan kakaknya sedang berkumpul.


“Cucu nenek yang cantik, udah mandi,” ibu Salma sedang menggendong cucu perempuannya.


Netra Alana berkaca-kaca saat melihat kakak dan ibu yang ia rindukan sedang bercengkeraman menimang seorang bayi. ya Tuhan dia sangat merindukan mereka.


“Ibu,” panggil Alana dengan manja, lalu berlari bak anak kecil.


Senyum mengembang seketika menghiasi wajah keduanya melihat Alana.


“Nana! Akhirnya kamu pulang juga sayang!” sambut ibu Salma heboh, lalu menyerahkan bayi yang dalam gendongannya pada Nara yang masih berada di tempat tidur, bersandar di puncak ranjang.


Alana lalu menubruk tubuh ibunya, memeluknya erat dengan linangan air mata.


“Nana kangen ibu,” Alana tergugu, melepaskan seluruh perasaannya. Pelukan hangat seorang ibu membuat hatinya sedikit tenang.


“Ibu juga kangen banget sama kamu,” balas ibu Salma cairan bening menetes membasahi pipinya. Putri bungsunya kini ada bersamanya.

__ADS_1


Pelukan terlepas, Alana kini beralih pada sang kakak kesayangannya.


“Kak Nara,” peluknya manja. Setelah sekian lama dia kembali menjadi Nana yang manja, hidup sendiri di tempat yang jauh membuatnya menjadi mandiri.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Nara.


“Baik kak.”


Alana lalu menatap bayi mungil di samping Nara.


“Ihhh, kak Nara dia lucu sekali, aku sudah tidak sabar untuk mendandaninya,” heboh Alana melihat keponakan ketiganya yang berjenis kelamin perempuan.


“Akhirnya kau kembali, kau sudah siap operasi?” tanya Nara menatap lembut adiknya.


Operasi.


Termenung Alana memikirkan ucapan kakaknya. Operasi adalah tujuan utamanya, dia ingin menghilangkan wajah buruk rupa ini, agar tak ada lagi yang takut melihat wajahnya.


“Iya, kakak.” Perempuan ini mengangguk yakin.


“Iya, Na. Kakak kamu udah lahiran. Ibu akan menemanimu operasi. Setelah itu ibu akan kenalin kamu sama nak Randy. Anak ibu Jenar,” ucap perempuan paru bayah ini antusias.


“Anak ibu Jenar, tempat langganan kredit panci ibu,” sela Nara.


Alana mendesahh kasar memasang wajah memberengut. Ibunya ini baru juga bertemu.


“Iya, Ra. Anak bu Jenar langganan tempat kredit panci ibu, anaknya pns loh,” balas ibu Salma menatap Nara dengan rasa bangga.


PNS

__ADS_1


Ya Tuhan mengapa jodoh yang terbaik di mata ibunya harus pns, decak Alana dalam hati.


“Ibu Nana ngak mau di jodohin,” protes Alana bibirnya telah mengerucut.


Perasaannya terenyuh, dia baru saja patah hati. Ibunya malah bercerita menjodohkannya.


“Dia baik, ramah, sopan, mana ganteng lagi. Dan yang penting dia itu Pns, Na. Jadi kamu nanti mau kredit nggak perlu lagi gadai pakai bpkb motor,” jelas ibu Salma menggebu. ya ampun pemikiran apa itu.


“Ibu.”


Nara hanya tersenyum melihat adik dan ibunya ini. Ya ampun inilah yang ia rindukan jika ibu dan adiknya bersama saling merecokin.


“Kau kenapa ngak mau Na? Jangan-jangan kau punya pacar bule di sana ya?” tuding ibu Salma tak suka, kini menatap dengan tatapan meneliti putrinya.


“Nggak bu. Alana mana punya pacar bule,” tepis Alana dengan cepat.


Ibu Salma sangat khawatir dengan pergaulan bebas orang- orang di luar negeri, itulah dulu dia tidak ingin Alana pergi dan tinggal sendiri di Jerman, dia sangat takut putrinya yang polos ini terjerumus dalam pergaulan bebas.


Karena itulah hampir setiap malam ibu Salma menelepon putrinya untuk menjaga diri, memberi ilmu pelajaran tentang bagaimana tingkah laku makhluk bernama lelaki. Jangan sampai Alana memberikan mahkota kesuciannya. Itulah yang sangat di takutkan ibu Salma, Alana memberikan mahkotanya sebelum pernikahan pada lelaki yang bukan suaminya.


“Kamu masih perawann kan Na?” tanya ibu Salma lagi langsung menatap putrinya lekat.


Yang membuat seketika wajah Alana memucat, tubuhnya membeku bak teraliri darah. Perawann? Bagaimana mungkin setiap malam dia melakukan malam panas bersama Zayn sebagai istri? Hati Alana bergemuruh hebat. Kehormatan yang seharusnya ia jaga saat tinggal di Jerman kini telah terkoyak, telah ia berikan pada suaminya. Alana telah menghancurkan kepercayaan ibunya.


***


Yang kangen mereka, tuh udah muncul. Awas ya nanya Milan yeee.


Sya, Milan mana? Kangen nih? Munculin dong” trus kalian mode manja gitu. Uhhh.

__ADS_1


Belum muncul. Dia lagi di belakang nguburin ari-ari anaknya trus sibuk buka google nyari nama dari huruf hijaiya.


__ADS_2