
Sebuah motor sport baru terhenti di depan sebuah rumah. Seorang gadis cantik yang duduk di belakang lalu turun setelah deru mesin telah terhenti di tangan kanannya terlihat memengang tas jinjing.
Dengan kedua sudut bibir tertarik, Alana berdiri menatap rumah yang telah beberapa bulan tak ia tempati, karena tertahan di kediaman Zayn. Dan hari ini adalah kebebasannya, akhirnya dia kembali lagi ke rumah ini.
Kembali ke rumah sederhana dan meninggalkan kediaman mewah itu.
Pulang ... ya, karena semua salah paham di antara mereka telah selesai tentu saja Zayn sudah tak punya alasan untuk menahan Alana tetap tinggal bersamanya. Dengan berat hati Zayn harus mengantar perempuan ini untuk kembali ke rumahnya semula sesuai janjinya.
Zayn turun dari motor sport miliknya, berdiri di samping Alana. Ya, Zayn bersikeras memaksa untuk ikut mengatar Alana pulang ke rumahnya. Padahal Alana sudah menolak, karena tak enak hati pada pemuda yang sibuk ini. Namun Zayn tak bergeming, dia harus mengantar Alana pulang ke rumah sebagai bentuk tanggung jawab.
“Jadi ini rumahmu,” ucap Zayn menatap rumah bercat putih yang tidak terlalu besar namun terlihat cukup nyaman.
“Iya kak,” balas Alana sembari mengangguk dan jangan lupakan wajah yang terus di hiasi senyum ceria itu.
“Terima kasih kak karena telah mengantarku,” ucap Alana sebelum ia masuk ke dalam rumah.
Zayn hanya membalasnya dengan anggukan pelan. Jujur perasaannya saat ini sedang gundah, tak karuan bak ada batu besar yang menekan hatinya.
“Kak Zayn terima kasih selama ini menjagaku,” ujar Alana dengan tulus.
Selama hidup bersama dengan Zayn, walau pun Zayn suka seenaknya padanya tapi, dia tidak pernah merasa Zayn jahat padanya. Alana yakin sikap menjaga Kak Vino masih di miliki Zayn untuknya.
Zayn terkesiap dengan ucapan Alana menatap wajah polos itu. Menjaga ... dia tidak melakukan itu, dia menyusahkan perempuan ini tapi lihatlah Alana merasa mendapatkan perlindungan olehnya.
Aneh ... seakan semua baik-baik saja. Dia tidak sedikit pun protes atau berbalik marah, kesal padanya. Setulus itu kah Vampir China ini.
Netra Alana menyorot wajah Zayn yang terlihat tidak seperti biasanya dan Zayn lebih banyak diam, dia pasti sedih karena mengetahui kenyataan jika dia punya saudara tiri yang jahat itu tebak Alana.
“Kasihan kak Vino punya saudara tiri licik dan serakah,” batin Alana dalam hati prihatin.
Alana tidak tahu seperti apa keluarga Vino sebenarnya tapi yang ia tahu jika dengan kekuasaan yang di pegang pemuda ini pastilah dia punya banyak musuh.
“Kak Zayn,” panggil Alana.
“Semangat kak Zayn, semoga saja perempuan jahat itu cepat tertangkap,” tutur Alana memberi semangat dan dukunga untuk Zayn yang terlihat murung.
Zayn yang berdiri dengan tangan melipat di dada hanya mengangguk memasang wajah datar.
“Semoga saja dia mendapatkan karma dari perbuatannya,” tambah Alana kini dia memasang wajah kesal jika mengingat perbuatan Laura pada Zayn.
Dasar perempuan ular, decak Alana dalam hati.
__ADS_1
“Kak Zayn, semoga saja dia mendapatkan balasan, aku doakan Semoga saja kalau dia jalan jari kelingking kakinya kepentok meja,” ucap Alana dengan menggebu.
“Ha,” Zayn tercengang dengan ucapan Alana. Doa apa itu? Vampir China ini.
“Semoga juga kalau dia sikat gigi, kepala sikat giginya kepeleset geser menghantuk gusinya, biar dia sariawan,” kata Alana lagi.
“Dan semoga juga kalau dia masak mie, ngak dapat minyak bumbu. Atau bumbunya menggumpal,” gerutu Alana. Uhg, sebal sekali dia.
