Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
pergi


__ADS_3

Jutaan bintang telah menghiasi langit malam. Di taman bunga yang terlihat begitu indah telah di hiasi dengan cahaya teraman serta air mancur yang mengucur, bunga-bunga yang cantik, hiasan lampu-lampu semakin membuat taman itu terlihat menakjubkan.


Malam ini adalah waktu yang di katakan oleh Zayn. Hari yang menentukan nasib biduk rumah tangganya dengan Alana. Apakah pernikahan mereka berlanjut ataukah berakhir.


Zayn telah berdiri di taman di depan air mancur, mengenakan tuxedo putih, wajah tampannya tersirat jelas gurat cemas. Sesekali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam namun Alana belum juga menampakkan diri. Membuat perasaan Zayn semakin kalut di selimuti keresahan.


“Kau di mana?” batin Zayn bertanya-tanya.


Sementara Zayn menunggu dengan gelisah. Di tempat lain, Alana berada di salon menghabiskan waktunya di tempat kerjanya. Ia enggan beranjak.


Alana duduk termenung di sofa panjang, tatapannya kosong. Ia tahu saat ini Zayn pasti telah menunggunya di taman. Tapi dia menahan diri untuk tidak pergi, walau dadanya terasa sesak dan rasanya sebagian tubuhnya berontak ingin lari ke taman itu.


Ada banyak pertimbangan dan ketakutan di dalam hati Alana. Di awal pernikahan ada banyak rahasia yang ia simpan, bagaimana jika rahasia itu terungkap dapatkah pemuda itu menerimanya.


Gisel yang masih berada di salon, menarik napas berat sudah seharian Alana hanya diam termenung. Bahkan sudah seharian Alana belum makan karena memikirkan Zayn. Sahabatnya itu hanya uring-uringan.


“Alana kau belum pergi?” tanya Gisel membuyarkan lamunan Alana.


Gisel sudah tahu semua dari cerita Alana tentang taman itu. dan malam ini adalah penentu hubungan Alana dan Zayn.


“Aku bilang kau harus pergi! Cepatlah dia telah menunggumu!” ujar Gisel sudah sejak tadi ia menyuruh Alana pergi namun perempuan itu hanya diam tak beranjak.


Gisel lalu duduk di samping Alana.


“Lan apa yang kau pikirkan, pergilah,” kata Gisel akan berbicara dari hati ke hati dengan sahabatnya.


“Aku tidak perlu pergi, lebih baik seperti ini. Kami berpisah lalu kembali menjadi orang asing,” ucap Alana pelan.


Uhh, dada Alana seakan teremass kuat. Akan keputusannya. Sudut hatinya juga terasa tak rela.


"Kenapa kau bicara seperti itu?”


“Kau tahu kan aku kemari hanya untuk bekerja. Aku khawatir ibu dan kak Nara akan kecewa, jika tahu aku telah menikah dengan kak Vino tanpa memberi tahu mereka,” jelas Alana akan ketakutannya.


Membayangkan bagaimana sulitnya dia meyakinkan ibunya jika dia akan menjaga diri di Jerman. Dia malah menikah.


Gisel mendengkus akan pertanyaan Alana.

__ADS_1


“Ya ampun Alana, walau pun nanti keluargamu kecewa itu hanya sedikit. Mereka pasti bahagia, kau menikah dengan pemuda yang baik, apalagi mereka sangat tahu bagaimana sifat Zayn. Tentu ibu dan kakakmu setuju kau menikah dengannya. Jadi itu bukan Alasan untuk tidak pergi,” jelas Gisel gemas sekali dia.


Alana terdiam, memang benar yang di katakan oleh Gisel. Bahkan jika saat ini Zayn datang ke rumahnya dan memintanya pada ibunya. Ibu dan kakaknya pasti tidak akan menolak, karena kebaikan Zayn pada keluarganya.


Gisel lalu berdiri, meraih tangan Alana.


“Sudah pergi sana apalagi yang kau ragukan?” usir Gisel menarik tangan Alana untuk bangkit.


Alana hanya diam di tempat tak bergerak, menahan tubuhnya.


