
Pagi menjelang Zayn telah bersiap menjalani harinya yang sibuk di kantor dengan banyak laporan dan rapat. Namun sebelum itu sesuai dengan rencana semalam jika dia akan mengembalikan wadah makanan Alana, sebelum ia ke kantor.
Dengan menjinjing paper bag, Pemuda ini telah berjalan menuju mobil yang terparkir di mana Ken telah berdiri membuka pintu mobil untuknya.
Zay masuk ke dalam mobil, memangku paperbag itu seolah itu adalah benda yang berharga.
“Ken, sebelum ke kantor, antarkan aku ke salon tempat Alana bekerja. Aku harus mengembalikan wadah miliknya,” ucap Zayn yang duduk di kursi belakang menatap paper bag yang berisi wadah milik Alana.
Ya, walau perempuan itu telah mengoyak hatinya, tapi dia masih peduli, jika benda itu sangat berharga untuk Alana. Sesuai kata Perempuan itu dia akan mendapatkan masalah dari ibunya jika wadah itu hilang. Dan sialnya, sudut hati Zayn tak rela Alana mendapatkan kesulitan. Konyolkan dia, masih perhatian pada perempuan yang menoreh luka padanya dan membuatnya seakan mengila karena tanpa hadirnya.
Tak lama menempuh perjalanan kini mobil yang di kendarai telah berada di depan salon.
Sejenak Zayn terdiam menatap ke arah salon mengamati lekat. Irama jantung Zayn berdentam keras. Dia akan bertemu dengan Alana lagi.
Bertemu dengan orang yang tidak membalas cintanya.
Oh astaga, itu hanya akan kembali membuat perasaannya berdenyut perih, mengingat penolakan Alana. Namun dia harus mengembalikan wadah itu, alibi Zayn, meyakinkan diri. Ia terus bergulat dengan pikirannya yang berselimut keraguan.
Ken yang duduk di kursi kemudi, menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir sepuluh menit mereka berada di depan salon. Tuannya ini masih belum beranjak dari mobil.
Sebenarnya Zayn masih bertarung dengan dirinya, di sisi lain dia tidak ingin menemui perempuan itu lagi dia tahu akan membuatnya terluka, namun di ujung hatinya, bohong jika perasaannya tak tergelitik untuk melihat kembali wajah itu. Dia sangat merindukannya. Uhhh, dia seakan ingin gila.
Menarik napas panjang, Zayn mencoba tenang kelak di hadapan Alana. berusaha menunjukkan dia baik-baik saja. Dan tak lama setelah mengumpulkan keyakinan.
Zayn pun turun, menjinjing paper bag yang berisi wadah berwarna hijau itu, melangkah menuju salon.
Sedangkan itu Gisel yang sedang berada di salon duduk termenung di sofa panjang pengunjung, dia juga kehilangan semangat lagi setelah Alana tak ada lagi di salon ini, tak ada lagi yang mendengar ceritanya.
__ADS_1
Mendengar suara pintu salon terbuka dengan lemah Gisel pun mengarahkan pandangannya, melihat siapa yang datang.
Gisel terlonjak kaget saat maniknya menangkap pemuda tampan dengan setelan jas berwarna putih baru saja melalui pintu salon. Reflek perempuan ini pun berdiri.
Zayn
Untuk apa pemuda itu berada di tempat ini?
“Tu ...tuan Zayn,” sapa Gisel gelagapan mendekat menyambut presdir itu.
Wajah tampan itu hanya memasang raut datar menatap Gisel. Ekor matanya mencoba meneliti keadaan salon mencari keberadaan Alana. namun tak mendapati bayangan perempuan itu.
Baguslah kalau begitu, pikir Zayn.
“Maaf tuan, ada apa Anda kemari?” tanya Gisel langsung.
“Tuan datang mencari Alana?’ tebak Gisel.
Tangan Zayn lalu terulur menyodorkan paper bag pada Gisel. Lebih baik dia menitipkan saja, itu lebih baik dia tidak bertemu dengan Alana.
“Aku hanya ingin mengembalikan ini,” ucap Zayn dengan nada dingin. Dia memutuskan menitipkannya pada Gisel.
Melihat Zayn menyodorkan paperbag padanya, tangan Gisel berangsur menyambutnya. Walau wajah Gisel menyiratkan tak mengerti.
“Wadah itu miliknya, berikan padanya nanti,” pesan Zayn.
Tak ingin membuang waktu, Zayn pun berbalik dia hendak pergi namun baru selangkah.
__ADS_1
“Tuan tidak perlu menitipkannya pada saya, Alana sudah tidak bekerja di salon ini,” papar Gisel.
Deg ...
Langkah Zayn seketika terhenti, mendengar ucapan Gisel. Jika Alana tidak bekerja di tempat ini lagi? Lalu mana dia?
Dengan cepat Zayn kembali berbalik menatap Gisel.
“Anda simpan saja tempat ini,” ujar Gisel lalu mengembalikan paperbag itu pada Zayn.
“Apa maksudmu?” tanya Zayn tak sabaran.
“Dia telah kembali ke Indonesia. Dia tidak akan kembali ke tempat ini,” jelas Gisel memasang gurat sendu.
Pergi ...
Jantung Zayn terasa terjun bebas ke dasar perut. Tubuh Zayn seketika membeku bak tak teraliri darah, mendengar Alana telah pergi dari negara ini. Dan kata. Tak akan kembali lagi membuat Zayn, terenyuh.
Vampir china tak akan kembali, perasaan Zayn seketika bergemuruh.
“Kapan dia pergi?” tanya Zayn kini suaranya terdengar mendesak.
“Saat dia menemui Anda, saat itu sebenarnya dia sedang pamit,” papar Gisel.
Pamit
Paru-paru Zayn terasa kering. Pikirannya di pangkas cepat mengingat pertemuan terakhirnya dengan Alana. bagaimana dia bertengkar lalu mengatakan untuk pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Oh astaga, dia mengusir Alana saat itu. Kembali dadanya Zayn terasa teremat. Ucapannya pasti sangat menyakiti Alana saat itu. Dia benar-benar pergi.
Ahhh Sial. Zayn menyesal mengatakan itu.