Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
Tugas baru


__ADS_3

Pesta telah berakhir, dua insan manusia kini berada di dalam kamar. Alana telah membersihkan diri, berbaring di kasur dengan tubuh bersender di puncak tempat tidur.


Irama jantungnya berdetak dengan cepat. Malam ini adalah malam pertama kalinya lagi ia akan satu ranjang dengan suaminya setelah semua yang terjadi.


Ya, karena ibunya tidak membiarkan Zayn bersama dengan Alana, jika belum mengadakan acara pernikahan. Yah seperti di pingit, sebab itulah Zayn dan Alana belum banyak bicara. Dan malam ini mereka berada di dalam satu kamar lagi, entah mengapa Alana begitu gugup. Bak pengantin baru saja dia. Ya ampun padahal dia kan, selalu melalui malam panas bersama dengan lelaki itu, kenapa sekarang dia malu-malu.


Alana tersentak saat menatap Zayn telah membersihkan diri dan mengenakan pakaian santai melangkah mendekat ke arah ranjang. Zayn duduk di sisi tempat tidur dihadapan Alana.


Zayn menatap wajah Alana dengan intens, sungguh dia masih tak percaya jika perempuan yang telah menjadi istrinya ini adalah adik yang ia sayangi.


“Kak Vino,” lirih Alana pelan tertunduk malu saat Zayn terus menatap wajahnya dengan tatapan lembut.


Zayn mengukir senyum di wajahnya, lalu tangannya terulur menarik pelan telinga Alana.


“Aduh kak Vino kenapa menjewerku,” pekik Alana mengusap telinganya.


“Dasar nakal, berani sekali pergi ke Jerman sendiri, membohongiku lagi,” ucap Zayn berkata layaknya jika yang ada di hadapannya ini adalah Nana adiknya. Kini dia punya waktu untuk membahas semua masalah dengan Alana.


Alana membalas dengan cengiran. "Kalau aku bilang pada kak Vino pasti saat itu juga kak Vino pasti akan menyuruhku pulangkan!” balas Alana.


Zayn mendengkus, “Aku tidak akan menyuruhmu pulang, tapi aku sendiri yang akan menyeretmu pulang,” balas Zayn.


Tuh kan, karena itulah Alana bertahan tak memberi tahu Zayn jika dia adalah adik kesayangannya, tujuannya pasti terhenti saat itu juga.


Zayn meraih tangan lembut itu, menatap manik Alana. “Maaf, saat itu aku berbuat kasar padamu," ucap Zayn dengan penuh rasa bersalah. “Aku bahkan tak memanggilmu dengan baik, kau pasti terluka saat itu.” Kenang Zayn dia awal pernikahan mereka.


Alana menarik ke dua sudut bibirnya, melihat wajah jutek itu telah berubah lembut. Inilah Alvino Dirga yang ia kenal lembut dan penyayang.


“Kak Vino sudahlah, aku suka dengan nama itu. Vampir China. Anggap saja nama kesayangan.”


Zayn lalu berganti posisi sejajar dengan Alana menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya mencium puncak kepalanya dengan sayang.


“Aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi.”


Zayn mengangkat wajah Alana, pandangan mereka saling mengadu dalam tatapan binar cinta.


“Kita akan memulai semua dari awal, aku berjanji akan menjadi suami yang baik, menjadi kepala rumah tangga yang baik untukmu dan anak kita.” Zayn beralih mengusap perut Alana yang masih rata. Lagi dia terharu buah cintanya telah tumbuh di perut istrinya. Tak lama lagi dia akan memiliki keluarga kecil.


Zayn terus mengusap perut Alana, membelai dengan lembut membuatnya merasa nyaman. Alana Menutup matanya merasakan lembut belaian tangan itu terasa hangat dan penuh dengan sayang.


Kelopak mata Alana yang tertutup seketika terbuka lebar saat tangan Zayn telah nakal menyelusup di balik baju tidur yang ia kenakan.


Alana menatap suaminya pancaran matanya telah berubah.


