
“Alana kau hebat! Sekarang Zayn bersikap manis padamu,” heboh Gisel memegang bahu Alana yang duduk di kursi di dalam salon.
Alana bisa menaklukkan Zayn si jutek adalah harapan Gisel sedari dulu. Sekarang lihatlah gemas sekali dia.
Alana merotasi mata malas, kenapa juga kak Zayn menciumnya di hadapan Gisel, sekarang lihatlah perempuan centil dan mesum ini begitu antusias.
“Dia pasti sudah mulai menyukaimu!” papar Gisel menarik kesimpulan.
Alana tersenyum miring, mendengar ucapan Gisel.
Menyukainya ...
“Jangan bicara sembarangan sel.” Alana menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Lihatlah tadi dia menciummu, berarti dia menyukaimu.”
“Itu tidak mungkin Sel,” tepis Alana dengan cepat. “Memangnya apa yang ia liat dari perempuan bermake up tebal seperti wajah Vampir china, sepertiku,” ucap Alana merendah. Dan memang itu kenyataannya. Zayn bahkan memanggilnya begitu.
Alana lalu menegakkan tubuhnya, membusungkan dadanya. “Lihat badanku juga ngak seksi, ngak ada lekukan, lurus kaya sodokan kue putu,” rancau Alana mengingat ucapan Zayn pada Alana. Yang mengatakan lelaki itu tidak akan tertarik padanya. Alana bukan tipe ideal Zayn si presdir.
Ya wajar saja, Presdir seperti Zayn seharusnya mendapatkan perempuan yang memiliki wajah secantik dewi dengan body aduhai. itulah pasangan terbaik yang cocok untuk Zayn.
Gisel menepuk jidatnya, gemas. ya ampun merendah sekali dia.
“Lan ingat cinta itu tidak memandang apa-pun. Cinta bisa datang karena mulai terbiasa denganmu. Dia nyaman denganmu," jelas Gisel panjang lebar.
Alana kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Ya ngak mungkinlah Sel. Di mata presdir hebat dan sekelas kak Zayn, orang sepertiku ini hanya kaya acar kondangan, ngak penting dan di pinggirkan,” tutur Alana nemepis pikiran Gisel. lagi merendah.
“Ya ampun Alana kau ini! Dia melihat kebaikan hatimu. Jadi percaya dirilah sedikit. Zayn pasti akan mencintaimu,” terang Gisel.
Uhg, gemas sekali dia, nyata-nyata si jutek itu telah menciumnya. Jika tidak suka dia tidak akan menyentuh Alana dan bersikap dingin sama seperti yang sering Alana terima.
Alana lalu bangkit dari duduknya. Tak ingin pembicaraan ini berlanjut.
“Sudahlah Sel! Tak akan ada cinta untuk perempuan buruk rupa seperti aku,” lirih Alana memegang sebelah pipinya kemudian berlalu memasang wajah sendu.
Gisel mematung menatap nanar kepergian Alana. Dadanya terasa tersayat perih mendengar ucapan sahabatnya.
Gisel mengerti, Alana memang tidak punya kepercayaan diri. Wajah buruk rupanya itu selalu saja membuat Alana merasa tak layak dan tak pantas untuk siapa pun. Karena itulah Gisel sangat tahu jika Alana tidak ingin mengenal cinta, bahkan tak pernah memupuk harapan untuk jatuh cinta pada lawan jenis.
****
Cahaya keemasan telah menghiasi langit senja. Waktu bekerja hari ini sudah cukup saatnya untuk pulang ke rumah.
“Kak Zayn kenapa sih? Kenapa dia berubah baik dan perhatian, tingkahnya berubah, manis, kaya orang mau minjam duit,” batin Alana sejak tadi. Kini duduk di atas motor menatap punggung lelaki yang sedang memboncengnya ini.
__ADS_1
Ya, lagi dan lagi Alana bertanya dalam hati ketika Zayn datang ke salon untuk menjemputnya. Rasanya Alana tak enak hati, seakan dia telah menyusahkan presdir ini.
Alana terus bergulat dengan pikirannya. Mesin motor yang di matikan membuat Alana tersadar. lalu melihat sekitar ternyata ia telah berada di depan rumahnya.
Dengan cepat Alana turun dari motor. Membuka helm yang ia kenakan.
“Terima kasih kak,” ucap Alana dengan senyuman. Bagaimana pun dia harus berterima kasih, walau dia tidak memintannya.
Zayn hanya membalas dengan anggukan.
“Masuklah,” ujar Zayn dengan lembut, lalu memutar kunci motor, menghidupkan mesin motornya. Zayn juga harus pergi sebelum malam menjelang.
“Sekali lagi terima kasih, kak Zayn ngak mampir dulu?” tawar Alana basa-basi tersenyum ramah menunjuk rumahnya dengan ekor mata. Mewarkan Pada pemuda yang telah bersiap memutar gas di stang motor, akan pergi.