“Sel, Bagaimana dengan kak Zayn? Bagaimana jika dia tahu aku Nana, adik sahabatnya yang sudah dianggap adik sendiri. Dia pasti kecewa dan merasa di bohongi.”


Gisel berdecak. Oh Tuhan Beri sedikit saja kepercayaan diri pada sahabatnya ini.


“Memangnya kenapa? Takdir yang mempertemukan kalian lagi dan menikah. Itu namanya kalian berjodoh. Kalian sudah di takdirkan bersama,” ujar Gisel.


“Ayo sudah pergi sana!” lalu semakin menarik tangan Alana.


Alana menepis tangan Gisel yang terus menariknya untuk pergi bak seakan menyeretnya untuk bertemu Zayn.


“Sel hentikan! Jangan lupa aku si buruk rupa!” Nada suara Alana meninggi. Kini tetasan air mata telah jatuh membasahi pipi.


Alana mengeluarkan ketakutan terbesarnya.


“Kak Zayn bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik, aku buruk rupa tidak pantas untuknya,” lirih Alana tertunduk, ia terisak. meremmas ke dua tangannya.


Gisel diam mematung, denyut sakit merayapi hatinya melihat Alana. Ya lagi masalah kepercayaan diri Alana yang begitu rendah, karena wajahnya.


Gisel lalu jongkok di hadapan Alana, menangkup wajah Alana.


“Alana kau perempuan yang baik dan dia hanya menginginkanmu, Lagi pula ini hanya sesaat begitu kau operasi. Semua akan kembali,” jelas Gisel menyakinkan Alana.


Alana membisu menatap Gisel.


“Aku tahu Alana, aku bisa melihat kalau kau juga mencintainya. Kau telah jatuh cinta padanya,” papar Gisel.


Cinta. Benar kah?

__ADS_1


Apakah perasaannya selama ini telah berubah?


Yang Alana tahu, entah sejak kapan irama jantungnya selalu berdetak kencang jika bersama dengan Zayn.


Jika itu memang cinta, ya Alana mengakui jika dia kini mencintai kak Vinonya.


“Si jutek itu cinta pertamamu kan,” goda Gisel dengan senyum mengejek.


“Sel,” protes Alana. Sahabatnya ini selalu saja bercanda.


“Sudah kau harus pergi.” Gisel lalu memegang tangan Alana. “Kejar cinta pertamamu. Kau harus hidup bahagia dengannya. Sudah cukup kau bersedih dengan wajahmu, kini kau telah mendapatkan cinta tulus seorang lelaki yang menerimamu apa-adanya. Kau tidak perlu risau lagi, kau tinggal ke tempat itu. lalu jalankan rencana Zayn, bertemu keluargamu dan hidup bahagia bersamanya, selamanya,” bujuk Gisel.


“Kau mau pergi kan?” tanya Gisel setelah menjelaskan dan meyakinkan Alana.


Alana menarik ke dua sudut bibirnya. Ternyata sahabat mesumnya ini bisa meyakinkannya dan membuat perasaannya tenang.


Alana tersenyum lebar lalu mengangguk.


“Iya Sel, aku akan datang dan melanjutkan pernikahan ini,” ucap Alana dengan keyakinan.


Yess ...


Ya ampun Alana yang akan pergi, Gisel yang begitu girang.


Gisel yang sejak tadi jongkok di hadapan Alana, berdiri lalu menarik tangan Alana untuk bangkit dari duduknya.


“Ayo, aku akan mendandanimu untuk bertemu dengannya. Aku akan membuatmu sangat cantik,” kata Gisel dengan antusias.


Alana hendak melangkah bersama Gisel, tertahan saat ia merasakan, perutnya bergejolak seakan ada sesuatu yang harus di keluarkan.


Uwek .... Uwek ...


“Tunggu sebentar Sel, aku mual. Aku ke toilet dulu,” jelas Alana, membekap mulutnya dengan telapak tangan lalu berlari menuju toilet salon.


Gisel hanya menarik napas berat. “Cepatlah!” teriak Gisel.


****

__ADS_1


Ya ampun, Alana cepat pergi, makan waktu aja nih. Ya Tuhan semoga Alana langsung pergi, ngak singgah dulu pencet komedo di spion motor, makin lama dah lagi.


__ADS_2