
Hari terus bergulir dengan damai, Zayn begitu menikmati waktu yang ia habiskan bersama dengan Alana sebagai pasangan suami-istri, hingga terlupa jika ada duri di antara hubungan mereka. Gelombang badai yang siap menghancurkan hubungan mereka.
Hari tenang Zayn kini telah terusik. Pemuda ini kini berada di dalam ruangannya, berdiri di depan meja kerjanya lalu melemparkan berkas laporan dengan kasar. Wajahnya mengeras dengan tatapan memerah kesal setelah mendengar laporan dari Ken.
“Ken bagaimana mungkin ini terjadi!” hardik Zayn meluapkan kemarahannya pada sang asisten yang berdiri berseberangan dengannya.
“Iya tuan para pemegang saham mulai meragukan Anda dan mulai berpihak pada tuan Arion,” jelas Ken.
Arion.
Tangan Zayn terkepal erat, sepupunya itu benar-benar masuk sebagai pengacau.
“Mereka terpengaruh hasutan ucapan jika anda hanya pewaris yang baru di temukan dan lebih memilih Arion cucu kedua yang sejak kecil telah mempelajari bisnis dan tentu lebih kompeten, dan kini tuan Arion menginginkan posisi Anda,” tambah Ken.
Ya sejak dulu ini yang di khawatirkan Ken. Jika Arion masuk ke dalam perusahaan.
Rahang Zayn semakin mengetat mendengar penjelasan Ken.
“Brengsek! Arion! Jadi ini rencananya!” geram Zayn.
“Aku akan menemuinya!” ucap pemuda itu lalu berjalan keluar ruangan.
Setelah beberapa saat Zayn telah berada di dalam ruangan Arion.
Arion yang duduk di kursi kerjanya, mengulas senyum saat melihat sepupunya itu masuk ke dalam ruangannya, memasang wajah jutek khas Zayn.
“Hai Zayn, ada apa kau menemuiku?” sapa Arion seakan tidak terjadi apa-pun.
Zayn melangkah mendekat ke arah meja.
Bruk ....
__ADS_1
Pemuda itu menggeprak meja kerja Arion.
“Apa sebenarnya yang kau rencanakan?” bentak Zayn melayangkan tatapan tajam pada sepupunya itu.
Arion bangun dari duduknya mendekat ke arah Zayn.
“Tidak ada! Aku hanya mencoba mengambil kembali yang seharusnya menjadi milikku!” papar Arion bersikap santai.
“Tempatmu!”
Zayn mendengkus dengan senyum sinis di wajahnya. “Kau hanya cucu kedua,” tekan Zayn.
Arion membalas dengan senyum seringai.
“Bukankah saat aku pergi tempatmu telah menjadi milikku." tatapan Arion berubah tak kalah tajamnya.
Zayn merotasi mata jengah mendengar ucapan Zayn.
“Kecuali ....” Arion menggantung ucapannya menatap Zayn lekat.
"Aku akan berhenti jika kau mau menukarnya dengan Alana,” terang Arion tanpa basa-basi lagi.
Apa! Zayn tersentak.
Amarah Zayn seketika memuncak! Beraninya Arion meminta istrinya.
Tanpa kata lagi ia maju meraih kerah leher baju Arion. Mencengkeramnya kuat.
“Berani-beraninya kau berkata seperti itu! Aku tidak pernah menyangkah kau semenjijikan ini! Kau begitu terobsesi dengan istriku! istri dari sepupumu sendiri,” murka Zayn.
Arion tampak tenang tak ada takut di wajahnya.
__ADS_1
“Istri!” Arion tertawa sumbang dan berhasil membuat Zayn semakin berang.
“Zayn, Zayn. Kau lupa jika dia menikah denganmu hanya terpaksa!” tekan Arion akan pernikahan jebakan yang di lalui Alana dan Zayn.
“Kau ...” berang Zayn semakin mencengkeram leher baju Arion tangannya telah menggantung hendak menghajar sepupunya itu.
“Ingat Zayn, Alana tidak pernah menginginkan menikah denganmu!”
“Diam kau! Brengsek!”
Bruk
Satu tinju akhirnya mendarat di wajah Arion membuat tubuh pemuda itu terhuyung. Kesal sekali Zayn di buatnya. Ya, dia tidak suka mendengar ucapan Arion. Walau kenyataannya benar. Mereka terjebak dalam pernikahan.
Arion mengusap sudut bibirnya yang terasa hangat dengan ibu jari. Pemuda itu malah menghiasi wajahnya dengan senyuman.
“Kenapa kau tidak suka! Aku benar kan,” cibir Arion.
“Apa selama ini kau pernah bertanya perasaannya padamu? Apa dia ingin hidup bersamamu! Dia tidak pernah mencintaimu!” ucap Arion mencoba mengacaukan perasaan Zayn.
“Dia tidak bahagia bersamamu! Selama ini kau hanya memaksanya berada di sisimu! Kau hanya lelaki egois, yang akan terus menekannya!” bentak Arion.
Zayn terdiam, jantungnya berdentam keras, perasaannya seketika di lumuri keresahan. Benar dia tidak tahu perasaan Alana, dan tidak pernah bertanya apakah Alana juga ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersamanya. Ya Zayn sadar selama ini ia menguasai Alana dengan tugas sebagai istri, tanpa pernah bertanya apa keinginan istrinya itu.
Apakah dia harus tahu dan bertanya perasaan Alana padanya?
****
Ih Sya sebel deh sama Arion. rasanya sama kaya sebelnya baru juga duduk, eh, langsung diteriakin lagi nyuruh matiin keran air, kan sebel.
Awas yah kalian balas sebel sama Arion, sama kaya sebelnya Sya yang up dikit.🤣🤣🤣
__ADS_1