Ya. ucapan basa-basi seperti yang sering orang lakukan untuk menunjukkan keramahan.
Alana mengernyit bingung saat Zayn yang bersiap pergi itu, malah mematikan mesin motor, melepaskan kunci motornya lalu membuka helm yang ia kenakan.
Alana terkejut mundur beberapa langkah, saat Zayn malah turun dari kendaraannya. Dan kini berdiri di sampingnya.
Ya ampun, mau apa dia? Kenapa turun dari motor, bukankah seharusnya dia pulang. Tinggal tancap gas saja tadi.
“Kak Zayn mau apa?” tanya Alana menatap heran.
“Hei kau lupa, Kau kan menyuruhku mampir,” sosor Zayn pemuda gengsian yang tidak bisa melihat peluang. Kini seringai menghiasi wajahnya.
Alana tersentak kaget ... melotot terkejut.
Uhg, benar-benar di luar dugaan Alana, presdir ini akan berkunjung ke rumahnya lagi ...
Alana memasang wajah memberengut, menatap Zayn yang telah melangkah lebih dulu ke arah pintu rumah, meninggalkan Alana yang masih berdiri mematung.
“Ihh, kak Zayn. Dasar, apa dia tidak tahu namanya basa-basi,” decak Alana lalu menyeret langkah hendak masuk ke dalam rumah.
Basa-basi Alana telah membuatnya sibuk, kini dia berada di dapur memasak makan malam untuk Zayn.
ini adalah pelajaran berharga untuk Alana jangan berbasa-basi dengan Zayn Arsenio. Karena di kamus pemuda jutek itu tidak ada kata basa-basi.
Setelah berkutat di dapur Alana pun menghidangkan makan malam. Pasangan ini pun makan bersama di iringi obrolan ringan.
Tak ada wajah jutek lagi dari Zayn maupun dari Alana yang selalu memberengut jika mendapatkan ucapan pedas dari Zayn.
Kali ini mereka terlihat akur dan akrab.
Setelah menyelesaikan makan malam Alana mencuci piring bekas makan mereka sementara Zayn menunggu di ruang tengah duduk di sofa sembari menonton tv.
Alana telah selesai membereskan semuanya, kini dia meninggalkan dapur. Kerutan tipis menghiasi wajahnya saat menatap Zayn masih ada di rumahnya, duduk di sofa menatap layar tipis di hadapannya.
__ADS_1
Netra Alana pun mengarah pada jam yang melekat di dinding. Yang kini terbaca pukul delapan malam lebih, hampir pukul sembilan.
Alana pun melangkah mendekat.
“Kak Zayn! Masih di sini?” tanya Alana. Yang menjurus bertanya kenapa belum pulang.
Zayn menatap Alana dengan senyum seringai. Pemuda itu beralih menggeliat, memijat tengkuk lehernya.
“Hari ini aku sangat lelah, rasanya aku sudah tak bisa membawa motorku,” keluh Zayn.
Lelah ...
Alana terdiam, menatap gurat lelah di wajah Zayn, ada perasaan bersalah menggelitik hatinya, ini pasti karenanya.
Tuh kan, seharusnya presdir ini tidak mengantar dan menjemputnya, pekerjaannya di kantor saja sudah melelahkan malah di tambah bolak-balik menjemputnya. Satu lagi harus mengendarai motor sendiri, padahal biasanya Zayn duduk santai berada di dalam mobil yang di kendarai supir atau Ken. Zayn pasti lelah, pikir Alana membenarkan banyaknya perkerjaan yang di kerjakan oleh Zayn hari ini. uhg, Hari yang panjang dan melelahkan. Alana turut prihatin.
Lalu jika seperti ini apa yang harus Alana lakukan. Di antar dan di jemputkah juga bukan maunya.
"Maaf kak Zayn merepotkan," ujar Alana dengan rasa bersalah.
“Tidak apa-apa," potong Zayn.
Zayn menaikan dua tangannya, meregangkan tubuhnya.
"Ya, karena kau membuatku lelah.Jadi aku akan menginap di sini malam ini,” sosor Zayn berucap cepat lalu menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa.
Apa? Bagaimana-bagaimana?
Alana berdiri membeku, bola matanya seakan keluar dari tempatnya setelah mendengar kata dari Zayn.
Apa menginap ...
Jeduar ...
Bak di sambar petir Alana mendengar kata menginap. Zayn menginap di rumahnya. Ini gila. Pemuda ini tidak akan pulang ke rumahnya.
Dengan leher kaku Alana pelan-pelan menolehkan pandangannya, menatap ke arah pintu kamar.
Alana menelan salivanya dengan susah payah.
“Kamar di rumah ini kan hanya satu,” batin Alana.
Seketika gelagapan, paru-parunya serasa kering. Saat ini dia sulit bernapas dengan baik.
Like
Coment
__ADS_1
Vote...
Makanya Alana jangan basa-basi. si jutek ini ngak bisa lihat peluang ...