
Alana berdiri di ambang pintu, mengerjapkan kelopak mata berkali-kali saat menatap pemandangan yang ada di hadapannya. Setelahnya, lagi tangan Alana mencoba mengucek kelopak matanya memastikan jika dia tidak salah melihat.
Siapa tahu saja dia berhalusinasi. Bagaimana tidak ini sudah larut malam tepatnya pukul 1 malam dan dia yang telah masuk ke dalam alam mimpi, terbangun saat suara bel rumah terus berbunyi, mendesaknya untuk membuka pintu. Hingga dia harus merias kilat wajahnya, untuk menutupi wajah buruk rupanya. Untung saja dia tidak lupa.
“Kak Zayn!” pekik Alana seakan tak percaya.
Oh astaga, untuk apa pemuda ini kemari? Batin Alana bertanya-tanya.
Sementara itu Zayn hanya berdiri mematung di tempat, menatap lekat Alana. Hatinya seketika berdesir hebat saat kembali menatap wajah cantik dengan make up tebal yang selama ini bermain-main di pikirannya. Seakan keresahan yang di rasakannya beberapa hari ini menghilang seketika saat melihat wajah itu lagi.
“Kak Zayn untuk apa kemari?” tanya Alana sedikit cemas, apakah ada sesuatu yang penting hingga datang di saat tengah malam seperti ini. Apalagi melihat Zayn yang hanya mengenakan pakaian tidur. Buru-buru sekali dia.
Kak Zayn! Mendengar panggilan itu lagi.
Jantung Zayn seketika berdebar kencang, bergemuru saat mendengar panggilan itu lagi dari Alana. Dan benar. ternyata bertemu dengan Vampir China ini bisa membuat kegalauannya selama berhari-hari menguap, menghilang seketika.
“Kak Zayn,” panggil Alana lagi saat melihat Zayn hanya terus menatapnya dan diam seribu bahasa.
“Kak Zayn,” ulang Alana.
Ya ampun kenapa sih dia?
“Kak Zayn! Ada apa? Apa ada hal yang penting?” suara Alana sedikit meninggi, membuat Zayn tersentak.
Zayn tersadar, menyimak pertanyaan Alana.
Untuk apa dia kemari? Ya tentu saja siapa pun akan heran. Pikiran Zayn di pangkas cepat mencari jawaban yang tepat. Tidak mungkin dia berkata jika dia sedang gelisah dan terus di bayang-bayangi oleh wajah Alana.
“Aku ... Aku ....” Zayn terbata.
“Aku lapar!” ucapnya dengan cepat. Hanya itu kata yang bisa dia ucapkan.
Dan memang benar kan, beberapa hari ini jadwal makannya berantakan karena dia kehilangan selera makan.
“Ha.” Mulut Alana terbuka mendengar pengakuan Zayn.
Apa dia bilang tadi? jam segini datang ke rumahnya mengatakan dia lapar. Padahal dia sudah cemas sekali. Ternyata hanya lapar.
__ADS_1
“Kakak belum makan? Bukankah kakak punya banyak pelayan?” papar Alana.
Memang itu kenyantaannya kan.
“Sudah jangan banyak tanya. Anggap saja aku sedang bertamu. Dan kau harus menjamu tamu ini?” ucap Zayn santai lalu menorobos tubuh Alana masuk ke dalam rumah, tanpa izin.
Alana mendesah kasar. ck bertamu katanya, mana ada orang bertamu di jam segini.
Zayn melangkah sembari mengedarkan pandangan melihat tatanan rumah Alana. Sederhana, bersih dan rapi.
Sedangkan Alana hanya melangkah pelan di belakangnya.
Pemuda ini berbalik menatap Alana.
“Hei apa kau tidak menyiapkan sesuatu untuk aku makan? Aku ini tamu." Zayn yang katanya sedang bertamu.
Alana menggeleng pelan.
“Tidak ada kak.” Sebenarnya dia masih bingung, dengan keadaan di rumahnya sendiri. Pemuda jutek ini datang ke rumahnya untuk mencari makanan. Ini sangat aneh.
