Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
Tugas baru


__ADS_3

Suara erangan dan desahann di timbulkan dari sepasang insan, decitan ranjang mengiringi setiap desakan yang Zayn lakukan ke dalam tubuh Alana, memompa terus menerus hingga menimbulkan kenikmatan yang membuat seakan melayang. Pergerakan Zayn semakin cepat hingga mereka seakan merasakan ingin meledak dalam kenikmatan puncak.


“Ahh,” desah keduanya, Alana meremmas kuat punggung Zayn saat kenikmatan itu telah mereka raih bersamaan, hingga benih cinta hangat itu masuk ke dalam rahim Alana.


Dengan tubuh bergetar Zayn ambruk di atas tubuh istrinya, terdengar jelas napas yang terengah-engah dari keduanya.


Bukti cinta. Ya, inilah yang Alana terima dari Zayn malam panas bergelora.


Zayn berbaring di samping Alana, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya, menghujani pucuk kepala Alana dengan kecupan sayang.


“Bagaimana kau percaya aku mencintaimu,” ujar Zayn yang membuktikan cintanya melalui penyatuan sebagai suami-istri. Agar Alana percaya dengan ungkapan cinta yang telah ia katakan.


Blus


Wajah Alana terasa panas, ahh. Pemuda jutek ini, membuktikan cintanya dengan gairah menggelora, membuat Alana percaya jika Zayn si jutek benar-benar mencintainya.


Alana hanya membisu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Zayn.


Zayn menarik sudut bibirnya. Seketika menjadi gemas melihat tingkah Alana yang terlihat malu-malu.


“Kau mau aku membuktikannya lagi?” tanya Zayn.


Apa bukti lagi.


Alana menjadi gelagapan. mendongak menatap Zayn.


“Kak Zayn. Aku percaya,” ucapnya cepat.


Ya ampun, tubuhnya masih terasa remuk. Mau lagi.


Bibir Zayn melengkung membentuk bulan sabit. Zayn semakin mempererat pelukannya.


“Baiklah kalau kau sudah percaya, istirahatlah,” ucap Zayn mengecup kening Alana.


Wajah Alana kembali bersandar di dada bidang Zayn, tangannya ikut melingkar di pinggang suaminya. Pelukan ini rasanya sangat hangat dan nyaman. Alana merasa terlindungi.


"Tidurlah, kau masih punya tugas sebagai istri nanti,” bisik Zayn dengan seringai di wajah tampannya.


Hah ...


Mata Alana membulat sempurna.


Apa tadi? Tugas istri.


Bukankah tadi termaksud tugas istri.


“Yang tadi bukan tugas istri,” papar Zayn seakan tahu isi kepala Alana. “Ingat tugas istrimu doubel,” bisik Zayn lagi membuat tubuh Alana seketika meremang, menelan salivanya susah payah. Semenjak melalui malan pertama, Malam Alana akan selalu menjadi malam panjang penuh gelora bersama suaminya.

__ADS_1


****


Cahaya bulan telah bergulir berganti hangat Sang surya. Matahari telah naik tinggi.


Sepasang insan masih berbaring di ranjang, saling mendekap dalam kenyamanan di bawah balutan selimut. Kelopak mata mereka seakan enggan terbuka, padahal hari telah siang.


Dret ... Dret ...


Suara dering ponsel di nakas terdengar mendesak sejak tadi tak henti berdering.


Sayup Alana mulai mendengar nada ponsel merasuk ke dalam gendang telinganya, mengganggu tidur nyenyaknya.


Pelan Alana membuka kelopak mata sayu, sedikit terkejut saat iris matanya menatap bayangan pemuda yang sedang memeluknya erat. Alana lupa jika semalam dia tertidur bersama dengan suaminya dan menghabiskan malam yang panjang.


Alana melepaskan pelukan Zayn, akan meraih ponselnya. Hendak mengetahui siapa yang meneleponnya.


Alana meringis, dengan kepayahan menggeser tubuhnya yang terasa seakan remuk karena ulah Zayn, bagaimana tidak semalam dia hanya terlelap sebentar beristirahat sesuai keinginan Zayn. Tapi ternyata tak lama ia masuk ke dalam alam mimpi, ia terbangun karena merasa tubuhnya di gerayangi, di cumbuii. Siapa lagi kalau bukan Zayn yang membangunkannya untuk tugas istri. Huuu. Benar-benar dia hanya di beri jeda sebentar hingga tugas doubel seorang istri itu telah terlaksana. Bukti cinta dan tugas istri doubel. Bagaimana dia tidak lemas, tak bertenaga.


