
Setelah menghabiskan beberapa waktu di ruangan gelap, akhirnya semua berlalu, film telah berakhir orang-orang mulai berhambur meninggalkan ruangan. Mereka pun keluar ruangan, melangkah bersama.
“Romantis sekali,” seru Gisel. “Wajah Arion tampan sekali,” tambah Gisel bejalan sejajar dengan Alana.
“Iya, akting Arion sangat bagus,” puji Alana.
Zayn mendengkus, jengah mendengar ocehan dua perempuan ini yang begitu mengagumi Arion.
“Bagaimana filmnya,” suara berat lelaki terdengar membuat perhatian terkalihkan. Mereka pun kompak menatap ke arah sumber suara.
Terlihat pemuda dengan stelan jas berwarna abu-abu.
“Arion,” sapa Alana tersenyum ramah mengenali pemuda itu.
Arion ...
Mendengar kata Alana seketika tubuh Gisel melemah. Yang di sapa Alana adalah Arion idolanya. Ahhh, idolanya berada di sini.
Gisel mendekap mulutnya erat takut jika dia kelepasan lalu berteriak.
“Alana dia Arion,” bisik Gisel pelan dan dibalas anggukan oleh gadis ini.
Arion mendekat, bergabung bersama mereka.
“Zayn kau juga datang,” sapa Arion tersenyum ramah pada sepupunya. Walau pun terheran Zayn bisa berada di sini padahal katanya sangat sibuk.
Tangan Zayn bersedekap di dada. “Emm.” Berdehem tanda iya.
“Aku sedang punya waktu luang,” tambah Zayn memasang wajah datar.
Waktu luang ...
Arion mengerutkan Alisnya, dia sangat tahu kesibukan presdir seperti Zayn. Tidak akan punya waktu luang.
Arion lalu beralih menyapu pandangannya pada Alana.
“Bagaimana filmnya? Maaf aku baru menyapa kalian sekarang. Aku sangat sibuk,” ujar Arion melengkungkan senyuman.
“Film sangat bagus kak, filmnya keren ngak ada suara hatinya,” tutur Alana dengan ceria.
“Suara hati?” Arion mengening dengan ucapan Alana.
“Iya, di negaraku akan ada suara hati yang berkata seperti ini.” Alana mulai memicingkan matanya mencoba mencontohkan sebuah adegan di hadapan Arion.
“Emmm, seperti ini. Telah kuracuni minumanmu, akan aku kuasai seluruh hartamu, haahahahahaha.” Alana memaksakan tawanya dengan kedua tangan memegang pinggang.
“Ha.” Arion terkesiap melihat acting Alana terlihat mengerikan.
Sejenak Zayn pun tercengang, dengan bola mata membulat lalu tersadar. Ya ampun perempuan ini. Selalu saja aneh jika membahas masalah film.
“Hei, ini bukan cerita tentang menantu gila harta warisan,” sembur Zayn.
Duh, gemas sekali dia, melihat tingkah Alana.
Alana berhenti tertawa lalu kembali pada posisinya, memberengut menatap Zayn sinis. Memang begitu kan akting suara hati.
“Seperti itu ... Hahaha.” Kini Arion yang tertawa keras, astaga perempuan ini sangat lucu selalu saja mengundang tawanya.
“Tentu saja tidak,” jelas Arion.
“Iya cerita ini sangat romantis. Aktingmu sangat baik,” puji Alana lalu menaikkan dua jempolnya.
“Benarkah.” Senyum bangga menghiasi wajah Arion mendengar pujian Alana.
Alana mengangguk, mengiyakan.
“Alana kau lupa padaku,” bisik Gisel yang sejak tadi berdiri di samping Alana, namun terlupakan.
Ck, ck Alana terlupa pada Gisel.
Alana menatap Gisel.
__ADS_1
“Jangan mengoceh saja bilang padanya aku meminta foto,” ucap Gisel yang tiba mati kutu di hadapan sang idola, bibirnya seakan terkunci.
“Astaga aku lupa Sel.”
“Arion, perkenalkan ini sahabatku Gisel,” ujar Alana memperkenalkan.
“Jadi ini sahabat terbaikmu, hai Gisel,” sapa Arion dengan senyum mengembang melambaikan tangan pada Gisel.
Suara napas tertahan terdengar dari perempuan itu.
Ah entah sudah seperti apa Gisel, dia bak terbang. Demi apa artis idolanya itu menyapanya.
Zayn mendesis tergelak dua sahabat ini sama saja noraknya jika bertemu Arion.
“Arion dia sangat mengidolakanmu,” tambah Alana.
“Benarkah?”
“Iya, sudah sejak dulu,” sahut Gisel dengan cepat. “Boleh aku minta foto bersama?” pinta Gisel akan keinginan yang sejak lama ia inginkan jika bertemu dengan Arion Miroslav.
“Tentu saja boleh sebanyak apa-pun,” balas sang artis idola.
Lengkungan senyuman menghiasi wajah Gisel. Yes berfoto dengan idola.
Gisel lalu dengan semangat mengeluarkan ponselnya, mulai membidik gambar.
Alana memberikan jarak dan waktu Gisel dan Arion berfoto bersama. Terlihat sekali jika Gisel begitu antusias.
Alana terus menatap Gisel mengambil gambar Arion hingga dia teringat jika dia juga belum memiliki foto artis itu. Walau telah lama mereka sering bersua.
“Aku kan juga tidak punya foto Arion,” batin Alana.