Zayn tergelak dengan cengiran samar menghiasi wajahnya. Perempuan ini selalu saja mengatakan hal aneh, dia tidak punya doa yang keren apa. Tapi, mungkin inilah yang akan ia rindukan saat bersama Vampir China ucapan absurdnya, khas warga +62 Indonesia.
Setelah mengucapkan doanya untuk Laura, dia pun merasa cukup, dia harus masuk ke dalam rumah. Alana pun pamit.
“Kak Zayn aku masuk dulu, jaga diri kakak baik-baik" pamit Alana.
Zayn membatu, pamit itu berarti Vampir China ini akan hilang dari pandangannya, mereka akan berpisah dan entah apa mereka akan bertemu lagi.
Zayn hanya diam tak membalas.
Alana telah berbalik melangkah beberapa langkah.
Manik mata Zayn menyorot punggung Alana yang semakin menjauh darinya.
Tanpa sadar tangan Zayn menggantung hendak memanggil Alana, namun tertahan. Sejenak terhenti. Mencoba menahan diri, untuk apalagi dia menahan Alana, pikir Zayn. Namun saat langkah itu semakin menjauh, logikanya hilang.
“Tunggu,” tahan Zayn. Akhirnya menghentikan Alana.
Alana berbalik menatap ke arah pemuda itu.
“Ada apa kak,” tanya Alana mengening.
Zayn menarik napas berat.
“Katakan padaku jika kau membutuhkan sesuatu, aku pasti akan membantumu, jangan sungkannya,” tutur Zayn dia punya hutang budi pada perempuan yang ia panggil vampir China ini.
Alana mengembangkan senyuman. “Baiklah, aku tidak akan sungkan mengatakannya,” ucap Alana lalu kembali berbalik melangkah.
Namun baru selangkah.
“Tunggu,” tahan Zayn lagi, tak membiarkan Alana pergi.
Alana kembali berbalik menatap Zayn.
__ADS_1
"Jaga dirimu baik-baik,” ucap Zayn.
“Kakak tenang saja, aku kan menjaga diri,” balas Alana dengan senyum ceria.
Alana kembali berbalik melangkah.
“Hei, tunggu,” tahan Zayn lagi.
Alana kembali berbalik, ya ampun.
Alana menatap Zayn yang hanya terdiam, berdiri di tempat menunggu apalagi yang akan di katakan oleh lelaki yang ada di hadapannya.
Zayn mencoba menarik napas panjang mencoba mengumpulkan keberanian.
“Terima kasih untuk semuanya,” ucap Zayn dengan tulus, senyum samar menghiasi raut mukanya.
Akhirnya, kata itu keluar juga dari mulut pemuda jutek dan gengsian ini.
Sejenak Alana terdiam seakan tak percaya mendengar apa yang keluar dari tuan jutek ini. Sungguh tak di sangka.
Alana menarik ke dua sudut bibirnya, ah manis sekali dia. Mengucapkan terima kasih padanya pasti pemuda jutek itu telah menurunkan sedikit harga dirinya untuk mengatakan itu.
Alana hanya membalasnya dengan anggukan cepat dan senyuman, lalu kembali melangkah.
Uhh, Zayn benar-benar berbeda saat ini. Gemas sekali dia.
Alana yang kembali melangkah hendak masuk ke dalam rumah. Kini dia telah berada di depan pintu.
“Tunggu!” panggil Zayn.
Ya ampun, ada apa sih dengan pemuda ini, katakan saja semua jangan satu persatu seperti ini.
Alana menghela napas, lagi dia tertahan lalu berbalik, menatap Zayn yang berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah datar. Mau apa dia?
Zayn mengayun langkah cepat mendekat ke arah Alana, tanpa kata lagi Zayn meraih tubuh Alana, menarik pinggang mungil Alana menempel padanya lalu melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Alana, hingga tubuh itu terkunci. setelahnya Sebelah tangan Zayn menarik tengkuk leher Alana, tanpa kata Zayn lalu menempelkan bibirnya di bibir ranum Alana.
Deg ....
Oh astaga. Mata Alana membelalak terkejut, saat bibir mereka bertemu.
maaf ya kalau ngak ngefel, ini buru-buru mau kondangan lagi.
__ADS_1