
Pasangan ini kompak mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang terlihat ibu Salma telah berdiri.
“Nana!” teriak perempuan paruh bayah itu dengan aura wajahnya terlihat menampakkan amarah.
"Ibu!” pekik Alana pelan, saat ini tubuhnya terasa lemah. Namun dengan sigap Alana duduk dan bersandar di puncak ranjang.
Vino bangun dari duduknya, bergeser saat melihat ibu Salma melangkah mendekat memberi ruang untuk ibu dan anak ini.
Kini ibu Salma telah berdiri di pinggir ranjang.
“Nana! Kau hamil!” berang ibu Salma setelah mengetahui Alana tengah pingsan karena mengandung sebuah kabar yang ia dengar dari Nara.
Vino dan Alana tersentak ternyata ibu Salma telah tahu. Terutama Alana, Oh gawat, ibunya pasti sangat marah dan kecewa karena dia menyalahi kepercayaan ibunya.
Perempuan paruh bayah ini pun mengarahkan telapak tangannya pada tubuh putrinya. “Bisa-bisanya kau pulang dari Jerman dalam keadaan hamil!” ibu Salma memukul tubuh putrinya meluapkan kemarahannya.
Vino tercengang melihat Alana mendapatkan pukulan dari ibunya.
“Aduh Bu, sakit!” keluh Alana mencoba menahan pukulan bertubi-tubi dari ibunya dengan lengan menutup tubuhnya.
“Ibu tolong hentikan!” pinta Vino mencoba menahan ibu Salma agar berhenti, dia tidak bisa diam saja saat melihat Alana mendapatkan pukulan kemurkaan dari ibunya. Pemuda itu menarik tubuh ibu Salma agak menjauh mencoba agar perempuan itu berhenti memukuli istrinya yang sedang hamil.
"Jangan hentikan ibu Nak Vino!"
__ADS_1
Nara terkesiap saat baru saja masuk ke dalam kamar. Perempuan ini lalu berlari cepat mencoba membantu Vino yang kepayahan.
“Ibu hentikan tenang dulu!” bujuk Nara.
“Jangan hentikan ibu, ibu akan memukulnya terus!” geram ibu Salma mencoba berontak dari Vino yang menahan pinggangnya.
“Vin! Aku memberi tahu ibu jika Nana hamil, tapi dia belum mendengar semua ceritanya dia sudah sangat marah,” jelas Nara.
“Nana! Setiap malam ibu meneleponmu memperingatkanmu agar kau tidak masuk dalam pergaulan bebas di Jerman. Tapi sekarang kau malah hamil dengan bule!” hardik ibu Salma rasanya ia ingin menerkam putrinya.
Dengan bule.
Vino tercengang, mendesahh kasar. Ya ampun ibu Salma belum mendengar semua cerita, perempuan ini telah murka, mengira putrinya hamil dengan bule Jerman.
“Ibu tenang dulu!” bujuk Nara.
“Bagaimana ibu bisa tenang Ra. Ibu sudah menyiapkan masa depan yang baik dengan anak ibu Jenar, Randy dia PNS. Dia hamil malah di luar nikah!” semakin berang saja ibu Salma hancur semua rencana agar putrinya mendapatkan jodoh terbaik.
Alana tertunduk sedih, ibunya pasti kecewa.
Melihat Alana, Zayn lalu maju di hadapan perempuan paruh bayah itu merentangkan tangannya di hadapan ibu Salma.
“Tolong hentikan bu!” tahan Zayn.
__ADS_1
“Biar saja nak Vino, ibu memberinya pelajaran!”
“Ibu tenang, dengar dulu penjelasannya,” bujuk Nara.
“Nana nggak hamil di luar nikah bersama dengan bule bu,” jelas Zayn.
“Anak yang sedang di kandung Nana adalah anakku bu! Aku ayah dari anak itu,” jelas Zayn dan seketika membuat ibu Salma terhenti menatap pemuda itu lekat seakan tak percaya.
“Apa!” lirihnya.
“Kami telah menikah di Jerman!” tambah Zayn.
Jeduar
Bak di sambar petir ibu Salma mendengar putri bungsunya telah menikah.
“Kalian sudah menikah!” ulang ibu Salma pelan menatap Zayn.
“Iya bu,” jawab Zayn mantap.
Tubuh ibu Salma seketika lemah, dia seakan tak bisa merasakan kakinya lagi. Pandangan ibu Salma seketika kosong. Tubuhnya lemah. Putri bungsunya telah menikah tanpa memberi tahunya. Itu berarti kedua putrinya menikah tak memberitahunya, kejadian Nara terulang lagi.
"Ibu!” pekik Nara saat merasakan tubuh ibunya melemah dan akan merosot turun.
__ADS_1
Vino dan Alana seketika gelagapan, melihat perempuan paru bayah ini akan kehilangan kesadarannya.