“Kau mau apa?” tanya Zayn yang ternyata telah terbangun. Semakin mengeratkan pelukan di pinggang Alana.


“Kak Zayn. Aku jawab panggilan dulu,” ucap Alana.


“Menggangu saja,” decak Zayn lalu melepaskan Alana.


Kerutan tipis menghiasi wajah Alana saat membaca nama yang berada di layar.


Gisel.


Gisel sang bos pasti akan mengoceh dia terlambat.


“Ya, Sel, maaf aku ke siangan,” ujar Alana dengan suara khas bangun tidur, memberi penjelasan sebelum Gisel menyemprotnya.


“Alana bukan itu.”


“Lalu apa Sel?” balas Alana.


“Alana kau sudah melihat Video yang aku kirim belum?” tanya Gisel suaranya terdengar panik.


“Video, Video apa? Adegan mesum ya. Gisel aku tidak tertarik,” sosor Alana. Apalagi yang berkaitan dengan Gisel jika bukan hal mesum.


“Ihhh, Alana bukan itu. Ini Video penting cepatlah lihat. Ini tentang Arion.”


“Ada apa dengannya.” Wajah Alana berubah penasaran ada apa dengan pemuda itu. “Aku akan melihatnya.” Alana lalu memutus panggilan Gisel.


Alana menggulir layar di ponselnya. Lalu menatap lekat adegan di dalam Video. Terlihat Arion sedang mengadakan jumpa pers.


Alana tersentak membekap mulutnya dengan sebelah tangan melihat video dari Gisel.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Zayn terduduk setelah melihat Alana terlihat syok.


Alana lalu menggeser ponselnya memperlihatkannya pada Zayn.


“Arion akan meninggalkan dunia akting, dia akan berhenti menjadi aktor!” ujar Alana seakan tak percaya. Mengapa pemuda itu mengambil langkah seperti itu.


Zayn hanya terdiam wajahnya seketika berubah dingin setelah melihat isi video itu. Sepupunya itu mengambil keputusan yang besar setelah pertengkaran mereka kemarin.


Zayn beralih menatap lekat wajah Alana, seketika kerisauan menghunjam hatinya. Hubungannya dengan perempuan yang ia cintai ini pasti akan terusik.


“Sayang sekali Arion meninggalkan semuanya," ucap Alana menyayangkan.


Alana kemudian menatap Zayn yang terdiam tanpa kata.


“Kak Zayn kenapa?” tanya Alana menatap aneh wajah Zayn yang datar.


Zayn menarik napas berat, lalu mencoba tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa. Zayn meraih ponsel dari tangan Alana lalu menaruhnya di nakas.


“Sudah biarkan saja dia, jangan di pikirkan,” ujar Zayn lalu menarik tubuh Alana kembali berbaring.


“Kak Zayn, mau apa?” tanya Alana gelagapan, karena Zayn telah beralih kembali mengukung tubuhnya.


“Ini tugas untukmu,” ujar Zayn tatapan mereka kini bertemu.


“Tugas, Semalam sudah kak,” jelas Alana yang telah merampungkan tugas istrinya hingga pagi.


“Ini adalah tugas baru dan paling penting untukmu sebagai istri,” Zayn mengukir senyum seringai.


Alis Alana berkerut dalam tak mengerti. Tugas baru dan penting sebagai istri? Apa itu?


Zayn memajukan wajahnya ke kelopak telinga Alana.


“Mengandung anakku!” bisik Zayn.


Glek


Suara ludah tertelan terdengar dari Alana. Jantungnya seakan terjun bebas.


Hamil ...


Tunggu dulu .... tolong jelaskan ini, jerit Alana di dalam hati.


Namun harus pasrah, tubuh mungilnya telah terkunci di bawah kungkungan suaminya yang kini telah terus mencumbuinya. Ia tahu suasana sudah tidak aman lagi, mendengar deru napas Zayn telah memburu pertanda jika suaminya ini akan membuatnya menjalankan tugasnya sebagai istri. Tapi tugas kali ini. Ya ampun tak pernah terpikir oleh Alana.


***


Hei, ihhh kangen banget. Maaf ya beberapa hari Sya nginap di rumah sakit.

__ADS_1


Ini aja masih lemes. Badan Sya Sama kaya lemahnya kalau lagi buka tutup botol di depan ayang, meleyot. Lebay yah.


Sekali lagi maaf ya. Semoga nanti bisa up banyak lagi.


__ADS_2