“Kak Vin,” protes Alana.


“Sudah berapa hari ini kau tidak menjalankan tugas istri,” bisik Zayn membuat tubuh Alana seketika meremang.


Tugas istri. Hal wajib yang setiap malam mereka lakukan dulu. Kini sudah sekian lama mereka tidak melakukan penyatuan, dan kali ini suaminya ini menagihnya.


Glek ...


“Mulai malam ini kau sudah tidak mengerjakan tugas istri lagi, tapi aku yang akan mengerjakan tugas suami,” jelas Zayn.


“Tugas suami,” ulang Alana.


“Iya tugas suami memberikan nafkah untuk istrinya, dan ini adalah nafkah yang akan kau terima setiap malam dariku.”

__ADS_1


Apa ...


Alana membelalak.


Alana belum berkata tubuhnya yang sejak tadi bersandar di puncak ranjang kini telah berbaring.


“Terimalah tugas suamimu ini,” ucap Zayn dengan senyum seringai.


“Oh astaga mau tugas istri atau tugas suami tak ada bedanya, sama saja melalui malam panjang!” jerit Alana di dalam hati.


Zayn mulai menindih tubuh Alana, Netra mereka bertemu, memancarkan cipratan-cipratan rindu. Sepasang jantung berdetak dengan cepat. Malam ini mereka akan kembali menghabiskan malam syahdu dan kali ini rasanya lebih berbeda ada jutaan cinta dan rindu siap untuk meledak.


Alana menutup kelopak mata sayu saat wajah Zayn semakin maju mengikis jarak di antara wajahnya. Bibir mereka akan bertemu. Saling menyecap. Tinggal sedikit lagi ...


Tok ... tok ...


Suara ketukan pintu kamar membuat mereka terhenti. Ah sial, decak Zayn di dalam hati padahal tinggal sedikit lagi.


Siapa yang mengetuk pintu kamar mereka, mengganggu saja. Malam indah mereka menjadi tertunda padahal tubuh Zayn telah memanas.


Zayn menatap ke arah pintu yang ketukannya semakin mendesak. Tak ada pilihan lain.


“Mengganggu saja,” batin Zayn berdecak kesal.


“Aku akan membukannya,” ucap Zayn beralih mengecup kening istrinya.


Pemuda ini lalu turun dari ranjang menuju pintu. Melihat siapa yang mengganggu malam syahdunya.


Zayn membuka pintu kamar, mengerutkan alisnya saat melihat perempuan paruh bayah berdiri di ambang pintu.


“Ibu!” seru Zayn melihat ibu mertuanya. “Ada apa bu?” tanya pemuda itu.


Langkah ibu Salma membawa Zayn ke sebuah ruangan yang terdapat lemari-lemari kaca. Di sana Zayn telah melihat Milan berdiri meneliti isi lemari. Untuk apa Milan juga berada di ruangan ini tanyanya dalam hati.


“Mau apa bu?” tanya Zayn masih tak mengerti.


“Tuh urusin panci ibu berantakan habis pesta,” ujar ibu Salma santai.


What ....


Susun panci


Bak di sambar petir Zayn mendengar ucapan perempuan yang telah menjadi mertuanya ini. Dia sudah membayangkan akan melalui malam indah dia malah di suruh menyusun panci.


“Ya bu, masa susun panci,” protes Zayn dengan wajah memelas, semua rencananya buyar karena panci.


“Iya, lap lalu susun yang rapi,” titah ibu Salma.


“Bu lain kali saja. Malam pertama nih,” rengek Zayn memasang wajah memelas. Bagaimana tidak mereka baru saja bertemu dan mengadakan pesta. Ini bisa di sebut malam pertama lagi setalah beberapa hari tak bertemu.


“Malam pertama apanya! Udah tekdung gitu,” sembur ibu Salma agak sebal dia.


“Ibu aku panggil orang lain ya? aku bayar jasa yang membantu membereskan panci ibu,” putus Zayn.