“Aku juga harus berfoto dengan Arion lalu memperlihatkannya pada ibu, ibu pasti bangga. Lalu dia bisa pamer dengan teman arisan pancinya. Lihat nih Bu, Anak saya foto sama artis Jerman,” batin Alana, tersenyum membayangkan ibunya memamerkan fotonya di perkumpulan ibu-ibu.
Uhh Alana gemas sendiri membayangkan ibunya yang akan berucap bangga pada teman arisan pancinya. “ibu akan bilang, anak saya itu. Anak saya itu,” Alana membayangkan ibunya bertingkah norak menepuk dadanya sendiri bangga seperti orang tua lainnya.
Ya seperti itulah gambaran yang ada di pikiran Alana.
Alana baru melangkah satu langkah tangannya telah di cekal oleh Zayn.
“Hei kau mau apa?” tanya Zayn.
“Aku juga ingin foto bersama Arion kak,” kata Alana yang telah siap dengan ponsel di tangan.
Dia juga ingin foto bersama dengan Idola itu.
“Tidak perlu kita harus pulang, aku lapar. Kau harus memasak,” alibi Zayn memberi titah kemudian menarik pergelangan tangan Alana mendekat ke arah Arion.
“Ya kak.” Senyum Alana surut.
Pasangan ini telah berada di depan Arion yang masih berfoto dengan Gisel.
“Kami harus pulang,” pamit Zayn.
Gisel dan Arion terhenti.
“Sudah mau pulang? Cepat sekali, Bagaimana kalau kita makan bersama,” ajak Arion dia baru saja bertemu pasangan ini.
“Tidak perlu, kami makan di rumah saja,” tolak Zayn.
Raut wajah Arion terlihat kecewa.
“Baiklah, laik kali saja,” tutur Arion menatap ke arah Alana.
“Kami pulang dulu,” pamit Alana pada Arion.
“Sel aku duluan,” ucap Alana.
"Baiklah,” balas Gisel.
Zayn lalu menarik tangan Alana untuk segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Mereka melangkah meninggalkan gedung.
“Kak Zayn kenapa kita harus pulang, aku belum selesai. Aku kan juga ingin mengambil foto Arion untuk aku tunjukan pada ibuku,” oceh Alana tak terima bayangan tinggi tentang ibunya akan bangga padanya karena mengirim foto artis Jerman, tapi Zayn malah membuyarkan semuanya.
Uhg, dasar penggangu.
“Itu tidak perlu!” balas Zayn.
“Tapi ibuku pasti bangga jika melihat aku foto bersama dengan Arion. Dia akan berkata seperti ini pada temannya. Anak saya itu, anak saya itu,”jelas Alana mencontohkan ucapan ibunya.
Zayn hanya diam tak peduli ocehan Alana.
“kalau mau pulang kenapa tidak pulang saja sendiri,” oceh Alana.
Mendengar itu Zayn menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah Alana. Alana terkesiap. upsss dia salah bicara, lihatlah wajah Zayn sudah seperti orang yang keluar tanduknya.
Zany melepaskan tangan Alana.
“Kemarikan ponselmu,” ucap Zayn dengan nada dingin.
“Kak,” protes Alana terdiam, mau apa tuan jutek ini dengan ponselnya.
“Aku bilang kemarikan,” desak Zayn tangannya terulur di hadapan Alana dengan netra melotot galak.
Tak bisa terbantahkan
Alana memasang wajah memberengut lalu memberikan ponselnya. Tuh kan dia menyebalkan.
Pasrah Alana lalu menaruh ponselnya di telapak terbuka Zayn.
Alana menatap Zayn mengusap-mengusap ponselnya. Lalu mengangkat tinggi sebelah tangannya yang memengang benda pipih itu. Gadis ini melihat Zayn membuka fitur kamera di ponselnya.
Zayn mendekatkan tubuhnya pada Alana sehingga berdempetan.
“Hei, lihat kemari,” titah Zayn yang mengarahkan ponsel itu membidik ke arah mereka.
Alana mendongkak menatap gambarnya dan Zayn tertangkap layar kamera ponsel.
Zayn mengajaknya berfoto? Hati Alana bertanya.
“Tersenyumlah,” titah Zayn lagi.
Menuruti perkataan Zayn. Dengan kaku Alana lalu menarik ke dua sudut bibirnya.
“1. 2.” hitung Zayn.
Lalu Zany sedikit membungkukan tubuh tingginya, mensejajarkan wajah mereka.
“3.” Ucap Zayn lalu dengan cepat menempelkan bibirnya di pipi Alana.
Cup
Cekrek ... kamera ponsel mengambil satu gambar mereka.
Satu kecupan mendarat mulus di pipi Alana membuat gadis ini tersentak, melotot terkejut dengan apa yang telah di lakukan oleh Zayn.
Jantung Alana seakan jatuh ke dasar perut. Cium ... dia baru saja di cium oleh lelaki jutek ini.
“Tunjukan foto itu pada ibumu, dia pasti bangga memamerkan punya menantu setampan aku,” ucap Zayn dengan bangga memberikan ponsel Alana, kemudian berlalu dengan senyum puas meninggalkan Alana yang masih mematung memegang pipinya.
Apa dia bilang. Mengaku menantu.
Alana mengerjap beberapa kali. Masih tak mengerti
Apa yang telah terjadi? Pemuda jutek itu mencium pipinya dan mengaku menantu. Ini gila ...
like
coment
vote
__ADS_1
maaf kalau agak aneh, atau ngak nyambung udah ngantuk banget, coment ntar di perbaiki.