Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
kecewa


__ADS_3

Untuk sepersekian detik Zayn menutup matanya rapat mengatasi keterkejutannya. lalu Zayn membuka mata perlahan, mengintip dari sepasang kelopak matanya. Dan kini manik matanya sudah tidak menangkap bayangan apa-pun di hadapannya.


Pemuda ini semakin membuka mata lebar.


“Apa aku berhalusinasi?” batin Zayn bertanya-tanya dalam hati tak kalah melihat bayangan penampakan perempuan berwajah buruk rupa dan pucat telah hilang.


Zayn lalu mengedarkan pandangannya meneliti keadaan sekelilingnya. Tidak ada apa-apa, melihat suasana taman sama seperti tadi masih sepi.


***


Sementara itu Alana telah meninggalkan taman dengan ribuan perasaan kecewa. Perempuan ini mengendarai kendaraannya pulang ke rumah dengan cairan bening yang tiada henti turun dari pelupuk matanya . Oh, hatinya tergores luka.


Niatnya untuk jujur, menceritakan semua tentang rahasia yang ia simpan tentang hidupnya kini meluap begitu saja saat melihat pemuda ia yang cintai ketakutan melihat wajahnya.


Oh, Zayn takut padanya.


Dada Alana semakin sesak, air mata itu semakin tumpah.


Alana memilih pergi dari tempat itu, tanpa berkata sesuatu. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi Zayn, jika pemuda itu menatapnya saja sudah takut. ya Tuhan, Bagaimana dia bisa hidup bersama dengan orang yang takut melihat wajahnya. Karena itu dia memilih bungkam dan pergi.


Setelah memacu dengan tangisan, Alana kini telah sampai di rumah.


Perempuan itu masuk ke dalam kamar. Menghempaskan tubuhnya di kasur, dengan posisi telungkup kini tangisannya semakin pecah.


“Dia takut melihat wajahku.” Kristal bening semakin deras turun.


Inilah alasan dia selalu merasa rendah diri dan tak pernah memupuk harapan tentang cinta, siapa yang akan menerima perempuan buruk rupa seperti dirinya. Dan lihatlah, kini dia mengalami patah hati. Dia merasa tidak pantas untuk siapa pun.


Alana hanyut dalam tangis, merenungi kegagalan untuk bersama dengan Zayn.


Malam semakin larut, jauh dari kamar Alana yang sedang merana. Di taman Zayn menunggu kedatangan Alana.


“Dia tidak datang,” lirih Zayn dengan hembusan napas pedih, ia tertunduk, mengepalkan tangannya. Suasana taman masih sepi, tak ada tanda cintanya akan datang menemuinya.

__ADS_1


Alana tidak datang, itu pikir Zayn.


Perasaannya seketika porak-poranda. Cintanya tidak menemuinya, itu berati Alana tidak ingin melanjutkan pernikahan dengannya.


Ia di tolak, tusukan kecewa menghujani perasaan Zayn. Harapan tinggi untuk bersama dengan cintanya kandas.


“Dia tidak ingin meneruskan pernikahan ini.”


Rasa sakit kembali menyerap sanubari Zayn untuk kedua kalinya dia merasakan patah hati. Dia kembali tidak bersama dengan cintanya. Dan ini terasa lebih menyakitkan, hidup bersama berbulan-bulan seolah tak ada artinya.


Di dua tempat yang berbeda dua hati sedang hancur dan terluka, saling merenungi nasib percintaan mereka yang menyakitkan.


Di dalam kamar suara isakan masih terdengar, entah sudah berapa lama Alana menangis menumpahkan kesedihannya. Pupil matanya telah terlihat mengecil karena cairan bening itu terus turun.


Dret ... Dret ...


Perhatian Alana terkalihkan saat suara dering ponselnya berbunyi. Perempuan itu pun meraih ponselnya. Menatap nama yang tertera di layar.


“Ibu,” ujar Alana saat melihat panggilan dari ibunya. Sedikit heran ibunya menelepon di jam seperti ini, padahal ibunya tahu jika di Jerman telah larut malam.


“Hallo,” suara Alana terdengar serak.


Membuat suara di seberang sana panik.


“Nana kamu kenapa? Kamu menangis?” tanya ibu cemas.


Sepertinya naluri seorang ibu tahu.


Menangis


Manik mata Alana kembali berkaca-kaca, ibu yah saat ini rasanya Alana ingin pelukan hangat ibunya, untuk mengurangi kesedihannya.


Sekuat hati Alana menahan diri.

__ADS_1


“Nggak bu. Nana udah tidur tadi, baru bangun.” Alibi Alana.


“Ada apa bu?" tanya Alana.


“Nana, ibu senang banget. Cucu ibu nambah lagi?” teriak di seberang sana.


Kakak Nara ...


“Iya kakakmu sudah melahirkan anak ketiganya dan perempuan,” jelas ibu Salma.


“Syukurlah bu. Keponakan ke tigaku udah lahir,” Alana tersenyum setidaknya ada kabar baik yang membuat hatinya tenang.


Keponakan ketiganya yang berjenis kelamin perempuan, pasti sangat lucu dan menggemaskan.


“Iya, Na ibu senang sekali. Keponakan ketiga kamu, dia sangat cantik dan lucu, pipinya tembem, ibu gemas sekali nana." heboh ibu Salma.


"Benarkah bu?" tanya Alana antusias mendengar cerita ibunya.


"Kamu harus pulang lihat keponakan kamu. Oh, iya Ingat Nana waktu di Jerman sudah habis! kamu harus pulang."


“Pulang,” lirih Alana.


Tatapannya seketika kosong, wajah Alana kembali sendu.


Kembali pulang ke Indonesia, batas waktu Alana telah habis.


****


Terima kasih semua, kalian mengerti dengan konflik ini. Sya suka deh kalian mengerti posisi mereka masing-masing saat ketemuan. Alana udah memang suka minder, jadi tersinggung Zayn kaget lihat mukanya. Kalian ngerti juga dan maklum Zayn kaget lihat Alana.


Tapi kalian tuh ngak ngerti perasaan Sya. Kalian tega tuh, kalian pasti ngak ngerti posisi Sya, yang Cuma up sedikit karena mau di jemput malam mingguan sama ayang. huaaaa


Karena ini masuk konflik cerita, pasti ada yang kesel, padahal ini konflik paling ringan Cuma salah paham. Jadi tolong ya kalau coment yang baik, tuh jari di tahan yeeh jangan kaya orang yang ngak pernah pegang lidi iqro. Hahahahah. Sya sayang kalian semua. Muach ...

__ADS_1


Selamat malam minggu bagi yang punya ayang ...


__ADS_2