“Ibu tidak mau, pakai orang asing,” tolak ibu Salma.


Menolak, Zayn tersentak.

__ADS_1


Milan yang tak jauh dari mereka. Menutup mulutnya rapat, melihat Zayn yang memelas. Susah payah Milan menahan tawanya yang akan meledak, melihat nasib tragis lelaki yang katanya akan melalui malam pertama ini, malah berakhir menyusun panci. Milan sangat tahu mertuanya ini tak mempan di sogok, andai memang sejak dulu dia telah melakukan itu.


“Ayolah bu, jangan malam ini. Nanti Vino beliin panci baru deh, yang lebih bagus,” Zayn mencoba menyogok ibu mertua penggila panci ini.


“Ibu tidak mau, ibu nggak terima sogokan,” tolaknya dengan tegas. “Sudah pergi sana. Lap yang bersih lalu susun yang rapi,” jelasnya lagi.


Zayn mendengus saat menatap Milan yang tersenyum seakan mengejeknya.


Ibu Salma pun akan melangkah keluar, Milan pun berjalan mendekat ke arahnya.


“Nak Milan mau ke mana?” tanya ibu Salma melihat menantu pertamanya ini akan pergi.


“Tidur bu, mau kelonan sama istri,” jawab Milan dengan senyuman mengembang.


“Trus gimana tugas kamu susun panci?”


“Kan ibu sudah punya menantu baru, jadi gantian bu.” Milan menatap Zayn dengan senyum mengejek.


“Kamu Tidak boleh pergi!”


Apa


Rahang Milan seakan ingin jatuh mendengar ucapan mertuanya.


“Kamu ini, sebagai menantu senior, kamu harus membimbing junior kamu. Dia masih baru nggak tahu dan hafal berapa panci susun ibu, berapa wadah plastik ibu, berapa piring, sendok, rantang susun ibu, Cuma kamu yang tahu dan hafal. Tugas kamu mengajarinya dan tulis yang mana yang kurang lalu cari,” jelas ibu Salma panjang lebar.


“Yah bu,” protes Milan, mengira dia telah terbebas dengan hadirnya mantu baru.


“Jangan protes, cepat kalian kerjakan berdua,” ujar ibu Salma kemudian berlalu.


Zayn dan Milan berdiri tertegun menatap ibu Salma. Baru beberapa langkah perempuan paruh bayah itu berbalik. “Lap sampai kinclong,” mata ibu Salma memicing kemudian berlalu.


Zayn dan Milan kompak menghela napas berat, tertunduk lemah. Tidak ada pelukan kehangatan dari istri tercinta, mereka malah berakhir dengan mengurus koleksi panci mertua.


Malam semakin larut, kantuk telah menyerang.


“Sampai kapan aku menyusun panci ini,” keluh Zayn.


“Aku saja yang sudah punya anak tiga belum lepas dari hukuman ini,” ujar Milan. “Apalagi kau!” cibir Milan.


Zayn merotasi mata malas.


“Kau menelantarkan putrinya selama dua tahun tentu saja dia terus menghukummu,” cibir Zayn mengingat hubungan Milan dan Nara dulu yang sempat terpisah selama dua tahun.


Milan mendengkus mendengar ucapan Zayn.


“Lalu bagaimana denganmu, anak kesayangannya pulang dari Jerman dalam keadaan hamil, pulang sendiri lagi,” cibir Milan tak kalah sinisnya.


Ya ampun mereka mengungkit kesalahan.


Zayn hanya berdecak sebal.


Ya tuhan malam pertamanya malah di habiskan bersama dengan mantan rivalnya.


****


Sya kok Alana masih manggil Zayn kakak sih, kan karena mereka sudah suami istri. Ya gimana dong, kalau Alana manggil sayang atau ayang Sya kok mual ya. Rasanya sahur daun ubi tumbuk mau keluar nih.

__ADS_1


Bilang aja Sya iri, idih iri sama mereka. Sorry yah, kalau Emang benar kenapa? Mode nyolot.


__ADS_2