“Kau tidak punya sesuatu untuk aku makan.”
"Aku hanya punya mie instan kak,” tutur Alana.
Mendengar itu Zayn terdiam sejenak menimbang.
“Yah, Baiklah Mie instan itu saja,” putusnya.
Tergelak mengendikan bahunya, Alana lalu mengayun langkah menuju dapur, menyiapkan makanan untuk pemuda jutek yang katanya sedang bertamu di rumahnya.
Zayn kini berada di meja makan, iris matanya sedang terfokus pada Alana yang sedang memasak mie instan untuknya.
Ahh, sial inilah moment yang sangat ia rasakan kehilangan selama berhari-hari saat Vampir China tak ada lagi di rumahnya. Bagaimana Alana berkutat di depan kompor sedangkan dia yang akan menunggu hasil masakan Alana.
Tanpa sadar sudut bibir Zayn tertarik, menatap Vampir China itu lagi memasak untuknya.
Setelah beberapa saat Alana pun menghidangkan satu mangkuk mie instan dengan asap panas mengebul.
__ADS_1
“Sudah jadi kak.”
Zayn menatap mangkuk yang berisi mie instant dengan mata berbinar. Air liurnya seakan menetes, aneh memang hanya mie instan buatan Vampir China sudah membuat selera makannya bangkit.
Zayn mulai menyeruput kuah hangat mienya dengan sendok. Rasanya benar terasa berbeda. Zayn mulai menyendok mienya, makan dengan lahap.
Alana hanya menatap Zayn dengan alis berkerut dalam. Pemuda itu makan dengan lahap, terlihat sangat kelaparan. Padahal itu hanya mie instan.
Hanya beberapa suap mie di mangkuk Zayn sisa setengah, Zayn lalu mengangkat pandangannya menatap Alana.
“Apa kau punya nasi? Aku mau mencapurnya?” tanya Zayn.
Nasi ...
Hah ... Lagi Alana tercengang saat Zayn bertanya nasi padanya.
“Nasi.” Alana menatap heran Zayn selapar itu kah dia. Dari mana saja pemuda ini?
Mengabaikan sesaat rasa herannya.
“Ada kak,” ujar Alana kemudian bergerak menyendok nasi di dalam penanak nasi.
Setelah menaruh satu piring nasi di hadapan Zayn, Alana kembali duduk menatap Zayn makan dengan lahap.
“Ya ampun kak Zayn makan banyak sekali, dari mana sih dia? Kenapa bisa selapar itu? Dia makan udah seperti habis jadi kuli bangunan, apa mungkin dia ketempelan?" batin Alana dalam hati terus menatap Zayn yang menikmati makanannya.
///
Waktu telah menunjukkan dini hari, Zayn telah berada di kamarnya setelah sukses membuat Alana bingung setengah mati karena dia berkunjung menjadi tamu dadakan di tengah malam yang larut.
ya, dapat di pastikan jika Vampir China itu pasti masih terheran-heran dan bertanya-tanya. otak polos perempuan itu tidak akan menyadari jika dia telah mengaduk-gaduk perasaan seseorang.
Zayn berbaring di ranjang, sembari mengingat kilasan saat tadi dia bertemu dengan Alana untuk yang pertama kalinya lagi, setelah mereka berpisah selama seminggu.
Melihat senyuman itu, mendengar suara itu lagi.
Zayn memegang dadanya yang terasa terus berdebar kencang saat mengingat wajah itu. Mengapa bertemu sesaat dengannya telah membuang semua rasa gelisah dan gundahnya.
__ADS_1
Perasaan ini adalah sebuah perasaan rindu yang selalu dia rasakan hanya pada satu orang perempuan. Kenapa sekarang ia merasakan pada Vampir China itu. Lalu bagaimana kini perasaannya pada perempuan yang telah menghuni hatinya selama bertahun-tahun.
Apakah mungkin perempuan yang bertahun-tahun menempati hatinya, telah terganti? Pada perempuan yang baru ia kenal beberapa bulan. Tanya Zayn dalam hati. Mungkinkah itu?